PEMERIKSAAN LABORATORIUM SEDERHANA

Disusun Oleh :
Dosen Pengampu:
Marlina, SST., M.Kes
POLITEKNIK
KESEHATAN TANJUNG KARANG
JURUSAN
D-III KEBIDANAN
2021/2022
KATA PENGANTAR
Segala
puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga dapat
menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.
Tanpa
pertolongan-Nya tentu kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini
dengan baik. Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada baginda tercinta
kita Nabi Muhammad SAW yang kita nantikan syafa’atnya di akhirat nanti.
Kami ucapkan syukur kepada Allah SWT atas
limpahan nikmat sehat Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran,
sehingga kami mampu untuk menyelesaikan pembuatan makalah sebagai tugas mata
Pengembangan Kepribadian dengan materi "Pemeriksaan Laboratorium
Sederhana" .
Kami
juga mengucapkan terima kasih kepada Dosen yang telah banyak membantu untuk
menyelesaikan makalah ini.
Semoga
makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada mahasiswa lainnya.
Walaupun
makalah ini memiliki banyak kekurangan, kami mohon kritik dan sarannya.
Atas
perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Bandar Lampung
Kelompok 4
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..........................................................................................................
DAFTAR ISI .......................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................
1.1
Latar belakang ........................................................................................................
1.2
Rumusan masalah ...................................................................................................
1.3 Tujuan .....................................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................................
2.1
Pengertian pemeriksaan laboratorium .....................................................................
2.2
Tujuan pemeriksaan laboratorium ...........................................................................
2.3
Jenis pemeriksaan laboratorium ..............................................................................
2.4
Pemeriksaan HB (Hemoglobin) ..............................................................................
2.5
Pemeriksaan glukosa ...............................................................................................
2.6
Pemeriksaan protein ...............................................................................................
2.7
Pp test .....................................................................................................................
BAB III PENUTUP ...........................................................................................................
2.8
Kesimpulan .............................................................................................................
2.9
Saran .......................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pemeriksaan
laboratorium adalah suatu tindakan dan prosedur pemeriksaan khusus dengan
mengambil bahan atau sampel dari pasien dalam bentuk darah, sputum (dahak),
urine (air kencing/air seni), kerokan kulit, dan cairan tubuh lainnya dengan
tujuan untuk menentukan diagnosis atau membantu menegakkan diagnosis penyakit.
Pemeriksaan laboratorium yang biasa
dilakukan meliputi, elektrolit (kalium, natrium, kalsium, fosfor dan klorida),
ureum, kreatinin, albumin dan total protein (Alam dan Hadibroto, 2008).
Pemeriksaan ureum sangat membantu menegakkan diagnosis gagal ginjal akut.
Pengukuran kadar ureum dapat dipergunakan untuk mengevaluasi fungsi ginjal,
status hidrasi, menilai keseimbangan nitrogen, menilai progresivitas penyakit
ginjal, dan menilai hasil hemodialisa. Ureum adalah produk akhir katabolisme
protein dan asam amino yang diproduksi oleh hati dan didistribusikan melalui
cairan intraseluler dan ekstraseluler ke dalam darah untuk kemudian difiltrasi
oleh glomerulus dan sebagian direabsorbsi pada keadaan dimana urin terganggu
(Verdiansah, 2016).
1.2 Rumusan Masalah
a) Apa
pengertian dari pemeriksaan laboratorium?
b) Apa
tujuan dari pemeriksaan laboratorium?
c) Apa
jenis pemeriksaan lab?
d) Aa
itu pemeriksaan Hb?
e) Apa
pemeriksaan glukosa?
f) Apa
pemeriksaan protein?
g) Apa
itu pp test?
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari
makalah ini adalah untuk menambah ilmu pengetahuan mahasiswa mengenai
pemeriksaan laboratorium pada ibu hamil.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan pada ibu hamil adalah
pemeriksaan laboratorium rutin dan khusus pemeriksaan laboratorium rutin adalah
pemeriksaan laboratorium yang harus dilakukan pada setiap ibu hamil yaitu
golongan darah hemoglobin darah protein urin dan pemeriksaan spesifik daerah
endemis atau epidemi atau malaria IMS HIV dan lain-lain sementara pemeriksaan
laboratorium khusus adalah penulisan laboratorium lain yang dilakukan atas
indikasi pada ibu hamil yang melakukan kunjungan antenatal.
Cek laboratorium (lab) ibu hamil bisa dimulai sejak trimester pertama.
Tujuannya untuk mengetahui status kesehatan Bunda dan janin selama menjalani
kehamilan. Panduan pemeriksaan laboratorium saat hamil telah diatur dalam
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2015 tentang
Penyelenggaraan Pemeriksaan Laboratorium untuk Ibu Hamil, Bersalin, dan Nifas
di Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Jaringan Pelayanan. Dalam Permenkes,
dijelaskan bahwa pemeriksaan laboratorium selama kehamilan, persalinan, dan
nifas merupakan salah satu komponen penting dalam pemeriksaan antenatal dan identifikasi
risiko komplikasi. "Perlu diingat, bahwa nilai rujukan laboratorium pada
wanita yang tidak hamil berbeda dengan nilai rujukan laboratorium wanita hamil.
Hal ini disebabkan karena adanya perubahan anatomi, fisiologi, dan biokimia ibu
hamil, sebagai adaptasi terhadap kehamilannya. Cek lab ibu hamil dilakukan
untuk mencegah terjadinya komplikasi parah selama kehamilan. Selain itu, cek
lab juga bisa mendeteksi dini kondisi kehamilan untuk dapat dilakukan
intervensi lanjutan bila ditemukan masalah. Misalnya, pada pemeriksaan penting,
Bunda ingin mengetahui penapisan anemia. Jika tidak dapat diperiksa, maka bisa
berdampak buruk bagi ibu dan janin. Cek laboratorium yang tak kalah penting
adalah pemeriksaan darah, penapisan anemia, infeksi, hepatitis, kencing manis,
dan cek urine lengkap. Ragam cek lab ibu hamil tiap trimester. Cek lab
trimester 1 berikut beberapa jenis cek lab ibu hamil yang dianjurkan di
trimester 1:
1. Pemeriksaan urine, Tes ini terdiri dari tes urine
kehamilan dan urine lengkap.
2. Pemeriksaan darah, Pemeriksaan darah untuk
kehamilan terdiri dari:
a. Tes
hematologi
b. MCV
(mean corpuscular volume)
c. MCH
(mean corpuscular hemoglobin)
d. MCHC
(mean corpuscular hemoglobin concentration)
e. RDW
(red cell distribution width)
f. Apus
darah tepi
g. Tes
Ferritin
h. GTT
(glucose tolerance test) dengan beban 75 gram gula untuk mengetahui riwayat
kencing manis atau diabetes.
i.
Hepatitis B antigen
(HbsAg) untuk mengetahui ada tidaknya infeksi hepatitis.
j.
VDRI (venereal disease
research laboratory)
k. TPHA
(treponema pallidum haemagglutination)
Pemeriksaan
tinja, Pemeriksaan tinja terdiri dari analisis feses pada daerah endemis
penyakit cacing dan ada keluhan pencernaan. Cek lab trimester 2: Di trimester
2, Bunda bisa menjalani cek lab sesuai dengan saran dokter kandungan. Berikut 2
jenis cek lab ibu hamil di trimester 2:
a. GTT,
Memasuki trimester 2 atau usia kehamilan 24-28 minggu, Bunda bisa menjalani
pemeriksaan GTT untuk mengetahui kadar gula darah dalam tubuh. Tes rudin ini
dapat dilakukan bila Bunda memiliki riwayat sakit diabetes. Pemeriksaan juga
dapat dilakukan ketika muncul keluhan penambahan berat badan berlebih selama
kehamilan. Sebelum melakukan cek laboratorium ini, Bunda perlu berpuasa selama
12 jam. Setelah diambil darahnya, Bunda akan diberikan minuman yang sudah
diberi 75 gram glukosa. Hasil GTT akan dicocokkan dengan tabel standar gula
darah ibu hamil.
b. Tes
amniosentesis, Tes ini dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya kelainan
kromosom janin, infeksi cairan ketuban, serta kematangan paru janin. Ada dua
jenis tes amniosentesis, yakni: Analisis genetik untuk mengambil cairan amnion
pada usia kehamilan 15-18 minggu bila ada kecurigaan risiko cacat bawaan. Uji
kematangan paru janin yang dilakukan pada Bunda dengan diabetes. Cairan ketuban
diambil pada usia kehamilan cukup bulan. Cek lab trimester 3 Memasuki trimester
3, Bunda kan tetap menjalani pemeriksaan rutin saat kunjungan ke dokter.
Pemeriksaan mencakup tes urin, cek tekanan darah, pengukuran rahim, dan
pemeriksaan detak jantung bayi. Cek laboratorium di trimester 3 meliputi
pemeriksaan darah dan urine, dokter biasanya akan mengecek kadar protein dan
gula dalam urine untuk mendeteksi infeksi. Pemeriksaan darah dilakukan untuk
kondisi anemia. Selain itu, Bunda juga dapat menjalani tes amniosentesis di
trimester akhir ini. Ada beberapa kondisi yang mungkin memerlukan tes
amniosentesis. Kondisi ini termasuk kecurigaan korioamnionitis atau risiko
kelahiran prematur, karena cairan amniosentesis dapat digunakan untuk
memperkirakan kematangan paru-paru janin. Tes amniosentesis juga
direkomendasikan pada Bunda hamil berusia 35 tahun atau lebih. Cek lab lain di
trimester 3 adalah tes untuk mengetahui keberadaan Streptokokus grup B, yakni
bakteri yang bisa ditularkan ke anak saat lahir. Jika Bunda membawa bakteri,
maka dokter mungkin akan memberikan antibiotik selama persalinan untuk mencegah
bayi sakit.
2.2 Tujuan
Pemeriksaan Lab Pada Ibu Hamil
Selain pemeriksaan fisik dan penunjang
seperti ultrasonografi atau USG, pemeriksaan laboratorium juga penting
dilakukan dalam kehamilan untuk menunjang diagnosa, deteksi dini, penanganan
lebih awal, dan pencegahan penularan penyakit menular misal nya pemeriksaan:
1. Kadar
hemoglobin, pemeriksaan ini dilakukan pada trimester I dan trimester III. Pada
trimester I, bertujuan untuk persiapan nutrisi selama masa konsepsi dan pada
trimester III berfungsi untuk persiapan persalinan apabila dicurigai anemia.
2. Golongan
darah dan rhesus, diperiksa untuk persiapan perencanaan persalinan dan deteksi
dini adanya ketidaksamaan golongan darah dan rhesus antara ibu dan bayi.
3. Skrining
HIV dan penyakit menular lainnya, pemeriksaan ini penting dilakukan untuk
mencegah penularan dari ibu ke bayi. Skrining penyakit endemi tertentu, untuk
memastikan apakah ibu hamil sehat dari penyait endemi atau tidak, serta sebagai
upaya pengobatan secara dini untuk mencegah dampak pada janin. Misalnya jika
suatu daerah terdapat endemi malaria, maka skrining malaria penting dilakukan
untuk mengetahui apakah ibu menderita malaria atau tidak, apabila hasil
menunjukkan ibu menderita malaria, maka bisa dilakukan tata laksana lebih awal
agar tidak berdampak pada janin.
4. Urinalisis,
atau tes urin digunakan untuk mendeteksi apakah ada infeksi pada kandung kemih
atau ginjal, diabetes, dehidrasi, dan preeklampsia dengan cara memeriksa kadar
protein, reduksi, keton, dan bakteri urin.
5. Gula Darah Puasa, dilakukan untuk skrining
adanya Diabetes Melitus Gestasional. Tes yang paling tepat adalah dengan
menggunakan metode tes toleransi glukosa oral yang berfungsi untuk
mengidentifikasi cara tubuh dalam menangani glukosa setelah makan. Untuk
mendeteksi Diabetes Melitus Gestasional, skrining dilakukan pada minggu ke
24-28 kehamilan.
6. Tes
Sputum BTA, untuk memastikan ibu terbebas dari Tuberkulosis. Namun, hal ini
tidak selalu dilakukan, kecuali jika terdapat tanda-tanda tuberkulosis seperti
batuk yang berkepanjangan, demam, kelelahan, dan kontak dengan penderita
tuberkulosis dalam waktu yang cukup lama (± 2 tahun).
2.3 Jenis
Pemeriksaan Laboratorium
1.
Hitung Darah Lengkap, Pemeriksaan hitung darah lengkap adalah tes darah yang
paling umum dilakukan. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengukur jenis dan
jumlah sel dalam darah, termasuk sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit.
Tes ini digunakan untuk menentukan status kesehatan umum, menyaring kelainan,
dan mengevaluasi status gizi pasien. Pemeriksaan ini dapat membantu
mengevaluasi gejala seperti kelemahan, kelelahan, dan memar. Selain itu,
pemeriksaan ini juga dapat membantu mendiagnosis kondisi seperti anemia,
leukemia, malaria, dan infeksi.
2.
Prothrombin Time, Tes ini mengukur berapa lama waktu yang dibutuhkan darah
untuk membeku. Tes koagulasi ini mengukur keberadaan dan aktivitas lima faktor
pembekuan darah yang berbeda. Tes ini dapat menyaring kelainan perdarahan dan
juga dapat digunakan untuk memantau perawatan obat yang mencegah pembentukan
bekuan darah.
3.
Tes Darah Panel Metabolik Dasar, Tes ini mengukur glukosa, natrium, kalium,
kalsium, klorida, karbon dioksida, nitrogen urea darah, dan kreatinin.
Pemeriksaan ini dapat membantu menentukan kadar gula darah, keseimbangan
elektrolit dan cairan, serta fungsi ginjal. Tes darah ini dapat membantu dokter
memantau efek obat yang diminum, seperti obat tekanan darah tinggi, dapat
membantu mendiagnosis kondisi tertentu, atau dapat menjadi bagian dari
pemeriksaan kesehatan rutin. Kamu direkomendasikan untuk berpuasa hingga 12 jam
sebelum melakukan tes ini.
4.
Panel Metabolik Komprehensif, Tes ini menggabungkan Panel Metabolik Dasar
dengan enam tes lagi untuk evaluasi fungsi metabolisme yang lebih komprehensif,
dengan fokus pada sistem organ.
5.
Panel Lipid, Panel lipid adalah sekelompok tes yang digunakan untuk
mengevaluasi risiko jantung. Ini termasuk kadar kolesterol dan trigliserida.
6.
Panel Hati
Panel hati
adalah kombinasi tes yang digunakan untuk menilai fungsi hati dan menentukan
kemungkinan adanya tumor hati.
7.
Hemoglobin A1C
Tes ini
digunakan untuk mendiagnosis dan memantau diabetes.
8.
Urinalisis, Merupakan pemeriksaan laboratorium umum untuk memeriksa tanda-tanda
awal penyakit. Ini juga dapat digunakan untuk memantau diabetes atau penyakit
ginjal.
9.
Tes Kultur Darah, Tes ini digunakan untuk menguji diagnosis dan pengobatan
infeksi. Penyakit seperti infeksi saluran kemih, pneumonia, radang tenggorokan,
MRSA, dan meningitis dapat dideteksi melalui tes ini, sehingga bisa diberikan pengobatan
antibiotik yang tepat ada pun jenis-jenis tes darah untuk Ibu Hamil. Berikut
adalah beberapa jenis tes darah yang diperlukan saat hamil, yaitu:
a) Tes
darah lengkap, Tes ini diperlukan untuk mengetahui apakah kadar hemoglobin
dalam sel darah merah ibu hamil normal atau terlalu sedikit yang artinya
pertanda anemia. Selain itu, tes ini juga dapat dilakukan untuk menghitung
jumlah darah putih. Jika mengalami peningkatan sel darah putih, itu artinya ibu
hamil mungkin mengalami infeksi.
b) Tes
golongan darah, antibodi, dan faktor resus, Tes golongan darah dilakukan untuk
mengetahui golongan darah (A, B, AB, atau O) dan resus darah ibu hamil (resus
negatif atau positif). Jika resusnya berbeda dengan janin, maka ibu hamil akan
diberi suntikan imunoglobulin guna mencegah pembentukan antibodi yang dapat
menyerang darah janin.
c) Tes
gula darah, Pemeriksaan kadar gula darah ibu hamil biasanya dilakukan di
trimester kedua kehamilan. Akan tetapi, dokter mungkin akan menyarankan tes
gula darah lebih dini pada ibu hamil yang memiliki berat badan berlebih, pernah
melahirkan anak dengan berat badan di atas 4,5 kilogram sebelumnya, atau memiliki
riwayat diabetes gestasional.
d) Tes
imunitas terhadap rubella (campak Jerman), Jika ibu hamil terinfeksi rubella di
awal kehamilan, janin dalam kandungan bisa mengalami kecacatan yang serius,
keguguran, atau lahir dalam keadaan meninggal (stillbirth). Oleh karena itu,
penting untuk melakukan tes ini guna mengetahui apakah ibu hamil sudah memiliki
kekebalan terhadap virus ini. Bila belum, ibu hamil dianjurkan untuk
menghindari kontak dengan orang yang terinfeksi rubella.
e) Tes
HIV, Infeksi HIV penyebab AIDS pada ibu hamil bisa menular ke janin selama
kehamilan, saat melahirkan, atau selama menyusui. Di Indonesia, semua ibu hamil
di wilayah dengan angka kasus HIV yang tinggi, atau ibu hamil dengan perilaku
berisiko dianjurkan untuk menjalani tes HIV. Tidak perlu merasa khawatir atau
sungkan melakukan tes ini. Fasilitas kesehatan tempat tes HIV dilakukan akan
memberikan pelayanan VCT dan menjamin kerahasiaan status pasien saat menjalani
pemeriksaan HIV. Bila ternyata ibu hamil positif HIV, penanganan medis akan dilakukan
untuk mengurangi risiko penularan HIV kepada bayi dan mencegah berkembangnya
infeksi HIV menjadi lebih berat.
f) Tes
sifilis, Semua ibu hamil disarankan untuk menjalani skrining sifilis, terutama
bagi yang memiliki perilaku seks berisiko atau tanda gejala penyakit menular
seksual. Sifilis yang tidak ditangani dapat menyebabkan cacat berat pada bayi,
bahkan pada kasus yang lebih fatal, bayi bisa lahir dalam keadaan meninggal.
Bila ibu hamil didiagnosis memiliki sifilis, dokter akan memberikan antibiotik
penisilin untuk mengobati penyakit tersebut dan mencegah penularan sifilis pada
janin.
g) Tes
hepatitis B, Virus hepatitis B dapat menyebabkan penyakit hati yang serius.
Hepatitis B dapat menular dari ibu kepada janin selama kehamilan. Akibatnya,
bayi memiliki risiko tinggi untuk terinfeksi virus hepatitis jangka panjang dan
menderita penyakit hati di kemudian hari. Karenanya, ibu hamil perlu menjalani
tes darah untuk mendeteksi virus hepatitis B sejak dini, dan mendapatkan
pengobatan jika hasil tesnya positif. Saat lahir, bayi dari ibu yang menderita
hepatitis B perlu mendapat imunisasi hepatitis B secepatnya (paling lambat 12
jam setelah lahir).
2.4 Pemeriksaan
HB pada saat hamil
Dianjurkan minimal 2 kali diantaranya saat
trimester pertama dan trimester ketiga. Tujuan pemeriksaan hb pada saat hamil
diantaranya untuk mengetahui kadar sel darah merah pada ibu hamil. Kadar hb
normal pada saat hamil 11 gr % dan apabila hb > 11 gr % maka ibu hamil
tersebut mengalami anemia. Penyebab anemia pada saat hamil dapat terjadi karena
meningkatnya kebutuhan zat besi untuk pertumbuhan janin, kurangnya asupan zat
besi (Fe) pada wanita akibat persalinan sebelumnya dan menstruasi, kurang
komsumsi makanan sumber zat besi,
menderita penyakit infeksi (kecacingan, malaria) dan tidak mengomsumsi
tablet besi (Fe) sesuai anjuran.
1. Beberapa
cara pemeriksaan hemoglobin yang dilakukan adalah:
a) Cara
tallquist yaitu: membandingkan warna merah yang terdapat di darah dengan
menggunakan kertas tallquist yang memiliki standart.
b) Kolorimetris
yaitu visual metode sahli yaitu dengan proses pembentukan asam hematin dan
fotoelektris yaitu pembentukan sianmetoxyhemoglobin.
c) Cara
cupri sulfat berdasarkan berat jenis darah yang dilihat dari tetesan darah
tenggelam, melayang atau mengapung.
d) Cara
kimia yaitu dengan menentukan kadar Fe yang diikat oleh sejumlah gas tertentu.
e) Cara
gasometrik berdasarkan pada suhu dan tekanan udara tertentu dimana hemoglobin
dapat mengikat sejumlah gas yang tertentu pula.
f) Cara
non-sianmethemoglobin (automated hematology analyser), yaitu menggunakan reagen
SLS (Sodium Laury Sulfat) yang relatif lebih aman dibandingkan dengan reagen
yang digunakan pada metode sianmethemoglobin yang pada umumnya diterapkan pada
alat hitung otomatis.
g) Metode
amperometeri (stik Hb), yaitu deteksi dengan menggunakan
pengukuran arus yang yang dihasilkan
pada sebuah reaksi elektrokimia.
2. Tanda
- tanda anemia pada ibu hamil seperti:
-
Wajah, terutama kelopak mata dan bibir tampak pucat
-
Kurang nafsu makan
-
Lesu dan lemah
-
Cepat lelah
-
Sering pusing dan mata berkunang-kunang Akibat
anemia:
-
Keguguran
-
Bayi lahir prematur (belum cukup bulan)
-
Bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR) dan pendek (Stunting)
-
Dalam kondisi anemia berat, bayi bisa lahir mati
-
Anemia dapat memperparah perdarahan pada saat melahirkan, sehingga memperbesar risiko kematian ibu.
3. Pencegahan
Dan Penanggulangan Anemia
-
Minum tablet besi (Fe) setiap hari
-
Konsumsi makanan kaya protein, zat besi, folat, kalsium, vitamin A dan vitamin
B
-
Makan satu porsi lebih banyak saat hamil
-
Dianjurkan mengonsumsi makanan yang difortifikasi zat besi dan vitamin A, juga
mengonsumsi garam beriodium. Ibu hamil
membutuhkan tambahan zat besi sekitar 1000 mg sepanjang kehamilannya. Tablet
besi (Fe) sangat aman dikonsumsi dan
sangat dianjurkan bagi ibu hamil untuk mencegah kekurangan zat besi dan asam
folat yang meningkat kebutuhannya selama kehamilan agar ibu dan janinnya sehat.
4. Gambar kadar hb pada ibu hamil
|
≥ 11,5 gr% |
Tidak Anemia |
|
9,1 – 11,4 gr% |
Anemia Ringan |
|
7,1 – 9 gr% |
Anemia Sedang |
|
≤ 7 gr% |
Anemia Berat |
2.5 Pemeriksaan
Glukosa
1. Pengertian
Pemeriksaan Glukosa atau kadar gula
darah.Ibu hamil yang dicurigai menderita diabetes melitus dilakukan pemeriksaan
gula darah selama kehamilan minimal sekali pada trimester pertama sekali pada
trimester kedua dan sekali pada trimester ketiga. Tes gula darah saat hamil
biasanya dilakukan pada akhir trimester kedua, antara 24 dan 28 minggu usia
kehamilan. Pemeriksaan gula darah ini bisa dilakukan dengan dua versi yang
berbeda, pertama adalah tes dimulai dengan tes satu jam yang direkomendasikan
untuk semua wanita hamil. Glukosa
darah merupakan gula sederhana dalam makanan biasanya dalam bentuk disakarida,
atau terikat molekul lain.
Konsentrasi glukosa dalam vena seseorang
yang tidak menderita diabetes atau dalam kondisi normal umumnya antara 75-115
ml/dl(Kosasih, 2008).Glukosa darah merupakan gula yang terdapat dalam darah
yang berasal dari karbohidrat dalam makanan dan disimpan sebagai glikogen
dihati dan diotot rangka. Glukosa darah berfungsi sebagai penyedia energi tubuh
dan jaringan-jaringan dalam tubuh (Widyastuti, 2011).
Kadar glukosa darah adalah istilah yang
mengacu pada kadar glukosa dalam darah yang konsentrasinya diatur ketat oleh
tubuh. Glukosa yang dialirkan melalui darah adalah sumber utama energi untuk
sel-sel tubuh. Umumnya tingkat glukosa dalam darah bertahan pada batas-batas
4-8 mmol/L /hari (70-150 mg/dl), kadar ini meningkat setelah makan dan biasanya
berada pada level terendah di pagi hari sebelum orang-orang mengkonsumsi
makanan. Kadar glukosa darah dibagi menjadi dua yaitu hiperglikemia dan
hipoglikemia. Hiperglikemia bisa terjadi karena asupan karbohidrat dan glukosa
yang berlebihan. Beberapa tanda dan gejala dari hiperglikemia yaitu peningkatan
rasa haus, nyeri kepala, sulit konsentrasi, penglihatan kabur, peningkatan
frekuensi berkemih, letih, lemah, penurunan berat badan. Sedangkan hipoglikemia
juga bisa terjadi karena asupan karbohidrat dan glukosa kurang. Kadar glukosa
darah dalam keadaan normal berkisar antara 70-110 mg/dl. Nilai normal kadar
glukosa dalam serum dan plasma 75-115 mg/dl, kadar gula 2 jam postprandial <
140 mg/dl, dan kadar gula darah sewaktu < 140 mg/dl (Widyastuti, 2011).
2. Macam-macam
Pemeriksaan Glukosa Darah
Dalam
pemeriksaan kadar glukosa darah dikenal beberapa jenis pemeriksaan, antara
lain:
1.
Glukosa darah sewaktu
Glukosa
darah sewaktu merupakan pemeriksaan kadar glukosa darah yang dilakukan setiap
hari tanpa memperhatikan makanan yang dimakan dan kondisi
tubuh
orang tersebut. Pemeriksaan kadar gula darah sewaktu adalah pemeriksaan
gula
darah yang dilakukan setiap waktu, tanpa ada syarat puasa dan makan.
Pemeriksaan
ini dilakukan sebanyak 4 kali sehari pada saat sebelum makan dan
sebelum
tidur sehingga dapat dilakukan secara mandiri.
2.
Glukosa darah puasa
Glukosa
darah puasa merupakan pemeriksaan kadar glukosa darah yang dilakukan setelah
pasien puasa selama 8-10 jam. Pasien diminta untuk melakukan puasa sebelum
melakukan tes untuk menghindari adanya peningkatan gula darah lewat makanan
yang mempengaruhi hasil tes.
3.
Glukosa 2 jam setelah makan (postprandial)
Glukosa
2 jam setelah makan merupakan pemeriksaan kadar glukosa darah yang dilakukan 2
jam dihitung setelah pasien selesai makan (M. Mufti dkk, 2015). Pemeriksaan
kadar postprandial adalah pemeriksaan kadar gula darah yang dilakukan saat 2
jam setelah makan. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi adanya diabetes
atau reaksi hipoglikemik. Standarnya pemeriksaan ini dilakukan minimal 3 bulan
sekali. Kadar gula di dalam darah akan mencapai kadar yang paling tinggi pada
saat dua jam setelah makan. Normalnya, kadar gula dalam darah tidak akan
melebihi 180 mg per 100 cc darah. Kadar gula darah 190 mg/dl disebut sebagai
nilai ambang ginjal. Jika kadar gula melebihi nilai ambang ginjal maka
kelebihan gula akan keluar bersama urin.
4.
Pemeriksaan Penyaring
Pemeriksaan
penyaring dapat dilakukan dengan cara melalui pemriksaan kadar glukosa darah
sewaktu atau kadar glukosa darah puasa. Apabila pemeriksaan penyaring ditemukan
hasil positif, maka perlu dilakukan konfirmasi dengan pemeriksaan glukosa
plasma puasa atau dengan tes glukosa oral (TTGO) standart (MenKes, 2014).
5.
HbA1c
HbA1c
adalah zat yang terbentuk dari reaksi antara glukosa dan hemoglobin (bagian
dari sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh bagian tubuh).
Makin tinggi kadar gula darah, maka semakin banyak molekul hemoglobin yang
berkaitan dengan gula. Apabila pasien sudah pasti terkena DM, maka pemeriksaan
ini penting dilakukan pasien setiap 3 bulan sekali. Jumlah HbA1c yang
terbentuk, bergantung pada kadar glukosa dalam darah sehingga hasil pemeriksaan
HbA1c dapat menggambarkan rata-rata kadar gula pasien DM dalam waktu 3 bulan.
Selain itu, pemeriksaan HbA1c juga dapat dipakai untuk menilai kualitas
pengendalian DM karena hasil pemeriksaan HbA1c tidak dipengaruhi oleh asupan
makanan, obat, maupun olahraga sehingga dapat dilakukan kapan saja tanpa ada
persiapan khusus (Widyastuti, 2011).
2.6 Pemeriksaan
Protein Dalam Urine
1. Pengertian
Pemeriksaan
protein dalam urine pada ibu hamil dilakukan di trimester kedua dan ketiga atas
indikasi pemeriksaan ditunjukkan untuk mengetahui adanya protein urine pada ibu
hasil protein urine merupakan salah satu indikator terjadinya pre-eklamsi pada
ibu hamil.
2. Standar
kadar kekeruhan rotein:
1. Negatif: Urine jernih
2. Positif (+): Ada kekeruhan
3. Positif (++): Kekeruhan mudah di lihat dan ada
endapan
4. Positi (+++): Urine lebih keruh dan endapan yang
lebih jelas
5. Positif (++++): Urine sangat keruh dan di sertai
endapan yang menggumpal
2.7 Pengertian
Pemeriksaan PP test
adalah
pemeriksaan untuk mengetahui kadar HCGdalam urin, jika kadar CHG melebihi batas
maka akan terbentuk gariswarna merah pada test. Sedangkan apabila kadar HCG
dalam urin kurangdari ambang batas atau tidak mengandung HCG maka tidak akan
terbentukgaris berwarna pada daerah test. Sebagai kontrol akan selalu
terbentukgaris berwarna pada daerah kontrol akan berwarna pada daerah kontrol
halini untuk menandakan bahwa volume urin yang diserap telah memenuhimembran
dari strip tersebut2. Tujuan Untuk mengatahui kadar HCG pada urin3. Pemeriksaan
ini mengkonfirmasi kehamilan dg cara mendeteksi hormon hCG, foto dapat
menggunakan sample darah/urin. Sebaiknya dilakukan 1-2 minggu sejak telat
menstruasi u/ mendapatkan hasil tes yang akurat. Plano test dg sample darah
dapat terdeteksi paling cepat 11 hari setelah pembuahan. Jika anda tidak hamil,
kadar hCG seharusnya <10 mIU/mL. Jika hasil menunjukkan kadar hCG di atas
rata-rata bisa jadi anda mengalami kehamilan anggur, hamil kembar >=2, atau
baru keguguran.
Untuk
memastikan akan dilakukan USG.
1.
Hasil positif palsu pada plano test dapat terjadi jika:
-
Sedang konsumsi obat fertilitas mis suntikan choriogonadotropin alfa.
-
Tumor sel germinal: bisa jinak/berkembang jadi kanker, biasanya ditemukan di
organ reproduksi wanita.
-
Gangguan organ pituitari: pituitari menghasilkan hormon FSH dan LH yang akan
berpengaruh thd kadar hCG juga. Tes kehamilan dengan test pack dapat dilakukan
1 hari sejak terlambat haid. Produksi hCG meningkat 2x tiap 2 atau 3 hari. Hal
ini terjadi sekitar 6 hari setelah pembuahan terjadi. Pada fse ini, bumil
biasanya akan mengalami flek kecokelatan dari vagina.
2.
Hasil test pack dalam berubah antara lain karena:
-
Garis penguapan: garis samar yg terkadang muncul pada test pack, saat urine
sudah mulai mengering dan menguap.
-
Kondisi alat test pack: kadaluarsa, atau sensitivitas rendah.
-
waktu melakukan test pack
-
Efek samping obat: konsumsi obat penyubur misal Pregnyl dan Novarel dapat
mengganggu hasil test pack karena obat tsb juga mengandung hormon yg mirip hCG.
-
Kondisi kehamilan.
Beberapa
tanda kehamilan antara lain: kram perut ringan (mirip saat mau haid), bercak
lebih pucat dan sedikit dibanding bercak haid (di 2-3 hari awal kehamilan),
payudara nyeri dan membesar, mual, mudah lelah, tidak nafsu makan, mood swing,
sering BAK. Terlambat haid tidak selalu kehamilan, dapat juga akibat pola makan
yg buruk, stres, kondisi medis tertentu. Menebalnya rahim bisa jadi merupakan
dalah 1 tanda awal kehamilan. Sel telur setelah dibuahi sperma akan menanamkan
diri ke dinding rahim agar dapat berkembang. Untuk mensupport perkembangan ini,
dinding rahim akan terus menebal dan membesar seiring bertambahnya usia
kehamilan. Meski demikian butuh dipastikan ada tidaknya kantong kehamilan
(gestaitional sac) pada UK >6 minggu. Dinding rahim yang menebal juga bisa
ditemui pada kondisi: menjelang haid, obat hormonal, hamil ektopik, gangguan
keseimbangan hormol, hamil anggur, endometriosis, miom, kanker rahim.
BAB
III
PENUTUP
2.8 Kesimpulan
Pemeriksaan
laboratorium adalah, suatu tindakan dan prosedur pemeriksaan khusus dengan
mengambil bahan atau sampel dari pasien dalam bentuk darah, sputum (dahak),
urine (air kencing/air seni), kerokan kulit, dan cairan tubuh lainnya dengan
tujuan untuk menentukan diagnosis atau membantu menegakkan diagnosis penyakit.
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan
pada ibu hamil adalah pemeriksaan laboratorium rutin dan khusus, tujuan dari
pemeriksaan laboratorium adalah menunjang diagnosa, deteksi dini, penanganan
lebih awal, dan pencegahan penularan penyakit menular. Jenis pemeriksaan
laboratorium ibu hamil yaitu pemeriksaan HB (Hemoglobin), pemeriksaan kadar
glukosa dan pemeriksaan protein dalam urine.
2.9 Saran
Kami menyadari bahwa makalah ini masih
memiliki banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik
dan saran dari berbagai pihak sangat kami harapkan untuk lebih menyempurnakan
makalah ini, agar makalah ini dapat lebih sempurna dan menjadi pedoman untuk
kita semua.
DAFTAR
PUSTAKA
Ernst DJ.
Applied Phlebotomy. Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia.
2005.
1-157
Gandasoebrata
R. Penuntun Laboratorium Klinik. Dian Rakyat. Jakarta. 2004.
Merck.
Hematological Laboratory Methods. Frankfurt. 1983. 7-80 Fitri. (2007). Manfaat
Mengetahui Golongan Darah. 8 April 2010.
Guyton,
Arthur C., (1997). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi V. EGC. Jakarta.
Santosa B., Waenah, 2005. Perbedaan hasil
pengukuran hematokrit metode mikro Pada darah yang menggunakan antikoagulan
EDTA 10 ul dan 50 ul pada konsentrasi 10%. Universitas Muhammadiyah Semarang
Harris
Harry. (1994). Dasar – Dasar Genetika Biokemis Manusia. Edisis III. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta
Kiswari
Rukman. (2014). Hematologi Dan Transfusi. Erlangga. Jakarta
Sindu
Ellyani, (2002). Immunohematologi dan Sistim Golongan Darah, Depkes RI,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar