FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN
KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS RAJABASA INDAH
TAHUN 2022
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Data Kasus DBD..................................................................................... 4
Tabel 4.1 Jumlah Penduduk, Kepadatan Wilayah
Dan Kepadatan Kelurahan..... 48
Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarkan
Jenis Kelamin Di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah Tahun 2022....................................................................................................... 49
Tabel 4.3 Distribusi Responden Berdasarkan
Umur Di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah Tahun 2022 50
Tabel 4.4 Distribusi Responden Berdasarkan
Pendidikan Di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah Tahun 2022............................................................................................................... 51
Tabel 4.5Distribusi Frekuensi
Responden Berdasarkan Kejadian DBD di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah
Tahun 2022............................................................................................ 51
Tabel 4.6Distribusi Frekuensi
Responden Berdasarkan Pengetahuan Masyarakat
di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah Tahun 2022.................................................................. 52
Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Responden
Berdasarkan Kebiasaan Menggantung Pakaian di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa
Indah Tahun 2022................................................ 52
Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Responden
Berdasarkan Kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk dan 3M Plus di Wilayah Kerja
Puskesmas Rajabasa Indah Tahun 2022........................ 53
Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi Responden
Berdasarkan Angka Bebas Jentik di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah Tahun
2022................................................................................. 53
Tabel 4.10 Hubungan Pengetahuan Masyarakat
Dengan Kejadian DBD di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah Tahun 2022............................................................................................ 54
Tabel 4.11 Hubungan Kebiasaan Menggantung
Pakaian Dengan Kejadian DBD di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah Tahun
2022.................................................................. 55
Tabel 4.12 Hubungan Kegiatan Pemberantasan
Sarang Nyamuk dan 3M Plus Dengan Kejadian DBD di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah Tahun 2022 ..................................... 56
Tabel 4.13 Hubungan Angka Bebas Jentik Dengan
Kejadian DBD di Wilayah erja Puskesmas Rajabasa Indah Tahun 2022............................................................................................ 57
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Telur Aedes Aegypti.......................................................................... 19
Gambar 2.2 Larva Aedes Aegypti............................................................................... 20
Gambar 2.3 Pupa Aedes Aegypti.......................................................................... 21
Gambar 2.4 Nyamuk Dewasa Aedes Aegypti....................................................... 22
Gambar 2.5 Segitiga Epidemiologi........................................................................ 25
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) ditemukan hampir
diseluruh belahan dunia terutama di negara-negara tropik dan subtropik.
Kejadian demam berdarah telah meningkat secara drastis di seluruh dunia dalam
beberapa dekade terakhir. Sebagian besar kasus tidak menunjukkan gejala karena
nya jumlah kasus dengue tidak di laporkan dan banyak kasus salah
diklasifikasikan. Satu perkiraan menunjukkan 390 juta infeksi dengue per tahun
(interval kredibel 284-528 juta), dimana 96 juta (67-136 juta) bermanifestasi
secara klinis dengan tingkat keparahan penyakit apapun (WHO,2018).
Sejak
pertamakali ditemukan pada 1968, situasi DBD di Indonesia cenderung fuktuatif.
Berdasarkan Data Nasional Indonesia, kasus DBD pada 3 tahun terakhir mengalami
kenaikan. Pada tahun 2015 sebesar 50,75, tahun 2016 sebesar 78,85 per 100.000
penduduk, dan tahun 2017 menurun sebesar 26,10 per 100.000 penduduk, namun
tahun 2018 menurun signifikan menjadi 24,75 per 100.000 penduduk. (Kemenkes RI,
2019b)
Masalah Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia merupakan salah satu
masalah kesehatan yang cenderung meningkat jumlah penderita serta semakin luas
penyebarannya sejalan dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk.
Indonesia termasuk negara beriklim tropis yang merupakan tempat hidup favorit
bagi nyamuk, sehingga Demam Berdarah Dengue (DBD) biasanya menyerang saat musim penghujan (Ariani,2016).
DBD dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang buruk. Lingkungan yang buruk
tersebut dapat berupa kondisi fisik rumah yang tidak mempunyai syarat seperti
ventilasi, suhu, kelembaban, dan tempat penampungan air. Ketika cuaca berubah
dari musim kemarau ke musim penghujan sebagian besar permukaan dan barang bekas
itu menjadi sarana penampungan air hujan. Bila di antara tempat atau barang
bekas berisi telur hibernasi (perlakuan dengan cara penyimpanan dengan waktu
dan temperature suhu -20C – 420C dalam keadaan kering)
maka dalam waktu singkat akan menetas menjadi larva Aedes aegypti yang dalam
waktu (9-12 hari) menjadi nyamuk dewasa.
Tahun 2017 kasus DBD di Indonesia sebanyak 68.407 kasus, dengan jumlah
kematian yaitu 493 orang. Angka kesakitan (incidence rate) DBD yaitu 26,10 per
100.000 penduduk, sedangkan case fatality rate (angka kematian) yaitu 0,72%
(Kemenkes RI, 2017).
Kota Bandar Lampung memiliki luas wilayah 197,22 km2 atau 19,722 hektar
dan memiliki 20 kecamatan serta 126 kelurahan. Jumlah penduduk Kota Bandar
Lampung pada tahun 2014 berjumlah 960,695 jiwa yang terdiri dari 484.215
penduduk laki-laki 476,480 perempuan (Dinkes Kota Bandar Lampung,2014).
Menurut data dari Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, pada tahun 2019
terdapat 5.592 kasus dengan kematian sebanyak 17 oarang, pada tahun 2020
terdapat 1.406 kasus dengan kematian sebanyak 10 orang (Lampost.co,2020).
Situasi angka kesakitan DBD di Provinsi Lampung selama 5 tahun terakhir
cenderung mengalami penurunan walaupun relative masih tinggi di ketahui bahwa
untuk tahun 2016 IR=73,39 per 100.000 penduduk, tahun 2017 IR=35,08 per 100.000
penduduk, tahun 2018 IR= 34,31 per 100.000, dan tahun 2019 IR= 64,4 per 100.000
penduduk, IR tertinggi ada di Pringsewu 185,6, Bandar Lampung 91,25, Metro
50,31, Pesawaran 44,28, Lampung Selatan 39,49 dan Lampung Timur 25,5. (Seksi P2
Dinkes Provinsi Lampung 2019).
Dinas Kesehatan Provinsi Lampung mencatat terdpat 1.406 kasus DBD selama
februari 2020 lalu. Jumlah tersebut meningkat dari bulan Januari yang hanya
1.066 kasus. Angka tersebut melebihi angka kesakitan nasional. Angka pesakitan
nasional DBD adalah 49 per 100 ribu penduduk. Sedangkan angka pesakitan di wilayah
lampung mencapai 66 per 100 ribu penduduk. Meskipun begitu, angka kematian
akibat DBD di Lampung masih rendah.
Beberapa faktor lingkungan lain yang ditemukan berhubungan dengan
penyakit demam berdarah adalah adanya tempat perindukan nyamuk, tempat peristirahatan
nyamuk, kepadatan nyamuk, angka bebas jentik, curah hujan. Sedangkan faktor
perilaku meliputi pola tidur, kegiatan pemberantasan sarang nyamuk, menguras,
mengubur dan menutup tempat penampungan air, kebiasaan menggantung pakaian,
menyediakan tutup pada kontainer, frekuensi pengurasan container.
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan masalah umum kesehatan.
Wilayah kerja Puskesmas Rajabasa Indah Kecamatan Rajabasa Bandar Lampung
termasuk ke dalam wilayah endemis DBD. Dengan angka kejadian kasus DBD di
wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah Kecamatan Rajabasa tahun 2019 ada
sebanyak 40 penderita, pada tahun 2020 untuk jumlah kasus DBD ada sebanyak 32
penderita dan pada 2021 ada 55 penderita.
Berdasarkan latar belakang di atas maka
peneliti berminat melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui
fator-faktor apa saja yang berhubungan dengan kejadian DBD diwilayah Puskesmas
Rajabasa Indah Kecamatan Rajabasa Bandar Lampung.
Tabel 1.1
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah ”Faktor-Faktor yang berhubungan Kejadian Demam Berdarah
Dengue (DBD) Di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah Kecamatan Rajabasa
Bandar Lampung 2022”.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) Di
Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah Kecamatan Rajabasa Bandar Lampung tahun
2022.
2. Tujuan Khusus
a.
Mengetahui distribusi frekuensi
pengetahuan masyarakat dengan kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Rajabasa
Indah Kecamatan Rajabasa Bandar Lampung Tahun 2022.
b.
Mengetahui distribusi frekuensi
kebiasaan menggantung pakaian dengan kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas
Rajabasa Indah Kecamatan Rajabasa Bandar Lampung Tahun 2022.
c.
Mengetahui distribusi frekuensi
kegiatan pemberantasan sarang nyamuk dan 3M plus di wilayah kerja Puskesmas
Rajabasa Indah Kecamatan Rajabasa Bandar Lampung Tahun 2022.
d.
Mengetahui distribusi frekuensi
angka bebas jentik dengan kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Rajabasa
Indah Kecamatan Rajabasa Bandar Lampung Tahun 2022.
D. Manfaat Penelitian
1.
Bagi Puskesmas Rajabasa Indah, untuk meningkatkan penyuluhan
Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) dan juga sebagai bahan referensi dalam
penyusunan program pencegahan, penanggulangan dan pemberantasan DBD.
2.
Bagi Institusi Penelitian ini dapat menjadi sumber informasi
yang dapat digunakan untuk data dalam penelitian serupa di masa mendatang,
serta menjadi informasi berbasis bukti yang menjadi dasar advokasi dalam upaya
peningkatan program pengendalian DBD.
3.
Bagi peneliti Penelitian ini dapat menjadi bahan referensi,
informasi dan pertimbangan untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai
hubungan sanitasi lingkungan dengan kejadian penyakit DBD.
E. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini di laksanakan di Puskesmas Rajabasa Indah Kecamatan
Rajabasa Bandar Lampung Tahun 2022. Untuk mengetahui Faktor-Faktor Yang Berhubungan
Dengan Kejadian DBD Di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah Kecamatan
Rajabasa Bandar Lampung tahun 2022.
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Demam Berdarah
Dengue (DBD)
1.
Pengertian Demam Berdarah Dengue (DBD)
Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit infeksi oeleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan
nyamuk Aedes Aegypti (Priesley,dkk.
2018).
Demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit
menular yang disebabkan oleh virus dengue
yang ditularkan dari oleh nyamuk Aedes
aegypti maupun Aedes albopictus.
Nyamuk Aedes aegypti merupakan nyamuk
yang paling berperan dalam penularan penyakit DBD yaitu karena hidupnya di dalam
dan sekitar rumah, sedangkan Aedes albopictus hidupnya di kebun
sehingga lebih jarang kontak dengan
manusia. Kedua jenis nyamuk tersebut
terdapat hampir di seluruh pelosok
Indonesia, kecuali di tempat-tempat dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter di
atas permukaan laut, karena pada ketinggian tersebut suhu udara terlalu rendah
sehingga tidak memungkinkan bagi nyamuk untuk hidup dan berkembang biak
(Masriadi, 2017).
Demam berdarah dengue (DBD)
adalah jenis penyakit demam akut yang disebabkan oleh salah satu dari empat
serotipe virus dengan genus flavivirus yang dikenal dengan nama virus dengue yang ditandai dengan demam
berdarah 2 sampai 7 hari tanpa sebab yang jelas lemas, lesu, gelisah, nyeri ulu
hati disertai tanda perdarahan dikulit berupa bintik perdarahan. DBD merupakan
sebuah penyakit infeksi yang disebabkan oleh infeksi virus dengue yang dimiliki
4 serotipe yakni Den-1,Den-2,Den-3 dan Den4.
2.
Etiologi Demam Berdarah Dengue
(DBD)
Penyakit Demam Berdarah Dengue
(DBD) disebabkan virus dengue yang
termasuk kelompok B Arthopod Borne
Virus (Arboviroses) yang sekarang
dikenal sebagai genus Flavivirus,
famili Flaviviricae, dan mempunyai 4
jenis serotipe yaitu : DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4. Serotipe DEN-3 merupakan
serotipe yang dominan dan diasumsikan banyak yang menunjukkan manifestasi
klinik yang berat.
Virus penyebab DHF atau
DSS adalah flavivirus dan terdiri
dari 4 serotipe yaitu serotipe 1, 2, 3, dan 4 (dengue -1,-2,-3,-4) virus ini
ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti betina yang terinfeksi. Virus ini dapat tetap hidup
(survive) di alam ini melalui 2 mekanisme. Mekanisme pertama, transmisi
vertikal dalam tubuh nyamuk, dimana virus yang ditularkan oleh nyamuk betina
pada telurnya yang nantinya akan menjadi nyamuk. Virus juga dapat ditularkan
dari nyamuk jantan pada nyamuk betina melalui kontak seksual. Mekanisme kedua,
transmisi virus dari nyamuk ke dalam tubuh manusia dan sebaliknya. Nyamuk
mendapatkan virus ini pada saat melakukan gigitan pada manusia yang pada saat
itu sedang mengandung virus dengue
pada darahnya (viremia). Virus yang sampai ke lambung nyamuk akan mengalami
replikasi (memecah diri/berkembang biak), kemudian akan migrasi yang akhirnya
akan sampai di kelejar ludah. Virus yang berada di lokasi ini setiap saat siap
untuk dimasukkan ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk. Keempat
serotipe virus dengue dapat ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Serotipe
DEN 2 dan DEN 3 merupakan serotope yang dominan dan diasumsikan banyak yang
menunjukkan manifestasi klinis yang berat. Serotipe DEN-3 merupakan serotipe
virus yang dominan menyebabkan kasus yang berat (Masriadi, 2017).
3.
Gejala Demam Berdarah Dengue
(DBD)
Infeksi virus dengue dapat
bermanifestasi pada beberapa luaran, meliputi demam biasa, demam berdarah
(klasik), demam berdarah dengue (hemoragik),
dan sindrom syok dengue.
a. Demam berdarah (klasik)
Demam berdarah menunjukkan gejala yang umumnya berbeda-beda tergantung
usia pasien. Gejala yang umum terjadi pada bayi dan anak-anak adalah demam dan
munculnya ruam. Sedangkan pada pasien usia remaja dan dewasa, gejala yang
tampak adalah demam tinggi, sakit kepala parah, nyeri di belakang mata, nyeri
pada sendi dan tulang, mual dan muntah, serta munculnya ruam pada kulit.
Penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia) dan penurunan
keping darah atau trombosit (trombositopenia) juga seringkali dapat diobservasi
pada pasien demam berdarah. Pada beberapa epidemi, pasien juga menunjukkan
pendarahan yang meliputi mimisan, gusi berdarah, pendarahan saluran cerna,
kencing berdarah (haematuria), dan pendarahan berat saat menstruasi (menorhagia).
b. Demam berdarah
dengue (hemoragik)
Pasien yang menderita DBD biasanya menunjukkan gejala seperti penderita
demam berdarah klasik ditambah dengan empat gejala utama, yaitu demam tinggi,
fenomena hemoragik atau pendarahan hebat, yang seringkali diikuti oleh
pembesaran hati dan kegagalan sistem sirkulasi darah. Adanya kerusakan pembuluh
darah, pembuluh limfa, pendarahan di bawah kulit yang membuat munculnya memar
kebiruan, trombositopenia dan peningkatan jumlah sel darah merah juga sering
ditemukan pada pasien DBD.
Salah satu karakteristik untuk membedakan tingkat keparahan DBD sekaligus
membedakannya dari demam berdarah klasik adalah adanya kebocoran plasma darah.
Fase kritis DBD adalah seteah 2-7 hari demam tinggi, pasien mengalami penurunan
suhu tubuh yang drastis. Pasien akan terus berkeringat, sulit tidur, dan
mengalami penurunan tekanan darah. Bila terapi dengan elektrolit dilakukan
dengan cepat dan tepat, pasien dapat sembuh dengan cepat setelah mengalami masa
kritis. Namun bila tidak, DBD dapat mengakibatkan kematian.
c. Sindrom syok dengue
Sindrom syok adalah tingkat infeksi virus dengue yang terparah, di mana
pasien akan mengalami sebagian besar atau seluruh gejala yang terjadi pada
penderita demam berdarah klasik dan demam berdarah dengue disertai dengan
kebocoran cairan di luar pembuluh darah, pendarahan parah, dan syok
(mengakibatkan tekanan darah sangat rendah), biasanya setelah 2-7 hari demam.
Tubuh yang dingin, sulit tidur, dan sakit di bagian perut adalah tanda-tanda
awal yang umum sebelum terjadinya syok.
Sindrom syok terjadi biasanya pada anak-anak (kadangkala terjadi pada
orang dewasa) yang mengalami infeksi dengue untuk kedua kalinya. Hal ini
umumnya sangat fatal dan dapat berakibat pada kematian, terutama pada
anak-anak, bila tidak ditangani dengan tepat dan cepat. Durasi syok itu sendiri
sangat cepat. Pasien dapat meninggal pada kurun waktu 12-24 jam setelah syok
terjadi atau dapat sembuh dengan cepat bila usaha terapi untuk mengembalikan cairan
tubuh dilakukan dengan tepat. Dalam waktu 2-3 hari, pasien yang telah berhasil
melewati masa syok akan sembuh, ditandai dengan tingkat pengeluaran urin yang
sesuai dan kembalinya nafsu makan.
Masa tunas / inkubasi selama 3 - 15 hari sejak seseorang terserang virus
dengue, dan Kira-kira 1 minggu setelah menghisap darah penderita, nyamuk
tersebut siap untuk menularkan kepada orang lain (masa inkubasi eksentrik).
Virus akan tetap berada di dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya.
DBD dibagi ke dalam bebrapa derajat sesuai dengan reaksi tubuh si
penderita. Derajat penyakit demam berdarah dengue, dibagi menjadi 4 derajat yaitu
:
1) Derajat I : Demam disertai gejala tidak khas dan satu – satunya
manifestasi perdarahan yaitu uji tourniquet positif.
2) Derajat II : Seperti derajat I, disertai perdarahan
spontan di kulit atau pendarahan lain.
3) Derajat III : Didapatkan kegagalan sirkulasi yaitu nadi
cepat dan lembut, tekanan nadi menurun (20mmHg atau kurang) atau hipotensi,
sianosis di sekitar mulut, kulit dingin dan lembab.
4) Derajat IV :
Syok berat (proufound shock), nadi
tidak teraba dan tekanan darah tidak teratur.
4.
Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
Pemerintah Indonesia melalui
Dinas Kesehatan telah mensosialisasikan kepada masyarakat tentang upaya
pengendalian vektor DBD yang dapat dilakukan secara mandiri oleh masyarakat di
rumah. Program tersebut dikenal dengan sebutan Pemberantasan Sarang Nyamuk
dengan Menutup, Menguras dan Mendaur ulang Plus (PSN 3M Plus). PSN 3M Plus memberikan
penjelasan tentang perilaku menghilangkan sarang nyamuk vektor DBD dan langkah
untuk mengurangi kontak atau gigitan nyamuk Aedes. PNS 3M Plus merupakan salah
satu contoh perilaku hidup sehat kerena berkaitan dengan upaya pencegahan
penyakit dengan memutus mata rantai penularan DBD (Priesley, dkk,2018).
Kegiatan 3M Plus yang
merupakan dari PSN dipercaya efektif untuk penanggulangan DBD. Pemberantasan
sarang nyamuk dapat dilakukan melalui mangemen lingkungan seperti pengendalian
biologis, pengendalian kimiawi dengan dukungan peran serta masyarakat secara
aktif, pemberantasan sarang nyamuk merupakan tindakan yang paling efektif dalam
pemberantasan DBD (Ernawati, dkk, 2018).
Pencegahan merupakan langkah
awal dalam memberantas penyakit DBD. Terdapat beberapa langkah pemberantasan
DBD yang bisa diterapkan atau disebut dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam
Berdarah Dengue (Ariani, 2016), diantaranya :
a.
Pencegahan Primer
Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya untuk mempertahankan orang
yang sehat agar tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit.
1) Pengendalian
Vektor
Pengendalian nyamuk dilakukan dengan pendekatan pengurangan sumber
(source reduction), pengelolaan lingkungan (environmental management), dan
perlindungan pribadi (personal protection).
2) Pengendalian Secara Fisik
Cara ini dikenal dengan kegiatan ”3M”, yaitu: Menguras (dan menyikat) bak
mandi, bak WC, dan lain-lain, Menutup tempat penampungan air rumah tangga
(tempayan, drum, dan lain-lain), dan Mengubur barang-barang bekas (seperti
kaleng, ban, dan lain-lain). Pengurasan tempat-tempat penampungan air perlu
dilakukan secara teratur sekurang-kurangnya seminggu sekali agar nyamuk tidak
dapat berkembangbiak.
Pada saat ini telah dikenal
pula istilah ”3M” plus,
yaitu kegiatan 3M yang
diperluas. Menguras penampungan air dan membersihkan secara berkala, minimal
seminggu sekali karena proses pematangan telur nyamuk aedes aegypti 3– 4 hari
dan menjadi larva di hari 5 – 7, Menutup tempat penampungan air sehingga nyamuk
tidak bertelur di tempayan, Mengubur barang – barang bekas, Memantau semua
wadah air yang dapat menjadi tempat berkembangbiak nyamuk aedes aegypti, serta
adanya JUMANTIK (juru pemantau jentik) yang melakukan survei di masyarakat
untuk mengetahui tingkat kepadatan vektor nyamuk, perindukan dan habitat larva.
3) Pengendalian
Secara Kimia
Penggunaan insektisida ditujukan untuk mengendalikan populasi vektor
sehingga diharapkan penularan penyakit dapat ditekan seminimal mungkin.
Pengendalian nyamuk vektor penyakit DBD di Indonesia setelah adanya KLB tahun
1976 dengan aplikasi larvasida temefos ( Abate) 1% yang ditaburkan dalam tempat
– tempat penampungan air (TPA). Selanjutnya diaplikasikan imagosida malation,
dengan cara pengasapan (fogging) dengan dosis 500 ml/ha (campuran antara 462ml
malation dan 38ml solar).
4) Pengendalian
Secara Biologi
Pengendalian biologi atau hayati yaitu pengendalian larva nyamuk dengan
cara menggunakan bakteri parasit dan musuh alami. Pengendalian tersebut,
misalnya aplikasi Bacillus thuringiensis, Romanomermis iyengari, Mesocyclops
aspericornis dan ikan pemangsa jentik yaitu Aplocelus pancak, Cupang, Guppy.
Pengendalian cara biologi dapat menurunkan populasi nyamuk yang ada di suatu
wilayah.
5) Pengendalian
Secara Radiasi
Pengendalian cara radiasi memakai bahan radioaktif
dengan dosis tertentu sehingga nyamuk jantan menjadi mandul. Nyamuk jantan yang
telah diradiasi dilepaskan ke alam bebas. Meskipun nanti nyamuk jantan akan
berkopulasi dengan nyamuk betina, tapi nyamuk betina tidak akan dapat
menghasilkan telur yang fertile.
6) Pengendalian
Secara Manajemen Lingkungan
Lingkungan fisik seperti tipe pemukiman, sarana –
prasarana penyediaan air, vegetasi dan musim sangat berpengaruh terhadap
tersedianya habitat perkembangbiakan dan pertumbuhan vektor DBD. Nyamuk Aedes
aegypti sebagai nyamuk pemukiman habitat utama yang berada di daerah pemukiman.
Manajemen lingkungan adalah upaya pengelolaan
lingkungan sehingga tidak kondusif sebagai habitat perkembangbiakan atau
dikenal sebagai source reduction seperti 3M plus (menguras, menutup dan
memanfaatkan barang bekas, dan plus : menyemprot, memelihara ikan predator,
menabur larvasida) dan menghambat pertumbuhan vektor (menjaga kebersihan
lingkungan rumah, mengutangi tempat – tempat yang gelap dan lembab di
lungkungan rumah).
b. Pencegahan Sekunder
Dalam pencegahan sekunder dilakukan upaya diagnosis
dan dapat diartikan sebagai tindakan yang berupaya
untuk menghentikan proses penyakit pada tingkat permulaan, sehingga tidak akan
menjadi lebih parah.
1) Melakukan diagnosis sedini mungkin dan memberikan pengobatan
yang tepat bagi penderita demam berdarah dengue.
2) Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) yang menemukan penderita / tersangka
penderita demam berdarah dengue segera melaporkan ke puskesmas dan dinas
kesehatan dalam waktu 3 jam.
3) Penyelidikan epidemiologi dilakukan petugas puskesmas untuk
pencarian penderita panas tanpa sebab yang jelas sebanyak 3 orang atau lebih,
pemeriksaan jentik, dan juga dimaksudkan untuk mengetahui adanya kemungkinan
terjadinya penularan lebih lanjut, sehingga perlu dilakukan fogging fokus
dengan radius 200 meter dari rumah penderita, disertai penyuluhan.
c. Pencegahan Tersier
Pencegahan ini dimaksudkan untuk mencegah kematian akibat penyakit demam
berdarah dengue dan melakukan rehabilitasi. Upaya pencegahan ini dapat
dilakukan sebagai berikut:
1)
Ruang Gawat Darurat
Membuat ruangan gawat darurat khusus untuk penderita DBD di
setiap unit pelayanan kesehatan terutama di puskesmas agar penderita dapat
penanganan yang lebih baik.
2)
Tansfusi Darah
Penderita yang menunjukkan gejala perdarahan seperti
hematemesis dan malena diindikasikan untuk mendapatkan tranfusi darah
secepatnya.
3)
Mencegah Terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB)
Adapun jenis kegiatan yang
dilakukan disesuaikan dengan stratifikasi daerah rawan seperti, Kegiatan yang
dilakukan adalah fogging Sebelum
Musim Penularan (SMP), abatesasi
selektif, Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB), dan penyuluhan kesehatan kepada
masyarakat.
Environment (Lingkungan)
Lingkungan sangat mempengaruhi tempat perkembangbiakan nyamuk
Aedes aegypti, terutama bila di
lingkungan tersebut banyak terdapat tempat pembuangan yang menjadi medium
breeding place bagi nyamuk Aedes aegypti seperti bak mandi / WC, gentong,
kaleng – kaleng bekas, dan lain – lain. Tempat yang kurang bersih dan airnya
jernih serta terlindung dari sinar matahari langsung merupakan tempat
perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.
Tempat yang disukai sebagai tempat berkembangbiaknya adalah tempat air yang
lokasinya di dalam dan dekat rumah (Sahira, dkk. 2020)
B.
Vektor Penular
1.
Vektor Penular Demam Berdarah Dengue (DBD)
Virus dengue ditularkan dari orang ke orang melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Aedes aegypti merupakan
vektor epidemi yang paling utama, namun spesies lain seperti Aedes albopictus,
Aedes polynesiensis, anggota dari Aedes Scutellaris complexdan Aedes niveus
juga dianggap sebagai vektor sekunder. Kecuali Aedes aegypti, semuanya mempunyai daerah distribusi geografis
sendiri-sendiri yang terbatas. Meskipun mereka merupakan host yang sangat baik
untuk virus dengue, biasanya mereka merupakan vaktor epidemi yang kurang
efisien dibandingkan Aedes aegypti
(Masriadi, 2017).
Aedes
aegypti adalah vektor penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD). Meskipun nyamuk
Aedes albopictus dapat menularkan DBD, namun perannya dalam penyebaran penyakit
sangat kecil. Vektor penyakit DBD hidup pada daerah tropis dan hidup di
genangan air bersih seperti bekas tampungan air hujan pada kontainer-kontainer
bekas, atau pada bak mandi yang jarang di kuras. Hal tersebut dapat menimbulkan
berkembangbiaknya jentik nyamuk Ae. Aegypti pada lingkungan rumah (Pangestika,
2017).
2.
Morfologi Nyamuk
a.
Telur
berwarna hitam dengan ukuran ± 0,80 mm, berbentuk oval yang
mengapung satu persatu pada permukaan air jernih, atau menempel pada dinding
tempat penampung air. Telur dapat bertahan sampai ± enam bulan di tempat
kering.
Gambar
2.1 Telur Aedes aegypti (Fitria, 2012
)
b.
Larva atau Jentik
Larva Aedes aegypti dapat
begerak-gerak lincah aktif serta sangat sensitif terhadap rangsangan getar dan
cahaya, saat terjadi rangsangan, larva akan segera menyelam ke permukaan air
dalam beberapa detik dan memperlihatkan gerakan- gerakan naik kepermukaan air
dan turun kedasar wadah secara berulang. Larva mengambil makanan di dasar
wadah, oleh karena itu, Larva Aedes
aegypti disebut pemakan makanan di dasar (bottom feeder). Makanan larva
berupa alga, protozoa, bakteri, dan spora jamur. Pada saat larva mengambil
oksigen ke udara, larva menempatkan corong udara (siphon) pada permukaan air
seolah badan larva berada pada posisi membentuk sudut dengan permukaan air. Setelah
telur terendam 2-3 hari, selanjutnya menetas menjadi jentik, jentik mengalami 4
tingkatan atau stadium yang disebut instar, yaitu instar I,II,III,IV sebagai
berikut :
1)
Instar I :
Berukuran paling kecil, yaitu 1-2 mm
2)
Instar II : 2,5 – 3,8 mm
3)
Instar III : lebih besar sedikit dari larva instar II
4)
Instar IV : berukuran paling besar 5mm
Jenis
Aedes didalam air dapat dikenali
dengan ciri –ciri berukuran 0,5– 1 cm dan selalu bergerak aktif dalam air. Pada
waktu istirahat posisinya hampir tegak lurus dengan permukaan air untuk
bernafas (mendapat oksigen). Selanjutnya jentik berkembang menjadi kepompong
(Kemenkes RI, 2014 : 29 dalam Rohmaini, 2017 ).
Ciri ciri jentik
Aedes Aegypti :
1) Bentuk siphon besar dan pendek yang terdapat pada
abdomen terakhir
2) Bentuk comb seperti sisir
3) Pada bagian thorak terdapat stroot spine
Gambar 2.2 Larva Aedes
aegypti (Kompasiana, 2015)
c. Pupa
Pupa berbentuk seperti ‘koma’. Bentuknya lebih besar namun lebih ramping
dibanding larva (jentik). Pupa Ae. Aegypti berukuran lebih kecil dibanding
dengan rata-rata pupa nyamuk lain.
Gambar 2.3 Pupa Aedes aegypti (Favacho, 2015)
d. Nyamuk Dewasa
Nyamuk dewasa berukuran
lebih kecil jika dibandingkan dengan rata-rata nyamuk lain dan mempunyai warna
dasar hitam dengan bintik putih pada bagian badan dan kaki. Sebenarnya yang
dimaksud vektor DBD adalah nyamuk Ae. aegypti betina. Perbedaan morfologi
antara nyamuk Ae. aegypti betina dan jantan terletak pada perbedaan morfologi
antenanya, Ae. aegypti jantan memiliki antena berbulu lebat sedangkan yang
betina berbulu agak jarang/ tidak lebat.
Gambar 2.4 Nyamuk Dewasa Aedes aegypti (Marianti, 2017)
3. Bionomik Vektor
a. Kesenangan
tempat perindukan nyamuk
Tempat perindukan nyamuk
biasanya berupa genangan air yang tertampung disuatu tempat atau bejana. Nyamuk
Aedes tidak dapat berkembangbiak
digenangan air yang langsung bersentuhan dengan tanah. Macam-macam tempat
penampungan air :
1)
Tempat penampungan air (TPA), untuk keperluan
sehari-hari seperti drum, bak
mandi/WC, tempayan, ember dan lain-lain.
2)
Tempat penampungan air bukan untuk keperluan sehari-hari seperti:
tempat minuman burung, vas bunga, ban bekas, kaleng bekas, botol bekas
dan lain-lain.
b. Kesenangan
Nyamuk Menggigit
Setelah kawin,nyamuk betina memerlukan darah untuk
bertelur. Nyamuk betina menghisap darah manusia setiap 2-3 hari sekali . Menghisap
darah pada pagi hari sampai sore hari, dan lebih suka pada jam 08.00-12.00 dan
jam 15.00-17.00, untuk mendapatkan darah yang cukup, nyamuk betina sering
menggigit lebih dari satu orang. Jarak terbang nyamuk sekitar 100 meter. Umur
nyamuk betina dapat mencapai 1 bulan. (Ariani, 2016 : 26).
c. Kesenangan
Nyamuk Istirahat
Nyamuk Aedes setelah menghisap darah akan beristirahat untuk proses
pematangan telur, setelah bertelur nyamuk beristirahat untuk kemudian menghisap
darah kembali. Nyamuk lebih menyukai beristirahat ditempat yang gelap, lembab,
tempat tersembunyi didalam rumah atau bangu nan, termasuk kolong tempat tidur,
kloset, kamar mandi dan dapur. Selain itu juga bersembunyi pada pada benda
benda yang digantung seperti baju, tirai dan dinding. Walaupun jarang, biasanya
ditemukan diluar rumah, ditanaman atau tempat terlindung lainya. Sedangkan
nyamuk Aedes albopictus beristirahat diluar rumah, seperti di tanaman,
rerumputan, tanaman kering dll (Kemenkes RI , 2014 :34 dalam Rohmaini, 2017).
C. Triad Epidemiologi Yang Berhubungan Dengan Kejadian
DBD
Kasus DBD meningkat pada 5
dekade terakhir. Terdapat 50-100 juta kasus infeksi baru yang diperiksa terjadi
lebih dari 100 negara endemik DBD meningkat dan menyebabkan 20.000 kematian.
Pada Asia Tenggara masih menjadi daerah endemic dengan laporan kasus dengue
sejak tahun 2000-2010 angka kematian mencapai 355.525 kasus. Epidemiologi
menekankan upaya bagaimana distribusi penyakit dan bagaimana berbagai faktor
menjadi faktor penyebab penyakit tersebut (Masriadi,2017).
Suatu penyakit timbul karena
terjadi ketidakseimbangan antara agent, pejamu dan lingkungan. Maka dapat
dikatakan bahwa individu yang sehat adalah keadaan dimana ketiga faktor ini
dalam keadaan seimbang. Teori segitiga epidemiologi menjelaskan bahwa perubahan
dari sektor lingkungan akan mempengaruhi host, sehingga akan timbul penyakit
secara individu maupun keseluruhan populasi yang mengalami perubahan tersebut.
Pada prinsipnya kejadian
penyakit yang digambarkan sebagai segitiga epidemiologi menggambarkan hubungan
tiga komponen penyebab penyakit, yaitu pejamu, agent, dan lingkungan. Demikian
juga dengan kejadian penyakit DBD yang berhubungan dengan lingkungan. Pada
penyakit DBD, manusia merupakan pejamu, virus dengue merupakan agent DBD.
Host Agent Environment
Gambar. 2.5 Segitiga Epidemiologi
Mekanisme
penularan seseorang yang di dalam darahnya mengandung virus dengue merupakan sumber penularan DBD.
Virus dengue berada dalam darah selama 4 – 7 hari mulai dari 1 – 2 hari demam.
Bila penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) digigit nyamuk penular, maka virus
dalam darah akan ikut terhisap masuk ke dalam lambung nyamuk, selanjutnya virus
akan memperbanyak diri dan tersebar di berbagai jaringan tubuh nyamuk termasuk
di dalam kelenjar liurnya.
Kira – kira satu minggu setelah menghisap
darah penderita, nyamuk tersebut siap untuk menularkan kepada orang lain (masa
inkubasi entrinsik). Virus ini akan tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang
hidupnya. Penularan ini terjadi karena setiap kali nyamuk menusuk (menggigit),
sebelum menghisap darah akan mengeluarkan air liur melalui saluran alat
tusuknya (proboscis), agar darah yang dihisap tidak membeku. Bersama air liur
inilah virus pindahkan dari nyamuk ke orang lain.
Perubahan
pada satu komponen akan mengubah ketiga komponen lainnya, dengan akibat
menaikkan atau menurunkan kejadian penyakit. Komponen untuk terjadinya penyakit
DBD. Epidemiologi DBD dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.
Agent Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
Agent adalah penyebab
penyakit, bisa bakteri, virus, parasit, jamur, atau kapang yang merupakan agen
yang ditemukan sebagai penyebab penyakit infeksius. Untuk penyebab terjadinya
DBD yaitu virus dengue. Virus ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk
Aedes aegypti betina yang terinfeksi. Virus yang banyaj berkembang di
masyarakat adalah virus dengue tipe satu dan tipe tiga. Virus ini memiliki masa
inkubasi yang tidak terlalu lama yaitu antara 3-7 hari, virus akan terdapat di
dalam tubuh manusia. Dalam masa tersebut penderita merupakan sumber penular
penyakit DBD
2.
Host
Host (Pejamu) yang dimaksud
adalah manusia yang kemungkinan terpapar terhadap penyakit DBD dan pejamu
pertama yang dokenal virus. Virus bersikulasi dalam darah manusia terinfeksi
pada kurang lebih saat manusia mengalami demam. Hanya nyamuk Aedes aegypti
betina yang dapat menularkan virus dengue dan menyebabkan adanya gejala demam
berdarah. Faktor yang terkait penularan DBD dari vector nyamuk pada manusia
diantaranya faktor perilaku. Perilaku sehat salah satunya yaitu tindakan
proaktif untuk memelihara dan mencegah resiko terjadinya penyakit, melindungi
diri dari ancaman penyakit (Luluk, 2016).
Seseorang yang di dalam
darahnya memiliki virus dengue (infektif) merupakan sumber penular gejala demam
berdarah. Virus dengue berada dalam darah selama 4 – 7 hari, mulai 1 – 2 hari
sebelum demam (masa inkubasi). Bila penderita DBD digigit nyamuk penular, maka
virus dalam darah akan terhisap masuk ke dalam lambung nyamuk. Selanjutnya
virus akan berkembangbiak dan menyebar ke seluruh bagian tubuh nyamuk, dan juga
dalam kelenjar saliva. Satu minggu setelah menghisap darah penderita DBD,
nyamuk tersebut siap untuk menularkan kepada orang lain. Virus ini akan tetap
berada dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya. Oleh karena itu nyamuk Aedes
aegypti yang telah menghisap virus dengue menjadi penular (infektif) sepanjang
hidup. Hanya nyamuk Aedes aegypti betina yang dapat menularkan virus dengue dan
menyebabkan adanya gejala demam berdarah.
a. Umur
Umur adalah salah satu faktor yang mempengaruhi
kepekaan terhadap infeksi virus dengue. Semua golongan umur dapat terserang
virus dengue, Sebagian besar kasus DBD menyerang anak – anak di bawah 15 tahun.
b. Jenis kelamin
Sejauh ini tidak ditemukan
perbedaan kerentanan terhadap serangan DBD dikaitkan dengan perbedaan jenis
kelamin (gender), meskipun perbedaan angka tersebut tidak signifikan.
c. Nutrisi/imunitas
Teori nutrisi mempengaruhi
derajat berat ringan penyakit dan ada hubungannya dengan teori imunologi, bahwa
pada gizi yang baik mempengaruhi peningkatan antibodi dan karena ada reaksi
antigen dan antibodi yang cukup
baik, maka terjadi
infeksi virus dengue
yang berat.
d. Populasi
Kepadatan penduduk yang
tinggi akan mempermudah terjadinya infeksi virus dengue, karena daerah yang
berpenduduk padat akan meningkatkan jumlah insiden kasus DBD tersebut.
e. Mobilitas penduduk
Kepadatan penduduk dapat
mempengaruhi jumlah kejadian DBD, jumlah individu yang besar di suatu wilayah
tertentu akan memudahkan penyebaran penyakit DBD, karena akan mempermudah dan
mempercepat transmisi virus dengue dari vektor. Dan mobilitas penduduk
memudahkan penularan dari satu tempat ke tempat lainnya dan biasanya penyakit
menjalar dimulai dari suatu pusat sumber penularan kemudian mengikuti lalu
lintas penduduk. Makin ramai lalu lintas itu, makin besar kemungkinan
penyebaran.
f. Pengetahuan Masyarakat
Pengetahuan
merupakan hasil pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek
melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Proses
pengindraan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh
intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan
seseorang diperoleh melalui indra pendengaran (telinga), dan indra penglihatan
(mata). Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat
yang berbeda-beda. Secara garis besarnya dibagi dalam enam tingkat pengetahuan,
yaitu (Notoatmodjo, 2013).
1)
Tahu (know)
Tahu diartikan hanya
sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada sebelumnya setelah mengamati
sesuatu. Misalnya: tahu bahwa penyakit demam berdarah ditularkan oleh gigitan
nyamuk Ae. aegypti, dan sebagainya. Mengukur pengetahuan dapat menggunakan
pertanyaan- pertanyaan, misalnya: apa tanda-tanda kekurangan gizi, apa penyebab
penyakit TBC, bagaimana cara melakukan PSN (pemberantasan sarang nyamuk), dan
sebagainya.
2)
Memahami (comprehension)
Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek
tersebut, tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut dapat
menginterpretasikan secara benar tentang objek yang diketahui tersebut.
Misalnya orang yang memahami secara pemberantasan penyakit, demam berdarah,
bukan hanya sekedar menyebutkan 3M Plus (mengubur, menutup dan menguras) tetapi
harus dapat menjelaskan mengapa harus menutup, menguras, dan sebagainya
tempat-tempat penampungan air tersebut.
3)
Aplikasi (application)
Kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada
situasi atau kondisi yang sebenarnya. Aplikasi disini dapat diartikan
sebagai pengguna hukum-hukum, rumus, metode, prinsip-prinsip dan sebagainya.
4)
Analisis (analysis)
Kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek dalam suatu
komponen-komponen, tetapi masih dalam struktur organisasi dan masih ada
kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis dapat dilihat dari penggunaan kata
kerja seperti kata kerja mengelompokkan, menggambarkan dan memisahkan.
5)
Sintesis (synthesis)
Kemampuan
untuk menghubungkan bagian-bagian dalam bentuk kemampuan untuk melakukan
penelitian terhadap suatu materi atau keseluruhan yang baru, dengan kata lain
sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi
yang ada.
6)
Evaluasi (evaluation)
objek
tersebut berdasarkan suatu cerita yang sudah ditentukan sendiri atau
menggunakan kriteria yang sudah ada, Bloom (dalam Notoadmodjo, 2012)
g. Kebiasaan Menggantung
Pakaian
Faktor yang memudahkan
seseorang menderita DBD dapat dilihat dari kondisi berbagai tempat berkembang
biaknya nyamuk seperti tempat penampungan air, karena kondisi ini memberikan
kesempatan pada nyamuk untuk hidup dan berkembang biak. Menurut Suroso dan Umar,
nyamuk lebih menyukai benda-benda yang tergantung di dalam rumah seperti
gorden, kelambu dan baju/pakaian. Maka dari itu pakaian yang tergantung di
balik pintu sebaiknya dilipat dan disimpan dalam almari, karena nyamuk Aedes aegypti
senang hinggap dan beristirahat di tempat-tempat gelap dan kain yang
tergantung untuk berkembangbiak, sehingga nyamuk berpotensi untuk bisa mengigit
manusia.
Kebiasaan menggantung
pakaian di dalam rumah merupakan indikasi menjadi kesenangan beristirahat
nyamuk Aedes aegypti. Kegiatan PSN dan 3M ditambahkan dengan cara menghindari
kebiasaan menggantung pakaian di dalam kamar merupakan kegiatan yang mesti
dilakukan untuk mengendalikan populasi nyamuk Aedes aegypti, sehingga penularan
penyakit DBD dapat dicegah.
h. Kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk dan 3M
plus
Penyakit DBD belum dapat
dicegah dengan imunisasi. Satu satunya cara mencegah demam berdarah dengue
hanya dengan membasmi nyamuk kebun, nyamuk pembawa virus demam berdarah.
Pengendalian vektor DBD yang palinefisien dan efektif adalah dengan memutus
rantai penularan melalui pemberantasan jentik.
Pelaksanaannya di masyarakat
dilakukan melalui upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN
– DBD) dalam bentuk kegiatan 3M (menguras, menutup, mengubur) yang dimaksud
yaitu :
1)
Menguras dan menyikat tempat – tempat penampungan air,
seperti bak mandi atau WC, drum, dan lain – lain seminggu sekali.
2)
Menutup rapat – rapat tempat penampungan air, seperti gentong
air atau tempayan, bak kamar mandi.
3)
Mengubur barang – barang bekas yang tidak terpakai atau dapat
mendaur ulang barang – barang bekas yang dapat menampung air hujan.
3.
Environment (lingkungan)
Faktor lingkungan dan
perilaku merupakan faktor ekstrinsik dari Demam Berdarah Dengue (DBD). Faktor
ekstrinsik merupakan faktor yang datang dari luar tubuh manusia. Faktor ini
tidak mudah dikontrol karena berhubungan dengan pengetahuan, lingkungan dan perilaku
manusia baik di tempat tinggal, lingkungan sekolah atau tempat bekerja.
Lingkungan sangat
mempengaruhi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes
aegypti, terutama bila di lingkungan tersebut banyak terdapat tempat
pembuangan yang menjadi medium breeding place bagi nyamuk Aedes aegypti seperti
bak mandi / WC, gentong, kaleng – kaleng bekas, dan lain – lain. Tempat yang
kurang bersih dan airnya jernih serta terlindung dari sinar matahari langsung
merupakan tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes
aegypti. Tempat yang disukai sebagai tempat berkembangbiaknya adalah tempat
air yang lokasinya di dalam dan dekat rumah (Sahira, dkk. 2020)
a.
Angka Bebas Jentik
Pemeriksaan Jentik Berkala
(PJB) adalah pemeriksaan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti
yang dilakukan secara teratur oleh petugas kesehatan atau kader atau petugas
pemantau jentik (jumantik) (Depkes RI, 2010: 2). PJB adalah kegiatan pemantauan
di pemukiman atau tempat - tempat umum/industri (TTU/I) di desa/kelurahan
endemis dan sporadis pada tempat- tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes di 100
rumah/bangunan yang dipilih secara acak dilaksanakan 4 kali setahun (3 bulan
sekali).
Penghitungan kepadatan
jentik nyamuk dilakukan dengan menghitung beberapa indikator kepadatan jentik
yaitu Angka Bebas Jentik (ABJ) dengan menggunakan rumus presentase dari
perbandingan rumah yang pada tempat penampungan airnya tidak ditemukan jentik
terhadap seluruh rumah responden yang diperiksa, lalu menghitung indikator
House Index (HI) yaitu presentase dari perbandingan rumah yang pada tempat
penampungan air ditemukan keberadaan jentik terhadap seluruh rumah responden
yang diperiksa, menghitung Container Index (CI) yaitu presentase dari
perbandingan kontainer atau tempat penampungan air yang terdapat jentik
terhadap seluruh tempat penampungan air yang diperiksa di rumah responden.
Penghitungan kepadatan jentik nyamuk dilakukan dengan menghitung beberapa
indikator kepadatan jentik yaitu Angka Bebas Jentik (ABJ) dengan menggunakan
rumus presentase dari perbandingan rumah yang pada tempat penampungan airnya
tidak ditemukan jentik terhadap seluruh rumah responden yang diperiksa, lalu
menghitung indikator House Index (HI) yaitu presentase dari perbandingan rumah
yang pada tempat penampungan air ditemukan keberadaan jentik terhadap seluruh
rumah responden yang diperiksa, menghitung Container Index (CI) yaitu
presentase dari perbandingan kontainer atau tempat penampungan air yang
terdapat jentik terhadap seluruh tempat penampungan air yang diperiksa di rumah
responden
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemeriksaan keberadaan
larva:
1)
Apabila tidak ditemukan jentik pada penglihatan pertama pada
TPA berukuran besarr seperti bak mandi, maka perlu ditunggu 30 detik hingga 1
menit.
2)
Jika yang diperiksa adalah TPA berukuran kecil seperti vas
bunga, maka sebelum memeriksa larva, air yang ada di dalamnya terlebih dahulu
dipindahkan ke tempat lain.
3)
Jika larva diperiksa di TPA yang gelap atau berisi air yang
keruh, pemeriksa boleh menggunakan lampu senter sebagai penerang.
Ukuran yang dipakai untuk mengetahui kepadatan jentik Aedes aegypti
a)
House Index (HI) Lebih menggambarkan luas penyebaran nyamuk
di suatu daerah.
b)
Container Index (CI) Menggambarkan kepadatan nyamuk.
c)
Angka Bebas Jentik (ABJ) Lebih menggambarkan luas penyebaran
nyamuk di suatu daerah.
d)
Breteau Index (BI) Menunjukkan
kepadatan dan penyebaran larva Aedes aegypti.
Program ini bertujuan untuk
melakukan pemeriksaan jentik nyamuk penular DBD dan memotivasi keluarga atau
masyarakat dalam melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) DBD. PSN DBD
adalah kegiatan memberantas telur, jentik dan kepompong nyamuk penular DBD ditempat
perkembangbiakannya. Program PJB dilakukan oleh kader, PKK, jumantik atau
tenaga pemeriksa jentik lainnya.Kegiatan pemeriksaan jentik nyamuk termasuk
memotivasi masyarakat dalam melaksanakan PSN DBD. Dengan kunjungan yang
berulangulang disertai dengan penyuluhan masyarakat tentang penyakit DBD
diharapkan masyarakat dapat melaksanakan PSN DBD secara teratur dan
terus-menerus. Keberhasilan kegiatan PSN
dapat diukur pada keberadaan vektor yaitu dengan Angka Bebas Jentik (ABJ).
Apabila ABJ ≥95% diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi.
D.
Kerangka Teori
Vektor aegypti Nyamuk Aedes Lingkungan 1. Angka bebas jentik Agent Virus Dengue
1. Umur 2. Jenis
Kelamin 3. Nutrisi 4.
Populasi 5.
Mobilitas Penduduk 6.
Pengetahuan Masyarakat 7.
Kebiasaan Menggantung Pakaian 8. Kegiatan Pemberantasan
Sarang Nyamuk dan 3M plus Host Kejadian DBD
Sumber : Teori Trias Epidemiologi (Gordon dan La
Richt)
Kebiasaan
Menggantung Pakaian Angka bebas jentik Pengetahuan Masyarakat Variabel Dependen Kejadian Demam Berdarah Denge (DBD) Variabel Independen
E. Kerangka Konsep
Kegiatan
Pemberantasan Sarang Nyamuk dan 3M plus
F. Hipotesis
Hipotesis yang akan di uji dalam penelitian ini dirumuskan
sebagai berikut :
1. Ada hubungan
antara pengetahuan masyarakat terhadap kejadian DBD di Wilayah Kerja Puskesmas
Rajabasa Indah.
2. Ada hubungan antara
kebiasaan menggantung pakaian dengan kejadian DBD di Wilayah Kerja Puskesmas
Rajabasa Indah.
3. Ada
hubungan antara kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk
dan 3m plus
dengan kejadian DBD di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa
Indah.
4. Ada hubungan antara angka
bebas jentik dengan kejadian DBD di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah.
BAB III
METODE PENELITIAN
A.
Jenis dan
Rancangan Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah
metode penelitian Kuantitatif menggunakan desain penelitian Observasional.
Rancangan penelitian yang digunakan adalah Case Control. Penelitian ini untuk
mengetahui Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue
(DBD) Di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah. Dengan membandingkan kelompok
orang yang menderita Demam Berdarah Dengue dengan kelompok orang yang tidak
menderita Demam Berdarah Dengue, yang bertempat tinggal di dekat kelompok orang
yang menderita Demam Berdarah Dengue.
B.
Lokasi dan Waktu
Penelitian
1.
Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di
Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah Kecamatan Rajabasa Badar Lampung.
2.
Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan
pada bulan Mei-Juni 2022.
C.
Subjek Penelitian
1.
Populasi pada penelitian ini
adalah seluruh keluarga yang terkena DBD dan sebagai control berjumlah sama
dengan jumlah populasi yang terkena DBD. Jadi jumlah total populasi yang akan
di teliti yaitu 110. Dengan kriteria inklusi dan ekslusi sebagai berikut:
a. Kriteria Inklusi Kasus
1)
Warga yang tinggal di Wilayah
Kerja PuskesmasRajabasa Indah, rumah yang anggota keluarganya pernah menderita
Demam Berdah Dengue dari bulan Januari- Desember tahun 2021.
2)
Memahami bahasa Indonesia.
3)
Bersedia untuk di wawancara.
b. Kriteria Ekslusi Kasus
1)
Warga yang tidak tinggal di
Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah, yang anggota keluarganya pernah
menderita Demam Berdarah Dengue.
2)
Tidak memahami bahasa
Indonesia.
3)
Tidak bersedia untuk di
wawancara.
c. Kriteria Inklusi Kontrol
1)
Warga yang tinggal di Wilayah
Kerja Puskesmas Rajabasa Indah, yang anggota keluarganya tidak pernah menderita
Demam Berdarah Dengue dari bulan Januari - Desember 2021.
2)
Memahami bahasa Indonesia.
3)
Bersedia untuk di wawancara.
d. Kriteria Ekslusi Kontrol
1)
Warga yang tidak tinggal di
Wialayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah, yang anggota keluarganya pernah
menderita Demam Berdarah Dengue di luar bulan Januari-Desember 2021.
2)
Tidak memahami bahasa
Indonesia.
3)
Tidak bersedia untuk di
wawancara.
2. Berdasarkan kriteria sampel yang telah
ditetapkan, maka sampel yang memenuhi kriteria sebanyak 55 responden. Dari
sampel responden yang di dapat subjeknya kurang dari 100, maka baik diambil
semua. Sehingga penelitian ini menggunakan total populasi dengan total kasus dan
control berjumlah 110 responden.
D.
Variabel
Penelitian
1.
Variabel Bebas
Merupakan variabel independent yang menjadi sebab perubahan atau
timbulnya variavel dependent (terikat), variabel ini dikenal dengan nama
variabel bebas artinya bebas dalam menghubungkan dengan variabel lain. Variabel
independent dalam penelitian ini adalah pengetahuan masyarakat, kebiasaan
menggantung pakaian, kegiatan pemberantasan sarang nyamuk dan 3M plus, dan
angka bebas jentik.
2.
Variabel Terikat
Merupakan variabel yang dihubungkan atau menjadi akibat
karena variabel bebas. Variabel bebas terhadap perubahan. Variabel dependent
dalam penelitian ini adalah Kejadian Demam Berdarah Dengue.
E. Definisi Operasional
|
No |
Variabel |
Definisi Operasional |
Parameter |
Alat ukur |
Skala |
Hasil Ukur |
|
1. |
Kejadian (DBD) |
Kejadian
penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang didiagnosis oleh dokter
berdasarkan gejala klinis dan konfirmasi oleh Puskesmas Rajabasa Indah |
Dalam
satu keluarga tidak pernah mengalami penyakit DBD
dan Dalam satu keluarga pernah mengalami penyakit DBD
positif |
Data
sekunder dari Puskesmas Rajabasa Indah |
Ordinal |
1.
Tidak sakit 2.
Sakit |
|
2. |
Pengetahuan
masyarakat |
Pemahaman
responden tentang demam berdarah di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah |
Meliputi
pengertian dankegiatan pemberantasan sarang nyamuk |
Kuesioner |
Ordinal |
1. Kurang
baik jawaban benar kurang dari 50% dari jumlah seluruh pertanyaan. 2. Baik
jika jawaban benar lebih dari 50% dari jumlah seluruh pertanyaan (Sugiyono, 2013) |
|
3. |
Kebiasaan
menggantung pakaian |
Praktek
sehari- hari dalam menggantung pakaian di dalam rumah bukan di almari |
Pemeriksaan
tempat responden menggantung pakaian di dalam rumah (bukan di almari). |
Kuesioner, checklist dan
observasi |
Nominal |
1.
Kurang baik jika jawaban kurang dari 2.
Baik jika jawaban lebih dari 3 |
|
4. |
Kegiatan
pemberantasan sarang nyamuk dan 3M plus |
Kegiatan
memberantas sarang nyamuk |
Kegiatan Pemberantasan
Sarang Nyamuk meliputi : 1.Menguras,mengganti atau membersihkan air di bak mandi maupun
tempat penampungan air. 2. Menutup bak mandi, tempayan, penampungan air. 3.Mengubur atau memanfaatkan barang yang dapat di daur ulang. 4.
Menabur abate. |
Kuesioner
dan observasi |
Nominal |
1. Kurang
baik jawaban benar kurang dari 50% dari jumlah seluruh pertanyaan. 2. Baik
jika jawaban benar lebih dari 50% dari jumlah seluruh pertanyaan (Sugiyono, 2013) |
|
5. |
Angka
bebas jentik |
Ada
tidaknya jentik dalam tempat penampung air disetiap rumah |
Angka bebas jentik meliputi : tempat penampungan
air, tempayan.Persentase jumlah rumah yang di temukannya jentik dan tidak di
temukannya jentik |
Lembar observasi |
Ordinal |
1. Ada
jentik 2. Tidak
ada jentik di
katakan baik 95% kurang
baik ≤ 95% |
F. Teknik
Pengumpulan Data
1.
Sumber Data
a.
Data Primer
Data primer diperoleh dari hasil survei pada masyarakat di Wilayah Kerja
Puskesmas Rajabasa Indah dengan menggunakan lembar kuesioner dan lembar
observasi.
b.
Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari Puskesmas Rajabasa Indah
2.
Metode Pengumpulan Data
a.
Wawancara (kuisioner)
Wawancara merupakan salah satu teknik yang dapat digunakan untuk
mengumpulkan data penelitian. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa wawancara
(interview) adalah suatu kejadian atau suatu proses interaksi antara
pewawancara (interviewer) dan sumber informasi atau orang yang di wawancarai
(interviewee) melalui komunikasi langsung.
Metode wawancara ini dapat dilakukan menggunakan alat pengumpul data
berupa Kuesioner. Kuesioner itu sendiri merupakan pertanyaan yang diajukan
untuk mendapatkan informasi tambahan pengetahuan masyarakat di wilayah kerja
Puskesmas Rajabasa Indah.
b.
Pengamatan
Observasi adalah suatu proses yang didahului dengan pengamatan kemudian
pencatatan yang bersifat sistematis, logis, objektif, dan rasional terhadap
berbagai macam fenomena dalam situasi yang sebenarnya, maupun situasi buatan.
Zainal Arifin dalam buku (Kristanto, 2018)
Observasi merupakan pengamatan dan pencatatan suatu obyek dengan
sistematika fenomena yang diteliti. Observasi di lapangan secara langsung
mengenai kebiasaan menggantung pakaian, kegiatan pemberantasan sarang, dan
angka bebas jentik.
G. Pengolahan
Data dan Analisis Data
1.
Pengamatan Data
Data yang diperoleh dalam penelitian kemudian diolah dan dianalisa
menggunakan SPSS for windows. Teknik pengolahan data yang dilakukan pada
penelitian ini yaitu meliputi :
a.
Editing
Editing adalah upaya untuk memeriksa atau pengecekan kembali data maupn
kuesioner yang diperoleh atau dikumpulkan. Editing dapat dilakukan pada tahap
pengumpulan data, pengisian kuesioner, dan setelah data terkumpul (Notoatmodjo,
2018).
b.
Coding
Coding adalah kegiatan memberikan kode numeric (angka) terhadap data
bertujuan untk membedakan berdasarkan karakter (Notoatmodjo, 2018). Coding pada
penelitian ini dilakukan dengan cara memberikan kode angka pada setiap jawaban
untuk mempermudah dalam pengolahan dan analisis data.
c.
Entry
Entry adalah mengisi masing-masing jawaban dari responden dalam bentuk
“kode” (angka atau huruf) dimasukkan ke dalam program atau “software” computer
(Notoatmodjo, 2018).
d.
Cleaning
Setelah semua data dari setiap sumber data atau responden selesai
dimasukkan, perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinan adanya
kesalahan-kesalahan kode, ketidaklengkapan dan sebagainya, kemudian dilakukan
pembetulan atau koreksi.
e.
Tabulating
Tabulating adalah mengelompokkan data setelah melalui editing dan coding
ke dalam suatu table tertentu menurut sifat-siat yang dimilikinya, sesuai
dengan tujuan penelitian. Table ini terdiri atas kolom dan baris. Kolom pertama
yang terletak paling kiri digunakan untuk nomor urut atau kode responden. Kolom
yang kedua dan selanjutnya digunakan untuk variable yang terdapat dalam
dokumentasi. Baris digunakan setiap responden.
2.
Analisis Data
a.
Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan untuk menggambarkan distribusi frekuensi
masing – masing variabel, baik variabel bebas (pengetahuan masyarakat,
kebiasaan menggantung pakaian, kegiatan pemberantasan sarang nyamuk dan 3M plus,
dan angka bebas jentik),variabel terikat (Kejadian demam berdarah dengue)
b. Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan dengan uji chi square (x²) untuk mengetahui
hubungan yang signifikan antara masing – masing variabel bebas dengan variabel
terikat.
Kriteria signifikan yang digunakan adalah jika p value (> 0,05) maka
tidak ada hubungan anatara tingkat pengetahuan masyarakat, kebiasaan
menggantung pakaian, kegiatan pemberantasan sarang nyamuk, serta angka bebas
jentik dengan kejadian DBD dan jika p value (< 0,05) maka ada hubungan
antara pengetahuan masyarakat, kebiasaan menggantung pakaian, kegiatan
pemberantasan sarang nyamuk dan 3M plus, serta angka bebas jentik di wilayah
kerja Puskesmas Rajaba Indah. (Notoatmodjo, 2018).
H. Instrumen
Penelitian
Alat pengumpul data yang digunakan adalah checklist dan questioner untuk
melakukan wawancara terhadap responden mengenai faktor-faktor yang berhubungan
dengan kejadian DBD. Data-data yang berhubungan dengan kondisi medis responden
dikumpulkan melalui catatan medis Puskesmas Rajabasa Indah.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Gambaran Umum
Wilayah Penelitian
1.
Sejarah Singkat Puskesmas Rajabasa Indah
Puskesmas Rajabasa
Indah terletak di Jalan Pramuka No.10 yang termasuk dalam Wilayah Kelurahan
Rajabasa Kota Bandar Lampung, dengan kepadatan wilayah Puskesmas Rajabasa Indah
1.302 Ha yang tersebar di 7 kelurahan dengan rata-rata kepadatan penduduk
Kecamatan Rajabasa sebesar 35.697 jiwa/Ha.
Tabel 4.1
Jumlah Penduduk, Kepadatan Wilayah Dan
Kepadatan Kelurahan
|
No |
Kelurahan |
Jumlah
Penduduk KK |
Kepadatan
Wilayah |
Kepadatan |
|
1. |
Rajabasa |
4.994 |
1.137108
Ha |
44,2
Jiwa/Ha |
|
2. |
Rajabasa
Pemuka |
5.051 |
1.288122
Ha |
44,3
Jiwa/Ha |
|
3. |
Rajabasa
Nunyai |
5.841 |
1.365129
Ha |
44,4
Jiwa/Ha |
|
4. |
Rajabasa
Raya |
4.611 |
1.096358
Ha |
12,8
Jiwa/Ha |
|
5. |
Rajabasa
Jaya |
5.108 |
1.214358
Ha |
14,2
Jiwa/Ha |
|
6. |
Gedung
Meneng |
5.253 |
1.251118
Ha |
44,5
Jiwa/Ha |
|
7. |
Gedung
Meneng Baru |
4.894 |
1.154109
Ha |
44,5
Jiwa/Ha |
|
Jumlah |
35.697 |
8.5051.302
Ha |
35,6
Jiwa/Ha |
|
Adapun
batas-batas Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah adalah sebagai berikut:
Sebelah Utara : Kecamatan Natar Lampung
Selatan
Sebelah Barat : Kecamatan Natar Lampung Selatan
Sebelah Selatan :
Kecamatan Kemiling Desa Sumberrejo Kelurahan Gunung terang, Tanjung karang
barat
Sebelah Timur : Kecamatan Kedaton Kelurahan
Kampung Baru
2.
Visi, Misi dan
Motto Puskesmas Rajabasa Indah
Visi :
Melakukan pelayanan yang cepat, tepat dan terpadu
Misi :
Penyelenggaraan pelayanan kesehatan dasar pada masyarakat
secara tepat dan cerdas
Motto : Cerdas cepat
dalam bertindak, rapi dalam berpakaian, disiplin
dalam waktu pelayanan, aktif dalam berprogram, sopan dan
santun dalam melayani
B.
Hasil Penelitian
1.
Karakteristik
Sampel
Sampel pada penelitian ini
merupakan responden yang sakit DBD dan responden yang tidak sakit DBD.
Berdasarkan hasil wawancara diperoleh umur, jenis kelamin, dan pendidikan
responden di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah Tahun 2022
a.
Jenis Kelamin
Hasil wawancara dengan responden penelitian didapatkan
gambaran umum mengenai jenis kelamin sampel, seperti pada table berikut ini:
Tabel 4.2
Distribusi Responden Berdasarkan Jenis
Kelamin Di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah Tahun 2022
|
No |
Jenis
Kelamin |
F |
(%) |
|
1 |
Laki-laki |
56 |
50,9 |
|
2 |
Perempuan
|
54 |
49,1 |
|
Jumlah |
110 |
100 |
|
Dapat diketahui bahwa dari 110 sampel, jenis kelamin sampel
yang paling banyak yaitu laki-laki yaitu sebanyak 56 orang (50,9%) dan yang
paling sedikit yaitu perempuan sebanyak 54 orang (49,1%).
b.
Umur
Hasil
wawancara dengan responden penelitian didapatkan gambaran umum mengenai umur
sampel, seperti pada table berikut ini:
Tabel
4.3
Distribusi
Responden Berdasarkan Umur Di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah Tahun 2022
|
No |
Umur |
F |
(%) |
|
1 |
1-12
tahun |
32 |
29,1 |
|
2 |
13-25
tahun |
31 |
28,2 |
|
3 |
26-38
tahun |
21 |
19,1 |
|
4 |
39-51
tahun |
21 |
19,1 |
|
5 |
52-64
tahun |
5 |
4,5 |
|
Jumlah |
110 |
100 |
|
Dapat
diketahui bahwa dari 110 sampel, umur sampel yang paling banyak yaitu pada umur
1-12 tahun yaitu sebanyak 32 orang (29,1%) dan yang paling sedikit yaitu pada
umur 52-64 tahun, yaitu sebanyak 5 orang (4,5%).
c.
Pendidikan
Hasil
wawancara dengan responden penelitian didapatkan gambaran umum mengenai
pendidikan sampel, seperti pada table berikut ini:
Tabel
4.4
Distribusi
Responden Berdasarkan Pendidikan Di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah
Tahun 2022
|
No |
Pendidikan |
F |
(%) |
|
1 |
Belum
sekolah |
12 |
10,9 |
|
2 |
SD |
26 |
23,6 |
|
3 |
SLTP |
22 |
20,0 |
|
4 |
SLTA |
35 |
31,8 |
|
5 |
Perguruan
tinggi |
15 |
13,6 |
|
Jumlah |
110 |
100 |
|
Dapat diketahui bahwa dari
110 sampel, pendidikan sampel yang paling banyak yaitu pada Sekolah Menengah
Atas yaitu sebanyak 35 orang (31,8%) dan
yang paling sedikit yaitu belum sekolah, yaitu sebanyak 12 orang (10,9%).
2.
Analisi Univariat
Analisis univariate bertujuan untuk menjelaskan atau
mendeskripsikan karakteristik setiap variable penelitian independen
(pengetahuan responden, kebiasaan menggantung pakaian, kegiatanpemberantasan
sarang nyamuk dan 3M plus dan angka bebas jentik) yang disajikan dalam bentuk
table distribusi frekuensi.
a.
Kejadian DBD
Tabel
4.5
Distribusi
Frekuensi Responden Berdasarkan Kejadian DBD di Wilayah Kerja Puskesmas
Rajabasa Indah Tahun 2022
|
Demam Berdarah Dengue |
Frekuensi |
Persentase % |
|
Tidak Sakit |
55 |
50,0 |
|
Sakit |
55 |
50,0 |
|
Total |
110 |
100,0 |
Berdasarkan tabel
diatas dapat diketahui bahwa responden yang menderita DBD sebanyak 55 orang
(50%) sedangkan responden lainnya yang tidak menderita DBD sebanyak 55 orang
(50%).
b.
Pengetahuan
Mayarakat
Tabel 4.6
Distribusi
Frekuensi Responden Berdasarkan Pengetahuan Masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah
Tahun 2022
|
Pengetahuan Responden |
Frekuensi |
Persentase % |
|
Kurang baik |
9 |
8,2 |
|
baik |
101 |
91,8 |
|
Total |
110 |
100,0 |
Berdasarkan tabel
diatas dapat diketahui bahwa responden yang berpengetahuan kurang baik sebanyak
9 orang (8,2%) sedangkan responden yang pengetahuannya baik sebanyak 101 orang
(91,8%).
c.
Kebiasaan
Menggantung Pakaian
Tabel 4.7
Distribusi
Frekuensi Responden Berdasarkan Kebiasaan Menggantung Pakaian di Wilayah Kerja
Puskesmas Rajabasa Indah Tahun 2022
|
Kebiasaan Menggantung Pakaian |
Frekuensi |
Persentase % |
|
Kurang baik |
66 |
60,0 |
|
Baik |
44 |
40,0 |
|
Total |
110 |
100,0 |
Berdasarkan tabel
diatas dapat diketahui bahwa responden dengan kebiasaan menggantung pakaian kurang
baik sebanyak 66 orang (60,0%) sedangkan responden dengan kebiasaan menggantung
pakaiannya baik sebanyak 44 orang (40,0%).
d.
Kegiatan
Pemberantasan Sarang Nyamuk dan 3M Plus
Tabel 4.8
Distribusi
Frekuensi Responden Berdasarkan Kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk dan 3M Plus
di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah Tahun 2022
|
PSN dan 3M Plus |
Frekuensi |
Persentase % |
|
Kurang baik |
70 |
63,6 |
|
Baik |
40 |
36,4 |
|
Total |
110 |
100,0 |
Berdasarkan tabel
diatas dapat diketahui bahwa responden dalam kegiatan PSN dan 3M plus kurang
baik sebanyak 70 orang (63,6%) sedangkan responden dalam kegiatan PSN dan 3M
plusnya baik sebanyak 40 orang (36,4%).
e.
Angka Bebas
Jentik
Tabel 4.9
Distribusi
Frekuensi Responden Berdasarkan Angka Bebas Jentik di Wilayah Kerja Puskesmas
Rajabasa Indah Tahun 2022
|
Angka Bebas Jentik |
Frekuensi |
Persentase % |
|
Tidak ada jentik |
89 |
80,9 |
|
Ada jentik |
21 |
19,1 |
|
Total |
110 |
100,0 |
Berdasarkan tabel
diatas dapat diketahui dari 110 rumah yang disurvei angka bebas jentik pada
tempat penampungan air yang tidak ada jentik sebanyak 89 rumah (80,9%) dan yang
terdapat jentik sebanyak 21 rumah (19,1%).
3.
Analisis Bivariat
Analisis bivariat bertujuan untuk mengetahui hubungan
antara variabel bebas dengan variabel terikat dengan menggunakan uji Chi
Square, dan untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel bebas yaitu (pengetahuan
responden, kebiasaan menggantung pakaian, kegiatan pemberantasan sarang nyamuk
dan 3M plus, dan angka bebas jentik). Analisis bivariat dilakukan terhadap dua
variabel yang diduga berhubungan. Analisis bivariat digunakan untuk mencari
hubungan dan membutikan hipotesis dua variable.
a.
Hubungan
Pengetahuan Masyarakat Dengan Kejadian DBD
Tabel 4.10
Hubungan Pengetahuan Masyarakat Dengan Kejadian DBD
di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah
Tahun 2022
|
Pengetahuan Masyarakat |
Kejadian DBD |
Total |
OR (CI:95%) |
P- Value |
||||
|
Tidak Sakit |
Sakit |
|||||||
|
N |
% |
N |
% |
N |
% |
|||
|
Kurang baik |
6 |
10,9 |
3 |
5,5 |
9 |
8,2 |
2,122 (0,503-8,956) |
0,297 |
|
Baik |
49 |
89,1 |
52 |
94,5 |
101 |
91,8 |
||
|
Total |
55 |
100 |
55 |
100 |
110 |
100 |
||
Berdasarkan tabel 4.10
diatas dapat diketahui bahwa kejadian DBD pada responden yang tidak sakit ada 6
responden (10,9%) dengan pengetahuan kurang baik dan 3 responden (5,5%) yang
sakit dengan pengetahuan kurang baik tentang DBD, sedangkan dengan pengetahuan
baik ada 49 responden (89,1%) yang tidak sakit dan ada 52 responden (94,5%)
yang sakit dengan pengetahuan baik.
Hasil analisis uji statistik
Chi Square diperoleh p value = 0,297 (α > 0,05) yang berarti tidak ada
hubungan antara pengetahuan responden dengan kejadian DBD di Wilayah Kerja
Puskesmas Rajabasa Indah.
b.
Hubungan
Kebiasaan Menggantung Pakaian Dengan Kejadian DBD
Tabel 4.11
Hubungan
Kebiasaan Menggantung Pakaian Dengan Kejadian DBD di Wilayah Kerja Puskesmas
Rajabasa Indah
Tahun 2022
|
Kebiasaan Menggantung Pakaian |
Kejadian DBD |
Total |
OR (CI:95%) |
P- Value |
||||
|
Tidak Sakit |
Sakit |
|||||||
|
N |
% |
N |
% |
N |
% |
|||
|
Kurang baik |
18 |
32,7 |
48 |
87,3 |
66 |
60,0 |
0,071 (0,027-0,188) |
0,000 |
|
Baik |
37 |
67,3 |
7 |
12,7 |
44 |
40,0 |
||
|
Total |
55 |
100 |
55 |
100 |
110 |
100 |
||
Berdasarkan tabel 4.11
diatas dapat diketahui bahwa kebiasaan menggantung pakaian dengan kejadian DBD
menunjukkan bahwa pada responden yang tidak sakit ada 18 responden (32,7%)
memiliki kebiasaan menggantung pakaian yang kurang baik dan 48 responden (87,3%)
sakit memiliki kebiasaan menggantung pakaian yang kurang baik, sedangkan
responden yang tidak sakit dengan kebiasaan menggantung pakaiannya baik
sebanyak 37 (67,3%) dan responden sakit ada 7 (12,7%) memiliki kebiasaan menggantung
pakaian yang baik.
Hasil analisis uji statistik
Chi Square diperoleh p value = 0,000 (α > 0,05) yang berarti ada hubungan
antara kebiasaan menggantung pakaian dengan kejadian DBD di Wilayah Kerja
Puskesmas Rajabasa Indah.
c.
Hubungan Kegiatan
Pemberantasan Sarang Nyamuk dan 3M Plus Dengan Kejadian DBD
Tabel 4.12
Hubungan Kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk
dan 3M Plus Dengan Kejadian DBD di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah
Tahun 2022
|
Kegiatan
PSN dan 3M plus |
Kejadian DBD |
Total |
OR (CI:95%) |
P- Value |
||||
|
Tidak Sakit |
Sakit |
|||||||
|
N |
% |
N |
% |
N |
% |
|||
|
Kurang baik |
26 |
47,3 |
44 |
80,0 |
70 |
63,6 |
0,224 (0,096-0,523) |
0,001 |
|
Baik |
29 |
52,7 |
11 |
20,0 |
40 |
36,4 |
||
|
Total |
55 |
100 |
55 |
100 |
110 |
100 |
||
Berdasarkan tabel 4.12
diatas dapat diketahui bahwa PSN dan 3M dengan kejadian DBD pada responden yang
tidak sakit ada 26 responden (47,3%) memiliki kebiasaan PSN dan 3M yang kurang
baik dan 44 responden (80,0%) yang sakit memiliki kebiasaan PSN dan 3M kurang baik,
sedangkan 29 responden (52,7%) tidak sakit memiliki kebiasaan PSN dan 3M baik
dan 11 responden (20,0%) sakit memiliki kegiatan PSN dan 3M baik.
Hasil analisis uji statistik
Chi Square diperoleh p value = 0,001 (α > 0,05) yang berarti ada hubungan
antara kegiatan pemberantasan sarang nyamuk dan 3m plus dengan kejadian DBD di
Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah.
d.
Hubungan Angka
Bebas Jentik Dengan Kejadian DBD
Tabel 4.13
Hubungan Angka Bebas Jentik Dengan Kejadian DBD di Wilayah
Kerja Puskesmas Rajabasa Indah
Tahun 2022
|
Kegiatan
PSN dan 3M plus |
Kejadian DBD |
Total |
OR (CI:95%) |
P- Value |
||||
|
Tidak Sakit |
Sakit |
|||||||
|
N |
% |
N |
% |
N |
% |
|||
|
Tidak ada jentik |
48 |
87,3 |
41 |
74,5 |
89 |
80,9 |
2,341 (0,863-6,355) |
0,089 |
|
Ada jentik |
7 |
12,7 |
14 |
25,5 |
21 |
19,1 |
||
|
Total |
55 |
100 |
55 |
100 |
110 |
100 |
||
Menurut Depkes (2013) angka
bebas jentik dapat di kategorikan baik = 95% , kurang baik = ≤ 95% dan termasuk
dalam kepadatan tinggi dan memiliki resiko penularan tinggi. Dan hasil
perhitungan ABJ dari masing – masing tempat yang diambil dapat dikategorikan
kurang baik
Berdasarkan tabel 4.13
diatas dapat diketahui bahwa angka bebas jentik dengan kejadian DBD pada
responden yang tidak sakit ada 48 responden (87,3%) tidak ditemukan jentik pada
tempat penampungan air dan 41 responden (74,5%) yang sakit tidak ditemukan
jentik pada tempat penampungan air, sedangkan
7 responden (12,7%) yang tidak sakit ditemukkan jentik pada tempat
penampungan air dan 14 responden (25,5%) sakit ditemukkan jentik pada tempat
penampungan air
Hasil analisis uji statistik
Chi Square diperoleh p value = 0,089 (α <0,05) yang berarti ada hubungan
antara angka bebas jentik dengan kejadian DBD di Wilayah Kerja Puskesmas
Rajabasa Indah.
C.
Pembahasan
1.
Kejadian DBD
Kejadian DBD di Wilayah
Kerja Puskesmas Rajabasa Indah merupakan wilayah endemis DBD dimana terdapat
distribusi frekuensi kejadian DBD menunjukkan bahwa terdapat responden yang
Menderita DBD sebanyak 55 orang (50.0%) sedangkan sisanya adalah responden yang
Tidak Menderita DBD sebanyak 55 orang (50.0%).
Dalam hasil penelitian ini
kejadian DBD dapat disebabkan dari pengetahuan responden, kebiasaan menggantung
pakaian, kegiatan pemberantasan sarang nyamuk dan 3M plus, dan angka bebas
jentik pada setiap tempat penampungan air.
Meningkat
kejadian DBD dimasyarakat dalam pelaksanaan
pemberantasan sarang nyamuk dan 3M plus
masih kurang berjalan secara
optimal, kurangnya kesadaran masyarakat dalam kebiasaan menggantung pakaian di balik
pintu yang dapat menyebabkan
kepadatan jentik nyamuk Aedes aegypti dan penyebaran DBD semakin tinggi.
Faktor yang memiliki
hubungan dengan kejadian DBD di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah yaitu
pengetahuan responden (p=0,297),
kebiasaan menggantung pakaian (p=0,000),
kegiatan pemberantasan sarang nyamuk dan 3m plus (p=0,001), dan angka bebas jentik (p=0,089).
2.
Hubungan
Pengetahuan Masyarakat Dengan Kejadian
DBD
Berdasarkan tabel 4.10 hasil
penelitian pengetahuan dengan kejadian DBD di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa
Indah diperoleh hasil sebesar 101 responden (91,8%) mempunyai pengetahuan yang
baik. Berdasarkan hasil uji statistik didapat p value = 0,297 (α > 0,05)
yang berarti tidak ada hubungan antara pengetahuan responden dengan kejadian
DBD di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah.
Pengetahuan merupakan hasil
pengindraan manusia atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang
di milikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Proses pengindraan sampai
menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian
dan persepsi terhadap objek.
Hasil penelitian ini di
dapat responden dengan pendidikan SLTA 35 responden, namun dikarenakan ada
beberapa responden dengan umur yang masih balita maka peneliti mewawancarai
orang tua karena keterbatasan usia.
Dengan latar belakang pendidikan SLTA lebih banyak, responden mampu
terbuka terhadap hal-hal baru, hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan
berhubungan dengan sikap kesehatan masyarakat, dimana seseorang mengetahui
hal-hal yang berkaitan dengan demam berdarah, dan pernah tidaknya responden
menerima informasi tentang masalah tersebut baik dari media elektronik, media
cetak dan petugas kesehatan dan lain-lain, sehingga berpengaruh pada
pembentukan sikap dan perilaku seseorang terkait dengan tingkat pengetahuan dan
wawasannya dalam melakukan pencegahan dan penanggulangan terhadap kejadian DBD.
Kejadian DBD Di Wilayah
Kerja Puskesmas Rajabasa Indah dapat diimbangi dengan pengetahuan responden
yang baik, kurangnya pengetahuan atau pengetahuan yang salah di kelompok
masyarakat akan berpengaruh terhadap persepsi masyarakat yang salah, Peran
petugas kesehatan serta pihak-pihak terkait, sangat penting untuk menggiatkan
kegiatan konsultasi informasi dan edukasi (KIE) antara lain dengan
cara penyuluhan guna meningkatkan pengetahuan tentang
pencegahan demam berdarah dengue.
3.
Hubungan Kebiasaan
Menggantung Pakaian Dengan Kejadian DBD
Pada tabel 4.11 hasil
penelitian mengenai kejadian DBD dengan kebiasaan menggantung pakaian yang kurang
baik sebesar 66 responden (60,0%) dan baik sebesar 44 responden (40,0%).
Berdasarkan hasil uji statistik dimana nilai p value = 0,000 (α < 0,05)
dapat disimpulkan ada hubungan antara kebiasaan menggantung pakaian dengan
kejadian DBD.
Dari hasil tersebut
seharusnya pakaian – pakaian yang tergantung di balik pintu sebaiknya dilipat
dan disimpan dalam almari, karena nyamuk Aedes aegypti senang hinggap dan
beristirahat di tempat – tempat yang gelap dan kain yang tergantung. Nyamuk
lebih tertarik pada cahaya terang, pakaian, suhu badan manusia, dan suhu yang
hangat serta keadaan lembab ( Depkes RI, 2005).
Kebiasaan masyarakat
menggantung pakaian sudah lama terjadi baik masyarakat perkotaan maupun
masyarakat pedesaan. Kebiasaan yang tidak baik ini sudah berlangsung cukup
lama, kondisi ini menyebabkan keberadaan nyamuk untuk hidup dengan menempel di
pakaian dan menjadikan kejadian DBD meningkat.
Melakukan penyuluhan yang
diberikan oleh petugas kesehatan dalam kebiasaan menggantung pakaian di
belakang pintu dibantu oleh kader kesehatan dan tokoh masyarakat yang akan
mempengaruhi terjadinya perubahan perilaku masyarakat dalam kebiasaan
menggantung pakaian di belakang pintu. Dengan meningkatnya kebiasaan masyarakat
menggantung pakaian akan mempengaruhi juga tingkat jentik nyamuk Aedes aegypti
karena nyamuk senang hinggap di pakaian dan beristirahat di tempat – tempat
gelap. Dan kain atau pakaian yang tergantung lebih dari 1hari akan menyebabkan
nyamuk bertelur, semakin mudah nyamuk Aedes aegypti menularkan virusnya dari
satu orang ke orang lain karena peranan faktor lingkungan dan perilaku
masyarakat terhadap penularan DBD..
4.
Hubungan Kegiatan
Pemberantasan Sarang Nyamuk dan 3M Plus Dengan Kejadian DBD
Pada tabel 4.12 hasil
penelitian mengenai kejadian DBD dengan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk
dan 3M plus yang kurang baik sebesar 70 (63,6%) dan yang baik sebasar 40 (36,4%) Berdasarkan hasil uji statistik dimana nilai
p value = 0,001 (α < 0,05) dapat
disimpulkan ada hubungan antara PSN dan 3M plus dengan kejadian DBD.
Pengurasan tempat – tempat
penampungan air perlu dilakukan secara teratur sekurang – kurangnya seminggu sekali
agar nyamuk tidak dapat berkembangbiak, pada penelitian ini banyak terdapat
masyarakat yang tidak menggunakan bak permanen lagi, sehingga nyamuk Aedes
aegypti dapat ditekan semaksimal mungkin dan penularan DBD tidak terjadi lagi.
Untuk itu upaya penyuluhan kepada masyarakat harus dilakukan secara
terus-menerus dan berkesinambungan.
Namun, di dalam penelitian
ini masyarakat dalam pelaksanaan pemberantasan sarang nyamuk dan 3M plus masih
kurang berjalan secara optimal, dari segi pengetahuan tentang cara melakukan
PSN dan 3M plus sebagian responden sudah mengetahui dengan baik. Mereka masih
beranggapan bahwa PSN dan 3M plus dilakukan dengan cara pengasapan (fogging)
yang merupakan tanggung jawab pemerintah. Kemauan dan tingkat kedisiplinan
untuk melakukan 3M (menguras,menutup dan mengubur) mengingat bahwa kebersihan
lingkungan dapat menekan terjadinya bebagai penyakit yang timbul akibat dari
lingkungan yang tidak bersih.
Pemberantasan sarang nyamuk
demam berdarah dengue dapat dimulai dari lingkungan tempat tinggal seperti
rumah. Dimana kesehatan antar anggota keluarga dapat dinilai lewat perilaku
dalam kehidupannya. Perilaku yang baik untuk menjaga lingkungan yang sehat dan
bersih dari sarang nyamuk dapat terwujud apabila motivasi dari seluruh anggota
keluarga juga baik. Seorang kepala keluarga hendaknya termotivasi untuk menjaga lingkungan rumah demi kesehatan
seluruh anggota keluarga.
5.
Hubungan Angka
Bebas Jentik Dengan Kejadian DBD
Pada tabel 4.13 dari hasil
survey penelitian tidak ada hubungan antara angka bebas jentik dengan kejadian
DBD. Perhitungan terhadap index – index jentik vektor DBD meliputi angka bebas
jentik adalah presentase rumah atau tempat umum yang tidak ditemukan jentik
pada pemeriksaan jentik.
Terdapat 110 rumah yang
diperiksa dimasing-masing kelurahan, tempat – tempat yang diperiksa seperti
penampungan air yaitu bak mandi dan tempat penampungan air lainnya. Diperoleh
hasil keseluruhan untuk angka bebas jentik sebanyak 89 (80,9%) tidak ada jentik
pada tempat penampungan air dan sebanyak 21 (19,1%) ada jentik pada tempat
penampungan air. Dengan nilai ratio prevalens 23 yang artinya responden dengan
ditemukannya jentik mempunyai resiko 23 kali terkena DBD dibandingkan responden
yang tidak ditemukan jentik.
Menurut Depkes (2013) angka
bebas jentik dapat di kategorikan baik = 95% , kurang baik = ≤ 95% dan termasuk
dalam kepadatan tinggi dan memiliki resiko penularan tinggi. Keberadaan jentik
nyamuk yang hidup pada tempat penampungan air sangat memungkinkan terjadinya
DBD. Pemeriksaan jentik nyamuk program ini bertujuan untuk melakukan
pemeriksaan jentik nyamuk penular DBD dan memotivasi keluarga atau masyarakat
dalam melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) DBD. Setiap warga masyarakat
mempunyai kewajiban berperilaku hidup bersih dan sehat, serta menjaga dan
memelihara lingkungan sekitarnya dengan
cara berperan aktif melakukan pemberantasan sarang nyamuk, sehingga
tidak ada jentik nyamuk Aedes aegypti di rumah dan pekarangannya.
BAB V
KESIMPULAN DAN
SARAN
A.
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti di Wilayah Kerja Puskesmas
Rajabasa Indah Kecamatan Rajabasa Bandar Lampung Tahun 2022, dapat disimpulkan
sebagai berikut:
1.
Tidak adanya hubungan antara pengetahuan masyarakat dengan
kejadian DBD Di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah Kecamatan Rajabasa
Bandar Lampung dengan hasil p value =
0,297.
2.
Adanya hubungan antara kebiasaan menggantung pakaian dengan
kejadian DBD Di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah Kecamatan Rajabasa
Bandar Lampung dengan hasil p value =
0,000.
3.
Adanya hubungan antara kegiatan pemberantasan sarang nyamuk
dan 3m plus dengan kejadian DBD Di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah
Kecamatan Rajabasa Bandar Lampung dengan hasil p value = 0,001.
4.
Adanya hubungan antara angka bebas jentik dengan kejadian DBD
Di Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa Indah Kecamatan Rajabasa Bandar Lampung
dengan hasil p value = 0,089.
B.
Saran
1.
Bagi responden atau masyarakat untuk melakukan kerja bakti
dan melakukan kegiatan 3M Plus yaitu menguras, menutup dan mengubur serta
menabur abate agar mengurangi keberadaan jentik didalam maupun luar rumah.
2.
Bagi instansi sebaiknya menggalakkan program 3M plus di
lingkungan sekitar dan memberikan edukasi tentang cara mencegah terjadinya DBD.
DAFTAR PUSTAKA
Adik,S. (2019). Hubungan
Sanitasi Lingkungan dan Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Wilayah Kerja
Puskesmas Sentosa Baru Kecamatan Medan Perjuangan Kota Medan tahun 2019.
Skripsi: Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Medan.
Anggraini,S. (2017). Hubungan
Keberadaan Jentik Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Di Kelurahan
Kedurus Surabaya.
Ariani, A. P. (2016). Demam Berdarah Dengue (DBD). Yogyakarta: Nuha Medika.
Ernawati,dkk. (2018). Gambaran Praktik Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Wilayah
Endemik DBD.
Fitria, N., N.E, Wahyuningsih., R,
Muwarni. 2016. Hubungan Praktik Buang
Sampah, Praktik Penggunaan Insektisida, Container Index, dan Lingkungan Fisik
Rumah Dengan Kejadian DBD (Sudi Di Empat Rumah Sakit Di Kota Semarang).
Jurnal Kesehatan Masyarakat. Vol. 4, No. 5. Oktober 2016.
Fuka,P, dkk. (2018). Hubungan Perilaku Pemberantasan Srang Nyamuk dengan Menutup, Menguras,
dan Mengubur Ulang Plus (PSN M Plus) Terhadap Kejadian Demam Berdarah Dengue
(DBD) Di Kelurahan Andalas Padang: Prodi Pendidikan Kedokteran Fakultas
Kedokteran Universitas Andalas Padang (FK Unand).
Gina, L. (2017). Hubungan Keberadaan Jentik Aedes Aegypti Pada Tempat Penampungan Air
Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Di Kecamatan Medan Sunggoh, Skripsi:
Universitas Sumatera Utara, Medan.
Hutri,dkk. (2020). Ketinggian Tempat Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue. Vol (1).
Kemenkes RI. (2017a). Data dan Informasi (R. Kurniawan, B. Hardhana, & Yudianto,
Eds.).
Masriadi.
(2017). Epidemiologi Penyakit Menular.
Depok: rajawali pers.
Notoadmodjo,
S. 2018. Metodologi Penelitian Kesehatan.
Jakarta: Rineka Cipta.
Profil
Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2019.
Putra,A.
(2021). Hubungan Perilaku Dengan Kejadian
Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Wilayah Kerja Puskesmas Bakumete Kelurahan
Kupang Tahun 2021, Skripsi: Universitas Nusa Cendana, Kupang.
Putu,dkk.
(2021). Hubungan Pelaksanaan Satu Rumah
Satu Jumantik Terhadap Angka Kejadian Demam Berdarah Dengue Di Dusun Pesalakan
Desa Pejeng Kangin. Vol 12 No.01.
Riska,P.
(2017). Hubungan Sanitasi Lingkungan
Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) Studi Di Kelurahan Sendangguwo
Wilayah Kerja Puskesmas Kedung Mundu Kota Semarang Tahun 2017.
Sahira,
dkk. (2020). Profil Kepadatan Hunian dan
Mobilitas Penduduk Terhadap Pravalensi Demam Berdarah Dengue Di Wilayah Kerja
Puskesmas Gempae Kota Parepare. Vol 9
Sagala,M.
(2021). Hubungan Sanitasi dan Perilaku
Masyarakat Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Di Wilayah Kerja Puskesmas
Padang Bulan Selayang II Kecamatan Medan Selayang Tahun 2021, Skripsi:
Politeknik Kesehatan Kemenkes, Medan.
WHO. (2018, September 13). Demam Berdarah
dan Parah. WHO. Retrieved from
https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/dengue-and-severe-dengue-ndung:Alfabeta
LAMPIRAN
A.
Pengetahuan Masyarakat
|
|
|
|
|
|
|
|
|
B.
Kebiasaan Menggantung Pakaian
|
|
|
|
|
|
|
|
|
C.
Kegiatan Pemberantasa Sarang
Nyamuk dan 3M Plus
|
|
|
|
|
|
|
|
|
D. Angka Bebas Jentik
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar