Selasa, 13 Desember 2022

MAKALAH PEMERIKSAAN LABORATORIUM SEDERHAN

 

MAKALAH

PEMERIKSAAN LABORATORIUM SEDERHANA

 

Description: IMG-20210722-WA0004.jpg

 

Disusun Oleh :

 


 

 

Dosen Pengampu: Marlina, SST., M.Kes

 

 

 

 

 

POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNG KARANG

JURUSAN D-III KEBIDANAN

2021/2022

KATA PENGANTAR

 

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.

 

Tanpa pertolongan-Nya tentu kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada baginda tercinta kita Nabi Muhammad SAW yang kita nantikan syafa’atnya di akhirat nanti.

 

 Kami ucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga kami mampu untuk menyelesaikan pembuatan makalah sebagai tugas mata Pengembangan Kepribadian dengan materi "Pemeriksaan Laboratorium Sederhana" .

 

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Dosen yang telah banyak membantu untuk menyelesaikan makalah ini.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada mahasiswa lainnya.

 

Walaupun makalah ini memiliki banyak kekurangan, kami mohon kritik dan sarannya.

Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

 

 

Bandar Lampung

 

 

                                       Kelompok 4


 

DAFTAR ISI

 

 

KATA PENGANTAR ..........................................................................................................

DAFTAR ISI .......................................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................

1.1  Latar belakang ........................................................................................................

1.2  Rumusan masalah ...................................................................................................

1.3  Tujuan .....................................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................................

2.1  Pengertian pemeriksaan laboratorium .....................................................................

2.2  Tujuan pemeriksaan laboratorium ...........................................................................

2.3  Jenis pemeriksaan laboratorium ..............................................................................

2.4  Pemeriksaan HB (Hemoglobin) ..............................................................................

2.5  Pemeriksaan glukosa ...............................................................................................

2.6  Pemeriksaan protein  ...............................................................................................

2.7  Pp test .....................................................................................................................

BAB III PENUTUP ...........................................................................................................

2.8  Kesimpulan .............................................................................................................

2.9  Saran .......................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................................

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Pemeriksaan laboratorium adalah suatu tindakan dan prosedur pemeriksaan khusus dengan mengambil bahan atau sampel dari pasien dalam bentuk darah, sputum (dahak), urine (air kencing/air seni), kerokan kulit, dan cairan tubuh lainnya dengan tujuan untuk menentukan diagnosis atau membantu menegakkan diagnosis penyakit.

Pemeriksaan laboratorium yang biasa dilakukan meliputi, elektrolit (kalium, natrium, kalsium, fosfor dan klorida), ureum, kreatinin, albumin dan total protein (Alam dan Hadibroto, 2008). Pemeriksaan ureum sangat membantu menegakkan diagnosis gagal ginjal akut. Pengukuran kadar ureum dapat dipergunakan untuk mengevaluasi fungsi ginjal, status hidrasi, menilai keseimbangan nitrogen, menilai progresivitas penyakit ginjal, dan menilai hasil hemodialisa. Ureum adalah produk akhir katabolisme protein dan asam amino yang diproduksi oleh hati dan didistribusikan melalui cairan intraseluler dan ekstraseluler ke dalam darah untuk kemudian difiltrasi oleh glomerulus dan sebagian direabsorbsi pada keadaan dimana urin terganggu (Verdiansah, 2016).

 

1.2  Rumusan Masalah

a)    Apa pengertian dari pemeriksaan laboratorium?

b)    Apa tujuan dari pemeriksaan laboratorium?

c)    Apa jenis pemeriksaan lab?

d)   Aa itu pemeriksaan Hb?

e)    Apa pemeriksaan glukosa?

f)     Apa pemeriksaan protein?

g)    Apa itu pp test?

 

 

1.3  Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari makalah ini adalah untuk menambah ilmu pengetahuan mahasiswa mengenai pemeriksaan laboratorium pada ibu hamil.

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1  Pengertian pemeriksaan laboratorium

     Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan pada ibu hamil adalah pemeriksaan laboratorium rutin dan khusus pemeriksaan laboratorium rutin adalah pemeriksaan laboratorium yang harus dilakukan pada setiap ibu hamil yaitu golongan darah hemoglobin darah protein urin dan pemeriksaan spesifik daerah endemis atau epidemi atau malaria IMS HIV dan lain-lain sementara pemeriksaan laboratorium khusus adalah penulisan laboratorium lain yang dilakukan atas indikasi pada ibu hamil yang melakukan kunjungan antenatal.

     Cek laboratorium (lab) ibu hamil bisa dimulai sejak trimester pertama. Tujuannya untuk mengetahui status kesehatan Bunda dan janin selama menjalani kehamilan. Panduan pemeriksaan laboratorium saat hamil telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pemeriksaan Laboratorium untuk Ibu Hamil, Bersalin, dan Nifas di Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Jaringan Pelayanan. Dalam Permenkes, dijelaskan bahwa pemeriksaan laboratorium selama kehamilan, persalinan, dan nifas merupakan salah satu komponen penting dalam pemeriksaan antenatal dan identifikasi risiko komplikasi. "Perlu diingat, bahwa nilai rujukan laboratorium pada wanita yang tidak hamil berbeda dengan nilai rujukan laboratorium wanita hamil. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan anatomi, fisiologi, dan biokimia ibu hamil, sebagai adaptasi terhadap kehamilannya. Cek lab ibu hamil dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi parah selama kehamilan. Selain itu, cek lab juga bisa mendeteksi dini kondisi kehamilan untuk dapat dilakukan intervensi lanjutan bila ditemukan masalah. Misalnya, pada pemeriksaan penting, Bunda ingin mengetahui penapisan anemia. Jika tidak dapat diperiksa, maka bisa berdampak buruk bagi ibu dan janin. Cek laboratorium yang tak kalah penting adalah pemeriksaan darah, penapisan anemia, infeksi, hepatitis, kencing manis, dan cek urine lengkap. Ragam cek lab ibu hamil tiap trimester. Cek lab trimester 1 berikut beberapa jenis cek lab ibu hamil yang dianjurkan di trimester 1:

 

1. Pemeriksaan urine, Tes ini terdiri dari tes urine kehamilan dan urine lengkap.

2. Pemeriksaan darah, Pemeriksaan darah untuk kehamilan terdiri dari:

a.       Tes hematologi

b.      MCV (mean corpuscular volume)

c.       MCH (mean corpuscular hemoglobin)

d.      MCHC (mean corpuscular hemoglobin concentration)

e.       RDW (red cell distribution width)

f.       Apus darah tepi

g.      Tes Ferritin

h.      GTT (glucose tolerance test) dengan beban 75 gram gula untuk mengetahui riwayat kencing manis atau diabetes.

i.        Hepatitis B antigen (HbsAg) untuk mengetahui ada tidaknya infeksi hepatitis.

j.        VDRI (venereal disease research laboratory)

k.      TPHA (treponema pallidum haemagglutination)

     Pemeriksaan tinja, Pemeriksaan tinja terdiri dari analisis feses pada daerah endemis penyakit cacing dan ada keluhan pencernaan. Cek lab trimester 2: Di trimester 2, Bunda bisa menjalani cek lab sesuai dengan saran dokter kandungan. Berikut 2 jenis cek lab ibu hamil di trimester 2:

a.       GTT, Memasuki trimester 2 atau usia kehamilan 24-28 minggu, Bunda bisa menjalani pemeriksaan GTT untuk mengetahui kadar gula darah dalam tubuh. Tes rudin ini dapat dilakukan bila Bunda memiliki riwayat sakit diabetes. Pemeriksaan juga dapat dilakukan ketika muncul keluhan penambahan berat badan berlebih selama kehamilan. Sebelum melakukan cek laboratorium ini, Bunda perlu berpuasa selama 12 jam. Setelah diambil darahnya, Bunda akan diberikan minuman yang sudah diberi 75 gram glukosa. Hasil GTT akan dicocokkan dengan tabel standar gula darah ibu hamil.

b.      Tes amniosentesis, Tes ini dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya kelainan kromosom janin, infeksi cairan ketuban, serta kematangan paru janin. Ada dua jenis tes amniosentesis, yakni: Analisis genetik untuk mengambil cairan amnion pada usia kehamilan 15-18 minggu bila ada kecurigaan risiko cacat bawaan. Uji kematangan paru janin yang dilakukan pada Bunda dengan diabetes. Cairan ketuban diambil pada usia kehamilan cukup bulan. Cek lab trimester 3 Memasuki trimester 3, Bunda kan tetap menjalani pemeriksaan rutin saat kunjungan ke dokter. Pemeriksaan mencakup tes urin, cek tekanan darah, pengukuran rahim, dan pemeriksaan detak jantung bayi. Cek laboratorium di trimester 3 meliputi pemeriksaan darah dan urine, dokter biasanya akan mengecek kadar protein dan gula dalam urine untuk mendeteksi infeksi. Pemeriksaan darah dilakukan untuk kondisi anemia. Selain itu, Bunda juga dapat menjalani tes amniosentesis di trimester akhir ini. Ada beberapa kondisi yang mungkin memerlukan tes amniosentesis. Kondisi ini termasuk kecurigaan korioamnionitis atau risiko kelahiran prematur, karena cairan amniosentesis dapat digunakan untuk memperkirakan kematangan paru-paru janin. Tes amniosentesis juga direkomendasikan pada Bunda hamil berusia 35 tahun atau lebih. Cek lab lain di trimester 3 adalah tes untuk mengetahui keberadaan Streptokokus grup B, yakni bakteri yang bisa ditularkan ke anak saat lahir. Jika Bunda membawa bakteri, maka dokter mungkin akan memberikan antibiotik selama persalinan untuk mencegah bayi sakit.

 

2.2  Tujuan Pemeriksaan Lab Pada Ibu Hamil

     Selain pemeriksaan fisik dan penunjang seperti ultrasonografi atau USG, pemeriksaan laboratorium juga penting dilakukan dalam kehamilan untuk menunjang diagnosa, deteksi dini, penanganan lebih awal, dan pencegahan penularan penyakit menular misal nya pemeriksaan:

1.    Kadar hemoglobin, pemeriksaan ini dilakukan pada trimester I dan trimester III. Pada trimester I, bertujuan untuk persiapan nutrisi selama masa konsepsi dan pada trimester III berfungsi untuk persiapan persalinan apabila dicurigai anemia.

2.    Golongan darah dan rhesus, diperiksa untuk persiapan perencanaan persalinan dan deteksi dini adanya ketidaksamaan golongan darah dan rhesus antara ibu dan bayi.

3.    Skrining HIV dan penyakit menular lainnya, pemeriksaan ini penting dilakukan untuk mencegah penularan dari ibu ke bayi. Skrining penyakit endemi tertentu, untuk memastikan apakah ibu hamil sehat dari penyait endemi atau tidak, serta sebagai upaya pengobatan secara dini untuk mencegah dampak pada janin. Misalnya jika suatu daerah terdapat endemi malaria, maka skrining malaria penting dilakukan untuk mengetahui apakah ibu menderita malaria atau tidak, apabila hasil menunjukkan ibu menderita malaria, maka bisa dilakukan tata laksana lebih awal agar tidak berdampak pada janin.

4.    Urinalisis, atau tes urin digunakan untuk mendeteksi apakah ada infeksi pada kandung kemih atau ginjal, diabetes, dehidrasi, dan preeklampsia dengan cara memeriksa kadar protein, reduksi, keton, dan bakteri urin.

5.     Gula Darah Puasa, dilakukan untuk skrining adanya Diabetes Melitus Gestasional. Tes yang paling tepat adalah dengan menggunakan metode tes toleransi glukosa oral yang berfungsi untuk mengidentifikasi cara tubuh dalam menangani glukosa setelah makan. Untuk mendeteksi Diabetes Melitus Gestasional, skrining dilakukan pada minggu ke 24-28 kehamilan.

6.    Tes Sputum BTA, untuk memastikan ibu terbebas dari Tuberkulosis. Namun, hal ini tidak selalu dilakukan, kecuali jika terdapat tanda-tanda tuberkulosis seperti batuk yang berkepanjangan, demam, kelelahan, dan kontak dengan penderita tuberkulosis dalam waktu yang cukup lama (± 2 tahun).

 

 

2.3  Jenis Pemeriksaan Laboratorium

1. Hitung Darah Lengkap, Pemeriksaan hitung darah lengkap adalah tes darah yang paling umum dilakukan. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengukur jenis dan jumlah sel dalam darah, termasuk sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit. Tes ini digunakan untuk menentukan status kesehatan umum, menyaring kelainan, dan mengevaluasi status gizi pasien. Pemeriksaan ini dapat membantu mengevaluasi gejala seperti kelemahan, kelelahan, dan memar. Selain itu, pemeriksaan ini juga dapat membantu mendiagnosis kondisi seperti anemia, leukemia, malaria, dan infeksi.

 

2. Prothrombin Time, Tes ini mengukur berapa lama waktu yang dibutuhkan darah untuk membeku. Tes koagulasi ini mengukur keberadaan dan aktivitas lima faktor pembekuan darah yang berbeda. Tes ini dapat menyaring kelainan perdarahan dan juga dapat digunakan untuk memantau perawatan obat yang mencegah pembentukan bekuan darah.

 

3. Tes Darah Panel Metabolik Dasar, Tes ini mengukur glukosa, natrium, kalium, kalsium, klorida, karbon dioksida, nitrogen urea darah, dan kreatinin. Pemeriksaan ini dapat membantu menentukan kadar gula darah, keseimbangan elektrolit dan cairan, serta fungsi ginjal. Tes darah ini dapat membantu dokter memantau efek obat yang diminum, seperti obat tekanan darah tinggi, dapat membantu mendiagnosis kondisi tertentu, atau dapat menjadi bagian dari pemeriksaan kesehatan rutin. Kamu direkomendasikan untuk berpuasa hingga 12 jam sebelum melakukan tes ini.

 

4. Panel Metabolik Komprehensif, Tes ini menggabungkan Panel Metabolik Dasar dengan enam tes lagi untuk evaluasi fungsi metabolisme yang lebih komprehensif, dengan fokus pada sistem organ.

 

5. Panel Lipid, Panel lipid adalah sekelompok tes yang digunakan untuk mengevaluasi risiko jantung. Ini termasuk kadar kolesterol dan trigliserida.

 

6. Panel Hati

Panel hati adalah kombinasi tes yang digunakan untuk menilai fungsi hati dan menentukan kemungkinan adanya tumor hati.

 

7. Hemoglobin A1C

Tes ini digunakan untuk mendiagnosis dan memantau diabetes.

 

8. Urinalisis, Merupakan pemeriksaan laboratorium umum untuk memeriksa tanda-tanda awal penyakit. Ini juga dapat digunakan untuk memantau diabetes atau penyakit ginjal.

 

9. Tes Kultur Darah, Tes ini digunakan untuk menguji diagnosis dan pengobatan infeksi. Penyakit seperti infeksi saluran kemih, pneumonia, radang tenggorokan, MRSA, dan meningitis dapat dideteksi melalui tes ini, sehingga bisa diberikan pengobatan antibiotik yang tepat ada pun jenis-jenis tes darah untuk Ibu Hamil. Berikut adalah beberapa jenis tes darah yang diperlukan saat hamil, yaitu:

 

a)      Tes darah lengkap, Tes ini diperlukan untuk mengetahui apakah kadar hemoglobin dalam sel darah merah ibu hamil normal atau terlalu sedikit yang artinya pertanda anemia. Selain itu, tes ini juga dapat dilakukan untuk menghitung jumlah darah putih. Jika mengalami peningkatan sel darah putih, itu artinya ibu hamil mungkin mengalami infeksi.

b)      Tes golongan darah, antibodi, dan faktor resus, Tes golongan darah dilakukan untuk mengetahui golongan darah (A, B, AB, atau O) dan resus darah ibu hamil (resus negatif atau positif). Jika resusnya berbeda dengan janin, maka ibu hamil akan diberi suntikan imunoglobulin guna mencegah pembentukan antibodi yang dapat menyerang darah janin.

c)      Tes gula darah, Pemeriksaan kadar gula darah ibu hamil biasanya dilakukan di trimester kedua kehamilan. Akan tetapi, dokter mungkin akan menyarankan tes gula darah lebih dini pada ibu hamil yang memiliki berat badan berlebih, pernah melahirkan anak dengan berat badan di atas 4,5 kilogram sebelumnya, atau memiliki riwayat diabetes gestasional.

d)     Tes imunitas terhadap rubella (campak Jerman), Jika ibu hamil terinfeksi rubella di awal kehamilan, janin dalam kandungan bisa mengalami kecacatan yang serius, keguguran, atau lahir dalam keadaan meninggal (stillbirth). Oleh karena itu, penting untuk melakukan tes ini guna mengetahui apakah ibu hamil sudah memiliki kekebalan terhadap virus ini. Bila belum, ibu hamil dianjurkan untuk menghindari kontak dengan orang yang terinfeksi rubella.

e)      Tes HIV, Infeksi HIV penyebab AIDS pada ibu hamil bisa menular ke janin selama kehamilan, saat melahirkan, atau selama menyusui. Di Indonesia, semua ibu hamil di wilayah dengan angka kasus HIV yang tinggi, atau ibu hamil dengan perilaku berisiko dianjurkan untuk menjalani tes HIV. Tidak perlu merasa khawatir atau sungkan melakukan tes ini. Fasilitas kesehatan tempat tes HIV dilakukan akan memberikan pelayanan VCT dan menjamin kerahasiaan status pasien saat menjalani pemeriksaan HIV. Bila ternyata ibu hamil positif HIV, penanganan medis akan dilakukan untuk mengurangi risiko penularan HIV kepada bayi dan mencegah berkembangnya infeksi HIV menjadi lebih berat.

f)       Tes sifilis, Semua ibu hamil disarankan untuk menjalani skrining sifilis, terutama bagi yang memiliki perilaku seks berisiko atau tanda gejala penyakit menular seksual. Sifilis yang tidak ditangani dapat menyebabkan cacat berat pada bayi, bahkan pada kasus yang lebih fatal, bayi bisa lahir dalam keadaan meninggal. Bila ibu hamil didiagnosis memiliki sifilis, dokter akan memberikan antibiotik penisilin untuk mengobati penyakit tersebut dan mencegah penularan sifilis pada janin.

g)      Tes hepatitis B, Virus hepatitis B dapat menyebabkan penyakit hati yang serius. Hepatitis B dapat menular dari ibu kepada janin selama kehamilan. Akibatnya, bayi memiliki risiko tinggi untuk terinfeksi virus hepatitis jangka panjang dan menderita penyakit hati di kemudian hari. Karenanya, ibu hamil perlu menjalani tes darah untuk mendeteksi virus hepatitis B sejak dini, dan mendapatkan pengobatan jika hasil tesnya positif. Saat lahir, bayi dari ibu yang menderita hepatitis B perlu mendapat imunisasi hepatitis B secepatnya (paling lambat 12 jam setelah lahir).

 

2.4  Pemeriksaan HB pada saat hamil

     Dianjurkan minimal 2 kali diantaranya saat trimester pertama dan trimester ketiga. Tujuan pemeriksaan hb pada saat hamil diantaranya untuk mengetahui kadar sel darah merah pada ibu hamil. Kadar hb normal pada saat hamil 11 gr % dan apabila hb > 11 gr % maka ibu hamil tersebut mengalami anemia. Penyebab anemia pada saat hamil dapat terjadi karena meningkatnya kebutuhan zat besi untuk pertumbuhan janin, kurangnya asupan zat besi (Fe) pada wanita akibat persalinan sebelumnya dan menstruasi, kurang komsumsi makanan sumber zat besi,  menderita penyakit infeksi (kecacingan, malaria) dan tidak mengomsumsi tablet besi (Fe) sesuai anjuran.

1.      Beberapa cara pemeriksaan hemoglobin yang dilakukan adalah:

a)    Cara tallquist yaitu: membandingkan warna merah yang terdapat di darah dengan menggunakan kertas tallquist yang memiliki standart.

b)   Kolorimetris yaitu visual metode sahli yaitu dengan proses pembentukan asam hematin dan fotoelektris yaitu pembentukan sianmetoxyhemoglobin.

c)    Cara cupri sulfat berdasarkan berat jenis darah yang dilihat dari tetesan darah tenggelam, melayang atau mengapung.

d)   Cara kimia yaitu dengan menentukan kadar Fe yang diikat oleh sejumlah gas tertentu.

e)    Cara gasometrik berdasarkan pada suhu dan tekanan udara tertentu dimana hemoglobin dapat mengikat sejumlah gas yang tertentu pula.

f)    Cara non-sianmethemoglobin (automated hematology analyser), yaitu menggunakan reagen SLS (Sodium Laury Sulfat) yang relatif lebih aman dibandingkan dengan reagen yang digunakan pada metode sianmethemoglobin yang pada umumnya diterapkan pada alat hitung otomatis.

g)   Metode amperometeri (stik Hb), yaitu deteksi dengan menggunakan

pengukuran arus yang yang dihasilkan pada sebuah reaksi elektrokimia.

 

2.      Tanda - tanda anemia pada ibu hamil seperti:

- Wajah, terutama kelopak mata dan bibir tampak pucat

- Kurang nafsu makan

- Lesu dan lemah

- Cepat lelah

- Sering pusing dan  mata berkunang-kunang Akibat anemia:

- Keguguran

- Bayi lahir prematur (belum cukup bulan)

- Bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR) dan pendek (Stunting)

- Dalam kondisi anemia berat, bayi bisa lahir mati

- Anemia dapat memperparah perdarahan pada saat melahirkan, sehingga memperbesar risiko kematian ibu.

 

3.      Pencegahan Dan Penanggulangan Anemia

- Minum tablet besi (Fe) setiap hari

- Konsumsi makanan kaya protein, zat besi, folat, kalsium, vitamin A dan vitamin B

- Makan satu porsi lebih banyak saat hamil

- Dianjurkan mengonsumsi makanan yang difortifikasi zat besi dan vitamin A, juga mengonsumsi  garam beriodium. Ibu hamil membutuhkan tambahan zat besi sekitar 1000 mg sepanjang kehamilannya. Tablet besi (Fe)  sangat aman dikonsumsi dan sangat dianjurkan bagi ibu hamil untuk mencegah kekurangan zat besi dan asam folat yang meningkat kebutuhannya selama kehamilan agar ibu dan janinnya sehat.

 

4.      Gambar kadar hb pada ibu hamil

       ≥ 11,5 gr%

       Tidak Anemia

   9,1 – 11,4 gr%

      Anemia Ringan

    7,1 – 9 gr%

      Anemia Sedang

     ≤ 7 gr%

       Anemia Berat

 

 

2.5  Pemeriksaan Glukosa

1.    Pengertian

Pemeriksaan Glukosa atau kadar gula darah.Ibu hamil yang dicurigai menderita diabetes melitus dilakukan pemeriksaan gula darah selama kehamilan minimal sekali pada trimester pertama sekali pada trimester kedua dan sekali pada trimester ketiga. Tes gula darah saat hamil biasanya dilakukan pada akhir trimester kedua, antara 24 dan 28 minggu usia kehamilan. Pemeriksaan gula darah ini bisa dilakukan dengan dua versi yang berbeda, pertama adalah tes dimulai dengan tes satu jam yang direkomendasikan untuk semua wanita hamil. Glukosa darah merupakan gula sederhana dalam makanan biasanya dalam bentuk disakarida, atau terikat molekul lain.

Konsentrasi glukosa dalam vena seseorang yang tidak menderita diabetes atau dalam kondisi normal umumnya antara 75-115 ml/dl(Kosasih, 2008).Glukosa darah merupakan gula yang terdapat dalam darah yang berasal dari karbohidrat dalam makanan dan disimpan sebagai glikogen dihati dan diotot rangka. Glukosa darah berfungsi sebagai penyedia energi tubuh dan jaringan-jaringan dalam tubuh (Widyastuti, 2011).

Kadar glukosa darah adalah istilah yang mengacu pada kadar glukosa dalam darah yang konsentrasinya diatur ketat oleh tubuh. Glukosa yang dialirkan melalui darah adalah sumber utama energi untuk sel-sel tubuh. Umumnya tingkat glukosa dalam darah bertahan pada batas-batas 4-8 mmol/L /hari (70-150 mg/dl), kadar ini meningkat setelah makan dan biasanya berada pada level terendah di pagi hari sebelum orang-orang mengkonsumsi makanan. Kadar glukosa darah dibagi menjadi dua yaitu hiperglikemia dan hipoglikemia. Hiperglikemia bisa terjadi karena asupan karbohidrat dan glukosa yang berlebihan. Beberapa tanda dan gejala dari hiperglikemia yaitu peningkatan rasa haus, nyeri kepala, sulit konsentrasi, penglihatan kabur, peningkatan frekuensi berkemih, letih, lemah, penurunan berat badan. Sedangkan hipoglikemia juga bisa terjadi karena asupan karbohidrat dan glukosa kurang. Kadar glukosa darah dalam keadaan normal berkisar antara 70-110 mg/dl. Nilai normal kadar glukosa dalam serum dan plasma 75-115 mg/dl, kadar gula 2 jam postprandial < 140 mg/dl, dan kadar gula darah sewaktu < 140 mg/dl (Widyastuti, 2011).

 

 

2.    Macam-macam Pemeriksaan Glukosa Darah

Dalam pemeriksaan kadar glukosa darah dikenal beberapa jenis pemeriksaan, antara lain:

1. Glukosa darah sewaktu

Glukosa darah sewaktu merupakan pemeriksaan kadar glukosa darah yang dilakukan setiap hari tanpa memperhatikan makanan yang dimakan dan kondisi

tubuh orang tersebut. Pemeriksaan kadar gula darah sewaktu adalah pemeriksaan

gula darah yang dilakukan setiap waktu, tanpa ada syarat puasa dan makan.

Pemeriksaan ini dilakukan sebanyak 4 kali sehari pada saat sebelum makan dan

sebelum tidur sehingga dapat dilakukan secara mandiri.

2. Glukosa darah puasa

Glukosa darah puasa merupakan pemeriksaan kadar glukosa darah yang dilakukan setelah pasien puasa selama 8-10 jam. Pasien diminta untuk melakukan puasa sebelum melakukan tes untuk menghindari adanya peningkatan gula darah lewat makanan yang mempengaruhi hasil tes.

3. Glukosa 2 jam setelah makan (postprandial)

Glukosa 2 jam setelah makan merupakan pemeriksaan kadar glukosa darah yang dilakukan 2 jam dihitung setelah pasien selesai makan (M. Mufti dkk, 2015). Pemeriksaan kadar postprandial adalah pemeriksaan kadar gula darah yang dilakukan saat 2 jam setelah makan. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi adanya diabetes atau reaksi hipoglikemik. Standarnya pemeriksaan ini dilakukan minimal 3 bulan sekali. Kadar gula di dalam darah akan mencapai kadar yang paling tinggi pada saat dua jam setelah makan. Normalnya, kadar gula dalam darah tidak akan melebihi 180 mg per 100 cc darah. Kadar gula darah 190 mg/dl disebut sebagai nilai ambang ginjal. Jika kadar gula melebihi nilai ambang ginjal maka kelebihan gula akan keluar bersama urin.

4. Pemeriksaan Penyaring

Pemeriksaan penyaring dapat dilakukan dengan cara melalui pemriksaan kadar glukosa darah sewaktu atau kadar glukosa darah puasa. Apabila pemeriksaan penyaring ditemukan hasil positif, maka perlu dilakukan konfirmasi dengan pemeriksaan glukosa plasma puasa atau dengan tes glukosa oral (TTGO) standart (MenKes, 2014).

5. HbA1c

HbA1c adalah zat yang terbentuk dari reaksi antara glukosa dan hemoglobin (bagian dari sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh bagian tubuh). Makin tinggi kadar gula darah, maka semakin banyak molekul hemoglobin yang berkaitan dengan gula. Apabila pasien sudah pasti terkena DM, maka pemeriksaan ini penting dilakukan pasien setiap 3 bulan sekali. Jumlah HbA1c yang terbentuk, bergantung pada kadar glukosa dalam darah sehingga hasil pemeriksaan HbA1c dapat menggambarkan rata-rata kadar gula pasien DM dalam waktu 3 bulan. Selain itu, pemeriksaan HbA1c juga dapat dipakai untuk menilai kualitas pengendalian DM karena hasil pemeriksaan HbA1c tidak dipengaruhi oleh asupan makanan, obat, maupun olahraga sehingga dapat dilakukan kapan saja tanpa ada persiapan khusus (Widyastuti, 2011).

 

2.6  Pemeriksaan Protein Dalam Urine

1.      Pengertian

Pemeriksaan protein dalam urine pada ibu hamil dilakukan di trimester kedua dan ketiga atas indikasi pemeriksaan ditunjukkan untuk mengetahui adanya protein urine pada ibu hasil protein urine merupakan salah satu indikator terjadinya pre-eklamsi pada ibu hamil.

2.      Standar kadar kekeruhan rotein:

1. Negatif: Urine jernih

2. Positif (+): Ada kekeruhan

3. Positif (++): Kekeruhan mudah di lihat dan ada endapan

4. Positi (+++): Urine lebih keruh dan endapan yang lebih jelas

5. Positif (++++): Urine sangat keruh dan di sertai endapan yang menggumpal

 

2.7  Pengertian Pemeriksaan PP test

adalah pemeriksaan untuk mengetahui kadar HCGdalam urin, jika kadar CHG melebihi batas maka akan terbentuk gariswarna merah pada test. Sedangkan apabila kadar HCG dalam urin kurangdari ambang batas atau tidak mengandung HCG maka tidak akan terbentukgaris berwarna pada daerah test. Sebagai kontrol akan selalu terbentukgaris berwarna pada daerah kontrol akan berwarna pada daerah kontrol halini untuk menandakan bahwa volume urin yang diserap telah memenuhimembran dari strip tersebut2. Tujuan Untuk mengatahui kadar HCG pada urin3. Pemeriksaan ini mengkonfirmasi kehamilan dg cara mendeteksi hormon hCG, foto dapat menggunakan sample darah/urin. Sebaiknya dilakukan 1-2 minggu sejak telat menstruasi u/ mendapatkan hasil tes yang akurat. Plano test dg sample darah dapat terdeteksi paling cepat 11 hari setelah pembuahan. Jika anda tidak hamil, kadar hCG seharusnya <10 mIU/mL. Jika hasil menunjukkan kadar hCG di atas rata-rata bisa jadi anda mengalami kehamilan anggur, hamil kembar >=2, atau baru keguguran.

Untuk memastikan akan dilakukan USG.

 

1. Hasil positif palsu pada plano test dapat terjadi jika:

- Sedang konsumsi obat fertilitas mis suntikan choriogonadotropin alfa.

- Tumor sel germinal: bisa jinak/berkembang jadi kanker, biasanya ditemukan di organ reproduksi wanita.

- Gangguan organ pituitari: pituitari menghasilkan hormon FSH dan LH yang akan berpengaruh thd kadar hCG juga. Tes kehamilan dengan test pack dapat dilakukan 1 hari sejak terlambat haid. Produksi hCG meningkat 2x tiap 2 atau 3 hari. Hal ini terjadi sekitar 6 hari setelah pembuahan terjadi. Pada fse ini, bumil biasanya akan mengalami flek kecokelatan dari vagina.

 

 

 

2. Hasil test pack dalam berubah antara lain karena:

- Garis penguapan: garis samar yg terkadang muncul pada test pack, saat urine sudah mulai mengering dan menguap.

- Kondisi alat test pack: kadaluarsa, atau sensitivitas rendah.

- waktu melakukan test pack

- Efek samping obat: konsumsi obat penyubur misal Pregnyl dan Novarel dapat mengganggu hasil test pack karena obat tsb juga mengandung hormon yg mirip hCG.

- Kondisi kehamilan.

Beberapa tanda kehamilan antara lain: kram perut ringan (mirip saat mau haid), bercak lebih pucat dan sedikit dibanding bercak haid (di 2-3 hari awal kehamilan), payudara nyeri dan membesar, mual, mudah lelah, tidak nafsu makan, mood swing, sering BAK. Terlambat haid tidak selalu kehamilan, dapat juga akibat pola makan yg buruk, stres, kondisi medis tertentu. Menebalnya rahim bisa jadi merupakan dalah 1 tanda awal kehamilan. Sel telur setelah dibuahi sperma akan menanamkan diri ke dinding rahim agar dapat berkembang. Untuk mensupport perkembangan ini, dinding rahim akan terus menebal dan membesar seiring bertambahnya usia kehamilan. Meski demikian butuh dipastikan ada tidaknya kantong kehamilan (gestaitional sac) pada UK >6 minggu. Dinding rahim yang menebal juga bisa ditemui pada kondisi: menjelang haid, obat hormonal, hamil ektopik, gangguan keseimbangan hormol, hamil anggur, endometriosis, miom, kanker rahim.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

2.8    Kesimpulan

Pemeriksaan laboratorium adalah, suatu tindakan dan prosedur pemeriksaan khusus dengan mengambil bahan atau sampel dari pasien dalam bentuk darah, sputum (dahak), urine (air kencing/air seni), kerokan kulit, dan cairan tubuh lainnya dengan tujuan untuk menentukan diagnosis atau membantu menegakkan diagnosis penyakit.

     Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan pada ibu hamil adalah pemeriksaan laboratorium rutin dan khusus, tujuan dari pemeriksaan laboratorium adalah menunjang diagnosa, deteksi dini, penanganan lebih awal, dan pencegahan penularan penyakit menular. Jenis pemeriksaan laboratorium ibu hamil yaitu pemeriksaan HB (Hemoglobin), pemeriksaan kadar glukosa dan pemeriksaan protein dalam urine.

 

2.9    Saran

     Kami menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari berbagai pihak sangat kami harapkan untuk lebih menyempurnakan makalah ini, agar makalah ini dapat lebih sempurna dan menjadi pedoman untuk kita semua.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ernst DJ. Applied Phlebotomy. Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia.

2005. 1-157

Gandasoebrata R. Penuntun Laboratorium Klinik. Dian Rakyat. Jakarta. 2004.

Merck. Hematological Laboratory Methods. Frankfurt. 1983. 7-80 Fitri. (2007). Manfaat Mengetahui Golongan Darah. 8 April 2010.

Guyton, Arthur C., (1997). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi V. EGC. Jakarta.

 Santosa B., Waenah, 2005. Perbedaan hasil pengukuran hematokrit metode mikro Pada darah yang menggunakan antikoagulan EDTA 10 ul dan 50 ul pada konsentrasi 10%. Universitas Muhammadiyah Semarang

Harris Harry. (1994). Dasar – Dasar Genetika Biokemis Manusia. Edisis III. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Kiswari Rukman. (2014). Hematologi Dan Transfusi. Erlangga. Jakarta

Sindu Ellyani, (2002). Immunohematologi dan Sistim Golongan Darah, Depkes RI,

 

 

 

Tidak ada komentar: