GAMBARAN
KONDISI FISIK RUMAH PADA PENDERITA
TB PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS RAWAT INAP
SUKABUMI BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2022
Oleh :
LAPORAN TUGAS AKHIR
POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNGKARANG
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PROGRAM STUDI SANITASI, PROGRAM DIII
TAHUN 2022
GAMBARAN
KONDISI FISIK RUMAH PADA PENDERITA
TB PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS RAWAT INAP
SUKABUMI BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2022
Tugas Akhir ini diajukan sebagai
salah satu syarat menyelesaikan pendidikan pada Program Diploma III Sanitasi
Jurusan Kesehatan Lingkungan
Politeknik Kesehatan Tanjung Karang
LAPORAN TUGAS AKHIR
POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNGKARANG
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PROGRAM STUDI SANITASI, PROGRAM DIII
TAHUN 2022
LEMBAR PERSEMBAHAN
Kupersembahkan Tugas Akhir ini untuk orang-orang yang aku sayangi
dan orang-orang yang selalu memberi dukungan dan motivasi terhadap
aku dan selalu senantiasa menyayangiku :
1. Untuk
kedua Orang tuaku yaitu Ridwan & Mintisari, yang selalu memberi ku motivasi
dukungan dalam bentuk apapun, memberi semangat dalam suka maupun duka dan tidak pernah berhenti mendoakanku
dalam lima waktu di setiap sujudnya. Terimakasih Ayah dan Ibu ku.
2. Untuk
Kakak ku Marisa Darlisna dan adikku Mirda Yanti & Fadlan, terimakasih atas
segala dukungan yang telah diberikan kepadaku.
3. Untuk sahabat-sahabatku yang selalu memberikan motivasi dan dukungan
kepadaku, terimakasih untuk kalian.
4. Untuk semua teman-temanku jurusan
Kesehatan Lingkungan yang senantiasa selalu membantuku,
terimakasih untuk kalian.
5. Untuk
Para dosen Kesehatan Lingkungan terimakasih atas ilmu yang telah kalian berikan,
atas nasehat dan bimbingannya yang sangat bermanfaat bagi ku, dan tidak lupa ku
ucapkan terimakasih terhadap ke dua pembimbingku Bapak Agus Sutopo, ST., M.PH dan Bapak,
Bambang Murwanto, SKM., M.Kes dan penguji ku Bapak Haris Kadarusman, SKM., M.Kes
6. Untuk
Bapak Defri selaku pengelola TB paru di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap
Sukabumi Bandar Lampung yang telah
membantu dalam penelitian.
KATA PENGANTAR
Dengan
memanjatkan segala puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan berkat rahmat dan
hidayah-Nya, sehingga Tugas Akhir yang berjudul
“Gambaran Kondisi Fisik Rumah Pada
Penderita TB Paru Di Wilayah Kerja
Puskesmas Rawat Inap Sukabumi Bandar Lampung Tahun 2022” Penulis dapat menyelesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Tugas Akhir ini diajukan sebagai salah satu syarat
untuk menyelesaikan perkuliahan di Politeknik Kesehatan
Tanjung Karang Jurusan
Kesehatan Lingkungan. Melalui
kesempatan ini penulis
ingin menyampaikan rasa terimakasih
kepada :
1. Bapak
Warjidin Aliyanto, SKM.,M.Kes selaku Direktur Politeknik Kesehatan TanjungKarang.
2. Bapak Ahmad Fikri, ST.M.Si
selaku Ketua Jurusan
Kesehatan Lingkungan
3. Bapak Agus Sutopo, ST., M.PH
selaku Pembimbingi I yang selalu
mengarahkan dan memberikan masukan
dan motivasi kepada penulis dalam penyusunan
karya tulis ilmiah ini.
4. Bapak Bambang Murwanto, SKM., M.Kes
selaku Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini
5. Bapak Haris Kadarusman, SKM.,
M.Kes selaku Penguji yang
telah memberikan bimbingan dan saran kepada penulis dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini.
6. Semua bapak dan ibu dosen serta staf
yang telah membantu penulisan selama proses belajar dan menyusun karya tulis ilmiah ini.
7. Kedua orang tua saya bernama Ridwan, dan Minti Sari, yang
tidak pernah lelah mendoakan, memberikan semangat dan dukungan.
8. Dan Kakak saya Marisa Darlisna yang
selalu mendukung dan mendoakan saya dalam menyusun karya tulis ilmiah ini.
9. Semua
teman-teman seangkatan Kesehatan
Lingkungan 2019 yang telah memberikan semangat dan dukungan.
10. Semua
pihak yang telah memberikan semangat
dan inspirasi.
Penulis menyadari
bahwa dalam penyusunan Tugas Akhir ini masih terdapat banyak kekurangan dan memerlukan
pengkajian serta penyempurnaan agar
bisa lebih mudah di mengerti. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi
sempurnanya Tugas Akhir ini dan semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.
Bandar Lampung, Juni 2022
DAFTAR
ISI
Halaman
KATA
PENGANTAR ......................................................................................... i
DAFTAR
ISI ........................................................................................................ ii
DAFTAR
TABEL ............................................................................................... iii
DAFTAR
GAMBAR ......................................................................................... iv
DAFTAR
LAMPIRAN ....................................................................................... v
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah............................................................................... 4
C. Tujuan Penelitian................................................................................ 4
D. Manfaat Penelitian.............................................................................. 5
E. Ruang Lingkup................................................................................... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian........................................................................................... 6
B. Patofisiologi........................................................................................ 6
C. Penularan Tuberkulosis Paru............................................................... 8
D. Tanda dan Gejalanya.......................................................................... 9
E. Faktor Resiko Terjadinya Tb Paru.................................................... 11
F.
Upaya
Pencegahan............................................................................ 15
G. Upaya Penanganan Tb Paru.............................................................. 17
H. Rumah Sehat..................................................................................... 18
I.
Kerangka
Teori................................................................................. 21
J.
Kerangka
Konsep............................................................................. 22
K. Definisi Operasional......................................................................... 23
BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Rancangan Penelitian ........................................................... 25
B. Subjek
Penelitian................................................................................... 25
C. Lokasi
dan Waktu Penelitian................................................................ 25
D. Cara
Pengumpulan Data....................................................................... 26
E. Pengolahan dan Analisis Data............................................................... 27
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum.................................................................................. 29
B. Gambaran
Kejadian Tb Paru................................................................. 30
C. Hasil
Penelitian...................................................................................... 30
D. Pembahasan........................................................................................... 39
BAB
V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan........................................................................................... 50
B. Saran...................................................................................................... 51
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Nomor Tabel Halaman
Tabel 1 Kasus Tuberculosis di Puskesmas Rawat Inap Sukabumi .......................... 3
Tabel 2 Definisi Oprasional ................................................................................... 25
Tabel 3 Persebaran Penduduk
di Wilayah Kerja Puskesmas................................. 33
Tabel
4 Data Jumlah Kasus Tb Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Rawat Inap Sukabumi Tahun
2019-2021 34
Tabel 5 Distribusi Keadaan Lantai Rumah Responden........................................ 35
Tabel 6 Distribusi Keadaan Dinding Rumah Responden..................................... 36
Tabel 7 Distribusi Keadaan Langit-Langit Rumah Responden............................ 37
Tabel 8 Distribusi Keadaan Kepadatan Hunian Rumah
Responden.................... 38
Tabel 9 Distribusi Keadaan
Ventilasi Rumah Responden................................... 39
Tabel 10 Distribusi Keadaan Pencahayaan Rumah Responden............................ 41
Tabel 11 Distribusi Keadaan Kelembaban Rumah Responden........................... 42
DAFTAR GAMBAR
Daftar Gambar
Halaman
Gambar 1 Kerangka Teori...................................................................................... 23
Gambar 2 Kerangka Konsep.................................................................................. 24
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Lampiran
Lampiran 1 Instrumen Penelitian
Lampiran 2 Frequency Table
Lampiran 3 Daftar Nama Penderita TB Paru Tahun 202 1
Lampiran
4 Dokumentasi Penelitian
Lampiran 5 Surat Rekomendasi
Izin Penelitian Dinas Penanaman
Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu
Pintu Provinsi
Bandar Lampung
Lampiran 6 Surat Rekomendasi Izin Penelitian Dinas Kesehatan
Kabupaten Bandar Lampung
Lampiran 7 Surat Rekomendasi Izin Penelitian
Puskesmas Rawat Inap
Sukabumi Kabupaten Bandar Lampung
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Diperkirakan
terdapat 8.6 juta kasus TB pada tahun 2012 1.1 juta orang (13%) diantaranya
adalah pasien dengan HIV positip. Sekitar 75% dari pasien tersebut berada di
wilayah Afrika, pada tahun 2012 diperkirakan terdapat 450.000 orang yang
menderita TB MDR dan 170.000 diantaranya meninggal dunia. Pada tahun 2012
diperkirakan proporsi kasus TB anak diantara seluruh kasus TB secara global
mencapai 6% atau 530.000 pasien TB anak pertahun, atau sekitar 8% dari total
kematian yang disebabkan TB. (WHO, 2013).
TB atau
Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri micro
tuberculosis yang dapat menular melalui percikan dahak. Tuberkulosis bukan
penyakit keturunan atau kutukan dan dapat disembuhkan dengan pengobatan
teratur, diawasi oleh Pengawasan Minum Obat (PMO). Tuberkulosis adalah penyakit
menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB. Sebagian besar kuman TB
menyerang paru tetapi bisa juga organ tubuh lainnya. (Kemenkes RI, 2017).
Angka
insiden tuberculosis Indonesia pada tahun 2018 sebesar 316 per 100.000
masyarakat dan angka kematian penderita tuberculosis sebesar 40 per 100.000
masyarakat (Global Tuberculosis Report WHO, 2018). Pada tahun 2019 jumlah kasus
tuberculosis yang ditemukan sebanyak 543,874 kasus, menurun bila dibandingkan
semua kasus tuberculosis yang di temukan pada tahun 2018 yang sebesar 566,623
kasus. (World Health Organization, 2020).
Pada tahun
2003 WHO mencanangkan TB sebagai global emergency. Tuberkulosis merupakan
penyebab kematian nomor dua setelah penyakit jantung pembuluh darah. WHO dalam
Anual Report On Global TB Control 2003 menyatakan terdapat 22 negara
dikategorikan sebagai high burden countries terhadap TB termasuk Indonesia.
Kondisi rumah dan lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan merupakan
faktor risiko sumber penularan penyakit TBC. (Erwin, dkk, 2012).
Menurut
data Puskesmas Sukabumi tahun 2021 jumlah
penduduk di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Sukabumi sebanyak 33.554 jiwa.
Kecamatan Sukabumi Kota Bandar Lampung dengan luas wilayah 7,92 Km2.
Di daerah
Pulau Bangka wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Sukabumi terdapat jumlah
penderita TB (+) sebesar 65 penderita, yaitu di kelurahan Sukabumi sebesar 30
kasus, kelurahan Sukabumi Indah 21 kasus, dan kelurahan Nusantara Permai
sebesar 14 kasus. Kemudian, dari 7.819 rumah yang terdapat wilayah kerja
Puskesmas Rawat Inap Sukabumi, sebesar 4.454 rumah (56,96%) belum memenuhi
syarat kesehatan, sementara 3.365 (43,03%) telah memenuhi syarat rumah sehat.
(Data Puskesmas Rawat Inap Sukabumi).
Berdasarkan
data kasus Tuberculosis di Puskesmas Rawat Inap Sukabumi Kota Bandar Lampung
yaitu:
Tabel 1
Kasus Tuberculosis di Puskesmas
Rawat Inap Sukabumi
|
No |
Nama
Kelurahan |
Tahun |
Tayer |
Jumlah |
Jumlah
penduduk (%) |
|
1 |
Sukabumi |
2019 |
107 |
72 |
46,60% |
|
2 |
Sukabumi Indah |
2020 |
107 |
83 |
40,42% |
|
3 |
Nusantara Permai |
2021 |
107 |
65 |
51,62% |
(Sumber Puskesmas Rawat Inap Sukabumi)
Dari data diatas,
Puskesmas Rawat Inap Sukabumi Kota Bandar Lampung bahwa faktor yang menyebabkan
tingginya kasus tuberculosis yaitu kontak langsung orang lain dengan penderita
serta pasien minum obat.
Selain itu
diketahui bahwa Tuberculosis Paru disebabkan oleh faktor lingkungan seperti lantai,
dinding, langit-langit, kepadatan hunian, ventilasi, pencahayaan dan
kelembaban. (HL. Blum Soekidjo Notoatmodjo, 1977).
Kemudian
di wilayah kerja Puskesmas Sukabumi masih terdapat rumah yang tidak
sehat seperti masih banyak rumah yang kurang pencahayaan, ventilasi yang kurang
baik sehingga menyebabkan proses pertukaran udara di dalam rumah menjadi pengap,
kontruksi lantai rumah tidak rapat, dan sulit membersihkan debu karna masih ada
rumah yang lantainya terbuat dari tanah, serta rumah kecil yang tidak memenuhi
syarat hunian. Maka dari itu peneliti ingin mengetahui “Gambaran Kondisi Fisik
Rumah Pada Penderita Tuberculosis di Wilayah Kerja Puskesmas Rawat Inap Sukabumi
Kota Bandar Lampung Tahun 2022.
B.
Rumusan masalah
Melihat
bahwa penyakit TB paru adalah salah satu
penyakit menular yang memiliki risiko tinggi apabila tidak ditanggulangi.
Selain merugikan secara ekonomis, TB juga memberikan dampak buruk lainnya
secara sosial stigma bahwa dikucilkan oleh masyarakat. Penularan bakteri
mycobacterium tuberculosa melalui udara diantaranya dipengaruhi oleh lingkungan
yang tidak baik, seperti kondisi ventilasi dan jendela, pencahayaan, kepadatan
hunian, kelembaban, dinding, lantai, langit-langit rumah. Berdasarkan latar
belakang diatas peneliti tertarik untuk mengetahui kondisi fisik rumah penderita
TB di Puskesmas Rawat Inap Sukabumi Bandar Lampung. Maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah “Bagaimana Gambaran Kondisi Fisik Rumah Pada Penderita TB
Paru di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Sukabumi Bandar Lampung”.
C.
Tujuan penelitian
1.
Tujuan umum
Untuk mengetahui kondisi fisik rumah
penderita TB paru di Puskesmas Rawat Inap Sukabumi Bandar Lampung.
2.
Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui lantai rumah
penderita TB paru di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Sukabumi Bandar Lampung
Tahun 2022.
b. Untuk mengetahui dinding rumah
penderita TB paru di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Sukabumi Bandar Lampung
Tahun 2022.
c. Untuk mengetahui langit-langit rumah
penderita TB paru diwilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Sukabumi Bandar Lampung
Tahun 2022.
d. Untuk mengetahui kepadatan penghuni
rumah penderita TB paru di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Sukabumi Bandar
Lampung Tahun 2022.
e. Untuk mengetahui ventilasi rumah
penderita TB paru di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Sukabumi Bandar Lampung
Tahun 2022.
f. Untuk mengetahui pencahayaan rumah
penderita TB paru di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Sukabumi Bandar Lampung
Tahun 2022.
g. Untuk mengetahui kelembaban rumah
penderita TB paru di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Sukabumi Bandar Lampung
Tahun 2022.
D.
Manfaat penelitian
1.
Manfaat teoritis
a. Bagi masyarakat dapat menambah
wawasan masyarakat dalam melakukan upaya penyehatan lingkungan khususnya
lingkungan rumah.
b. Bagi pihak Puskesmas sebagai wacana
atau masukan untuk mendapatkan alternatif pemecahan masalah kesehatan khususnya
penyakit TB Paru.
E.
Ruang lingkup
Ruang
lingkup penelitain ini kondisi fisik rumah penderita TB Paru yang meliputi:
lantai, dinding, langit-langit, kepadatan hunian, ventilasi, pencahayaan dan
kelembaban.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Pengertian
Mycobacterium tuberculosis mati pada
pemanasan 100o C selama 5-10 menit atau pada pemanasan 60o C
selama 30 menit, sedangkan dengan alkohol 70-95% selama 15-30 detik. Bakteri
tersebut tahan selama 1-2 jam di udara terutama di tempat lembab dan gelap
(bisa berbulan-bulan), namun tidak tahan terhadap sinar matahari atau aliran
udara. (Widoyono, 2011).
B. Patofisiologi
Infeksi diawali oleh seseorang yang
menghirup basil M. tuberculosis. bakteri menyebar melalui jalan nafas menuju
alvcoli lalu berkembang biak dan terlihat bertumpuk. Perkembangan M.
tuberculosis juga dapat menjangkau sampai ke arah lain dari paru-paru (lobus
atas). Basil juga menyebar melalui sistem limfe dan aliran darah ke bagian
tubuh lain (ginjal, tulang, dan korteks serebri) dan area lain dari paru-paru
(lobus atas).
Sistem
kekebalan tubuh memberikan respon respon dengan melakukan reaksi inflamasi,
Neutrofil dan makrofag melakukan aksi fagositosis (menelan bakteri), sementara
limfosit spesifik-tuberkulosis menghancurkan (melisiskan) basil dan jaringan
normal.
Reaksi
jaringan ini mengakibatkan terakumulasinya eksudat dalam alveoli yang menyebabkan
bronkopneumonia. Infeksi awal biasanya timbul dalam waktu 2-10 minggu setelah
terpapar bakteri.
Interaksi
antara M. tuberculosis dan sistem kekebalan tubuh pada masa awal infeksi
membentuk sebuah masa jaringan baru yang disebut granuloma.
Granuloma
terdiri atas gumpalan hidup dan mati yang dikelilingi oleh makrofag seperti
dinding. Granuloma selanjutnya berubah bentuk menjadi massa jaringan fibrosa.
Bagian tengah dari massa tersebut disebut ghon tubercle. Materi yang terdiri
atas makrofag dan bakteri menjadi nekrotik yang selanjutnya membentuk materi
yang penampakannya seperti keju (necrotizing cas cosa). Hal ini akan menjadi
klarifikasi dan akhirnya membentuk jaringan kolagen, kemudian bakteri menjadi
nonaktif.
Setelah infeksi awal, jika respon
sistem imun tidak kuat maka penyakit akan menjadi lebih parah. Penyakit yang
kian parah dapat timbul akibat infeksi ulang atau bakteri yang sebelumnya tidak
aktif kembali menjadi aktif. Pada kasus ini, ghon tubercle mengalami ulserasi
sehingga menghasilkan necrotizing cascosa didalam bronkus. Tuberkel yang
ulserasi selanjutnya menjadi sembuh dan membentuk jaringan parut. Paru-paru
yang terinfeksi kemudian meradang, mengakibatkan timbulnya bronkopneumonia,
membentuk tuberkel, dan seterusnya.
Pneumonia
seluler ini dapat sembuh dengan sendirinya. Proses ini berjalan terus dan basil
terus difagosit atau berkembang biak didalam sel. Makrofag yang mengadakan
infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu membentuk sel tuberkel
epiteloid yang dikelilingi oleh limfosit (membutuhkan 10-20 hari).
Daerah
yang mengalami nekrosis dan jaringan granulasi yang dikelilingi sel epiteloid
yang dikelilingi oleh limfosit (membutuhkan 10-20 hari). (Somantri Irman,
2007:60 didalam skripsi Hubungan Kondisi Lingkungan Fisik Rumah Dan Kontak
Serumah Dengan Penderita TB Kejadian TB Paru BTA Positif.
C.
Penularan Tuberculosis Paru
Penyakit tuberkulosis ditularkan melalui udara (droplet
nuclei) saat seorang TB Paru BTA Positif batuk dan percikan ludah yang
mengandung bekteri tersebut terhirup oleh orang lain saat bernapas. Bila
penderita tersebut batuk, bersin atau berbicara saat berhadapan dengan orang
lain basil tuberkulosis tersembur dan terhisap kedalam paru orang sehat. Masa
inkubasi selama 3-6 bulan dalam tubuh manusia melalui saluran pernapasan dan
bisa menyebar kebagian tubuh lain melalui peredaran darah , pembuluh limfe,
atau langsung ke organ terdekatnya.
Setiap satu pasien BTA Positif akan menularkan 10-15 orang
lainnya, sehingga kemungkinan setiap kontak tertular TB Paru adalah 17%. Hasil
studi lainnya melaporkan bahwa kontak terdekat (misalnya keluarga serumah) akan
dua kali lebih beresiko dibandingkan dengan kontak biasa (tidak serumah) akan
dua kali lebih beresiko dibandingkan dengan kontak biasa (tidak serumah).
Seorang dengan penderita BTA (+) yang derajat positifnya
tinggi berpotensi menularkan penyakit ini. Sebaliknya, penderita dengan BTA
(-)
dianggap tidak menularkan. (Widoyono, 2011).
D.
Tanda dan Gejalanya
Gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan
gejala khusus yang timbul sesuai dengan organ yang terlibat. Gambaran secara
klinis tidak terlalu khas terutama pada kasus baru, sehingga cukup sulit untuk
menegakkan diagnose secara klinik.
1. Gejala sistematik/umum
a. Demam
Merupakan
gejala pertama pada tuberculosis paru biasanya terjadi pada sore dan malam hari
disertai dengan keringat mirip demam influenza dan dapat segera mereda.
Tergantung daya tahan tubuh dan virulensi kuman serangan demam dapat terjadi
lagi setelah 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan. Demam seperti ini hilang timbul dan
semakin lama semakin meningkat demam dapat mencapai dengan suhu tinggi 40oC-41oC.
b. Malaise
Karena
tuberkulosis bersifat radang menahun maka dapat terjadi rasa tidak enak badan,
pegal-pegal, nafsu makan berkurang, badan makin kurus, sakit kepala, mudah
lelah dan pada wanita kadang-kadang dapat mengganggu siklus haid. (KTI Pina Ariyanti,2020).
2. Gejala Respiratorik
a. Batuk
Batuk
baru timbul apabila melibatkan brokus. Batuk terjadi karena iritasi brinkus,
selanjutnya akibat adanya peradangan pada bronkus, batuk akan menjadi
produktif. Batuk produktif ini berguna untuk membuang produk-produk ekresi peradangan,
dahak dapat bersifat mukoid atau purulent.
b. Batuk Darah
Batuk
darah terjadi akibat pecahnya pembuluh darah. Berat dan ringannya pembuluh
darah yang timbul, tergantung dari besar dan kecilnya pembuluh darah yang
pecah. Batuk darah tidak selalu timbul akibat pecahnya pembuluh darah tapi bisa
juga terjadi karena ulserasi pada mukosa bronkus. Batuk darah ini lah yang
sering membawa penderita ke dokter.
c. Sesak nafas
Gejala
ini ditemukan pada penyakit yang lanjut dengan kerusakan paru yang cukup luas,
keluhan sesak yang muncul merupakan proses penyakit tuberculosis yang
meningkatkan produksi lendir dan dapat menyempitkan saluran nafas, serta
merusak jaringan paru.
d. Nyeri dada
Nyeri
dada dapat terjadi pada penderita Tb terutama apabila infeksi mengenai pleura
atau jaringan pembungkus paru dan terjadi karena tarikan saat batuk yang terus
menerus terjadi. (Santa Manurung, 2009 hal 106-108 dalam kti Pina Apriyanti).
E.
Faktor Resiko Terjadinya Tb Paru
Menurut Suryo Joko (2010: 53) penyakit tuberculosis dipengaruhi
oleh banyak faktor salah satunya yaitu :
1. Faktor terkait individu
a. Usia
Di Indonesia 75% penderita penyakit tuberculosis adalah
kelompok usia produktif yaitu 15-50 tahun.
b. Jenis kelamin
Tuberkulosis lebih banyak terjadi pada laki-laki
dibandingkan dengan wanita karena laki-laki sebagian besar mempunyai kebiasaan
merokok sehinnga memudahkan
terjangkitnya penyakit tuberkulosis.
2. Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh terhadap
pengetahuannya, diantaranya mengenai rumah yang memenuhi syarat kesehatan dan
pengetahuan yang cukup maka seseorang akan mencoba untuk melakukan perilaku
hidup bersih dan sehat (PHBS).
3. Pekerjaan
Jenis pekerjaan menentukan faktor resiko apa yang harus
dihadapi setiap individu. Paparan kronis udara yang tercemar meningkatkan
mordibitas, terutama terjadinya gejala penyakit saluran pernafasan yang umumnya
penyakit tuberculosis.
4. Kebiasaan merokok
Kebiasaan merokok meningkatkan
resiko untuk terkena penyakit tuberkulosis sebanyak 2,2 kali.
b. Faktor resiko lingkungan
1) Kepadatan hunian rumah
Kepadatan hunian yang merupakan
faktor lingkungan terutama pada penderita tuberculosis yaitu kuman M. tuberculosis dapat masuk pada rumah
yang memiliki bangunan yang gelap dan tidak ada sinar matahari yang masuk.
Faktor kelima adalah pekerjaan yang merupakan faktor resiko kontak langsung
dengan penderita. Resiko penularan tuberculosis pada sehingga menjadi tempat
sirkulasi udara yang membawa masuk udara bersih. Udara segar dan bersih juga
diperlukan untuk menjaga temperature dan kelembaban ruangan, umumnya
temperature kamar 22o – 300C.
b. Langit-langit
Adalah permukaan interior atas yang
berhubungan dengan bagian atas sebuah ruangan. Umumnya, langit-langit bukan
unsur struktural, melainkan permukaan yang menutupi lantai struktur atap
diatas. Plavon katedral ialah daerah langit-langit panjang yang mirip dengan
yang di gereja. Langit-langit yang memenuhi syarat adalah langit-langit yang
mudah dibersihkan tidak rawan kecelakaan.
Kegunaan langit-langit
1) Agar ruangan di bawah atap selalu
tampak bersih dan tidak tampak rangka atapnya, untuk menahan kotoran dari
bidang atap melalui celah-celah genteng.
2) Untuk menahan percikan air, agar
sisi ruangan selalu terlindung.
3) Untuk mengurangi panas dari sinar
matahari melalui bidang atap ketinggian langit-langit rumah juga mesti
diperhatikan. Pasalnya, langit-langit yang terlalu pendek bisa menyebabkan
ruangan terasa panas sehingga mengurangi kenyamanan. Oleh karena itu ketinggian
langit-langit disesuaikan dengan daerah tempat tinggal.
c. Dinding
Dinding berfungsi sebagai pelindung,
baik dari gangguan hujan maupun angin serta melindungi dari pengaruh panas dan
debu di luar serta menjaga kerahasiaan (privacy) penghuninya. Beberapa bahan
pembuat dinding adalah dari kayu, bambu, pasangan batu bata, atau sebagainya. Tetapi
dari beberapa bahan tersebut yang paling baik adalah pasangan batu bata atau
tembok (permanen) yang tidak mudah terbakar dan kedap air sehingga mudah
dibersihkan.
d. Lantai rumah
Komponen yang harus dipenuhi rumah
sehat memiliki lantai kedap air dan tidak lembap, jenis lantai tanah memiliki
peran penting terhadap proses kejadian Tuberkulosis paru melalui kelembapan
pada musim panas menimbulkan debu sehingga berbahaya bagi penghuninya.
e. Pencahayaan
Cahaya sangat penting karena dapat membunuh bakteri-bakteri
pathogen di dalam rumah, misalnya hasil tuberkulosis. Pencahayaan baik
pencahayaan alam atau buatan dapat menerangi seluruh bagian ruangan minimal 60
Lux dan tidak menyilaukan mata. Kualitas pencahayaan alami siang hari yang
masuk kedalam ruangan diantaranya ditentukkan oleh lubang cahaya minimum seper
sepuluh dari luas lantai ruangan, sinar matahari langsung dapat masuk ke
ruangan minimum 1 jam setiap hari, dan cahaya efektif dapat diperoleh dari jam
08.00 sampai dengan jam 16.00.
f. Kelembaban rumah
Kelembaban udara dalam rumah minimal
40-70% dan suhu ruangan yang ideal antara 18oC-30oC. Bila
kondisi suhu ruangan tidak optimal, misalnya terlalu panas akan menimbulkan dampak
pada cepat lelahnya saat bekerja dan tidak cocoknya untuk istirahat. Sebaiknya,
bila kondisinya terlalu dingin akan tidak menyenangkan dan pada orang-orang
tertentu dapat menimbulkan energi. Hal ini perlu diperhatikan karena kelembapan
dalam rumah akan mempermudah perkembangbiakan mikroorganisme antara lain
bakteri spiroket, rickettsia dan virus.
g. Kepadatan hunian rumah
Kepadatan hunian yang merupakan
faktor lingkungan terutama pada penderita tuberculosis yaitu kuman M.
tuberculosis dapat masuk pada rumah yang memiliki bangunan yang gelap dan tidak
ada sinar matahari yang masuk.
Luas lantai bangunan rumah sehat
harus cukup untuk penghuni di dalamnya, artinya luas lantai bangunan rumah
tersebut harus disesuaikan dengan jumlah penghuninya agar tidak menyebabkan
overload. luas bangunan yang tidak sebanding dengan jumlah penghuninya akan
menyebabkan overcrowded. Hal ini tidak sehat sebab di samping menyebabkan
kurangnya konsumsi oksigen juga bila salah satu anggota terkena penyakit TB
Paru, akan mudah menular ke anggota yang lain.
Persyaratan kepadatan hunian untuk
seluruh rumah biasanya dinyatakan dalam m2/orang. Luas minimum per orang sangat
relatif tergantung dari kualitas bangunan dan fasilitas yang tersedia. Untuk
rumah sederhana luasnya minimum 10 m2/orang. Kamar tidur sebaiknya tidak dihuni
lebih dari 2 orang, kecuali untuk suami istri dan anak dibawah 2 tahun yang
biasanya masih sangat memerlukan kehadiran orang tuanya. Apabila ada anggota
keluarga yang menderita penyakit pernafasan sebaiknya tidak tidur sekamar
dengan anggota keluarga yang lain.
F.
Upaya Pencegahan
Chin J (2000) mengemukakan bahwa
tuberculosis paru dapat dicegah dengan usaha memberikan penyuluhan kesehatan
kepada masyarakat tentang tuberculosis paru, penyebab tuberculosis paru, cara
penularan, tanda dan gejala, dan cara pencegahan tuberculosis paru misalnya
sering cuci tangan, mengurangi kepadatan hunian, menjaga kebersihan rumah, dan
pengatur ventilasi. Alsagaff & Mukty (2002) menjelaskan bahwa terdapat
beberapa cara dalam upaya pencegahan tuberculosis paru, diantaranya :
a. Pencegahan primer
Daya tahan tubuh yang baik, dapat mencegah terjadinya
penularan suatu penyakit. Dalam meningkatkan imunitas dibutuhkan beberapa cara,
yaitu:
1) Memperbaiki standar hidup.
2) Mengonsumsi makanan yang mengandung
4 sehat 5 sempurna.
3) Istirahat yang cukup dan teratur.
4) Rutin dalam melakukan olahraga pada
tempat-tempat dengan udara segar.
5) Peningkatan kekebalan tubuh dengan vaksinasi BCG.
b. Pencegahan sekunder
Pencegahan terhadap infeksi tuberculosis paru pencegahan
terhadap sputum yang infeksi, terdiri dari :
1)
Uji tuberculin mantoux.
2)
Mengatur ventilasi dengan baik agar pertukaran udara tetap terjaga.
3)
Mengurangi kepadatan penghuni rumah.
4)
Melakukan foto rontgen untuk orang dengan hasil tes
tuberculin positip.
5)
Melakukan pemeriksaan dahak pada orang dengan gejala klinis tuberculosis paru.
c. Pencegahan tersier
Pencegahan dengan mengobati
penderita yang sakit dengan obat anti tuberculosis. Pencegahan tuberculosis
paru bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian, mencegah
kekambuhan, memutuskan rantai penularan, dan mencegah terjadinya resistensi
kuman terhadap Directly Observed
Treatment, Short-course (DOTS).
G.
Upaya Penanganan Tb Paru
Upaya penanganan dan pemberantasan TB paru telah dilakukan
pada awal tahun 1990an WHO telah mengembangkan strategi penanggulangan TB yang
dikenal sebagai DOTS. Focus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien,
dengan prioritas pasien TB tipe menular. Strategi ini akan memutuskan penularan
TB dan diharapkan menurunkan insiden TB dimasyarakat. Menemukan dan
menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB.
(Depkes, 2007).
Tjandra Yoga (2007), mengemukakan bahwa seseorang yang sakit
tuberkulosis dapat disembuhkan dengan minum obat secara lengkap dan teratur.
Obat disediakan oleh pemerintah secara gratis disarana pelayanan kesehatan yang
telah menerapkan stratesi DOTS seperti di puskesmas. Balai pengobatan penyakit
paru dan beberapa rumah sakit.
Menurut ahmad tahun (2008) dalam jurnal Helper Sahat P.
Manalu tentang factor kejadian Tb paru dan cara penanggulangannya,
perbaikan social ekonomi, peningkatan taraf hidup dan lingkungan serta kemajuan
teknologi banyak membawa perubahan. Di Negara-negara maju, jauh sebelum
ditemukan obat anti TB berkat perbaikan social ekonomi, jumlah penderita
menurun 10- 15% per tahun. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penyakit TB
sebenernya dapat disimpulkan bahwa penyakit TB sebenarnya dapat hilang dengan
sendirinya jika ada perbaikan sosial ekonomi tanpa obat.
Pradono berdasarkan hasil penelitiannya pada tahun 2007,
bahwa keluarga yang mempunyai pendapatan yang lebih tinggi akan lebih mampu
untuk menjaga kebersihan lingkungan rumah tangganya, menyediakan air minum yang
baik, membeli makanan yang jumlah dan
kualitasnya memadai bagi keluarga mereka, serta mampu membiayai
pemeliharaan kesehatan yang mereka perlukan.
H.
Rumah Sehat
1. Pengertian Rumah
Rumah adalah bangunan gedung yang
berfungsi sebagai tempat tinggal yang layak huni, sarana pembinaan keluarga (Peraturan
Menteri Kesehatan RI No.1077/MENKES/PER/V/2011 tentang pedoman penyehatan udara
dalam rumah).
2. Persyaratan kesehatan rumah
a. Memenuhi kebutuhan fisiologis
Kebutuhan
fisiologis terdiri dari kecukupan cahaya yang masuk kedalam ruangan, ventilasi
atau penghawaan yang baik, tidak adanya kebisingan yang berlebihan dan terdapat
ruang bermain yang cukup bagi anak-anak.
b. Memenuhi kebutuhan psikologis
Kebutuhan psikologis dari penghuni rumah yaitu rasa nyaman
dan aman dari penghuni rumah.
c. Mencegah penularan penyakit
Pembangunan
rumah harus memperhatikan faktor yang dapat menjadi sumber penularan penyakit,
faktor tersebut meliputi penyediaan air bersih, bebas dari serangga dan tikus,
pengelolaan sampah yang benar, pengelolaan limbah dan tinja yang benar.
d. Mencegah terjadinya kecelakaan
Rumah sehat harus dapat mencegah atau mengurangi risiko
terjadinya kecelakaan seperti jatuh, terkena benda tajam, keracunan, bahaya
kebakaran,dll.
1)
Kondisi Lantai
Lantai
yang baik berasal dari ubin maupun semen, namun masyarakat ekonomis menengah
kebawah cukup tanah yang dipadatkan, dengan syarat tidak berdebu pada saat
musim kemarau dan tidak basah pada musim hujan. Untuk memperoleh lantai tanah
yang padat dan basah dapat ditempuh dengan meyiram air kemudian dipadatkan
dengan benda-benda berat dan dilakukan berkali-kali.
2)
Kondisi Dinding
Dinding merupakan penyekat atau pembatas ruang,
selain sebagai penyekat ruang dinding dapat berfungsi sebagai penyekat ruang
namun juga sebagai tumpuan bahan kontruksi yang ada di atasnya.
3)
Kondisi Atap Genting
Adalah atap rumah yang cocok digunakan untuk daerah tropis
namun dapat juga menggunakan atap rumbai ataupun daun kelapa, atap seng, tidak
cocok untuk atap pedesaan.
4)
Kepadatan Penghuni Rumah
Luas
lantai bangunan rumah yang sehat harus cukup untuk penghuni di dalamnya. Luas
bangunan yang tidak sebanding dengan jumlah penghuninya dapat menyebabkan
penjubelan. Hal ini menjadikan rumah tidak sehat, kekurangan O2, dan juga bila salah
satunya terinfeksi penyakit maka akan mudah menular.
5)
Pencahayaan
Menurut
Permenkes RI No.1077/MENKES/Per/V/2011 tentang Pedoman Penyehatan Udara Dalam
Ruang, pencahayaan alami dan buatan langsung maupun tidak langsung dapat
menerangi seluruh ruangan dengan intesitas minimal 60 Lux.
6)
Suhu Udara
Menurut Permenkes RI No.1077/MENKES/Per/V/2011 tentang
Pedoman Penyehatan Udara Dalam Ruang , menyebutkan suhu ruang yang nyaman
berkisar antara 18-30oC.
7)
Ventilasi
Menurut
Permenkes RI No.1077/MENKES/Per/V/2011 tentang Pedoman Penyehatan Udara Dalam
Ruang menyebutkan rumah harus dilengkapi dengan ventilasi minimal 10% luas
lantai dengan sistem ventilasi silang.
8)
Kelembaban
Menurut Permenkes RI No.1077/MENKES/Per/V/2011 tentang
Pedoman Penyehatan Udara Dalam Ruang menyebutkan kelembaban ruang yang nyaman
berkisaran antara 40-60%.
I.
Kerangka Teori
Berdasarkan
uraian tinjauan pustaka, maka penulis mencoba merangkai kerangka teori dalam
bentuk skema berdasarkan sumber : Soekidjo
Notoatmojo (2010), Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor :
829/Menkes/SK/VII/1999: Soedjajadi Keman, 2005: Depkes RI2014.
Faktor yang
mempengaruhi Terjadinya
Tb Paru : a. Lingkungan
Fisik Rumah •
Lantai •
Dinding •
Langit-Langit •
Ventilasi •
Kepadatan Hunian •
Pencahayaan •
Kelembaban b.
Faktor Lingkungan
Biologis • Kontak
serumah dengan TB c.
Faktor
Lingkungan Sosial •
Tingkat
Pendidikan •
Status
Ekonomi • Kepadatan Penduduk Faktor Individu •
Umur •
Jenis
Kelamin •
Status
Imunisasi •
Status
Gizi •
Kebiasaan
merokok •
Kebiasaan
membuang Ludah
sembarangan •
TB-MDR • Keadaan lain
(kerusakan hati, gagal ginjal, gagal jantung, gangguan mata) Pejanan M. Tuberkulosis Infeksi awal/primer Sakit
TB Paru Faktor
Lingkungan
Gambar 1
Kerangka
Teori
J.
Kerangka Konsep
1. Lantai 2. Dinding 3. Langit-Langit 4. Kepadatan
Hunian 5. Ventilasi 6. Pencahayaan 7. Kelembaban Penderita Tb Paru di Wilayah
Kerja Puskesmas Rawat Inap Sukabumi Tahun 2022
Gambar 2 Kerangka
Konsep
K.
Definisi Operasional
Tabel
2
Definisi
Operasional
|
No |
Variabel |
Definisi |
Cara
ukur |
Alat
ukur |
Hasil
ukur |
Skala
ukur |
|
1 |
Lantai |
bagian
bawah (alas, dasar) suatu ruangan atau bangunan rumah penderita Tb Paru,
selama penderita tinggal di rumah
tersebut. |
Observasi |
Cheklist |
1.
memenuhi syarat jika lantai rumah di plester/ubin dan keramik. 2.
tidak
memenuhi syarat jika
lantai tidak di plester, terbuat dari papan/anyaman bambu yang dekat dengan
tanah. |
Ordinal |
|
2 |
Dinding |
suatu
struktur padat sebagai sarana penyangga atap dan juga melindungi dari panas sinar
matahari secara langsung, dinding yang baik terbuat dari bahan susunan batu
bata dan di plester, dengan syarat dinding tersebut dari bahan permanen
(susunan batu bata dan di plester), berwarna terang. |
Observasi |
Cheklist |
1.
Memenuhi syarat, jika kedap air, dan di plester 2.
Tidak memenuhi syarat, jika tidak di plester. |
Ordinal |
|
3 |
Langit-langit |
daerah
pembatas antara atap dan ruangan rumah selama penderita Tb Paru tinggal di
rumah tersebut. |
Observasi |
Cheklist |
1.
memenuhi syarat apabila ada langit-langit, bersih, tinggi minimal 2,4 m, tidak
rawan kecelakaan, dan rapat. 2.
Tidak memenuhi syarat apabila kotor, tidak rapat, tinggi, tidak ada
langit-langit dan rawan kecelakaan. |
Ordinal |
|
4 |
Kepadatan
hunian |
Luas
ruangan yang diperuntukkan bagi setiap penghuninya selama tinggal di rumah
tersebut (rumah penderita TB Paru). Syarat minimal 8m2/orang. |
Observasi
dan
Pengukuran |
Cheklist |
1.
Memenuhi syarat bila padat >8m2/orang 2.
Tidak memenuhi syarat bila <8m2/orang. |
Ordinal |
|
5 |
Ventilasi |
Lubang
angin atau rongga untuk keluar masuknya udara yang ada pada dinding rumah Penderita
TB Paru, yang berfungsi sebagai tempat sirkulasi udara yang terjadi di dalam
ruangan untuk menjaga udara ruangan agar tetap segar. |
Observasi dan Pengukuran |
Meteran
dan cheklist |
1.
memenuhi syarat bila luas lubang ventilasi >10% dari luas lantai (Depkes
RI,2005). 2.
Tidak memenuhi syarat bila luas lubang ventilasi <10% dari luas lantai. |
Ordinal |
|
6 |
Pencahayaan |
intensitas
penerangan yang msauk ke dalam ruangan rumah penderita TB Paru. Yang
bersumber dari pencahayaan alami. Seluruh ruangan minimal intensitasnya 60
lux, tidak menyilaukan. |
Observasi
dan Pengukuran |
Lux
meter |
1.
Memenuhi syarat bila pencahayaan lebih dari atau sama dengan 60 Lux. 2.
Tidak memenuhi syarat bila pencahayaan kurang dari 60 Lux. |
Ordinal |
|
7 |
Kelembaban |
Kadar
air di udara dalam ruangan rumah Penderita TB Paru. Kelembaban minimal 40-70% |
Observasi
dan Pengukuran |
Hygrometer |
1.
Memenuhi syarat bila memenuhi syarat 40-70%. 2.
Tidak memenuhi syarat bila syarat <40%. |
Ordinal |
BAB III
METODE PENELITIAN
A.
Jenis
dan rancangan penelitian
Penelitian dilakukan dengan metode
penelitian deskriptif yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan
tujuan utama membuat suatu gambaran tentang suatu keadaan secara subjektif
(Notoatmodjo, 2010). Jenis penelitian ini bersifat deskriptif untuk mendapatkan
Gambaran kondisi fisik rumah pada penderita Tuberculosis Paru di wilayah kerja Puskesmas
Rawat Inap Sukabumi Bandar Lampung Tahun 2022.
B.
Subjek penelitian
1.
Populasi
Populasi adalah jumlah keseluruhan
objek penelitian atau objek yang di teliti (Notoadmadjo, 2010:115). Populasi
dalam penelitian ini adalah rumah tangga yang penghuninya memiliki penyakit
Tuberculosis Paru yaitu sebanyak 65 orang terdiri dari 3 Kelurahan yaitu
Sukabumi sebesar 33 orang, Sukabumi Indah sebesar 20 orang, dan Nusantara
Permai 12 orang.
2.
Sampel
Sampel
adalah seluruh penderita Tb Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Rawat Inap Sukabumi
sebanyak 65 orang Tahun 2021.
C.
Lokasi dan Waktu Penelitian
1.
Lokasi penelitian
Peneliti ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap
Sukabumi Bandar Lampung Tahun 2022.
2.
Waktu penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada
bulan Mei sampai dengan Juni tahun 2022.
D.
Cara pengumpulan data
Alat yang digunakan untuk pengumpulan
data berupa ceklis. Dalam penelitian ini data yang ingin dikumpulkan adalah
penelitian kondisi fisik rumah penderita tuberculosis paru di wilayah kerja
Puskesmas Rawat Inap Sukabumi. Jenis data yang dikumpulkan terdiri atas :
1.
Jenis data
a.
Data primer
Data primer yaitu data yang didapatkan
dengan observasi kepada responden dengan menggunakan instrument seperti
cheklis. Sebelum peneliti mengambil data dari sumber data primer ini, peneliti
menemui syarat etika penelitian dengan melakukan izin penelitian kepada Puskesmas
Rawat Inap Sukabumi tahun 2022.
b.
Data sekunder
Data sekunder yaitu data yang
diperoleh secara tidak langsung, data sekunder disini sebagai bahan pendukungnya
adalah profil Puskesmas Rawat Inap Sukabumi dan data lainnya yang menunjang
penelitian ini.
2.
Cara pengumpulan data
a.
Mendatangi Puskesmas Sukabumi untuk
menanyakan daftar nama dan juga alamat responden penderita tuberculosis paru.
b.
Sebelum mengambil data siapkan cheklis
yang akan diisi serta menyiapkan alat ukur yang akan digunakan.
c.
Datang ke rumah responden dan
memperkenalkan diri serta menjelaskan maksud dan tujuan mendatangi rumah responden.
d.
Menjelaskan dan menanyakan setiap
poin yang ada di cheklis lalu isi cheklis dengan jelas.
e.
Dokemtasikan setiap kegiatan pada
saat pengambilan data guna dijadikan dokumentasi pendukung dalam penelitian ini.
f.
Periksa kembali kelengkapan data
yang sudah diisi sebelum meninggalkan rumah
responden.
g.
Observasi selesai, peneliti
mengucapkan terimakasih kepada responden.
E.
Pengolahan dan analisis data
1.
Pengolahan data
a.
Editing
Kegiatan untuk melakukan pengecekan
kembali cheklis apakah jawaban yang ada pada cheklis sudah jelas, lengkap,
relevan, dan konsisten.
b.
Coding
Kegiatan mengubah data dari
berbentuk kalimat atau huruf menjadi angka atau bilangan.
c.
Memasukan data (data entry) atau processing
Mengisi kolom-kolom atau kotak-kotak
lembar kode atau kartu kode sesuai dengan jawaban masing-masing pertanyaan.
d.
Tabulating
Membuat table-tabel data, sesuai
dengan tujuan penelitian atau yang diingkan oleh peneliti.
2.
Analisis data
Analisis data
dalam penelitian ini menggunakan analisis univariat, analisis ini bertujuan
untuk menjelaskan/mendeskripsikan karakteristik masing-masing variabel yang
diteliti, sehingga kumpulan data tersebut berubah menjadi informasi berguna.
Dalam analisa
ini yang menjadi variabel penelitian yaitu luas lantai, dinding, langit-langit,
kepadatan hunian, ventilasi, pencahayaan, kelembaban, dan data akan diolah dengan bantuan program computer.
BAB IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum
Puskesmas
Rawat Inap Sukabumi beralamat di JI. Pulau Bangka No. 3 Kelurahan Sukabumi,
Kecamatan Sukabumi, Bandar Lampung.
Batas Wilayah
Sebelah Timur :
Kec. Lampung Selatan
Sebelah Utara : Kec. Sukarame
Sebelah Barat
: Kec. Kedamaian
Wilayah Kerja
Mempunyai 3 kelurahan yaitu kelurahan
Sukabumi, kelurahan Sukabumi Indah, dan kelurahan Nusantara Permai yang
semuanya terletak di kecamatan Sukabumi, Kota Bandar Lampung. Dengan luas
wilayah 7,92 km2 dengan
jumlah laki-laki 16.840, dan perempuan sebanyak 16.714.
Tabel 3
Persebaran Penduduk di Wilayah
Kerja Puskesmas Sukabumi
|
NO |
KELURAHAN |
JUMLAH LAKI-LAKI |
JUMLAH PEREMPUAN |
TOTAL |
|
1 |
SUKABUMI |
9.721 |
9.429 |
19.150 |
|
2 |
SUKABUMI INDAH |
5.202 |
5.282 |
10.484 |
|
3 |
NUSANTARA PERMAI |
1.917 |
2.003 |
3.920 |
|
T O T A L |
16.840 |
16.714 |
33.554 |
|
Sumber : Profil Puskesmas Sukabumi
Tahun 2021
B.
Gambaran Kejadian Tb Paru
Tabel 4
Data
Jumlah Kasus Tb Paru di Wilayah Kerja Puskesmas
Rawat Inap Sukabumi
Tahun
2019-2021
|
No. |
Tahun
|
Jumlah
Menderita Tb Paru |
(%) |
|
1. |
2019 |
72 |
33% |
|
2. |
2020 |
83 |
37% |
|
3. |
2021 |
65 |
30% |
|
|
Jumlah |
220 |
100 |
Sumber :
Puskesmas Rawat Inap Sukabumi Tahun 2021
Dari data
diatas Penemuan kasus Tb Paru pada tahun 2020 dengan penemuan kasus Tb Paru
pada tahun 2019 ditemukan kasus yang meningkat, yaitu 83 kasus penderita BTA
(+), Pada tahun 2021 penemuan kasus TB Paru menurun menjadi 65 kasus.
C. Hasil Penelitian
Setelah
dilakukan penelitian pada rumah penderita Tb Paru, yaitu 65 penderita di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap
Sukabumi dari bulan Mei-Juni Tahun 2022, dengan variabel yang diamati yaitu
lantai, dinding, langit-langit, kepadatan hunian, ventilasi, pencahayaan, dan
kelembaban, diperoleh hasil sebagai berikut:
1. Lantai
Lantai merupakan dinding penutup
ruangan bagian bawah. Lantai yang baik harus bersifat kedap air dan mudah
dibersihkan yaitu terbuat dari keramik,
ubin, atau semen.
Grafik
Jumlah
Keadaan Lantai Rumah Responden
Di
Wilayah Kerja Puskesmas Sukabumi
Tahun
2022
Tabel 5
Jumlah Keadaan Lantai Rumah
Responden
Di Wilayah Kerja Puskesmas Sukabumi
Tahun 2022
|
Keadaan
Lantai |
Jumlah
(rumah) |
Persen
(10%) |
|
Memenuhi Syarat |
29 |
44,6 |
|
Tidak Memenuhi Syarat |
36 |
55,4 |
|
Total |
65 |
100 |
Tabel 5
menunjukkan bahwa jumlah responden berdasarkan keadaan lantai didapatkan hasil
dari 65 responden sebagian besar tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 36
responden (55,4%) dan yang memenuhi syarat yaitu 29 responden (44,6%).
2. Dinding
Dinding berfungsi sebagai pelindung, baik dari gangguan hujan maupun
angin serta melindungi dari pengaruh panas dan debu dari luar yang
kemungkinan membawa kuman micobacterium
tuberculosis. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan tercantum dalam
tabel 6.
Grafik
Jumlah
Keadaan Dinding Rumah Responden
Di
Wilayah Kerja Puskesmas Sukabumi
Tahun
2022
Tabel 6
Jumlah Keadaan Dinding Rumah
Responden
Di Wilayah Kerja Puskesmas Sukabumi
Tahun 2022
|
Keadaan
Dinding |
Jumlah
(rumah) |
Persen
(10%) |
|
Memenuhi Syarat |
29 |
44,6 |
|
Tidak Memenuhi Syarat |
36 |
55,4 |
|
Total |
65 |
100 |
Tabel 6
menunjukkan bahwa jumlah responden berdasarkan keadaan dinding didapatkan hasil
65 responden sebagian besar tidak memenuhi syarat sebanyak 36 (55,4%) dan yang
memenuhi syarat yaitu 29 (44,6%).
3.
Langit-Langit
Langit-langit atau plafon merupakan penutup atau penyekat
bagian atas ruang. Fungsi lain dari langit-langit adalah untuk menyerap panas,
harus mudah dibersihkan, tidak rawan kecelakaan, dan dapat mengatur pencahayaan
di dalam ruangan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan tercantum
dalam tabel 7.
Grafik
Jumlah
Keadaan Langit-Langit Rumah Responden
Di
Wilayah Kerja Puskesmas Sukabumi
Tahun
2022
Tabel 7
Jumlah Keadaan Langit-Langit Rumah
Responden
Di Wilayah Kerja Puskesmas Sukabumi
Tahun 2022
|
Keadaan Langit-Langit |
Jumlah (rumah) |
Persen (10%) |
|
Memenuhi
Syarat |
30 |
46,2 |
|
Tidak
Memenuhi Syarat |
35 |
53,8 |
|
Total |
65 |
100 |
Tabel 7 menunjukan
bahwa jumlah responden berdasarkan keadaan langit-langit didapatkan hasil dari
65 responden sebagian besar tidak memenuhi syarat sebanyak 35 responden (53,8%)
dan yang memenuhi syarat yaitu 30 responden (46,2%).
4.
Kepadatan Penghuni
Kepadatan penghuni merupakan luas
lantai dibagi dengan jumlah anggota keluarga penghuni. Semakin padat penghuni
rumah akan semakin cepat pula udara di dalam rumah tersebut mengalami
pencemaran.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan tercantum
dalam tabel 8.
Grafik
Jumlah
Keadaan Kepadatan Hunian Rumah Responden
Di
Wilayah Kerja Puskesmas Sukabumi
Tahun
2022
Tabel 8
Jumlah Keadaan Kepadatan Penghuni
Rumah Responden
Di Wilayah Kerja Puskesmas Sukabumi
Tahun 2022
|
Keadaan Hunian |
Jumlah (rumah) |
Persen (10%) |
|
Memenuhi
Syarat |
27 |
41,5 |
|
Tidak
Memenuhi Syarat |
38 |
58,5 |
|
Total |
65 |
100 |
Tabel 8 menunjukan
bahwa Jumlah responden berdasarkan Kepadatan Hunian didapatkan hasil dari 65
responden sebagian besar tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 38 (58,5%) dan yang
memenuhi syarat yaitu 27 (41,5%).
5.
Ventilasi
Luas penghawaan atau ventilasi alamiah permanen minimal 10 %
dari luas lantai. Ventilasi berfungsi juga untuk membebaskan udara ruangan dari
kuman dan bakteri, seperti kuman tuberkulosis, karena di ventilasi selalu
terjadi aliran udara yang terus menerus. Berdasarkan hasil penelitian yang
telah dilakukan tercantum dalam tabel 9.
Grafik
Jumlah
Keadaan Ventilasi Rumah Responden
Di
Wilayah Kerja Puskesmas Sukabumi
Tahun
2022
Tabel 9
Distribusi Keadaan Ventilasi Rumah Responden
Di Wilayah Kerja Puskesmas Sukabumi
Tahun 2022
|
Keadaan Rumah |
Jumlah (rumah) |
Persen (10%) |
|
Memenuhi
Syarat |
26 |
40,0 |
|
Tidak
Memenuhi Syarat |
39 |
60,0 |
|
Total |
65 |
100 |
Tabel 9 menunjukan bahwa jumlah
responden berdasarkan keadaan Ventilasi didapatkan dari 65 responden sebagian
besar yang tidak memenuhi syarat sebanyak 39 (60,0%) dan yang memenuhi syarat
yaitu 26 (40,0%).
6.
Pencahayaan
Pencahayaan yaitu cahaya alami matahari selain berguna untuk
menerangi ruang juga mempunyai daya untuk membunuh bakteri. Sinar matahari
dapat dimanfaatkan untuk pencegahan penyakit tuberkulosis paru, dengan
mengusahakan masuknya sinar matahari pagi ke dalam rumah. Berdasarkan hasil
penelitian yang telah dilakukan tercantum dalam tabel 10.
Grafik
Jumlah Keadaan Pencahayaan Rumah
Responden
Di Wilayah Kerja Puskesmas Sukabumi
Tahun 2022
Tabel 10
Jumlah Keadaan Pencahayaan Rumah
Responden
Di Wilayah Kerja Puskesmas Sukabumi
Tahun 2022
|
Keadaan Rumah |
Jumlah (rumah) |
Persen (10%) |
|
Memenuhi
Syarat |
19 |
29,2 |
|
Tidak
Memenuhi Syarat |
46 |
70,8 |
|
Total |
65 |
100 |
Tabel 10 menunjukan bahwa jumlah
responden berdasarkan Pencahayaan didapatkan hasil dari 65 responden sebagian
besar yang tidak memenuhi syarat sebanyak 46 (70,8%) dan yang memenuhi syarat
yaitu 19 (29,2%).
7.
Kelembaban
Kelembaban
udara dalam rumah minimal 40% – 70 % dan suhu ruangan yang ideal antara 18°C -
30°C. Kelembaban udara yang meningkat merupakan media yang baik untuk
bakteri-baktri dan kuman, termasuk kuman tuberkulosis. Berdasarkan hasil
penelitian yang telah dilakukan tercantum dalam tabel 11.
Grafik
Jumlah
Keadaan Kelembaban Rumah Responden
Di
Wilayah Kerja Puskesmas Sukabumi
Tahun
2022
Tabel 11
Jumlah Kelembaban Rumah Responden
Di Wilayah Kerja Puskesmas Sukabumi
Tahun 2022
|
Keadaan Rumah |
Jumlah (rumah) |
Persen (10%) |
|
Memenuhi
Syarat |
17 |
26,2 |
|
Tidak
Memenuhi Syarat |
48 |
73,8 |
|
Total |
65 |
100 |
Sumber : Analisis Data Tahun 2022
Tabel 11
menunjukan bahwa jumlah responden berdasarkan Kelembaban didapatkan hasil dari
65 responden sebagian besar tidak memenuhi syarat sebanyak 48 (73,8%) dan yang
memenuhi syarat yaitu 17 (26,2%).
D. Pembahasan
Dari data
yang ada telah didapatkan 65 responden penderita TB paru di Wilayah Kerja
Puskesmas Rawat Inap Sukabumi
dipengaruhi oleh faktor kondisi rumah yaitu Lantai, Dinding,
Langit-Langit, Kepadatan Hunian, Ventilasi, Pencahayaan, dan Kelembaban, serta
dipengaruhi oleh perilaku penderita Tb paru.
1. Gambaran Lantai Rumah dengan Kejadian Tb Paru
Keadaan
lantai rumah penderita Tb Paru di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Sukabumi
bahwa dari 65 rumah yang diamati terdapat 29 (44,6%) rumah yang sudah memenuhi
syarat yaitu lantai rumah yang kedap air dan mudah dibersihkan (keramik,
plester, atau ubin) dan yang tidak memenuhi syarat ada 36 (55,4%) rumah yaitu
lantai rumah yang sudah retak-retak dan berdebu Ketika musim kemarau serta
lembab dan Ketika musim penghujan bahkan ada rumah yang lantai rumahnya masih
beralaskan tanah.
Lantai
yang memenuhi syarat adalah lantai yang kedap air. Keadaan lantai yang tidak
kedap air bisa dikarenakan lantai retak, berlubang atau lantai yang masih
beralaskan tanah yang dapat menyebabkan air tidak merebes naik ke pori-pori
lantai dan mengakibatkan lantai menjadi lembab.
Berdasarkan
hasil pengamatan terhadap rumah penderita Tb Paru di wilayah Kerja Puskesmas
Rawat Inap Sukabumi masih ada rumah yang lantainya tanah, dan lantai yang retak
serta berdebu.
Sebaiknya Puskesmas
mendaftarkan rumah tersebut sehingga dapat dilakukan bedah rumah, dan lantai
yang retak dan berlubang dapat di plester dengan semen yang kedap air, agar
mudah dibersihkan.
Untuk
lantai yang masih beralaskan tanah sebaiknya memplester tanah dengan semen yang
kedap air. Apabila tidak mampu umtuk memplester lantai maka dapat pula dengan
cara dilapisi kayu (papan) yang disusun rapi dan rapat, tetapi dengan syarat
dibawah papan tersebut harus ada kolong, selain itu harus dilapisi karet
sehingga tidak ada lubang dimana debu dan kelembaban tidak naik keatas
permukaan lantai.
Menurut
Depkes RI (1989) lantai dari tanah lebih baik tidak digunakan lagi, sebab bila
musim hujan akan lembab sehingga dapat menimbulkan gangguan penyakit terhadap
penghuninya. Oleh karena itu, perlu dilapisi dengan kedap air (semen/dipasang
tegel/terraso dan lain-lain.
Menurut
Notoatmojo (2007) lantai yang baik seharusnya terbuat dari semen, tetapi hal
ini cocok untuk ekonomi pedesaan, syarat yang paling penting disini adalah
tidak berdebu pada musim kemarau dan tidak basah pada musim hujan.
2. Gambaran Dinding Rumah dengan Kejadian Tb Paru
Berdasarkan pada PTPRS oleh
Departemen Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2007 yaitu dinding rumah yang
memenuhi syarat bila terbuat dari bahan permanen (tembok/pasangan batu bata
yang diplester/papan kedap air).
Fungsi dinding ini selain pendukung
/penyangga atap juga untuk melindungi ruangan rumah dari gangguan serangga,
hujan dan angin, juga melindungi diri dari pengaruh panas dan angin dari luar.
Dinding rumah yang baik menggunakan tembok , tetapi dinding rumah di daerah
tropis khususnya di pedesaan banyak yang berdinding papan, kayu, dan bambu. Hal
ini disebabkan masyarakat pedesaan perekonomiannya kurang.
Rumah yang berdinding tidak rapat seperti
papan, kayu, dan bambu dapat menyebabkan penyakit pernafasan yang berkelanjutan
seperti TB Paru, karena angin malam yang langsung masuk kedalam rumah. Jenis
dinding mempengaruhi terjadinya TB Paru, karena dinding yang sulit dibersihkan
akan menyebabkan penumpukan debu, sehingga dapat dijadikan sebagai media yang
baik bagi berkembangbiaknya kuman.
Berdasarkan Departemen Kesehatan RI
Direktorat Jenderal PPM dan PL tahun 2002, dinding rumah terbuat dari tembok,
pasangan batu bata atau batu yang di plaster dan papan kedap air.
Hasil penelitian terdapat dinding
rumah penderita TB Paru yang memenuhi syarat 29 (44,6%) rumah yaitu dinding
rumah yang dalam kondisi bersih dan permukaannya tidak kasar dan dinding yang
tidak memenuhi syarat ada 36 (55,4%) rumah dalam kondisi kotor, kasar, dan
berdebu.
Sebaiknya dinding responden di
perbaiki dengan menggunakan dinding yang permanen, kedap air, kuat, dan
berwarna terang.
3. Gambaran Langit-Langit Rumah dengan Kejadian Tb Paru
Plafon adalah bagian dari kontruksi bangunan yang berfungsi
sebagai langit-langit bangunan. Pada dasarnya plafon yang dibuat dengan maksud
untuk mencegah cuaca panas atau dingin agar tidak masuk langsung ke dalam
rumah. Fungsi utamanya adalah untuk menjaga kondisi suhu dan kelembaban di
dalam ruangan akibat sinar matahari yang menyinari atap rumah.
Udara panas yang masuk melalui atap rumah ditahan oleh
plafon sehingga tidak langsung mengalir ke ruang dibawahnya sehingga suhu
kelembaban ruang tetap terjaga (Nenitriana, dkk 2018).
Tinggi plafon menurut WHO tahun 2011 minimum 2,4 m.
sedangkan langit-langit yang baik dapat memenuhi syarat kesehatan adalah yang
kedap air, bersih, dapat menampung debu yang berjatuhan dari atap dan tidak
rawan kecelakaan Menurut (Kepmenkes RI No.829/Menkes/SK/VII/1999).
Berdasarkan hasil penelitian yang
didapat keadaan langit-langit pada rumah
penderita Tb Paru yang memenuhi syarat 30 rumah yaitu langit-langit
dalam keadaan bersih, terang, kuat,
tinggi 2,4 m, tidak rawan kecelakaan. dan langit-langit yang memenuhi syarat ada 30 (46,2%) rumah , dan yang tidak memenuhi syarat 35
(53,8%) rumah, dalam kondisi kotor, tidak terang, tidak ada langit-langit melainkan
beratap asbes, apabila
serat asbes yang terhirup dapat memperburuk jaringan paru-paru yang memicu
luka. Hal ini dapat menyebabkan penumpukkan di paru-paru dan mengakibatkan
penyumbatan. Bahkan dapat memicu adanya penyakit Tuberculosis Paru.
Rumah yang tidak memiliki langit-langit
akan menyebabkan pencemaran udara karena tidak ada penahan kotoran yang berasal
dari atap rumah sehinnga apabila di hirup akan menyebabkan penyakit pernapasan
seperti TB Paru.
Meskipun ada langit-langit rumah
responden memenuhi syarat tetapi menderita penyakit Tb Paru hal ini dikarenakan
pengetahuan responden yang kurang baik sehingga menyebabkan responden menderita
Tb Paru.
Begitupun sebaliknya meskipuna ada
responden yang langit-langit rumah tidak memenuhi syarat dan tidak menderita Tb
Paru hal ini dikarenakan imunitas tubuh atau daya tahan tubuh seseorang
tersebut sangat baik.
Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Diah Dwi
Lestari Muslimah (2016) yang menyatakan tidak ada hubungan antara variable
langit-langit rumah dengan keberadaan bakteri penyebab Tb Paru, hal ini
dikarenakan kondisi langit-langit responden telah baik dan sejalan dengan
penelitian Novita (2016) bahwa tidak ada hubungan antara langit-langit dengan
kejadian Tb Paru disebabkan mayoritas responden memiliki langit-langit rumah
yang telah memenuhi syarat yaitu mudah dibersihkan dan tidak rawan kecelakaan.
Langit-langit yang memenuhi syarat bertujuan untuk menjamin volume
udara dalam ruangan yang cukup tidak menjadikan rumah terasa lembap karena
sirkulasi pengeluaran CO2 dan penguapan tubuh terhalang yang mengakibatkan
adanya perkembangbiakan bakteri Tb Paru.
Sebaiknya responden memperbaiki langit-langit rumahnya agar
memenuhi syarat rumah sehat dan penghuni di dalam rumah terjamin kesehatannya.
Sedangkan apabila tidak memungkinkan responden diharapkan untuk selalu
membersihkan atap rumah dengan rutin dan secara berkala.
4. Gambaran Kepadatan Hunian Dengan Kejadian Tb Paru
Persyaratan kepadatan hunian untuk rumah sehat tercantum
dalam persyaratan kesehatan perumahan RI No. 1077/MENKES/PER/V/2011. Rumah
dikatakan padat / tidak memenuhi syarat apabila luas rumah dibagi jumlah
penghuni <10m2.
Berdasarkan hasil penelitian di dapatkan bahwa kepadatan
hunian yang memenuhi syarat ada 27
(41,5%) rumah yang memenuhi syarat luas kamar minimum 8m2 dan yang
tidak memenuhi syarat ada 38 (58,5%) rumah.
Hal ini disebabkan luas rumah yang kecil atau kurangnya
lahan untuk membangun rumah dan kamar dihuni lebih dari 2 orang dewasa,
dikarenakan pemilik rumah tidak mampu untuk memperbaiki rumah. Ada juga rumah
yang luas kamarnya sudah memenuhi syarat tetapi perlu penataan barang-barang di
rumah dan ruang kamar masih belum tertata dengan rapih. Sehingga ruang kamar
terlihat sempit dan pengap. Sebaiknya barang yang berada dalam kamar diletakkan
ditempat lain agar ruang kamar tidak pengap dan sirkulasi udara menjadi lancar.
Kepadatan hunian akan memudahkan penularan penyakit TB Paru
di dalam rumah. Bila dalam satu rumah terdapat satu orang penderita Tb Paru
aktif dan tidak diobati secara benar akan meninfeksi anggota keluarga yang lain
terutama kelompok yang rentan seperti balita dan lansia.
Semakin padat hunian rumah semakin besar resiko
penularannya. Kurangnya pengetahuan responden betapa pentingnya dan
berpengaruhnya kondisi fisik rumah bagi penghuni rumah tersebut, juga kurangnya
pengetahuan tentang sanitasi rumah sehat yang memenuhi syarat sehingga terdapat
komponen rumah yang tidak memenuhi syarat. Contohnya rumah harus memiliki
ventilasi yang sesuai standar >10% dari luas lantai dan harus memiliki
jendela yang dapat di buka tutup sehingga membuat sirkulasi udara menjadi baik
dan kebiasaan membuka jendela jarang sekali dilakukan responden.
bahkan ada beberapa rumah responden yang mereka tidak
memiliki ventilasi selain itu memiliki jendela yang permanen atau tidak bisa di
buka tutup.
Selain itu responden kurang memiliki pengetahuan dan
kesadaran untuk berperilaku hidup bersih dan sehat untuk menghindari penularan
penyakit Tuberculosis Paru terutama bagi masyarakat yang bertempat tinggal di
kelurahan Sukabumi.
Sebagai penghuni atau pemilik rumah disarankan agar
memperhatikan aspek sanitasi rumah sehat pada segi ventilasi (kebiasaan membuka
jendela di pagi hari), langit-langit, dinding, lantai, kepadatan hunian,
pncahayaan, kelembaban dan meningkatkan prilaku hidup bersih dan sehat untuk
menghindari penularan penyakit Tuberculosis Paru terutama bagi masyarakat yang
bertempat tinggal di kelurahan Sukabumi yang memiliki kasus Tb Paru terbanyak.
Dan bagi responden yang sudah di diagnosis Tb Paru harus
melakukan pengobatan secara tuntas dan berprilaku hidup sehat, pakai masker
saat keluar rumah, atau mengobrol dengan anggota rumah lainnya.
5. Gambaran Ventilasi Dengan Kejadian Tb Paru
Keadaan ventilasi pada penderita Tb Paru di wilayah kerja
Puskesmas Rawat Inap Sukabumi yang memenuhi syarat ventilasi ada 26 (40,0%) rumah
dan yang tidak memenuhi syarat ada 39 (60,0%) rumah.
Di karenakan rumah responden sudah memiliki ventilasi,
tetapi tidak menyesuaikan ventilasi dengan ukuran kamar yang mereka tempati.
Keadaan
ventilasi yang buruk karena rumah responden memiliki ventilasi >10% dari
luas lantai bahkan ada rumah responden yang tidak memiliki ventilasi, akibatnya
udara bersih yang masuk ≤90% dan keadaan ruangan menjadi lembab. Selain itu
ventilasi rumah tertutup rapat menyebabkan kurangnya 0ksigen dan terhalangnya
proses pertukaran udara bersih masuk kedalam rumah karena udara yang bersih
bebas dari kontaminasi bakteri memerlukkan 40 kali pertukaran udara per jam.
Sebaiknya ventilasi yang tidak memenuhi syarat Kesehatan
perlu dilakukan perbaikan dengan cara menambah ventilasi dan pembuatan
ventilasi pada rumah yang belum memiliki ventilasi agar menjadi >10% dari
luas lantai.
Sebaiknya ventilasi yang di tutup di buka setiap pagi hari
agar udara masuk dan ruangan tetap terjaga dan tidak lembab. Sehingga dapat
meminalisir timbulnya penyakit Tb Paru.
Menurut
Depkes RI (1989) menyatakan, bahwa luas ventilasi rumah yang memenuhi syarat
yaitu 10% dari luas lantai yang bersangkutan dan kondisi tidak terhalang benda
apapun dapat menyebabkan sirkulasi udara di dalam rumah mencukupi kebutuhan dan
tidak menyesakan nafas bagi penghuninya. Selain itu kuman pathogen yang ada di
dalam ruangan tersebut dapat keluar Bersama udara.
6. Gambaran Pencahayaan Dengan Kejadian Tb Paru
Dari hasil
penelitian yang di dapat pencahayaan rumah responden yang tidak memenuhi syarat
ada 46 (70,8%) rumah dan yang memenuhi syarat ada 19 (29,2%) rumah di karenakan
rumah responden terlalu gelap tidak ada pencahayaan yang masuk sehingga
pencahayaan di dalam ruangan kurang baik.
Hal ini
dapat diatasi responden apabila selalu membuka jendela di pagi hari dan di
tambah lagi pada saat malam hari terdapat lampu yang sesuai dengan persyaratan
yaitu minimal 60 Lux tidak melebihi sehingga tidak menyulitkan pada saat
membaca.
Menurut
Permenkes RI No.1077/Menkes/Per/V/2011 Tentang Pedoman Penyehatan Udara Dalam
Ruang Rumah, pencahayaan yang memenuhi persyaratan adalah minimal 60 lux. Cahaya
matahari selain berguna untuk menerangi ruang juga mempunyai daya untuk
membunuh bakteri. Sinar matahari dapat dimanfaatkan untuk pencegahan penyakit
Tuberkulosis Paru, dengan mengusahakan masuknya sinar matahari pagi ke dalam
rumah. Sinar matahari yang kurang masuk ke dalam rumah berisiko terjadi
penularan TB paru pada anggota keluarga yang lain. Hal ini disebabkan sinar
matahari yang masuk memberikan pencahayaan yang baik dalam rumah dan membunuh
bakteri Tuberculosis yang berkembang di dalam rumah. Diutamakan sinar matahari
pagi mengandung sinar ultraviolet yang dapat mematikan bakteri. Rumah yang
tidak dapat di masuki sinar matahari maka penghuninya mempunyai risiko
menderita tuberkulosis 3-7 kali dibandingkan dengan rumah yang dapat dimasuki
sinar matahari.
Bila
pencahayaan rumah kurang dari 60 Lux, maka dapat dilakukan upaya seperti
membuka jendela rumah, menambah jumlah dan luas jendela rumah. Beberapa langkah
yang dapat dilakukan untuk mengatasi pencahayaan yang tidak baik, dapat juga
diadakan penyuluhan dan pemberian informasi kepada responden tentang rumah
sehat dalam pencegahan penyakit Tuberculosis
Paru. Serta dapat dilakukannya penyuluhan oleh pihak Puskesmas Rawat Inap
Sukabumi yang di bantu dengan kader lapangan sehingga dapat efisien waktu.
Hasil penelitian
ini sejalan dengan hasil penelitian Eko Sasmito pada tahun 2013 menunjukkan
bahwa dari 30 penderita penyakit Tuberculosis
Paru lebih banyak jumlah pencahayaan rumah yang tidak memenuhi syarat yaitu
18 rumah dibandingkan dengan jumlah
pencahayaan rumah yang memenuhi syarat yaitu 12 rumah.
7. Gambaran
Kelembaban dengan Kejadian Tb Paru
Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan keadaan
kelembaban rumah responden yang memenuhi syarat ada 17 (26,2%) rumah sedangkan
kelembaban yang tidak memenuhi syarat sebanyak 48 (73,8%) rumah yaitu atap yang
bocor, lantai, dan dinding rumah yang tidak kedap air, serta kurangnya
pencahayaan baik buatan maupun alami. Ventilasi juga merupakan salah satu
faktor yang mempengaruhi tingkat kelembaban. Hal ini dapat menyebabkan
timbulnya berbagai macam penyakit salah satunya Tb Paru.
Menurut Permenkes RI No.1077/Menkes/Per/V/2011 Tentang
Pedoman Penyehatan Udara Dalam Ruang Rumah, kelembaban yang memenuhi
persyaratan adalah 40 – 60 %. Kelembaban yang terlalu tinggi maupun rendah
dapat menyebabkan suburnya pertumbuhan mikroorganisme. Faktor yang mempengaruhi
kelembaban adalah konstruksi rumah yang tidak baik seperti atap yang bocor, lantai, dan dinding rumah yang tidak
kedap air, serta kurangnya pencahayaan baik buatan maupun alami. Ventilasi juga
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kelembaban. Ventilasi
yang kurang dapat dapat menyebabkan kelembaban bertambah Bila kelembaban udara
kurang dari 40% maka dapat dilakukan upaya penyehatan seperti membuka jendela
rumah, menambah jumlah dan luas jendela rumah, dan memodifikasi fisik bangunan.
Dan jika kelembaban udara lebih dari 70% maka dapat dilakukan upaya penyehatan
seperti memasang genteng kaca untuk menurunkan kelembaban.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi
kelembaban yang tidak baik, perlu dilakukan upaya penyehatan kelembaban ruangan
dengan tetap menjaga agar cahaya matahari dapat masuk kedalam ruangan. Dapat
diadakan penyuluhan dan pemberian informasi kepada responden tentang rumah
sehat dalam pencegahan penyakit Tuberculosis Paru. serta dapat dilakukannya
penyuluhan oleh pihak Puskesmas Rawat Inap Sukabumi yang dibantu dengan kader
lapangan sehingga dapat efisien waktu.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Amalia
Kartika pada tahu 2015 di wilayah kerja Ngemplak, Boyolali. Menunjukkan bahwa
lebih banyak jumlah kelembaban rumah yang tidak memenuhi syarat yaitu 52,6%
dibandingkan jumlah kelembaban yang memenuhi syarat yaitu 47,4%.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
Kesimpulan
1.
Bagi Masyarakat
a.
Lantai rumah yang belum memenuhi syarat segera diperbaiki
dengan cara di plester menggunakan semen.
b.
Untuk dinding rumah yang tidak kedap air sebaiknya diganti
dengan dinding yang kedap air, supaya tidak terjadi perembesan air ke dinding
yang menyebabkan kelembaban dan berjamur.
c.
Langit-langit atau plafon yang belum memenuhi syarat
sebaiknya diperbaiki dengan pemberian penyekat atap atau langit-langit agar
debu dari atap tidak masuk dan mengkontaminasi udara di dalam rumah.
d.
untuk kepadatan penghuni yang belum memenuhi syarat ruang
kamar ditata/disusun dengan rapih, dan jika ruang kamar <8m2
sebaiknya barang-barang didalam kamar diletakan ditempat lain, agar ruang kamar
tidak pengap.
e.
Ventilasi rumah yang ditutup menggunakan triplek, plastik,
atau kertas diganti dengan kawat kasa agar tidak menghalangi masuknya udara
sehingga keadaan udara didalam ruangan tetap terjaga dan tidak lembab.
f.
Pencahayaan yang belum memenuhi syarat di beberapa ruangan
yang ada di rumah responden dengan membuka jendela setiap pagi, penambahan
jendela pada ruang, tidak menanam pohon di dekat jendela, bila diperlukan
mengganti genting dengan genting jenis kaca agar cahaya dapat masuk kedalam rumah.
g.
Kelembaban dalam ruangan bagi yang belum memenuhi syarat
dapat diperbaiki dengan upaya menambah genting kaca, membuka jendela, dan
memperbanyak ventilasi ruangan 10% dari luas ruangan.
B.
Saran
Bagi Puskesmas Rawat Inap Sukabumi lebih meningkatkan
intervensi kinerja rumah
sehat sehingga menyadarkan masyarakat betapa pentingnya kondisi fisik rumah dan
berpengaruhnya kondisi fisik rumah terhadap kesehatan penghuninya serta merubah
prilaku dan kebiasaan masyarakat yang kurang mendukung dapat dilakukan sejalan
dengan upaya peningkatan pengetahuan masyarakat tentang persyaratan rumah sehat
melalui pemeriksaan rumah warga dan penyuluhan kepada masyarakat tentang
penyakit Tb Paru.
DAFTAR
PUSTAKA
Anisa, dkk. 2013. Analisis Kaitan Riwayat Merokok Terhadap
Pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Srondol. Jurnal Ilmiah Mahasiswa,
Vol. 3 No.2. Semarang. September.
Apriyanti, Pina, 2020. Kti Gambaran Kondisi Fisik Rumah Penderita Tb
Paru Di Wilayah Kerja Puskesmas Sukabumi
Bandar Lampung Tahun 2020. Jurusan Kesehatan Lingkungan. Poltekkes
Tanjungkarang
Bachtiar, 2017,
http://id.scribd.com/document/344127559/persyaratan-rumah-
seha, diakses pada 17 oktober 2020
Dewi, Kartika Sari. 2015 Buku
Ajar Kesehatan Mental. Semarang: UPT UNDIP Press Semarang.
Departemen Kesehatan RI, 1989, Pengawasan Penyehatan Lingkungan Pemukiman, Jakarta.
Dinas Kesehatan Provinsi Lampung tahun 2016.
Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung , 2014.
Fahreza, E. U. 2012. “ Hubungan
Antara Kualitas Fisik Rumah dan Kejadian Tuberkulosis Paru Dengan Basil Tahan
Asam Positif di Balai Kesehatan Paru Masyarakat Semarang. Jurnal Kedokteran
Muhammadiyah. 1 (1) : 9-13” di dalam Anisa, dkk. 2013. Analisis Kaitan Riwayat Merokok Terhadap Pasien Tuberkulosis Paru di
Puskesmas Srondol. Jurnal Ilmiah Mahasiswa, Vol. 3 No.2. Semarang.
September. 50 halaman.
Isnaini, C.L. dan Endang A. 2009. Kandungan nitrogen
jaringan, aktivitas nitrat reduktase dan biomassa tanaman kimpul pada variasi
naungan dan pupuk nitrogen. Nusantara biosence 1: 65-71 hal.
Kasjono, HS. (2011). Penyehatan Pemukiman. Yogyakarta:
Gosyen Publishing.
Kemenkes RI. 2017 di dalam artikel Tuberkulosis.
Kesehatan Vol. 9 No. 4. Desember. 1346 halaman.
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 829
tentang Persyaratan Kesehatan Rumah Tangga Tinggal/SK/VII1999.
Machfoedz,
Ircham. 2008. Metode Penelitian Bidang Kesehatan, Keperawatan, Kebidanan,
Kedokteran. Yogyakarta : Fitramaya.
Muslimah,
Diah Dwi Lestari, 2018. Keadaan
Lingkungan Fisik Dan Dampaknya Pada Keberadaan Mycobacterium Tuberculosis:Studi
Di Wilayah Kerja Puskesmas Peraj Timur Surabaya. Universitas Airlangga:
Jurnal Kesehatan Lingkungan.
Murtiningsih,
Dwi Ary. 2014. Pengaruh Luas Ventilasi
Terhadap Kejadian Tb Paru Di Wilayah Kerja Puskesmas Sukoharjo Kabupaten
Sukoharjo, dalam Skripsi Jurusan Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu
Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Surakarta. Tersedia (http://eprints.ums.ac.id/30993/10/11.
Naskah publikasi.pdf (14 Juni 2019)
Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta.
Notoatmodjo, 2007. Promosi Kesehatan & IImu Perilaku. Jakarta.
Noor, Nur Nasry Noor, (2013), Pengantar Epidemiologi
Penyakit Menular, Jakarta: Rineka Cipta.
Peraturan Menteri Republik Indonesia
No.1077/MENKES/Per/V/2011 tentang Pedoman
Penyehatan Udara Dalam Rumah.
Purmana, S. G, 2016, Buku Ajar: Penyakit Berbasis
Lingkungan.
Sasmito, Eko, 2013. Gambaran
Kondisi Fisik Rumah Penderita Penyakit Tuberculosis Paru Di Wilayah Kerja
Puskesmas Tasikmadu Karanganyar, dalam Skripsi Jurusan Kesehatan Masyarakat
Fakultas Ilmu Kesehatan, Muhammadiyah Surakarta. Tersedia (http://eprints.ums.ac.id/25647/12 naskah Publikasi.pdf (14 Juni 2019)
Syamsudin; Keban, Sesilia Andriani, (2013), Buku Ajar Farmakoterapi
Gangguan Saluran Pernapasan, Jakarta : Salemba Medika.
.
Surowiyono, Tutu TW, 2016, Merawat
dan Memperbaiki rumah. Jakarta: Restu Agung.
Soekidjo Notoatmodjo, 2010, Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka
Cipta, Jakarta.
Tosepu, Ramadhan, 2016, Epidemiologi Lingkungan, Bumi
Medika, 178 halaman, diakses pada 17 oktober 2020
Widoyono
Penyakit Tropis : Epidemiologi, Penularan, Pencegahan, dan Pemberantasannya.
Jakarta: Erlangga; 2011.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar