Selasa, 13 Desember 2022

LAPORAN PENDAHULUAN KETUBAN PECAH DINI KEPERAWATAN PERIOPERATIF ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. K DIAGNOSA G1P0A0 DENGAN KPD

 

  LAPORAN PENDAHULUAN  KETUBAN PECAH DINI KEPERAWATAN PERIOPERATIF ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. K  DIAGNOSA G1P0A0 DENGAN KPD 

DI RS. BHAYANGKRA POLDA LAMPUNG

 

 

 

 

 

 

NAMA :

YESI AGRAINI

2114901075

 

 

 

 

POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNG KARANG

JURUSAN KEPERAWATAN TANJUNGKARANG

PRODI PROFESI NERS KEPERAWATAN

TAHUN 2020/2021

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat dan rahmat-Nya penyusun masih diberi kesehatan sehingga makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Makalah seminar kasus tentang Asuhan Keperawatan Pada Ny. F Yang Mengalami KPD di Rs. Bhayangkra Polda Lampung.

Pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing dan pembimbing lahan Praktik Keperawatan  Perioperatif  yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan demi terselesaikannya makalah ini dan rekan-rekan dan semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini.

            Saya  menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penyusun harapkan demi kesempurnaan makalah ini dimasa mendatang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para mahasiswa dan dapat dijadikan sebagai bahan untuk menambah pengetahuan  mahasiswa.

 

 

 

 

 

 

 

Bandar Lampung,    Februari 2022

 

 

      Penyusun


 

LAPORAN PENDAHULUAN

a.    Definisi

Ketuban pecah dini adalah keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan. Bila ketuban pecah dini terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu disebut ketuban pecah dini pada kehamilan prematur. Dalam keadaan normal 8 - 10% perempuan hamil aterm akan mengalami ketuban pecah dini (Saifuddin, 2014).

Ketuban pecah dini (KPD) adalah keluarnya cairan berupa air dari vagina setelah kehamilan berusia 22 minggu sebelum proses persalinan berlangsung dan dapat terjadi pada kehamilan preterm sebelum kehamilan 37 minggu maupun kehamilan aterm, ketuban yang pecah spontan terjadi pada sembarang usia kehamilan sebelum persalinan di mulai. KPD disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membran atau meningkatnya tekanan intra uterin atau oleh kedua faktor tersebut (Winarsih, 2012).

Ketuban pecah dini didefinisikan sebagai pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan, hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya melahirkan (Sujiyati, 2019).

 

b.      Etilogi

Menurut Manuaba (2013) dalam Ani (2019), penyebab ketuban pecah dini antara lain :

1)   Servik inkompeten (penipisan servik) yaitu kelainan pada servik uteri dimana kanalis servikalis selalu terbuka.

2)   Ketegangan uterus yang berlebihan, misalnya pada kehamilan ganda dan hidroamnion karena adanya peningkatan tekanan pada kulit


ketuban di atas ostium uteri internum pada servik atau peningkatan intra uterin secara mendadak.

3)   Faktor keturunan (ion Cu serum rendah, vitamin C rendah, kelainan genetic).

4)   Masa interval sejak ketuban pecah sampai terjadi kontraksi disebut fase laten.

-       Makin panjang fase laten, makin tinggi kemungkinan infeksi

-       Makin muda kehamilan, makin sulit upaya pemecahannya tanpa menimbulkan morbiditas janin

-       Komplikasi ketuban pecah dini makin meningkat

5)   Kelainan letak janin dalam rahim, misalnya pada letak sunsang dan letak lintang, karena tidak ada bagan terendah yang menutupi pintu atas panggul yang dapat menghalangi tekanan terhadap membrane bagian bawah.

6)   Infeksi, yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun asenden dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya ketuban pecah dini.

 

c.     Manifestasi Klinis

Menurut Nugroho (2011) dalam Maruroh (2019), tanda dan gejala yang harus diwaspadai selama kehamilan adalah :

1)   Keluarnya cairan merembes melalui vagina (kemaluan).

2)   Timbul sebelum rasa mulas - mulas tanda dari awal persalinan.

3)   Cairan ketuban menjadi berwarna putih keruh mirip air kelapa, mungkin juga sudah berwarna kehijauan.

4)   Kontraksi > 4x/jam (abdomen, rasa kencang, nyeri, kram menstruasi, atau rekaan pada vagina) (Sinclair, 2009)

5)   Aroma air ketuban berbau manis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut masih merembes atau menetes, dengan ciri pucat dan bergaris warna darah.

6)   Jika duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di bawah.

7)   Demam, bercak vagina yang banyak, nyeri perut, denyut jantung janin bertambah cepat merupakan tanda - tanda infeksi yang terjadi.


 

 

d.    Patofisiologi

Infeksi dan inflamasi dapat menyebabkan ketuban pecah dini dengan menginduksi kontraksi uterus dan atau kelemahan fokal kulit ketuban. Banyak mikroorganisme servikovaginal, menghasilkan fosfolipid C yang dapat meningkatkan konsentrasi secara lokal asam arakidonat, dan lebih lanjut menyebabkan pelepasan PGE2 dan PGF2 alfa dan selanjutnya menyebabkan kontraksi miometrium. Pada infeksi juga dihasilkan produk sekresi akibat aktivitas monosit/ makrofag, yaitu sitokrin, interleukin 1, faktor nekrosis tumor dan interleukin 6. Platelet activating factor yang diproduksi oleh paru-paru janin dan ginjal janin yang ditemukan dalam cairan amnion, secara sinergis juga mengaktifasi pembentukan sitokin. Endotoksin yang masuk ke dalam cairan amnion juga akan merangsang sel-sel desidua untuk memproduksi sitokin dan kemudian prostaglandin yang menyebabkan dimulainya persalinan.

Adanya kelemahan lokal atau perubahan kulit ketuban adalah mekanisme lain terjadinya ketuban pecah dini akibat infeksi dan inflamasi. Enzim bakterial dan atau produk host yang disekresikan sebagai respon untuk infeksi dapat menyebabkan kelemahan dan rupture kulit ketuban. Banyak flora servikoginal komensal dan patogenik mempunyai kemampuan memproduksi protease dan kolagenase yang menurunkan kekuatan tenaga kulit ketuban. Elastase leukosit polimorfonuklear secara spesifik dapat memecah kolagen tipe III pada manusia, membuktikan bahwa infiltrasi leukosit pada kulit ketuban yang terjadi karena kolonisasi bakteri atau infeksi dapat menyebabkan pengurangan kolagen tipe III dan menyebabkan ketuban pecah dini.

Enzim hidrolitik lain, termasuk katepsin B, katepsin N, kolagenase yang dihasilkan netrofil dan makrofag, nampaknya melemahkan kulit ketuban . Sel inflamasi manusia juga menguraikan aktifator plasminogen yang mengubah plasminogen menjadi plasmin potensial, potensial menjadi penyebab ketuban pecah dini.



Pathway

Klien mengaku sudah merencanakan kehamilan sejak lama

Kesiapan Meningkatkan Proses Kehamilan-Persalinan

Rasa mulas dan ingin mengejan

KALA 1 PERSALINANs

Infeksi genitalia

Serviks inkompeten

Proses biomekanik bakteri mengeluarkan enzim proteolitik

Dilatasi berlebih serviks

Tidak ada bagian terendah yang menutupi pintu atas panggul yang menghalangi tekanan terhadap membrane bagian bawah

Selaput ketuban menonjol dan mudah pecah

His yang berulang

Kelainan letak janin (sungsang)

Gemeli, hidramnion

Ketegangan uterus berlebih

Serviks tidak bisa menahan tekanan intrauterus

Kanalis servikalis selalu terbuka akibat kelainan serviks uteri (abosrtus dan riwayat kuretase)

Gangguan pada kala 1 persalinan

Selaput ketuban mudah pecah

Mudahnya pengeluaran air ketuban

KETUBAN PECAH DINI

Klien tidak mengetahui penyebab dan akibat KPD

Air ketuban terlalu banyak

 keluar

Tidak adanya pelindung dunia luar dengan daerah rahim

Defisit Pengetahuan

Distoksia (partus kering)

Mudahnya mikroorganisme masuk secara asendens

Laserasi pada jalan lahir

peningkatan kontraksi dan pembukaan seviks uteri

Mengiritasi nervus pudendalis

Stimulus nyeri

Nyeri akut

Resiko Infeksi

Kecemasan ibu terhadap keselamatan janin dan dirinya

Ansietas

Klien melaporkan tidak nyaman

Gangguan Rasa Nyaman

 


e.     Pemeriksaan Penunjang

Langkah pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis ketuban pecah dini dapat dilakukan:

a.    Pemeriksaan spekulum, untuk mengambil sampel cairan ketuban di froniks posterior dan mengambil sampel cairan untuk kultur dan pemeriksaan bakteriologis.

b.    Melakukan pemeriksaan dalam dengan hati-hati, sehingga tidak banyak manipulasi daerah pelvis untuk mengurangi kemungkinan-kemungkinan infeksi asenden dan persalinan prematuritas (Manuaba, 2013).

 

Menurut Nugroho (2010), pemeriksaan penunjang ketuban pecah dini dapat dilakukan dengan pemeriksaan ultrasonografi (USG) :

a.    Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam kavum uteri.

b.    Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit. Namun seringterjadi kesalahan pada penderita oligohidramnion.

c.    Pemeriksaan leukosit darah : > 15.000/PL bila terjadi infeksi

d.   Test lakmus berubah menjadi biru

e.    Amniosintesis

 

f.     Penatalaksanaan Medis

Menurut Manuaba (2013) dalam buku ajar patologi obstetrik, kasus KPD yang cukup bulan, kalau segera mengakhiri kehamilan akan menaikkan insidensi bedah sesar, dan kalau menunggu persalinan spontan akan menaikkan insidensi chorioamnionitis. Kasus KPD yang kurang bulan jika menempuh cara - cara aktif harus dipastikan bahwa tidak akan terjadi RDS dan jika menempuh cara konservatif dengan maksud untuk memberi waktu pematangan paru, harus bisa memantau keadaan janin dan infeksi yang akan memperjelek prognosis janin (Manuaba, 2013).

Dalam Jurnal Kedokteran Syiah Kuala (2019), pada kasus hamil aterm atau cukup bulan, bila ketuban pecah sudah melebihi 6 jam maka dilakukan terminasi kehamilan melalui induksi persalinan dengan oksitosin dengan monitoring ketat terkait kesejahteranan janin meliputi denyut jantung dan kontraksi rahim serta tanda-tanda infeksi pada ibu. Ketuban pecah dini dapat terjadi dikarenakan berbagai sebab, pada umunya KPD dapat terjadi akibat melemahnya membran secara fisiologis yang ditambah dengan gesekan yang terjadi akibat adanya kontraksi uterus.

Pada kehamilan 34 - 36 minggu sebelum melakukan persalinan, berikan terlebih dahulu antibiotik menggunakan kombinasi ampicillin 2 gram + erithromycin 250 mg intravena setiap 6 jam selama 48 jam. Diikuti dengan amoxicillin 250 mg + erithromycin 333 mg setiap 8 jam selama 5 hari. Pada kehamilan 32 – 33 minggu pada pasien dapat diberikan kortikosteroid seperti betamethasone 12 mg setiap 24 jam selama 2 hari, atau dexamethasone 6 mg setiap 12 jam selama 2 hari untuk membantu kematangan paru fetus. Persalinan pada usia gestasi kurang dari 32 minggu memiliki risiko yang tinggi bagi janin. Oleh karena itu, kehamilan perlu dipertahankan minimal hingga usia gestasi 34 minggu Persalinan pada usia gestasi kurang dari 32 minggu memiliki risiko yang tinggi bagi janin. Oleh karena itu, kehamilan perlu dipertahankan minimal hingga usia gestasi 34 minggu.

 

g.      Prosedur tindakan

1.        Persiapan Pasien:

-          Periksa pasien dan yakinkan kembali indikasi sectio caesarea sudah tepat.         

-          Pasien dan keluarga diberi penjelasan tentang hal-hal yang akan dilakukan serta penyulit yang mungkin timbul .

-          Pasien dan keluarga menandatangani formulir izin / persetujuan tindakan.

-          Pasang infus jaga dan siapkan darah untuk kemungkinan transfusi.

-          Pasang kateter.

-          Ganti pakaian dengan pakain khusus kamar operasi.

2.        Persiapan Penolong :

-            Penolong dan asisten memakai baju khusus kamar operasi lengkap dengan topi dan masker.

-            Penolong memakai short plastik.

-            Penolong dan asisten mencuci tangan sebelum tindakan

-            Pakai jas operasi dan sarung tangan steril.

3.        Teknik Operasi  :

-            Pasien dalam keadaan telentang (Supinasi)

-            Dokter spesialis anestesi / penata anestesi melakukan tindakan anestesi.( spinal anastesi atau general anastesi )

-            Sisihkan pakaian pasien.

-            Lakukan tindakan aseptik dan antiseptik pada daerah abdomen dan sekitarnya.

-            Lakukan drapping setelah tindakan aseptic

-            Buat sayatan memanjang  pfannenstiehl sepanjang ± 10 cm pada dinding perut pasien, selanjutnya buka lapis demi lapis sampai menembus peritoneum.

-            Bila perlu, pasang kassa perut di sekitar uterus untuk melindungi usus.

-            Identifikasi plika vesikouterina, sayat dengan gunting dan lebarkan ke kiri dan kanan ke arah pangkal lig.rotundum, sisihkan ke bawah dan tahan dengan retraktor.

-            Buat sayatan melintang pada bagian depan segmen bawah rahim, bagian tengahnya ditembus dan diperlebar ke kiri dan kanan dengan gunting atau secara tumpul dengan klem

-            Bila ketuban masih utuh, lakukan amniotomi.

-            Lahirkan bayi sesuai dengan cara yang seharusnya.

-            Lakukan pemotongan tali pusat dengan menggunkan klem pada dua sisi dan gunting dan serahkan bayi pada asisten. Untuk selanjutnya perawatan bayi diserahkan  pada dokter spesialis anak dan perawat kamar bayi.

-            Suntikkan oksitosin 10 IU intavena dan minta bantuan perawat untuk memasukkan 10 IU oksitosin dalam cairan infus.

-            Lahirkan plasenta dengan cara menarik tali pusat.

-            Minta perawat untuk menyuntikkan ergometrin 0,2 m iv. dan nilai kontraksi uterus.

-            Jepit ujung dan tepi luka dengan venster klem.

-            Lakukan eksplorasi ke dalam kavum uteri untuk memastikan tidak ada bagian plasenta yang tertinggal.

-            Buat jahitan angka delapan untuk hemostasis pada kedua ujung sayatan dengan benang chromic no.2. Bagian tengah sayatan dijahit 2 lapis dengan jahitan jelujur.

-            Yakinkan tidak ada lagi perdarahan dari tempat sayatan.

-            Lakukan reperitonealisasi dengan aproksimasi plika vesikouterina.

-            Angkat kassa perut dan bersihkan rongga perut dari sisa dan bekuan darah.

-            Pastikan tidak ada kasa tetinggal

-            Lakukan penutupan lapis demi lapis.

-            Setelah luka operasi pada dinding perut dijahit, tutup luka dengan kassa

-            Angkat doek penutup.

-            Bersihkan vagina dari sisa darah dan bekuan darah.

-            Bersihkan dan rapikan pasien kembali.

4.        Pasca Operasi  :

-                Buang kassa bekas dan sisa darah dalam tempat sampah medis.

-                Masukkan semua alat bekas pakai dalam larutan klorin 0,5% dan rendam selanjutnya selama 10 menit sebelum diproses.

-                Penolong dan asisten mencuci tangan selesai tindakan.

-                Nilai kontraksi uterus dan awasi perdarahan pasca operasi.

-                Periksa ulang tanda-tanda vital pasien.

-                Buat laporan operasi dan masukkan dalam status pasien, lengkapi dengan instruksi selanjutnya.

-                Pindahkan pasien ke ruangan recovery room

-                Beritahu keluarga pasien bahwa operasi telah selesai, sampaikan hasil operasi serta hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perawatan pasien pasca operasi. Sampaikan juga risiko terhadap kehamilan dan persalinan selanjutnya serta anjuran yang berhubungan dengan hal tersebut

 

A.  Konsep Asuhan Keperawatan Perioperatif pada Sectio Caesarea

1.    Preoperatif

a.    Pengkajian preoperatif

Pengkajian di ruang pra operasi, perawat melakukan pengkajian ringkas mengenai kondisi fisik pasien dengan kelengkapannya yang berhubungan dengan pembedahan. Pengkajian ringkas tersebut berupa validasi, kelengkapan administrasi, tingkat kecemasan, pengetahuan pembedahan, pemeriksaan fisik terutama tanda-tanda vital, dan kondisi abdomen (Muttaqin, 2014). Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara menyeluruh. Pengkajian pasien preoperatif meliputi :

1)   Identitas pasien meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku atau bangsa, agama, pekerjaan, pendidikan, golongan darah, alamat, nomor registrasi, tanggal masuk rumah sakit, dan diagnosa

2)   Ringkasan hasil anamsesa pre operasi. Keluhan ketika pasien dirawat sampai dilakukan tindakan sebelum operasi

3)   Pengkajian psikologis, meliputi perasaan takut atau cemas dan keadaan emosi pasien

4)   Pengkajian fisik, pengkajian tanda-tanda vital : tekanan darah, nadi, pernafasan dan suhu

5)   Sistem integumen meliputi apakah pasien pucat, sianosis, dan adakah penyakit kulit di area badan

6)   Sistem cardiovaskuler meliputi apakah ada gangguan pada sistem cardiovaskular, validasi apakah pasien menderita penyakit jantung, kebiasaan minum obat jantung sebelum operasi, kebiasaan merokok, minum akohol, oedema, irama, dan frekuensi jantung

7)   Sistem saraf meliputi kesadaran pasien

8)   Validasi persiapan fisik pasien meliputi apakah pasien puasa, tidak memakai perhiasan dan make up, mengenakan pakaian operasi, dan validasi apakah pasien alergi terhadap obat

 

b.    Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan merupakan suatu penilaian klinis mengenai respon pasien terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya baik yang berlangsung aktual maupun potensial. Diagnosis keperawatan bertujuan untuk mengidentifikasi respon pasien individu, keluarga, dan komunitas terhadap situasi yang berkaitan dengan kesehatan (SDKI, 2017). Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien preoperatif dalam adalah :

1)   Ansietas

Kondisi emosi dan pengalaman subyektif individu terhadap objek yang tidak jelas dan spesifik akibat antisipasi bahaya yang memungkinkan individu melakukan tindakan untuk menghadapi ancaman.

a)    Tanda dan gejala mayor

Tabel 2.1 Tanda Dan Gejala Mayor Ansietas

Subjektif

Objektif

1.            Merasa bingung

1.            Tampak gelisah

2.            Merasa khawatir dengan akibat dari kondisi yang dihadapi

2.            Tampak tegang

3.            Sulit berkonsentrasi

3.            Sulit tidur

 

b)   Tanda dan gejala minor

Tabel 2.2 Tanda Dan Gejala Minor Ansietas

Subjektif

Objektif

1.            Mengeluh pusing

1.            Frekuensi napas meningkat

2.            Anoreksia

2.            Frekuensi nadi meningkat

3.            Palpitasi

3.            Tekanan darah meningkat

4.            Merasa tidak berdaya

4.            Diaforesis

5.            Tremor

6.            Muka tampak pucat

7.            Suara bergetar

8.            Kontak mata buruk

9.            Sering berkemih

10.       Orientasi pada masa lalu

 

 

 

2)   Nyeri akut

Pengalaman sensorik atau eosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan.

 

 

 

a)    Tanda dan gejala mayor

Tabel 2.3 Tanda Dan Gejala Mayor Nyeri Akut

Subjektif

Objektif

1.            Mengeluh nyeri

1.            Tampak meringis

2.            Bersikap protektif (mis. Waspada, posisi menghindari nyeri)

3.            Gelisah

4.            Frekuensi nadi meningkat

5.            Sulit tidur

 

b)   Tanda dan gejala minor

Tabel 2.4 Tanda Dan Gejala Minor Nyeri Akut

Subjektif

Objektif

(tidak tersedia)

1.            Tekanan darah meningkat

2.            Pola napas berubah

3.            Nafsu makan berubah

4.            Proses berpikir terganggu

5.            Menarik diri

6.            Berfokus pada diri sendiri

7.            Diaforesis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

c.    Rencana Keperawatan

Menurut SIKI (2018), rencana keperawatan yang dilakukan berdasarkan 2 diagnosa diatas adalah :

Tabel 2.5 Rencana Keperawatan Preoperatif

Diagnosa

Keperawatan

Tujuan

Rencana Keperawatan

Ansietas

 

 

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1 jam, maka tingkat ansietas menurun dengan kriteria hasil :

-       Perilaku gelisah menurun

-       Perilaku tegang menurun

-       Konsentrasi membaik

-       Kontak mata membaik

-       Frekuensi napas membaik

-       TD membaik

-       Frekuensi nadi membaik

-       Pucat menurun

Reduksi Ansietas

Observasi

1)    Identifikasi saat tingkat ansietas berubah (misal : kondisi, waktu, stresor)

2)    Identifikasi kemampuan mengambil keputusan

3)    Monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan non verbal)

 Terapeutik

1)   Ciptakan suasana teraupetik untuk menumbuhkan kepercayaan

2)   Temani Pasien untuk mengurangi kecemasan

3)   Pahami situasi yang membuat ansietas

4)   Dengarkan dengan penuh perhatian

5)   Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan

6)   Tempatkan barang pribadi yang memberikan kenyamanan

7)   Motivasi mengidentifikasi situassi yang memicu kecemasan

8)   Diskusikan perencanaan realistis tentang peristiwa yang akan dating

 

Edukasi

1)   Jelaskan prosedur serta sensasi yang mungkin dialami

2)   Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan dan prognosis

3)   Anjurkan keluarga untuk tetap bersama Pasien

4)   Anjurkan melakukan kegiatan yang tidak kompetitif

5)   Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi

6)   Latih kegiatan pengalihan untuk mengurangi ketegangan

7)   Latih penggunaan mekanisme pertahanan diri yang tepat

8)   Latih tekhnik relaksasi

 

Kolaborasi

1)    Kolaborasi pemberian obat antiansietas

Nyeri Akut

 

 

 

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2 - 3 jam, maka nyeri menurun dengan kriteria hasil :

-     Keluhan nyeri  menurun

-     Meringis menurun

-     Gelisah menurun

-     Frekuensi nadi membaik

-     Pola napas membaik

Manajemen Nyeri

Observasi

1)   Observasi lokasi, karakteristik, durasi, kualitas, intensitas nyeri

2)    Identifikasi respon nyeri non verbal

Terapeutik

1)   Berikan teknik non farmakologis untuk mengurangi nyeri

2)   Fasilitasi istirahat dan tidur

Edukasi

1)   Jelaskan strategi meredakan nyeri

2)   Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri

 

Kolaborasi

1)    Kolaborasi pemberian analgetik

 

 

2.    Intraoperatif

a.    Pengkajian intraoperatif

Pengkajian intraoperasi secara ringkas mengkaji hal - hal yang berhubungan dengan pembedahan, diantaranya adalah validasi identitas dan prosedur jenis pembedahan yang dilakukan, serta konfirmasi kelengkapan data penunjang laboratorium dan radiologi (Muttaqin, 2014).

 

b.   Diagnosa Keperawatan

Pasien yang dilakukan pembedahan akan melewati berbagai prosedur. Prosedur pemberian anestesi, pengaturan posisi bedah, manajemen asepsis dan prosedur bedah akan memberikan komplikasi pada masalah keperawatan yang akan muncul dalam SDKI (2017) adalah :

1)   Risiko Cedera     

Berisiko mengalami bahaya atau kerusakan fisik yang menyebabkan seseorang tidak lagi sepenuhnya sehat atau dalam kondisi baik.

2)   Risiko Perdarahan

Berisiko mengalami kehilangan darah baik internal (terjadi di dalam tubuh) maupun eksternal (terjadi hingga keluar tubuh).


 

c.    Rencana Keperawatan

Menurut SIKI (2018), rencana keperawatan yang dilakukan berdasarkan 2 diagnosa diatas adalah :

Tabel 2.6 Rencana Keperawatan Intraoperatif

Diagnosa

Keperawatan

Tujuan

Rencana Keperawatan

Risiko Cedera

 

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1 jam, maka tingkat cedera menurun dengan kriteria hasil :

-       Kejadian cedera menurun

-       Luka atau lecet menurun

-       Perdarahan menurun

Manajemen Keselamatan Lingkungan

Observasi

1)   Identifikasi kebutuhan keselamatan

2)   Monitor perubahan status keselamatan

 

Terapeutik

1)   Letakkan plate diatermi sesuai prosedur

2)   Gunakan ESU sesuai prosedur

3)   Pastikan dan catat jumlah pemakaian BHP dan alat

Risiko perdarahan

 

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2 – 3 jam, maka tingkat pedarahan menurun dengan kriteria hasil :

-       Membran mukosa lembab

-       Gelisah menurun

-       Muntah menurun

-       Mual menurun

-       Perdarahan pasca operasi menurun

-       Hemoglobin membaik

-       Tekanan darah dan denyut nadi membaik

Pencegahan Perdarahan

Observasi

1)   Monitor tanda dan gejala perdarahan

2)   Monitor nilai hematokrit/hemoglobin sebelum dan sesudah kehilangan darah

3)   Monitor tanda-tanda vital ortostatik

4)   Monitor koagulasi

 

Terapeutik

1)    Pertahankan bedrest selama perdarahan

2)    Batasi tindakan invasif, jika perlu

3)    Gunakan kasur pencegah dekubitus

4)    Hindari pengukuran suhu rektal

 

Edukasi

1)    Jelaskan tanda dan gejala perdarahan

2)    Anjurkan menggunakan kaus kaki saat ambulasi

3)    Anjurkan meningkatkan asupan cairan untuk mencegah konstipasi

4)    Anjurkan menghindari aspirin atau antikoagulan

5)    Anjurkan meningkatkan asupan makanan dan vitamin K

6)    Anjurkan segera melapor jika terjadi perdarahan

 

Kolaborasi

1)   Kolaborasi pemberian obat pengontrol perdarahan, jika perlu

2)   Kolaborasi pemberian produk darah, jika perlu

3)   Kolaborasi pemberian pelunak tinja

 

2.    Postoperatif

a.    Pengkajian postoperatif

Beberapa hal yang perlu dikaji setelah tindakan pembedahan diantaranya adalah kesadaran, kualitas jalan nafas, sirkulasi, dan perubahan tanda vital yang lain, keseimbangan elektrolit, kardiovaskuler, lokasi daerah pembedahan dan sekitarnya, serta alat yang digunakan dalam pembedahan.

 

b.   Diagnosa Keperawatan

Diagnosa postoperatif saat post operatif dalam SDKI (2017) adalah :

1)   Risiko Hipotermia

Beresiko mengalami penurunan suhu tubuh dibawah 36⁰C secara tiba - tiba yang terjadi satu jam sebelum pembedahan hingga 24 jam setelah pembedahan.

2)   Nyeri Akut

Pengalaman sensorik atau eosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan.

 

 


 

c.    Rencana Keperawatan

Menurut SIKI (2018), rencana keperawatan yang dilakukan berdasarkan 2 diagnosa diatas adalah :

Tabel 2.7 Rencana Keperawatan Postoperatif

Diagnosa

Keperawatan

Tujuan

Rencana Keperawatan

Risiko Hipotermia

 

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1 jam, maka termoregulasi membaik dengan kriteria hasil :

-       Menggigil menurun

-       Pucat menurun

-       Suhu tubuh membaik

-       Suhu kulit membaik

Manajemen Hipotermia

Observasi

1)   Monitor suhu tubuh

2)   Identifikasi penyebab hipotermia, (misal : terpapar suhu lingkungan rendah, kerusakan hipotalamus, penurunan laju metabolisme, kekurangan lemak subkutan)

3)   Monitor tanda dan gejala akibat hipotermia

Terapeutik

1)   Sediakan lingkungan yang hangat (misal: atur suhu ruangan)

2)   Lakukan penghangatan pasif (misal: Selimut, menutup kepala, pakaian tebal)

3)   Lakukan penghatan aktif eksternal (misal: kompres hangat, botol hangat, selimut hangat, metode kangguru)

4)   Lakukan penghangatan aktif internal (misal : infus cairan hangat, oksigen hangat, lavase peritoneal dengan cairan hangat)

Nyeri Akut

 

 

 

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2 - 3 jam, maka nyeri menurun dengan kriteria hasil :

-     Keluhan nyeri  menurun

-     Meringis menurun

-     Gelisah menurun

-     Frekuensi nadi membaik

-     Pola napas membaik

Manajemen Nyeri

Observasi

1)  Observasi lokasi, karakteristik, durasi, kualitas, intensitas nyeri

2)   Identifikasi respon nyeri non verbal

Terapeutik

1)   Berikan teknik non farmakologis untuk mengurangi nyeri

2)   Fasilitasi istirahat dan tidur

Edukasi

1)   Jelaskan strategi meredakan nyeri

2)   Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri

 

Kolaborasi

1) Kolaborasi pemberian analgetik

 

 


 

BAB II

TINJAUAN KASUS

FORMAT ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF

 

I.     PENGKAJIAN

Identitas Klien                                                          

Nama              : Ny. K                                                 No. RM          : 246708

Umur               : 25 th                                                  Tgl. MRS        : 16 februari 2022

Jenis Kelamin  : Perempuan                                       

Diagnosa         : G1P0A0 dengan indikasi ketuban pecah dini

Suku/Bangsa   : Jawa                                                                         

Agama             : Islam

Pekerjaan         : Ibu Rumah Tangga

Pendidikan      : SMA

Gol. Darah      : B

Alamat                        : Raja Basa Bandar Lampung

 

A.    Riwayat Praoperatif 

1.    Pasien mulai dirawat tgl : 16 maret       pkl : 7:30         Ruang : dahlia

2.    Ringkasan hasil anamnese preoperatif :

Pasien datang kerumah sakit melalui poli/UGD pada tanggal 16 februari 2022 pukul 07:30 WIB dengan keluhan keluar air air yang hanya menetes sedikit sedikit dari vagina sudah 2 hari yang lalu . usia kehamilan 37 minggu 1 hari dengan HPHT 1 juni 2021 dan HPL 8 Maret 2022. Pasien dirawat di ruang kebidanan dan setelah dilakukan vagina touche didapatkan hasil masih belum pembukaan dengan portio teraba tebal dan tidak ada kontraksi. Saat disarankan untuk dilakukan induksi keluarga menolak dengan alasan takut gagal dan berisiko pada janin dan juga ibu. Dan setelah dilakukan  pemeriksaan USG didapatkan hasil bahwa ketuban mulai berkurang dari normal dan usia sudah aterm, maka dokter penanggung jawab memberikan instruksi untuk dilakukan Tindakan operasi saja, dan keluarga juga setuju. Sehingga pasien direncanakan Tindakan operasi section caecarea pada tanggal 16 februari 2022 pukul 13:30 dengan diagnose medis G1P0A0 dengan indikasi ketuban pecah dini . pasien mengatakan sedikit khawatir dengan tindakan operasi karena baru pertama kali mejalani operasi dan ini juga adalah anak pertama pasien sangat khawatir dengan kondisi anaknya. Pasien tampak sering bertanya mengenai keberhasilan operasi dan bagaiamana nanti operasinya apakah anaknya akan selamat. Wajah pasien tampak tegang. Dengan skor kecemasan 61 dengan tingkat kecemasan sedang diukur dengan alat ukur zung-self anxiety rating scale(ZSAS).

 

3.  Hasil pemeriksaan fisik

a. Tanda- tanda vital,   Tgl : 16 februari 2022 Jam : 07:30

Kesadaran : compos metis    GCS : 15  Orientasi : baik

TD     : 132/86 mmhg          

Nadi  : 96 x/menit   

RR    : 25x/menit

Suhu  : 36,7 ˚C

 

b.    Pemeriksaan Fisik

Kepala -leher

- Kepala :

betuk kepala normal ,tidak ada edema/benjolan abnormal, kulit kepala bersih , tidak ada lesi, tidak ada nyeri tekan di area kepala.

- Mata :

simetris , konjungtiva tidak anemis, sklera anikterik, mata dapat melihat dengan baik

- hidung :

tidak ada lesi , tidak ada polip, tidak ada masalah penciuman , tidak ada sumbatan pada hidung

- mulut :

  bibir tampak pucat, gigi tampak bersih,  lidah tampak bersih , tidak ada sariawan

- telinga :

   simetris , tidak ada masalah pendengaran

-  Leher : 

    tidak ada jejas , tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada distensi vena jugularis

 

 

 

 

Thorax (jantung & paru) :

I :  tidak ada jejas, tidak ada retraksi dinding dada. Pada payudaratmapak  hiperpig-mentasi pada areola, payudara simetris, tidak ada benjolan yang tidak normal, tidak ada luka/lesi,payudara tampak tegang

P:  tidak ada nyeri tekan, taktil fremitus sama dinding kanan dan kiri

P : terdengar suara sonor diseluruh lapang paru

A :suara nafas vasikuler , suara jantung lup dup

 

Abdomen :

I :  bentuk perut bulat , tmapak linea nigra dan strae,

A:  DJJ 130 X/menit

P:

-       leopold  I : TFU teraba bokong

-       leopold II : Bagian kanan teraba keras memanjang (pugung), bagian kiri teraba bagian bagian kecil( jari jari dan kaki)

-       leopold  III :  bagian bawah teraba bulat keras(kepala)

-       leopold IV : kepala sudah masuk PAP

 

Ekstremitas (atas dan bawah) :

Ektremitas atas     :  tangan kiri, terpasang infus RL 20 TPM  . tangan kanan dapat di Gerakan dengan bebas tanpa nyeri

Ektremitas bawah : kiri dan kanan  mampu di Gerakan dengan bebas tanpa nyeri

Genetalia & Rectum :

Genetalia :   dilakukan pemeriksaan VTdan didapatkan hasil  tidak ada pembukaan dan postio  teraba tebal, keluar cairan bening dari vagina dan terdapat keputihan tetapi tidak berbau.

Rectum : Tidak ada hemoroid

Pemeriksaan lain (spesifik) :

-       Laboratorium ( Tgl :16 februari 2022)

Hasil :

 Hematologi

Pemeriksaan

Hasil

Nilai

Hemoglobin :

12,2 m

12-16 gr %

Leukosit :

10.600

5-10.000

Eritrosit :

4.900.000

4-5 jt Mm/Jam %

basofil

0

0-1 %

Eosinofil

0

1-3 %

segmen

71

50-70 %

Limfosit

20

20-40 %

Monisit

8

2-8 %

Trombosit

281.000

150-400.000 mm

Hematocrit

38

37-48 %

 

Urine

Pemeriksaan

Hasil

Nilai

Warna

kuning

kuning

Kejernihan

jernih

jerning

Protein

negative

Negative (<30 mg/dl)

Glukosa

negative

Negative (<30 mg/dl)

Keton

negative

Negative (<30 mg/dl)

 

 

 

 

 

 

 

Pemeriksaan

Hasil

Nilai

Urea

25

10-40 mg/dl

Creatinine

1,0

0,7-1,3 mg/dl

GDS

100

< 200 mg/dl

 

Pemeriksaan

Hasil

Nilai

hbsAg

Non reaktif

 

Rapid test

Non reaktif

 

 

-       Pemeriksaan lain : USG

Hasil :

Berat janin 3000 gr

Air ketuban dibawah normal ±300 cc

Normal (400-1200cc)

Persentasi kepala

 

 

Skala Nyeri menurut VAS ( Visual Analog Scale )

Skala nyeri 4


 

 

4. Prosedur khusus sebelum pembedahan

No

Prosedur

Ya

Tdk

1

Tindakan persiapan psikologis pasien

 

2

Lembar informed consent

 

3

Puasa

 

4

Pembersihan kulit  (pencukuran rambut)

 

5

Pembersihan saluran pencernaan (lavement / Obat pencahar)

 

6

Pengosongan kandung kemih

 

7

Transfusi darah

 

8

Terapi cairan infus

 

9

Penyimpanan perhiasan, asesoris, kacamata, anggota tubuh palsu

 

10

Memakai baju khusus operasi

 

 

5. Pemberian obat-obatan :

a. Obat Premedikasi  (diberikan sebelum hari pembedahan)               

Tgl / jam

Nama Obat

Jenis Obat

Dosis

Rute

07:50

RL (ringer laktat)

Cairan kristaloit

20 tpm

IV

 

 b. Obat pra-pembedahan (diberikan 1 – 2 jam sebelum pembedahan)

Tgl / jam

Nama Obat

Jenis Obat

Dosis

Rute

12:30

 Ceftriaxone

Antibiotik

 1 gr

 Iv

 

6.    Pasien dikirim ke ruang operasi :

Tgl :  16 februari 2022    Jam : 13:30          √ Sadar     Œ Tidak sadar

Ket : pasien terpasang infus  RL 20 tpm, terpasang foley cateter. klien masuk kekamar operasi menggunakan brankar

 

B.  INTRAOPERATIF 

1 Tanda- tanda vital,   Tgl : 16 februari 2022 Jam : 13:50

TD         : 115/75         

Nadi       : 80x/m          

RR         : 22x/m

Suhu      : 35,2 ˚C

2.  Posisi pasien di meja operasi

Œ Dorsal recumbent       Œ Trendelenburg         Œ Litotomi

Œ Lateral                        √Lain – lain : supinasi (telentang )

3.    Jenis operasi  : √ Mayor     Œ Minor

Nama operasi : Laparatomi Section Caesarea

Area / bagian tubuh yang dibedah : Abdomen

4.  Tenaga medis dan perawat di ruang operasi :

Dokter Anestesi             : dr. Galih  Sp. An

Asisten                           : fitriasih  S.Kep

Dokter Bedah                : dr. Idris . Sp. OG

Asisten                           : Ns. dwiyanto S.Kep

Perawat Instrument       : Ns Riska Anggun Sari, S.Tr. Kep

Perawat Sirkuler            : Eis Winangsih dan Adhaini  , S.Tr. Kep

Dokter anak                   : dr. Laili Sp. A

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SURGICAL PATIENT SAFETY CHEKLIST

SIGN IN

TIME OUT

SIGN OUT

Pasien  telah dikonfirmasi :

Identitas pasien

Prosedur

√ Sisi operasi sudah benar

√ Persetujuan untuk operasi telah diberikan

√ Sisi yang akan dioperasi telah ditandai

Ceklist  keamanan anestesi telah dilengkapi

√ Oksimeter pulse pada pasien berfungsi

Apakah pasien memiliki alergi ?

Œ Ya

Tidak 

Apakah risiko kesulitan

jalan nafas / aspirasi ?

Tidak

ŒYa, telah disiapkan peralatan

 

Risiko kehilangan darah > 500 ml pada orang dewasa atau > 7 ml/kg BB pada anak-anak

Tidak

Œ Ya, peralatan akses cairan

   telah direncanakan     

Setiap anggota tim operasi     memperke-nalkan diri dan peran masing-masing.

Tim operasi memastikan

   bahwa semua orang di ruang operasi saling kenal.

 

Sebelum melakukan sayatan pertama pada kulit  :

Tim mengkonfirmasi dengan suara yang keras mereka melakukan :

√ Operasi yang benar

Pada pasien yang benar.

√Antibiotik profilaksis         telahdiberikan dalam 60 menit sebelumnya.

 

Melakukan pengecekan :

Prosedur sdh dicatat

Kelengkapan spons

Penghitungan instrumen

× Pemberian lab Pl pada spesimen

× Kerusakan alat atau masalah lain yang perlu ditangani.

Tim bedah membuat peren-canaan   post  operasi   sebelum memindahkan pasien dari kamar operasi 

 

5.  Pemberian obat anestesi :          Lokal                                    General                     √Spinal

Nama Obat

Dosis

Rute

Bunascan

1 amp (5 mg)

Intratekal

Ephedrine

1 amp (25mg)

IV

Oxytocin

4amp (@ 1mg)

2 amp IV

2 amp dripp infus

Metergin

1 amp (0,2 mg)

IV

Keterolac

1 amp (10 mg)

Dripp infus

Tramadol

1 amp (100 mg)

IV

Ondansentrone

1 amp (4 mg)

IV

Petidin

1 amp (50mg)

IV

Protofen supp

2 (@ 100 mg)

Anus

Misoprostol

2 (@ 200 mcg)

Anus

 

 

Tahap – tahap / kronologis pembedahan :

Waktu/tahap

Kegiatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-          Melakukan pemeriksaan identifikasi pasien, riwayat penyakit

-          Klien masuk kedalam operasi

-          Memindahkan klien dari brankar ke meja operasi

-          Memeriksa kembali tanda tanda vital

-          Memposisikan klien pada posisi fowler untuk dilakukan tindakan spinal anastesi dengan menggunakan regivel 2cc 2,5 mg

-          Asisten dan instrument operasi melakukan cuci tangan bedah dan memakai jubbah operasi dan sarung tangan steril

-          Memposisikan pasien posisi klien supinasi membuka baju klien

-          Asisten melakukan tindakan tindakan aseptic dan antiseptic dengan mengunakan betadine. Instrument menyiapkan alat instrument dan menyusun.

-          Dokter operator melakukan cuci tangan bedah dan memaki jubbah operasi

-          Perawat melakukan drapping

-          Melakukan time out

-          Melakukan irisan dengan bisturi 24 dan scapel dengan irisan pfannesthiel dengan panjang ± 15 cm

-          Klien terpasang plat alat ESU pada tungkai bawah

-          Setelah itu membuka lapis demi lapis

-          Bayi lahir pukul 17.35 BB : 3300 gram PB : 49cm jenis kelamin : laki laki

-          Lahir plasenta

-          Meleakukan pembersihan pada uterus  agar tidak ada sisa plasenta

-          Menjahit uterus  dengan jelujur menggunakan cromic 2 dan cromic 1

-          TD : 110/60 N : 80x/m S : 36,6 ˚C P : 18x/m

-          Melakukan sign out menghitung jumlah kasa dan jarum

-          Mejahit otot dengan plain 0

-          Menjahit pascia dengan menggunkan cromic 1

-          Menutup luka dengan cromic 3/0

-          Menutup luka dengan sufratull, kasa steril dan hepafix

 

7.  Tindakan bantuan yang diberikan selama pembedahan

√Pemberian oksigen

      Pemberian suction                          

   Resusitasi jantung

   Pemasangan drain

   Pemasangan intubasi

   Transfusi darah

 Lain – lain :

8.  Pembedahan berlangsung selama : 1 jam

9.  Komplikasi dini setelah pembedahan (saat pasien masih berada di ruang operasi)

Perdarahan 400 cc

 

 

 

C. POST OPERASI

1.    Pasien pindah ke            :

Pindah ke PACU/ICU/PICU/NICU,  jam :

2.    Keluhan saat di RR/PACU :

Klien mengeluh dingin, dan badan teraba dingin

3.      Air Way : 

Baik, tidak ada sumbatan jalan napas

4.    Breathing :

18x/menit, pernapasan baik, tidak ada kesulitan napas saturasi O2 97%

5.    Sirkulasi :

TD : 100/60 MmHg Nadi : 78x/m crt  ≤ 3 detik.

 

6.    Observasi Recovery Room

     Steward Scor                     Aldrete Scor                 √ Bromage Score     

 

BROMAGE SCORE

NO

KRITERIA

SCORE

SCORE

1

Dapat mengangkat tungkai bawah

0

 

2

Tidak dapat menekuk lutut tetapi dapat mengangkat kaki

1

 

 

3

Tidak dapat mengangkat tungkai bawah tetapi masih dapat mengangkat lutut

2

2

4

Tidak dapat mengangkat kaki sama sekali

3

 

 

KETERANGAN

Ø Pasien dapat di pindah kebangsal, jika score kurang dari 2

 

 

KETERANGAN

Ø Score  ≥ 5 boleh keluar dari RR

7.    Keadaan Umum         : Œ Baik       Œ Sedang    Œ Sakit berat

8.    Tanda Vital :

TD             : 100/60 Mmhg

Nadi          : 78x/m

RR             : 18x/m

Suhu          : 36,3˚C

Saturasi O2  : 97 %

Suhu lingkungan 20˚C

9.    Kesadaran                      :

 √CM      Œ Apatis      Œ Somnolen       Œ Soporous       Œ Coma

10.     Balance cairan

Pukul

Intake

Jml (cc)

Output

Jml (cc)

 

Œ Oral

Œ Enteral

Parenteral

 

 

Œ  

 

 

1000cc

Œ Urine

Œ Muntah

Œ IWL

 

 

Darah

360

 

15x64=960/24

          =40 x 6

          =240

400 cc

 

Jumlah

1000 cc

Jumlah

1000

 

Pengobatan :

Metronidazole 2x1 flash

Ketoprofen sup 2x1

 

Catatan penting lain :

Luka post operasi ±13 cm

Awasi perdarahan pasca operasi, KU dan kontraksi

 

 

 

 

11.     Survey Sekunder, lakukan secara head to toe secara prioritas:

 

Normal

Jika tidak normal, jelaskan

YA

TIDAK

Kepala

 

 

 

Leher

 

 

 

Dada

 

 

 

Abdomen

 

Terdapat luka post op sc Luka post operasi ±13 cm

 

 

Genitalia

 

Terpasang foley cateter

 

Integumen

 

 

Terdapat luka post op sc Luka post operasi ±13 cm

 

Ekstremitas

 

Terpasang infus di tangan  kanan

 

 

 

Skala Nyeri menurut VAS ( Visual Analog Scale )

 


 

ANALISA DATA

DATA SUBYEKTIF & OBYEKTIF

MASALAH KEPERAWATAN

ETIOLOGI

Pre Operasi

DS :

-          Klien mengatakan khawatir dengan Tindakan operasi yang akan dilakukan padanya dan pasien juga mengatakan belum pernah operasi sebelumnya sehingga khawatir terutama dengan kondisi bayinya karena ini adalah anak pertama

DO :

-          Klien tampak cemas  dan tegang

-          Pasien tampak banyak bertanya tentang prosedur operasinya

-          TD       : 130/75 mmhg          

-          Nadi    : 93 x/menit   

-          RR       : 20x/menit

-          Suhu    : 36,9 ˚C

Ansietas

 

 

 

Krisis situsional

 

 

 

Intra Operasi

DS :

DO:

Pasien dilakukan operasi mayor  SC

Suhu : 35.3 C

Nadi : 75x/m

TD 150/90 mmHg

Perdarahan : 400cc

Lama operasi : ±1 jam

pasien dilakukan spinal anastesi

sayatan operasi : ± 15 cm

Posisi supinasi

Risiko perdarahan

Tindakan pembedahan

Intra Operasi

DS :

DO :

-       Dilakukan spinal anestesi

-       Perubahan posisi duduk ke posisi supine pasca anestesi

-       Pemajanan instrumen bedah

-       Pemajanan jarum dan bisturi

-       Insisi pembedahan secara panenstil ± 12 cm pada abdomen bawah di atas simfisis pubis

-       Penggunaan pen cutter

-       Peletakkan plate diatermi

-       Pemindahan pasien dengan brankar dari meja operasi ke ruang RR

 

Resiko tinggi cidera

Pemajanan alat

Post Operasi (di RR/PACU)

DS :

-          Klien mengeluh dingin

DO :

-          Akral teraba dingin

-          Pasien tampak mengigil

-          Suhu : 36,3 ˚ C

-          Suhu lingkungan : 20˚C

 

Resiko hipotermi

Pemajanan suhu rendah dalam jangka lama

 

 

 

 

 

 

DIAGNOSA KEPERAWATAN

 

TAHAPAN

MASALAH KEPERAWATAN

ETIOLOGI

Pre operasi

 

Ansietas

Krisis situsional

Intra Operasi

Risiko perdarahan

Tindakan pembedahan

Resiko tinggi cidera

Pemajanan alat

Post Operasi

Resiko hipotermi

Pemajanan suhu rendah dalam jangka lama

 

 


 


Nama Klien   : Ny. W

Dx. Medis     : G1P0A0 + KPD

No. MR         : 05.06.82

NO

DIAGNOSA KEPERAWATAN

TUJUAN

IMPLEMENTASI

1.

Ansietas berhubungan dengan krisis situasional (pre operasi sectio caesarea)

 

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 30 menit, maka tingkat ansietas menurun dengan kriteria hasil :

-       Perilaku gelisah menurun

-       Perilaku tegang menurun

-       Frekuensi napas membaik

-       TD membaik

-       Frekuensi nadi membaik

-       Pucat menurun

Reduksi Ansietas

1.   Mengidentifikasi saat tingkat ansietas berubah (misal : kondisi, waktu, stresor)

2.   Memonitor tanda-tanda ansietas (verbal dan non verbal)

3.   Menggunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan (bina hubungan saling percaya, sentuhan)

4.   Menjelaskan prosedur operasi sectio caesarea serta sensasi yang mungkin dialami

5.   Menganjurkan keluarga untuk tetap bersama klien (1 orang)

6.   Melatih tekhnik relaksasi nafas dalam

2.

Risiko cedera berhubungan dengan pemajanan peralatan, spinal anestesi, dan pembedahan

 

 

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1 jam, maka tingkat cedera menurun dengan kriteria hasil :

-       Kejadian cedera menurun

-       Luka atau lecet menurun

-       Perdarahan menurun

Manajemen Keselamatan Lingkungan

1.   Mengidentifikasi kebutuhan keselamatan (tali pengaman pada meja operasi, pasien monitor, suction)

2.   Memonitor tanda dan gejala perdarahan (jumlah kehilangan darah, balance cairan)

3.   Meletakkan plate diatermi sesuai prosedur

4.   Menggunakan ESU (Electrosurgical Unit) untuk koagulasi

5.   Menggunakan perangkat pelindung (pagar pada brankar)

6.   Mencatat jumlah pemakaian BHP dan alat sebelum dana sesudah tindakan (surgical safety cheklist)

 

NO

DIAGNOSA KEPERAWATAN

TUJUAN

IMPLEMENTASI

3.

Resiko perdarahan b.d tindakan pembedahan

Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan perdarahan tidak terjadi, dengan kriteria hasil:

1. perdarahan menurun

2.tekanan darah membaik

3. tanda tanda vital membaik

Pencegahan perdarahan

1. monitor tanda dan gejala perdarahan

2. monitor tanda-tanda vital

3. batasi tindakan invasive, jika perlu

4. kolaborasi dalam pemberian cairan IVFD 2 IV Line

5. kolaborasi obat pengontrol perdarahan (asam tranexamat 1000 mg)

4.

Risiko hipotermia b.d pemajanan suhu rendah

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 30 menit, maka termoregulasi membaik dengan kriteria hasil :

-        Menggigil menurun

-        Pucat menurun

-        Suhu tubuh membaik

-        Suhu kulit membaik

 

Manajemen Hipotermia

1.   Memonitor suhu tubuh

2.   Memonitor tanda dan gejala akibat hipotermia (menggigil, akral dingin)

3.   Menyediakan lingkungan yang hangat (atur suhu ruangan)

4.   Melakukan penghangatan pasif (Selimut, menutup kepala, pakaian tebal)

 

 


 

NO

DIAGNOSA KEPERAWATAN

TUJUAN

IMPLEMENTASI

EVALUASI

 

Ansietas b.d krisis situasional

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 30 menit, maka tingkat ansietas menurun dengan kriteria hasil :

-       Perilaku gelisah menurun

-       Perilaku tegang menurun

-       Frekuensi napas membaik

-       TD membaik

-       Frekuensi nadi membaik

-       Pucat menurun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-          Melakukan pendekatan pada pasien saat pasien tiba dikamar operasi

-          Perkenalkan staff yang membantu selama tindakan pre operasi

-          Mengidentifikasi saat tingkat ansietas berubah (misal : kondisi, waktu, stresor)

-          Memonitor tanda-tanda ansietas (verbal dan non verbal)

-          Menggunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan (bina hubungan saling percaya, sentuhan) 

-          Menjelaskan prosedur operasi sectio caesarea serta sensasi yang mungkin dialami

-          Menganjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien dan memberi dukungan pada pasien  (1 orang)

-          Melatih tekhnik relaksasi nafas dalam 

S :

-          pasien mengatakan cemasnya sudah mulai berkurang, mulai merasa tenang, dan menyerahkan semuanya kepada tuhan karena akan baik baik saja.

-          pasien mengatakan mengerti dengan penjelasan yang diberikan oleh perawat

O :

-          pasien tampak tenang

-          TD : 110/60 N : 80xm

-          S : 36.9˚C  P : 18x/m

A : masalah teratasi

P : hentikan intervensi

 

 

 

NO

DIAGNOSA KEPERAWATAN

TUJUAN

IMPLEMENTASI

EVALUASI

 

Resiko perdarahan b.d tindakan pembedahan

Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan perdarahan tidak terjadi, dengan kriteria hasil:

1. perdarahan menurun

2.tekanan darah membaik

3. tanda tanda vital membaik

1. monitor tanda dan gejala perdarahan

2. monitor tanda-tanda vital

3. batasi tindakan invasive, jika perlu

4.kolaborasi penggunakan elektro surgery dalam melakukan koagulasi

5. kolaborasi dalam pemberian cairan IVFD Rl 44 tpm

6. kolaborasi obat pengontrol perdarahan (asam tranexamat 1000 mg)

S: -

O:

  • Pasien tampak mengalami perarahan ±400cc
  • Terpasang infus RL 44 tpm
  •  TD        :110/70 mmHg, Nadi : 82 x/m, Suhu       : 35,3 0C, Pernafasan : 20 x/m
  • Posisi supinasi

 

A : resiko perdarahan

P :

·  Tingkatkan frekuensi observasi dan pengawasan pasien

 


 

NO

DIAGNOSA KEPERAWATAN

TUJUAN

IMPLEMENTASI

EVALUASI

 

Risiko cedera berhubungan dengan pemajanan peralatan, spinal anestesi, dan pembedahan

 

 

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1 jam, maka tingkat cedera menurun dengan kriteria hasil :

-       Kejadian cedera menurun

-       Luka atau lecet menurun

Perdarahan menurun

1.       Mengidentifikasi kebutuhan keselamatan (tali pengaman pada meja operasi, pasien monitor, suction)

2.       Memonitor tanda dan gejala perdarahan (jumlah kehilangan darah, balance cairan)

3.       Meletakkan plate diatermi sesuai prosedur

4.       Menggunakan ESU (Electrosurgical Unit) untuk koagulasi

5.       Menggunakan perangkat pelindung (pagar pada brankar)

6.       Mencatat jumlah pemakaian BHP dan alat sebelum dana sesudah tindakan (surgical safety cheklist)

O :

-          Klien tidak memakai gigi palsu, kontak lens dan perhiasan sesuai prosedur

-          Penggunaan alat electro surgical sesuai prosedur

-          Brankar dan meja operasi terkunci

-          Jumlah kasa, jarum dan pisau sebelum dan sesudah operasi sesuai

 

A : Masalah teratasi

P : hentikan intervensi

 


 

NO

DIAGNOSA KEPERAWATAN

TUJUAN

IMPLEMENTASI

EVALUASI

 

Risiko hipotermia b.d pemajanan suhu rendah

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 30 menit, maka termoregulasi membaik dengan kriteria hasil :

-        Menggigil menurun

-        Pucat menurun

-        Suhu tubuh membaik

-        Suhu kulit membaik

 

Manajemen Hipotermia

5.   Memonitor suhu tubuh

6.   Memonitor tanda dan gejala akibat hipotermia (menggigil, akral dingin)

7.   Menyediakan lingkungan yang hangat (atur suhu ruangan)

8.   Melakukan penghangatan pasif (Selimut, menutup kepala, pakaian tebal)

 

S :

-          Klien mengatakan badan sudah terasa hangat

 

 

O :

-          Klien tidak menggigi

-          TD : 100/60  N : 78x/m

-          S : 36,6 ˚C    P : 16x/m

-          Suhu lingkungan 23˚C

-          Badan teraba hangat tidak dingin

 

A : masalah teratasi

 

P : hentikan intervensi

 

 


 


DAFTAR PUSTAKA

Ani Yohana. 2019. Asuhan Keperawatan Pada Ny. D. B. Dengan Ketuban pecah dini (KPD) Di Ruang Flamboyanrsud Prof. Dr. W. Z. Yohannes Kupang. Studi Kasus.

Ardiana, dkk (2013). Hubungan Tingkat Pengetahuan Perawat dengan Tindakan Keperawatan pada Pasien Pasca Operasi dengan General Anesthesia di Ruang Pemulihan IBS RSD dr. Soebandi Jember. Jurnal Penelitian.

Bella Anggara. 2016. Asuhan Keperawatan Intra Natal Ruang VK RS Margono Soekarjo Purwokerto. Laporan Studi Kasus.

Budayani Sri. 2015. Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Kualitas Tidur Penderita Asma Di Rsud Kabupaten Karang Anyar.

Masruroh Antik. 2019. Asuhan Keperawatan Pada Ny.N Dengan Diagnosa Medis Post Op Sectio Caesarea dengan Indikasi Ketuban pecah dini Di Ruang Nifas RSUD Bangil. Karya Tulis Ilmiah.

PPNI. 2018. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta : DPD PPNI.

PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta : DPD PPNI

PPNI. 2018. Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta : DPD PPNI.

 

Tidak ada komentar: