MAKALAH
OBSTERTI
KEHAMILAN
DISERTAI PENYAKIT DAN GANGGUAN KESEJAHTERAAN JANIN
Disusun Oleh :
Kelompok 3
(tiga)
Dosen
Pembimbing :
Dr, Zulfadli,
SpoG
PROGRAM STUDI
: SARJANA TERAPAN KEBIDANAN POLTEKKES
TANJUNG
KARANGTAHUN 2021/2022
DAFTAR
ISI
COVER.................................................................................................................... i
DAFTAR ISI........................................................................................................... ii
BAB I. PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG .............................................................................. 1
B.
RUMUSAN
MASALAH........................................................................... 2
C.
TUJUAN..................................................................................................... 2
BAB II. PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN
KEHAMILAN ................................................................. 3
B.
PENYAKIT
PADA MASA KEHAMILAN ............................................. 3
a.
DIABETESS
MELITUS ................................................................ 3
b.
PENYAKIT
JANTUNG ................................................................ 5
c.
PENYAKIT
RUBELLA ................................................................ 8
d.
PENYAKIT
HEPATITIS............................................................... 9
e.
PENYAKIT
GONORE ................................................................ 11
f.
PENYAKIT
SIFILIS ................................................................... 13
g.
PENYAKIT
HIV / AIDS.............................................................. 17
C.
GANGGUAN
KESEJAHTERAAN JANIN
a.
INTRAUTERINE
GROWTH RESTRICTION (IUGR)............. 20
b.
GERAKAN
JANIN BERKURANG .......................................... 23
c.
INTRAUTERINE FETAL DEATH(IUFD)................................. 24
BAB III. PENUTUP
A.
KESIMMPULAN..................................................................................... 26
B.
SARAN..................................................................................................... 26
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kehamilan
adalah pertumbuhan dan perkembangan janin intra uteri mulai sejak konsepsi dan
berakhir sampai permulaan persalinan. Kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru
lahir dan pemilihan alat kontrasepsi merupakan proses fisiologis dan
berkesinambungan. Dan tidak bisa di pungkiri bahwa masa kehamilan, persalinan,
masa nifas, bayi baru lahir hingga penggunaan kontrasepsi, wanita akan
mengalami berbagai masalah kesehatan. Agar kehamilan, persalinan serta masa
nifas seorang ibu berjalan normal, ibu membutuhkan pelayanan kesehatan yang
baik. Untuk peraturan pemerintahan Nomor 61 Tahun 2014 tentang kesehatan
reproduksi menyatakan bahwa setiap perempuan berhak mendapatkan pelayanan
kesehatan untuk mencapai hidup sehat dan mampu melahirkan generasi yang sehat
dan berkualitas serta mengurangi Angka Kematian Ibu (Bandiyah, 2009). Pelayanan
kesehatan tersebut sangat dibutuhkan selama periode ini. Karena pelayanan asuhan
kebidanan yang bersifat berkelanjutan (continuity of care) saat di memang
sangat penting untuk ibu. Dan dengan asuhan kebidanan tersebut tenaga kesehatan
seperti bidan, dapat memantau dan memastikan kondisi ibu dari masa kehamilan,
bersalin, serta sampai masa nifas.
masih banyak
masalah yang terjadi pada proses kehamilan sampai dengan keluarga berencana,
penyebab tingginya AKI dan AKB di Indonesia sendiri dikarenakan beberapa
factor, salah satunya adalah tidak dilakukannya asuhan secara berkesinambungan
yang dapat meningkatkan resiko terjadinya komplikasi pada ibu dan bayi,
komplikasi yang tidak ditangani ini menyebabkan kematian yang berkontribusi
terhadap peningkatannya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).
Untuk penyebab tingginya AKI dan AKB di Indonesia pada ibu hamil sendiri adalah
komplikasi, dan yang terjadi adalah 5 anemia dalam kehamilan, tekanan darah
tinggi/hiprtensi dalam kehamilan (preeklamsia/eklamsia), aborsi dan janin mati
dalam rahim, ketuban pecah dini serta adanya penyakit yang tidak diketahui
sehingga dapat mengangu proses kehamilan (Manuaba, 2012:227-281). Pada saat ibu
bersalin sendiri komplikasi yang bisa terjadi diantaranya adalah kelainan
posisi pada janin atau presentasi bukan kepala, distosia, inersia uteri, perdarahan
intrapartum, prolap tali pusat serta adanya penyakit yang tidak diketahui
sehingga dapat mengganggu jalannya proses persalinan (Manuaba, 2010:371).
Sedangkan untuk masa nifas tercatat ada beberapa ibu yang mengalami komplikasi
yang kemungkinan timbul dalam masa nifas diantaranya perdarahan, demam,
gangguan pada payudara dan infeksi peradangan pada alat genetalia (Gent,
2011:87). Luka karena pasca setelah persalinan sendiri dapat menyebabkan kuman
masuk ke dalam tubuh sehingga menimbulkan infeksi dan berubah menjadi
peradangan pada semua alat genetalia saat masa nifas (Manuaba, 2010:415). Bayi
baru lahir sendiri, komplikasi yang ditimbulkan diantaranya adalah asfiksia
neonatorum, berat badan lahir rendah (BBLR), kelainan konginetal, tetanus neonatorum,
dan trauma lahir atau bahkan kematian perinatal (Manuaba, 2010:421). Dampaknya
yang terjadi, bila tidak dilakukan asuhan kebidanan secara berkala adalah dapat
meningkatkan resiko terjadinya kompliksi pada ibu dan bayi yang tidak
tertangani, sehingga menyebabkan kematian yang berkontribusi terhadap
meningkatnya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).
B. Rumusan masalah
1.
Apa
yang di maksud dengan kehamilan ?
2.
Apa
yang di maksud dengan penyakit diabetes mellitus , jantung , rubella ,
hepatitis , GO, sifilis , HIV/AIDS pada
kehamilan ?
3.
Apa
yang di maksud dengan gangguan kesejahteraan janin ?
C. Tujuan
Makalah ini bertujuan agar mahasiswa
dapat lebih memahami tentang kehamilan yang
disertai penyakit dan gangguan kesejahteraan janin . mengetahui penyakit apa saja yang dialami pada masa
kehamilan serta mengetahui gangguan apa saja yang memengaruhi kesejahteraan
janin.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kehamilan
Kehamilan adalah pertumbuhan dan
perkembangan janin intra uteri mulai sejak konsepsi dan berakhir sampai
permulaan persalinan. Kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan
pemilihan alat kontrasepsi merupakan proses fisiologis dan berkesinambungan.
Menurut WHO, pregnancy atau kehamilan adalah
proses sembilan bulan atau lebih di mana seorang perempuan membawa embrio dan
janin yang sedang berkembang di dalam rahimnya.
Kehamilan adalah proses yang terjadi dari pembuahan sampai kelahiran. Proses
ini dimulai dari sel telur yang dibuahi oleh sperma, lalu tertanam di dalam
lapisan rahim, dan kemudian menjadi janin.
Wiknjosastro (2009),
mendefinisikan kehamilan sebagai
suatu proses yang terjadi antara perpaduan sel sperma dan ovum sehingga terjadi
konsepsi sampai lahirnya janin, lamanya hamil normal adalah 280 hari atau 40
minggu dihitung dari haid pertama haid terakhir (HPHT).
B. Penyakit Pada Masa Kehamilan
1.
DIABETESS
MELITUS
Diabetes melitus adalah suatu gangguan
metabolisme karbohidrat, protein dan lemak akibat dari keridakseimbangan jumlah
insulin di dalam tubuh.
Menurut American Diabetes Association
(ADA), Diabetes melitus adalah penyakit metabolik dengan karakteristik
hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, dan gangguan kerja
insulin atau keduanya.
a.
Mengenal
Diabetes Dalam Kehamilan
Tren penyakit diabetes tidak hanya diderita
oleh kelompok usia tua, namun telah bergeser ke kelompok usia muda dan
produktif, termasuk ibu hamil. Pada kondisi
normal, kadar gula darah dalam tubuh diatur oleh hormon insulin. Saat hamil, tubuh perempuan mengalami perubahan
hormon yang dapat menyebabkan tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin.
Pada beberapa wanita, kondisi seperti
ini membuat gula darah meningkat drastis dan menyebabkan diabetes
·
Diabetes
mellitus gestasional.
Diabetes gestasional adalah diabetes
yang berlangsung selama masa kehamilan sampai proses persalinan. Kondisi ini
umumnya terjadi pada trimester kedua atau trimester ketiga
yang terjadi ketika tubuh tidak
memproduksi cukup insulin untuk mengontrol kadar glukosa (gula) darah selama
masa kehamilan. Kondisi ini merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang
berbahaya bagi kesehatan ibu dan bayi.
Ada 2 istilah dalam diabetes dalam
kehamilan:
1.
Gestational
Diabetes Mellitus (GDM) adalah diabetes yang terjadi saat kehamilan sedangkan
sebelum hamil ibu tidak memiliki penyakit diabetes.
2.
PreGestational
Diabetes Mellitus (PGDM) adalah diabetes yang terjadi pada ibu hamil dengan
memiliki riwayat diabetes sebelumnya, baik diabetes melitus tipe 1 maupun tipe
2.
·
Penyebab
Diabetes Gestasional
Belum diketahui secara pasti. Namun,
kondisi ini diduga terjadi karena tubuh memproduksi lebih banyak hormon
estrogen, HPL (human placental lactogen), growth hormone, dan kortisol, selama
kehamilan.
Peningkatan jumlah hormon tersebut
membuat tubuh lebih sulit memproses gula darah yang dinamakan dengan resistensi
insulin. Berakibatnya yaitu kadar gula darah meningkat dan menimbulkan keluhan
diabetes gestasional.
·
Faktor
risiko diabetes gestasional
Ada beberapa faktor yang dapat
meningkatkan risiko ibu hamil terkena diabetes gestasional, yaitu:
a.
Memiliki
berat badan berlebih atau obesitas
b.
Mengalami
diabetes gestasional pada kehamilan sebelumnya
c.
Memiliki
keluarga yang menderita diabetes
d.
Menderita
polycystic ovary syndrome (PCOS)
e.
Memiliki
riwayat tekanan darah tinggi atau hipertensi
f.
Melahirkan
bayi dengan berat badan lebih dari 4,5 kg pada kehamilan sebelumnya
·
Gejala
Dan Tanda Diabetes Gestasional
1.
Sering
merasa haus
2.
Frekuensi
buang air kecil meningkat
3.
Mulut
kering
4.
Mudah
lelah
Walaupun berberapa tanda gejala tersebut
umum terjadi pada ibu hamil. Oleh sebab itu, ibu hamil dianjurkan berkonsultasi
ke dokter dan memeriksakan diri secara berkala.
2.
PENYAKIT
JANTUNG
Penyakit
jantung adalah kondisi ketika jantung mengalami gangguan. Bentuk gangguan itu
sendiri bermacam-macam, bisa berupa gangguan pada pembuluh darah jantung, katup
jantung, atau otot jantung. Penyakit jantung juga dapat disebabkan oleh infeksi
atau kelainan lahir
Pada kasus
kehamilan dengan penyakit jantung harus
di bawah pengawasan seorang dokter kandungan dan dokter spesialis penyakit jantung. Ibu yang
mempunyai riwayat penyakit jantung dan mengalami kehamilan, berakibat
memperberat beban kerja jantung. Oleh karena itu diperlukan
pemeriksaanantenatal ( pemeriksaan dan pemantauan kesehatan ibu
hamil secara teratur. Selain pemeriksaan
kehamilan juga dilakukan beberapa pemeriksaan penunjang antara lain ECG (
Elektro Cardio Grafi ), Echocardiografi pada ibu dan USG kandungan ( Ultra Sono
Grafi) juga NST ( Non Stress Test ). Tujuan pemeriksaan tersebut bertujuan
untuk memantau kondisi kesehatan jantung ibu dan keadaan bayi . Selama hamil
pemeriksaan darah juga dilakukan secara berkala.
Bagi ibu
hamil dengan penyakit jantung, beberapa
penyakit seperti anemia, infeksi saluran pernafasan, infeksi saluran kencing
yang berakibat kegagalan fungsi ginjal dan kenaikan tekanan darah sedapat
mungkin dihindari. Hal ini bertujuan agar tidak memperberat kondisi kehamilan
dengan penyakit jantung dan menghindari komplikasi yang kemungkinan terjadi.
·
Penyebab
Penyakit Jantung saat Hamil
Tubuh wanita
yang sedang hamil akan mengalami perubahan untuk memberikan keamanan,
kenyamanan, dan nutrisi bagi bayi yang ia kandung. Sistem kardiovaskular adalah
salah satu bagian tubuh yang dapat mengalami perubahan, sehingga memengaruhi
kesehatan kardiovaskular dan tubuh wanita secara keseluruhan. Sistem sirkulasi
dan kardiovaskular akan mulai berubah sejak trimester pertama, biasanya
memuncak saat trimester kedua, dan memasuki fase plateau pada trimester ketiga.
Tubuh akan kembali berfungsi seperti biasa setelah persalinan.
Saat hamil,
volume darah dalam tubuh akan bertambah sampai 50 persen untuk memberikan
oksigen dan nutrisi bagi janin. Oleh karena itu, jantung wanita hamil juga
harus meningkatkan kecepatan dan tekanannya. Detak jantung wanita hamil
biasanya bertambah cepat 10-15 kali per menit. Jantung yang dipaksa untuk
bekerja lebih keras lama kelamaan dapat mengalami gangguan yang serius.
Posisi janin
di dalam rahim juga dapat memengaruhi sistem sirkulasi dan kardiovaskular sang
ibu. Janin dapat mengganggu pembuluh darah dalam mengedarkan darah ke seluruh
tubuh. Tekanan darah sang ibu juga akan terus berubah selama berbagai tahap
kehamilan. Tekanan darah dapat sangat meningkat atau menurun, sehingga
menyebabkan gangguan kardiovaskular.
Proses
pembukaan rahim juga dapat menyebabkan gangguan jantung bagi ibu. Perubahan
detak jantung, jumlah darah yang dipompa jantung (cardiac output), volume
darah, dan tekanan darah biasanya akan terjadi dengan sangat cepat, sehingga
menyebabkan tekanan pada jantung dan pembuluh darah.
·
Cara
Mencegah Penyakit Jantung Saat Hamil Seperti Kardiomiopati Peripartum :
a.
Lakukan
pemeriksaan secara rutin
b.
Makan
ikan
c.
Mengonsumsi
lebih banyak serat
d.
Mengurangi
konsumsi lemak jenuh
e.
Tidur
yang cukup setiap harinya
f.
Menjaga
tekanan darah
g.
Rutin
berolahraga
h.
Mencegah
penyakit diabetes
Klasifikasi Penyakit Jantung dalam Kehamilan
New York Heart Association (NYHA) mengklasifikasikan penyakit jantung
menurut gejala :
Kelas I :Pasien yang aktivitas fisiknya tidak terganggu oleh penyakit
jantung. Aktivitas biasa tidak menimbulkan gejala seperti keletihan, palpitasi,
dyspnea, dan angina.
Kelas II :Pasien yang mengalami sedikit kerterbatasan dalam aktivitas
fisik akibat penyakit jantung. Pasien merasanyaman saat istirahat,
tetapiaktivitas fisik biasa akan memicu timbulnya gejala
.Kelas III :Pasien yang mengalami keterbatasan fisik secara bermakna
akibat penyakit jantung. Pasien merasa nyaman saat istirahat, tetapi aktivitas
fisik yang lebih sedikit dari biasa akan memicu timbulnya gejala.
Kelas IV :Pasien yang tidak dapat melakukan aktivitas fisik tanpa disertai
rasa nyeri secara fisik akibat penyakit jantung. Gejala dapat dirasakan bahkan
pada saat istirahat dan ketidaknyamanan tersebut meningkat jika melakukan
aktivitas fisik apapun.NYHA menyatakan rentang mortalitas maternal dari 0,4%
pada klasifikasi hingga 6,8% pada kelas III dan IV, dan mortalitas janin dari
0% pada kelas I hingga 30% pada kelas IV. Terbukti bahwa kelas III-IV
menyebabkan mortalitas dan morbiditas maternal.
3.
Penyakit
Rubella
Rubella atau campak Jerman merupakan penyakit akibat infeksi
virus. Rubella termasuk jenis penyakit dari kelompok TORCH, yaitu Toksoplasma,
Rubella, Sitomegalovirus atau CMV dan Herpes simpleks. Infeksi virus Rubella
sebenarnya sudah lama ada, yaitu sejak Perang Dunia I, sekitar tahun 10941.
Ditemukan oleh Sir Norman McAlister Gregg, MC, seorang dokter mata asal
Australia.
·
Gangguan
virus rubella pada pertumbuhan janin.
Virus rubella fatal bagi pertumbuhan dan
kehidupan janin. Janin akan terancam terkena kelainan jantung, kehilangan
pendengaran atau tuli ketika dilahirkan, retardasi mental, kelainan pada bentuk
dan fungsi mata, katarak, hidrosefalus atau pembesaran kepala akibat berisi
cairan, mikrosefalus atau tengkorak janin tidak berkembang sehingga ukurannya
lebih kecil dari normal, hipoplasia atau gangguan perkembangan pada sejumlah
organ tubuh janin (seperti jantung, paru-paru dan limpa), bayi lahir dengan
berat badan rendah, hepatitis, radang selaput otak, radang iris mata, gangguan
perkembangan sistem saraf seperti
meningosefalitis. Bahkan janin terancam lahir dalam keadaan sudah
meninggal di dalam kandungan atau still birth. Gejala infeksi virus Rubella
tidak spesifik. Kebanyakan ibu hamil tidak merasakan gejala apa pun, hanya
demam ringan (37,5°C), pusing, pilek ringan, mata merah dan nyeri pada
persendian. Sepintas mirip gejala flu sehingga seringkali diabaikan. Selama
rentang masa inkubasi 14-21 hari setelah terinfeksi, gejala klinis infeksi
virus Rubella belum muncul. Walaupun sebenarnya serangan virus sudah menyerang
beberapa organ tubuh ibu hamil, seperti tenggorokan, jaringan lendir lubang
hidung, saluran kemih dan usus besar.Infeksi virus Rubella dapat menular.
Penularannya lewat udara, air liur,
kontak atau fese. Bahkan kini kaum pria bisa terkena infeksi virus ini. Bila
kondisi tubuh Anda tidak fit, segera jauhi orang yang terkena infeksi virus
Rubella.Hanya sedikit ibu hamil yang bisa diindentifikasi. Biasanya yang muncul
di kulit adalah ruam-ruam kemerahan, terutama di bagian wajah, lengan dan kulit
kepala. Itu sebabnya infeksi Rubella disebut juga sebagai campak Jerman, karena
ruam kulitnya mirip seperti campak. Ruam-ruam ini tidak akan berlangsung lama,
2-3 hari saja sudah hilang dengan sendirinya. Kemudian diikuti dengan
pembengkakan kelenjar limpa di leher bagian belakang, yang disertai rasa kaku
dan nyeri pada persendian.
·
Cara
mengobatinya.
Sampai saat
ini belum ada cara mengobatinya. Anda hanya bisa mengantisipasi risiko
terserang virus ini dengan melakukan vaksin MMR dan memastikan calon ibu hamil
benar-benar bebas TORCH sebelum hamil.
4.
PENYAKIT
HEPATITIS
Hepatitis adalah peradangan pada hati atau liver. Hepatitis
bisa disebabkan oleh infeksi virus, bisa juga disebabkan oleh kondisi atau
penyakit lain, seperti kebiasaan mengonsumsi alkohol, penggunaan obat-obatan
tertentu, atau penyakit autoimun. Jika disebabkan oleh infeksi virus, hepatitis
bisa menular.
Hepatitis ditandai dengan munculnya gejala berupa demam,
nyeri sendi, nyeri perut kanan, dan penyakit kuning. Hepatitis dapat bersifat
akut (cepat dan tiba-tiba) maupun kronis (perlahan dan bertahap). Jika tidak
ditangani dengan baik, hepatitis dapat menimbulkan komplikasi, seperti gagal
hati, sirosis, atau kanker hati (hepatocellular carcinoma).
Ada beberapa jenis virus hepatitis, termasuk hepatitis A,
hepatitis B, dan hepatitis C.
·
Gejala
hepatitis saat hamil
Gejala
hepatitis termasuk mual dan muntah, selalu kecapekan, kehilangan nafsu makan,
demam, sakit perut (terutama di sisi kanan atas, lokasi hati berada), sakit
pada otot dan persendian, serta jaundice alias penyakit kuning — kulit dan
bagian putih mata yang menguning. Masalahnya adalah, gejala bisa mungkin tidak
muncul selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah infeksi, atau Anda
mungkin tidak menunjukkan gejala sama sekali.
·
Cara
Penularan penyakit hepatitis pada ibu hamil
Hepatitis B
dan C menyebar melalui darah dan cairan tubuh yang terinfeksi — misal cairan
vagina atau air mani. Itu berarti Anda bisa mendapatkannya dari hubungan seks
tanpa kondom dengan orang yang terinfeksi, atau ditusuk dengan jarum bekas
pakai yang digunakan oleh seseorang yang terinfeksi — baik jarum suntik
narkoba, jarum tato, maupun jarum suntik medis yang tidak steril. Akan tetapi
risiko terkena hepatitis C melalui hubungan seks tergolong rendah jika Anda
hanya memiliki satu pasangan untuk waktu yang lama.
Hepatitis C
paling sering terjadi pada orang yang lahir antara tahun 1945 dan 1965. Untuk
alasan ini, semua orang di kelompok usia ini harus diuji untuk infeksi
hepatitis C.
·
Cara
Mengatasi Hepatitis Saat Hamil
Pemeriksaan
kandungan secara rutin penting bagi ibu hamil agar dapat mendeteksi adanya
berbagai penyakit, termasuk hepatitis. Dari awal kunjungan prenatal pertama,
dokter biasanya menganjurkan ibu hamil untuk melakukan serangkaian tes darah,
salah satunya adalah tes untuk memeriksa virus hepatitis B (HBV). Bila hasil
tes tersebut menunjukkan HBV negatif dan ibu hamil belum pernah mendapatkan
vaksin hepatitis B sebelumnya, dokter akan menyarankan ibu untuk mendapatkan
imunisasi, apalagi bila ibu berisiko tinggi tertular penyakit ini.
Namun, bila
tes menunjukkan ibu hamil mengidap hepatitis tahap awal, dokter akan memberikan
vaksin immunoglobulin hepatitis B (HBIG) untuk mencegah hepatitis B berkembang
menjadi lebih parah. Vaksin ini aman diberikan untuk wanita hamil dan janin
yang sedang berkembang. Pada kasus ibu hamil yang mengalami hepatitis positif
yang lebih lanjut atau viral load tinggi, pemberian obat antivirus yang bernama
tenofovir bisa menjadi cara untuk menurunkan risiko penularan hepatitis B ke
janin dalam kandungan.
Sedangkan
sampai saat ini belum ada vaksin untuk melindungi dari virus hepatitis C. Jadi,
satu-satunya cara agar ibu hamil dapat terhindar dari infeksi hati ini adalah
dengan menghindari kegiatan yang berisiko terkena hepatitis C seperti
menggunakan jarum suntik yang tidak steril serta berbagi barang pribadi dengan
orang lain. Sayangnya, bagi ibu hamil yang terlanjur terkena hepatitis C, ibu
tidak dianjurkan untuk mengonsumsi obat-obatan yang biasanya digunakan untuk
mengatasi hepatitis C. Kombinasi antara pegylated interferon dan ribavirin yang
sering digunakan sebagai pengobatan utama hepatitis C bukan termasuk obat yang
aman untuk ibu hamil. Ribavirin dapat menyebabkan bayi lahir dengan cacat yang
serius atau bahkan kematian sebelum lahir.
Jadi, ibu
hamil yang mengidap hepatitis disarankan untuk memeriksakan diri dan
kandungannya secara rutin ke dokter kandungan, mengonsumsi obat-obatan yang
dianjurkan dokter, serta menerapkan pola hidup yang bersih dan sehat.
5.
PENYAKIT
GONORE (GO)
Penyakit gonore merupakan jenis Penyakit menular seksual yang
disebabkan oleh Bakteri nesseria gonorhoese atau gonoccus Baik pada pria maupun
wanita bisa Terjangkit dengan penyakit ini. Bakteri tersebut biasanya ditemukan
pada Cairan penis dan vagina orang yang terinfeksi.
Gonore
adalah penyakit kelamin keluar nanah yang termasuk dalam jenis infeksi menular
seksual, Penyakit gonore sering menular melalui hubungan seks, seperti seks
Oral atau anal, Seks Yang terkontaminasi Atau tidak Dilapisi kondom baru Tiap
digunakan. Dan melakukan hubungan seks tanpa memakai kondom, homoseksual, dan
berganti ganti pasangan. Penyakit gonore pada pria lebih mudah Terditeksi dibandingkan
wanita, Namun bayi juga bisa mengalami Gonore Apabila ibu pada masa kehamilan
mengalami gonore Yang tidak segera disembuhkan. Biasanya ditandai dengan
pembengkakan pada mata dan mengeluarkan nanah. Bila tidak segera di obati maka
akan menyebabkan kebutaan pada bayi.
Terjadi secara luas di seluruh dunia dengan Prevalensi yang
cukup tinggi di berbagai negara. Angkaserangan paling tinggi pada orang berusia 15 sampai 24 tahun yang tinggal di
kota, termasuk dalam kelompok sosial ekonomi rendah, tidak menikah, homoseksual
Dan hetero seksual atau memiliki riwayat PMS terdahulu.
Di Indonesia infeksi gonore menempati urutan yang tertinggi
dari semua jenis PMS. Beberapa penelitian di Surabaya, Jakarta, dan Bandung
terhadap BPS menunjukkan bahwa Prevalensi gonore berkisaran 7,4% sampai 50%.
Terjadi secara luas di seluruh dunia dengan Prevalensi yang
cukup tinggi di berbagai negara. Angkaserangan paling tinggi pada orang berusia 15 sampai 24 tahun yang tinggal di
kota, termasuk dalam kelompok sosial ekonomi rendah, tidak menikah, homoseksual
Dan hetero seksual atau memiliki riwayat PMS terdahulu.
Di Indonesia infeksi gonore menempati urutan yang tertinggi
dari semua jenis PMS. Beberapa penelitian di Surabaya, Jakarta, dan Bandung
terhadap BPS menunjukkan bahwa Prevalensi gonore berkisaran 7,4% sampai 50%.
·
Ciri-ciri
penyakit kelamin gonore:
1.
Sering
merasakan gatal gatal di daerah kelamin
2.
Mengalami
pembengkakan dan merah merah
3.
Rasa
sakit saat buang air kecil
4.
Dan
bertambahnya cairan putih kental atau nanah dan berbau busuk.
·
Pencegahan
Gonore
Penyakit ini menular melalui hubungan
intim, termasuk seks oral atau anal. Oleh karena itu, cara pencegahan penyakit
ini adalah melakukan hubungan intim yang aman, yaitu dengan menggunakan kondom,
baik kondom pria maupun wanita, atau tidak bergonta-ganti pasangan.
·
Pengobatan
Gonore
a.
Ceftriaxone.
b.
Cefixime.
c.
Azithromycin.
d.
Doxycycline.
e.
Erythromycin.
f.
Amoxicillin.
Anda
harus terus minum obat Anda sampai batas waktu yang ditentukan oleh dokter.
6.
PENYAKIT
SIFILIS
Sifilis merupakan salah satu penyakit menular seksual yang
disebabkan oleh sejenis bakteri. Jika tidak diobati, sifilis bisa mengakibatkan
dampak jangka panjang yang serius. Tapi jika diatasi tepat waktu, penyakit ini
bisa disembuhkan dengan penggunaan antibiotik. Sifilis ditularkan melalui
kontak langsung dengan luka dari orang yang terinfeksi. Cara paling umum
penularannya adalah melalui anal, oral, maupun vaginal seks, tapi juga bisa
melalui ciuman ke orang yang memiliki luka sifilis pada sekitar bibir atau
mulut.
Sifilis bisa ditularkan ke bayi melalui plasenta selama hamil
atau melalui kontak dengan luka selama proses kelahiran. Infeksi sifilis sudah
relatif jarang terjadi pada wanita di Amerika, hanya 1 kasus per 100.000 wanita
di tahun 2011. Tingkat penyebaran sifilis meningkat pada komunitas dengan
tingkat kemiskinan tinggi, pendidikan rendah, dan akses layanan kesehatan yang
tidak memadai.
·
Gejala
Sifilis
Sifilis
berkembang melalui beberapa tingkatan, dengan gejala yang berbeda dari satu
tingkat penyakit dengan lainnya dan dari satu orang ke orang lain. Pada
beberapa kasus, gejala tidak terlihat dan Anda tidak menyadarinya hingga Anda
menjalani tes.
1.
Sifilis Primer
Pada tahap pertama, yang dikenal dengan
sifilis primer, gejala utamanya tidak menimbulkan rasa sakit dan luka bisa
menular melalui bagian pinggirnya yang timbul (chancre). Chancre muncul di area
yang terinfeksi, bisanya 3 minggu setelah terpapar bakteri, meski bisa juga
muncul lebih awal atau hingga 3 bulan kemudian.
Karena chancre bisa berada di dalam vagina
atau mulut, Anda mungkin tidak bisa melihatnya. Chancre juga bisa muncul di
bagian labia, perineum, anus, atau bibir. Jika pada tahap ini Anda mendapat
pengobatan yang tepat, infeksi bisa disembuhkan. Jika tidak diobati, luka akan
menetap selama 3 hingga 6 minggu dan sembuh dengan sendirinya, tapi bakteri
bisa terus menggandakan diri dan menyebar ke aliran darah. Bila ini terjadi,
penyakit meningkat ke tahap selanjutnya yang disebut sifilis sekunder.
2. Sifilis
Sekunder
Di tahap yang
kedua (sifilis sekunder), penyakit ini bisa bervariasi gejalanya dan muncul
beberapa minggu atau bulan setelah luka pertama muncul, tapi Anda kemungkinan
tidak merasakannya. Kebanyakan orang dengan sifilis sekunder mengalami ruam
disertai rasa gatal, umumnya pada telapak tangan dan tumit, meski bisa juga
muncul di bagian tubuh lain. Anda juga bisa mendapati luka pada mulut dan
vagina, juga luka yang tidak terasa sakit di area genital, gejala seperti flu,
penurunan berat badan, dan rambut rontok. Pada tahap ini infeksi masih bisa
disembuhkan melalui pengobatan.
Tanpa
pengobatan, gejala umumnya hilang dengan sendirinya dalam beberapa bulan, tapi
infeksi tetap berada di dalam tubuh. Bakteri terus berlipat ganda selama fase
ini dan bisa menyebabkan masalah yang sangat serius bertahun-tahun kemudian.
Sekitar 1 dari 3 orang yang tidak mendapat pengobatan yang semestinya akan
berlanjut ke tahap yang disebut sifilis tertier.
3.
Sifilis Tertier
Tahap terakhir
ini berkembang hingga 30 tahun setelah Anda pertama kali terinfeksi dan bisa menyebabkan
kondisi jantung yang tidak normal. Luka yang bisa mematikan muncul di tulang,
kulit, dan organ tubuh lain.
·
Efek
Samping Yang Ditimbulkan Sifilis
Sifilis juga
bisa menyerang sistem saraf pusat, otak, dan saraf tulang belakang. Kondisi ini
disebut neurosifilis, dan bisa terjadi pada tahapan penyakit manapun. Pada
awalnya neurosifilis bisa menyebabkan masalah seperti meningitis. Neurosifilis
yang berlanjut bisa menyebabkan seizure, kebutaan, hilang pendengaran, masalah
saraf tulang belakang, dan bahkan kematian.
·
Sifilis
Saat Hamil
Sifilis bisa
berpindah dari aliran darah ke plasenta dan menginfeksi bayi kapan saja selama
masa kehamilan. Sifilis juga bisa menginfeksi bayi selama proses melahirkan.
Jika sifilis terdeteksi dan diobati lebih dini, Anda dan bayi kemungkinan akan
baik-baik saja. Tapi bila Anda tidak diobati, kemungkinan besar bayi Anda akan
terinfeksi, khususnya bila Anda berada di tahap awal penyakit, ini adalah saat
di mana Anda paling berpotensi menularkannya.
Sekitar 50
persen wanita hamil dengan sifilis tahap awal memiliki bayi yang terinfeksi.
Ada juga kemungkinaan keguguran, lahir mati, atau kematian segera setelah
lahir, serta bayi lahir dengan masalah neurologikal yang berat. Sifilis juga
meningkatkan resiko bayi lahir sebelum waktunya dan keterbatasan pertumbuhan di
dalam kandungan.
Beberapa bayi
yang terinfeksi sifilis yang ibunya tidak diobati selama hamil mengalami
masalah sebelum lahir yang terdeteksi melalui USG. Masalah ini bisa berupa
plasenta yang terlalu besar, cairan di perut atau bengkak yang parah, dan
pembesaran pada hati atau limpa. Bayi yang terinfeksi juga bisa memiliki
kondisi abnormal lain saat lahir, seperti ruam kulit dan luka di mulut, area
genital, dan anus, sekresi hidung yang tidak biasa, bengkak pada kelenjar getah
bening, pneumonia, dan anemia.
Kebanyakan
bayi awalnya tidak menunjukkan gejala-gejala ini, tapi tanpa pengobatan mereka
akan mengalami gejala dalam bulan pertama atau kedua setelah lahir. Meski ada
atau tidak ada gejala, jika penyakit tidak diobati, bayi yang lahir dengan
sifilis bisa memiliki masalah yang lebih serius bertahun-tahun kemudian,
seperti kelainan pada tulang dan gigi, kehilangan penglihatan dan pendengaran,
atau masalah lainnya. Ini menjadi sebab pentingnya wanita untuk dites dan diobati
selama hamil, serta janin yang kemungkinan mengidap sifilis untuk dievaluasi
dengan baik.
·
Cara
Mendeteksi Sifilis Saat Hamil
Meski infeksi sifilis terhitung jarang,
tetap dianggap penting untuk mendeteksi dan mengobatinya selama kehamilan.
Disarankan semua wanita hamil menjalani tes infeksi sifilis pada kunjungan
pranatal pertama, dan kembali dites saat melahirkan. Jika Anda tinggal di
komunitas dengan tingkat penularan sifilis yang lazim atau
Anda beresiko
tinggi terjangkit penyakit ini, Anda perlu menjalani tes kembali pada minggu 28
dan saat melahirkan. Anda juga perlu dites lagi jika terkontak dengan penyakit
menular seksual lain selama hamil atau jika Anda atau pasangan mengalami gejala
sifilis.
Karena
diperlukan sekitar 4 hingga 6 minggu setelah terpapar bakteri untuk mendapat
hasil positif dari tes darah, hasil tes yang didapat bisa negatif jika Anda
dites terlalu dini. Jadi beritahu dokter jika Anda melakukan seks beresiko
tinggi beberapa minggu sebelum dites atau pasangan Anda baru saja mengalami
gejala sifilis, agar Anda bisa dites lagi pada bagian mulut.
Jika tes
menunjukkan hasil positif, lab akan melakukan tes yang lebih spesifik pada
sampel darah untuk mengetahui apakah Anda mengidap sifilis. Mengidap sifilis
membuat Anda lebih rentan terhadap HIV, jadi jika tes sifilis Anda positif,
Anda perlu dites kembali untuk HIV dan penyakti menular seksual lainnya. Dan
jika Anda mengidap sifilis primer, Anda perlu melakukan tes HIV kembali dalam 3
bulan.
·
Menghindari
Penularan Sifilis
Untuk
menghindari sifilis, lakukan seks hanya dengan pasangan yang melakukan seks
hanya dengan Anda dan hasil tes sifilis pasangan Bunda adalah negatif. Kondom
memang bisa mencegah penularan HIV dan penyakit menular seksual lain, tapi ini
hanya memberi perlindungan dari sifilis jika luka berada pada penis pasangan
Anda. Kondom tidak melindungi Anda dari luka yang tidak tertutup olehnya.
Juga perlu
diingat, Anda bisa terkena sifilis jika luka pasangan terkena membran mulut
atau vagina Anda atau kulit yang terbuka. Pernah mengidap sifilis tidak berarti
Anda tidak akan terkena lagi karena Anda bisa kembali terinfeksi. Jika ada kemungkinan Anda terpapar sifilis
atau penyakti menular seksual lain selama hamil, atau Anda atau pasangan menunjukkan
gejalanya, segera beritahu dokter agar Anda bisa menjalani tes dan diobati
sebagaimana mestinya.
7.
PENYAKIT
HIV/AIDS
HIV (Human Immunodeficiency Virus)
adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang selanjutnya melemahkan
kemampuan tubuh melawan infeksi dan penyakit. Obat atau metode penanganan HIV
belum ditemukan. Dengan menjalani pengobatan tertentu, pengidap HIV bisa
memperlambat perkembangan penyakit ini, sehingga pengidap HIV bisa menjalani
hidup dengan normal. AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah
kondisi di mana HIV sudah pada tahap infeksi akhir. Ketika seseorang sudah
mengalami AIDS, maka tubuh tidak lagi memiliki kemampuan untuk melawan infeksi
yang ditimbulkan.
HIV menyebabkan AIDS
dan mengganggu kemampuan tubuh melawan infeksi.
Virus ini dapat
ditularkan melalui kontak dengan darah yang terinfeksi, air mani, atau cairan
vagina.
Dalam beberapa minggu
infeksi HIV, gejala seperti flu seperti demam, sakit tenggorokan, dan kelelahan
dapat terjadi. Kemudian penyakit ini biasanya tanpa gejala sampai berkembang
menjadi AIDS. Gejala AIDS termasuk penurunan berat badan, demam atau
berkeringat saat malam, kelelahan, dan infeksi berulang.
Tidak ada obat untuk
AIDS, tetapi kepatuhan yang ketat untuk mengonsumsi rejimen anti-retroviral
(ARV) dapat secara dramatis memperlambat bertambah parahnya Apenyakit serta
mencegah infeksi sekunder dan komplikasi.
·
Penyebab HIV/AIDS pada Ibu Hamil,
HIV adalah penyakit infeksi yang
disebabkan oleh human immunodeficiency virus. Virus
ini menyerang sel T (sel CD4) dalam sistem imun yang tugas utamanya adalah
melawan infeksi.
Virus penyebab HIV menyebar dari satu
orang ke lainnya lewat pertukaran cairan tubuh seperti darah, air mani, cairan
pra-ejakulasi, dan cairan vagina yang notabene sangat lumrah terjadi saat
hubungan seksual.
Nah berdasarkan laporan
Kementerian Kesehatan tahun 2017, ada tren kenaikan jumlah kasus HIV baru pada ibu
rumah tangga. Seperti dikutip dari The
Jakarta Post,
Emi Yuliana dari Komisi Pencegahan AIDS di Surabaya mengatakan jumlah ibu rumah
tangga yang mengidap HIV/AIDS lebih banyak ketimbang kelompok wanita pekerja
seks komersil.
Besarnya angka ini kemungkinan
dipengaruhi oleh kerutinan berhubungan seksual dengan suami yang positif HIV (baik terdiagnosis dan diketahui,
maupun tidak). Penetrasi penis ke vagina tanpa kondom merupakan jalur penularan
HIV yang paling umum di antara pasangan heteroseksual (lelaki yang berhubungan
seks dengan perempuan).
Setelah masuk dalam tubuh, virus dapat
tetap aktif menginfeksi tapi tidak menunjukkan gejala HIV/AIDS yang berarti selama setidaknya 10-15
tahun. Selama masa jendela ini, seorang ibu rumah tangga bisa saja tidak pernah
mengetahui bahwa dirinya terjangkit HIV hingga pada akhirnya positif hamil.
Selain dari hubungan seks, seorang
perempuan juga bisa terinfeksi HIV dari penggunaan jarum suntik tidak steril
sewaktu sebelum hamil.
·
Bahaya
infeksi HIV pada ibu hamil dan bayi
Sistem imun yang lemah atau rusak akibat
infeksi HIV kronis dapat membuat ibu hamil sangat rentan terhadap infeksi oportunistik, seperti pneumonia, toksoplasmosis,
tuberkulosis (TBC), penyakit kelamin, hingga kanker.
Kumpulan penyakit ini menandakan bahwa
HIV telah berkembang menjadi penyakit AIDS (Acquired Immune Deficiency
Syndrome). Pengidap HIV yang telah memiliki AIDS biasanya dapat
bertahan hidup sekitar 3 tahun jika tidak mendapatkan pengobatan.
Tanpa penanganan medis yang tepat,
masing-masing dari infeksi tersebut juga berisiko menyebabkan komplikasinya
tersendiri pada kesehatan tubuh serta kehamilan. Ambil contoh toksoplasmosis.
Parasit penyebab penyakit ini dapat menginfeksi bayi lewat plasenta sehingga menyebabkan keguguran, bayi lahir mati (stillbirth), dan dampak buruk lainnya bagi ibu dan
bayi.
Bahaya HIV pada ibu hamil dan bayinya
tidak cuma itu. Ibu hamil yang terdiagnosis positif HIV juga dapat menularkan
infeksinya pada bayi di dalam kandungan lewat plasenta. Tanpa pengobatan, seorang
ibu hamil yang positif HIV berisiko sekitar 25-30% untuk menularkan virus pada
anaknya selama kehamilan.
Penularan HIV dari ibu hamil pada
anaknya juga dapat terjadi selama proses persalinan normal, apabila bayi
terpapar darah, cairan ketuban yang pecah, cairan vagina, atau cairan tubuh ibu
lainnya. Selain itu, penularan HIV dari ibu kepada bayinya juga dapat
berlangsung selama masa menyusui eksklusif karena HIV dapat ditularkan melalui ASI.
HIV dari ibu juga dapat ditularkan pada
bayinya melalui makanan yang terlebih dulu dikunyahkan oleh ibu meski risikonya
sangatlah rendah.
·
Tes
HIV pada ibu hamil
Jika Anda terkena HIV saat hamil atau
sudah mengidapnya sejak sebelum kehamilan, konsultasi ke dokter. Dokter akan
menganjurkan Anda untuk secepatnya menjalani tes HIV; langsung pada jadwal cek kandungan
pertama jika memungkinkan. Tes HIV lanjutan juga akan direkomendasikan dokter
di trimester ketiga kehamilan dan setelah kelahiran bayi Anda.
Tes HIV pada ibu hamil yang paling umum
adalah test antibodi HIV. Tes antibodi HIV bertujuan mencari antibodi HIV pada
sampel darah. Antibodi HIV merupakan sejenis protein yang diproduksi tubuh
untuk menanggapi infeksi virus.
HIV pada ibu hamil baru bisa benar-benar
dipastikan ketika mendapat hasil positif dari tes antibodi HIV. Tes kedua berupa tes konfirmasi HIV
dilakukan untuk memastikan bahwa orang tersebut memang benar terinfeksi oleh
HIV. Jika tes kedua juga positif, berarti Anda positif terinfeksi HIV selama
kehamilan.
Pemeriksaan HIV pada ibu hamil juga bisa
mengidentifikasi keberadaan penyakit menular seksual lainnya, seperti hepatitis
C dan sifilis. Selain itu, pasangan Anda juga harus menjalani tes HIV.
·
Pengobatan
HIV pada ibu hamil
Seorang ibu yang mengetahui ia
terinfeksi HIV pada awal kehamilannya memiliki waktu lebih untuk mulai merencanakan
pengobatan demi melindungi kesehatan dirinya, pasangannya, dan bayinya.
Pengobatan HIV secara umum dilakukan
lewat terapi obat antiretroviral (ART). Kombinasi obat ini dapat mengendalikan
atau bahkan menurunkan jumlah viral load HIV pada darah ibu hamil. Seiring
waktu, kerutinan menjalani pengobatan HIV dapat meningkatkan daya tahan tubuh
untuk melawan infeksi.
Patuh terhadap terapi ART juga
memungkinkan ibu hamil mencegah penularan infeksi HIV pada bayi dan
pasangannya. Beberapa obat anti-HIV telah dilaporkan dapat tersalurkan dari ibu
hamil ke bayi dalam kandungan melalui plasenta (juga disebut ari-ari). Obat
anti-HIV dalam tubuh bayi membantu melindunginya dari infeksi HIV.
C. Gangguan
Kesejahteraan Pada Janin
1. INTRAUTERINE GROWTH RESTRICTION (IUGR)
IUGR atau intrauterine
growth restriction adalah suatu kondisi yang menyebabkan pertumbuhan janin
terhambat. IUGR ditandai dengan ukuran dan berat janin yang tidak sesuai dengan
usia kehamilan.UGR disebabkan oleh beragam hal. Salah satu penyebab yang paling
sering adalah kelainan plasenta, yaitu organ yang menyalurkan darah yang berisi
makanan dan oksigen kepada bayi selama dalam kandungan yang akan menyebabkaan
terganggunya pertumbuhan janin.Untuk mengetahui apakah janin mengalami
keterlambatan pertumbuhan, perlu dilakukan penghitungan usia gestasi (usia
janin dalam kandungan) secara tepat dan pemeriksaan USG berkala.
Secara umum
ada 2 jenis IUGR, yaitu:
·
IUGR
simetris
Pertumbuhan janin pada kondisi ini
terhambat dengan ukuran setiap bagian tubuh yang proporsional. Hal ini berarti
semua bagian tubuh janin yang mengalami IUGR berukuran kecil, termasuk ukuran
organ dalam tubuhnya.
·
IUGR
asimetris
Pertumbuhan janin pada kondisi ini
terhambat dengan ukuran tubuh yang tidak proporsional. Saat mengalami IUGR
asimetris, salah satu bagian tubuh janin, seperti ukuran kepala bisa berukuran
normal dan sesuai dengan usia gestasinya, namun bagian tubuh yang lain
berukuran lebih kecil.
·
Penyebab
IUGR
IUGR paling sering disebabkan oleh
gangguan atau kelainan pada plasenta.
Gangguan dan kelainan pada plasenta akan
menyebabkan terganggunya suplai oksigen dan nutrisi ke janin. Hal ini akan
menghambat pertumbuhan janin.
·
Risiko
terjadinya IUGR akan meningkat jika ibu hamil mengalami kondisi-kondisi
berikut:
1.
Diabetes
melitus yang tidak terkontrol
2.
Tekanan
darah tinggi (hipertensi)
3.
Preeklamsia
4.
Penyakit
jantung
5.
Penyakit
ginjal
6.
Penyakit
paru-paru
7.
Anemia
8.
Infeksi,
seperti rubella, cytomegalovirus, toxoplasmosis, dan sifilis
9.
Malnutrisi
selama kehamilan
10.
Merokok,
kecanduan alkohol, atau mengunakan narkoba
·
Gejala
dan Tanda IUGR
IUGR menyebabkan pertumbuhan janin
terhambat. Ibu hamil yang mengandung janin dengan IUGR belum tentu merasakan
keluhan dan gejala spesifik. Namun, ukuran perutnya mungkin akan lebih kecil
jika dibandingkan kehamilan dengan janin yang tumbuh dengan normal.
Tanda utama IUGR adalah ukuran janin
yang lebih kecil jika dibandingkan dengan usia gestasinya. Ukuran ini meliputi
perkiraaan berat badan, panjang badan, dan ukuran lingkar kepala. Janin yang
mengalami IUGR umumnya memiliki perkiraan berat badan di bawah 10 persentil
jika dibandingkan dengan usia gestasinya.
·
Pengobatan
IUGR
a.
Pengaturan
pola makan dan asupan nutrisi
b.
Istirahat
yang cukup
c.
Induksi
persalinan
d.
Operasi
caesar
·
Pencegahan
IUGR
1.
Mengonsumsi
makanan yang bergizi, seperti ikan, susu dan produk susu yang dipasteurisasi,
sayuran serta buah-buahan.
2.
Mengonsumsi
vitamin prenatal, seperti asam folat, baik dikonsumsi sejak merencanakan
kehamilan dan selama hamil.
3.
Olahraga
secara teratur untuk memperbaiki sirkulasi dan meningkatkan aliran oksigen ke
janin. Olahraga yang aman dilakukan antara lain renang, yoga, atau jalan
santai.
4.
Tidak
mengonsumsi obat sembarangan. Selalu konsultasi ke dokter jika mengalami
gangguan kesehatan selama hamil agar mendapatkan obat yang aman untuk ibu hamil
dan janin.
2. GERAKAN JANIN BERKURANG
Pada sebagian besar ibu hamil, pergerakan yang dilakukan oleh
janin biasanya mulai bisa dirasakan sejak usia kehamilan memasuki trimester
kedua. Tepatnya setelah melewati 16 minggu.
Gerakan janin di waktu ini belum terlalu terasa, lebih kepada
seperti gerakan berdebar yang Mama rasakan. Namun seiring berkembang dan
bertumbuhnya ukuran tubuh janin, gerakan yang ia lakukan pun akan semakin
bervariasi. Nantinya Mama mulai akan merasakan ada berbagai jenis gerakan
janin, mulai dari menyikut, menendang, hingga bergerak memutar.
Setelah gerakan yang dilakukan janin mulai aktif pada usia
kehamilan di atas 16 minggu, nantinya frekuensi gerakan ini akan berkurang
dengan sendirinya. Tepatnya saat usia kehamilan Mama sudah mencapai 37 minggu
atau di trimester ketiga. Salah satu penyebabnya adalah makin sedikit ruang
yang dimiliki oleh janin di dalam rahim.
Tubuhnya bertambah semakin besar, sehingga ruang yang ada pun
terasa semakin sempit dan membatasi pergerakannya. Hal ini bisa dimanfaatkan
untuk menjaga posisi kepala janin tetap berada di bawah dekat jalan lahir
jelang persalinan. Disebutkan bahwa penurunan frekuensi gerakan janin menjelang
akhir kehamilan adalah salah satu tanda bahwa ia sedang bersiap untuk dilahirkan.
·
Penyebab
berkurangnya gerakan janin
Seperti disebutkan sebelumnya, salah satu penyebab
berkurangnya jumlah gerakan janin saat ibu memasuki trimester ketiga adalah
ruang geraknya yang semakin sempit. Namun selain itu, ada juga faktor-faktor
lainnya yang bisa turut memengaruhi jumlah gerakan yang janin lakukan.
Beberapa di antaranya yakni jumlah cairan ketuban, proporsi
tubuh ibu hamil, serta persentase lemak tubuh ibu. Hal lainnya yang juga bisa
menyebabkan gerakan janin berkurang adalah saat janin mulai mengenal siklus
bangun dan tidur. Pola ini dapat berlangsung selama mulai dari 45 menit hingga
satu jam.
Ini berarti saat janin tampaknya seperti sedang tidak aktif
bergerak, ada kemungkinan itu adalah karena ia sedang tertidur. Pada waktu
tersebut, ibu mungkin tidak akan merasakan adanya gerakan apa pun. Saat si
Kecil mulai kembali bergerak, yang artinya ia terbangun kembali, ibu bisa
menyambutnya dengan memberikan usapan lembut di perut.
·
Pemeriksaan
saat gerakan janin mulai bekurang
Saat mengamati pergerakan yang janin lakukan mulai berkurang
jumlahnya, ada beberapa pemeriksaan yang bisa dilakukan. Semua bergantung pada
usia kehamilan saat itu. Jika hal ini terjadi saat usia kehamilan di bawah 24
minggu, ada baiknya segera cek ke dokter. Nanti akan dicek kembali USG dan cek
denyut jantung janin.
Apabila usia kehamilan antara 24-28 minggu, ada kemungkinan
tekanan darah juga akan dicek oleh dokter. Tes urine juga mungkin akan
dilakukan guna memeriksa apakah ada infeksi atau tidak.
Setelah itu, jika pengurangan gerakan janin terjadi di usia
kehamilan lebih dari 28 minggu, pemeriksaan antenatal menyeluruh mungkin akan
dilakukan. Mulai dari memantau detak jantung janin serta mengukur ukuran janin.
Di waktu ini, dokter dapat menggunakan alat cardiotocography (CTG) untuk secara
detail memeriksa detak jantung janin. Selain itu, dilakukan juga pemindaian
USG.
3. INTRAUTERINE FETAL
DEATH(IUFD)
Intrauterine
fetal death atau IUFD adalah kondisi janin yang meninggal di dalam kandungan
setelah kehamilan berusia 20 minggu. Beberapa kasus IUFD tidak bisa dicegah,
namun bisa dikurangi risikonya dengan memerhatikan faktor penyebab dan
melakukan langkah pencegahan yang tepat.IUFD berbeda dengan abortus
(keguguran). IUFD merupakan istilah yang umumnya digunakan untuk menggambarkan
kematian janin dalam rahim setelah usia kehamilan 20 minggu atau lebih. Secara
medis, IUFD kadang disebut juga dengan istilah stillbirth. Sementara itu,
istilah abortus digunakan untuk kematian janin pada usia kehamilan kurang dari
20 minggu.
·
Penyebab Terjadinya IUFD
Sebagian besar penyebab IUFD atau
yang disebut juga dengan stillbirth tidak diketahui.
Berbagai kemungkinan penyebab IUFD
antara lain:
a. Plasenta
yang tidak berfungsi dengan baik
Gangguan
pada plasenta dapat membuat pasokan nutrisi yang dibutuhkan janin dalam
kandungan, seperti aliran darah dan oksigen, menjadi berkurang. Kondisi ini
dapat menghambat perkembangan janin (intrauterine growth restriction/ IUGR) dan
memicu terjadinya IUFD.
a. Kelainan
genetik
Dugaan
penyebab IUFD selanjutnya adalah cacat genetik atau kelainan kromosom. Kondisi
ini menyebabkan organ vital janin, seperti otak dan jantung, tidak berkembang
dengan baik sehingga memicu terjadinya IUFD.
b. Perdarahan
Perdarahan
berat yang terjadi di trimester akhir bisa juga menjadi penyebab janin mati
dalam kandungan. Ini bisa terjadi ketika plasenta sudah mulai terpisah
(meluruh) dari rahim sebelum memasuki masa persalinan. Kondisi ini disebut
abrupsi plasenta (placental abruption).
c. Kondisi
medis tertentu yang diderita ibu
Penyakit
diabetes, hipertensi, gangguan imunitas tubuh, kurang gizi, dan infeksi bakteri
Streptokokus grup B, listeriosis, toksoplasmosis, atau rubella berisiko
d. menyebabkan
janin mati dalam kandungan.
Begitu
juga dengan infeksi lainnya, seperti malaria, sifilis, dan HIV. Preeklamsia
juga dapat mengurangi aliran darah ke janin melalui plasenta sehingga memicu
terjadinya IUFD.
e. Usia
dan pola hidup yang buruk
Faktor
lain yang meningkatkan risiko IUFD adalah terkait usia. Ibu hamil yang berusia
lebih dari 35 tahun atau kurang dari 15 tahun lebih rentan mengalami IUFD.
BAB II
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kehamilan adalah pertumbuhan dan perkembangan janin intra uteri mulai sejak konsepsi dan berakhir sampai permulaan persalinan
Pehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan pemilihan alat kontrasepsi merupakan
proses fisiologis dan berkesinambungan. Dan tidak bisa di pungkiri bahwa masa kehamilan, persalinan, masa
nifas, bayi baru lahir hingga penggunaan kontrasepsi, wanita akan mengalami berbagai masalah kesehatan. Pelayanan kesehatan tersebut sangat dibutuhkan selama periode ini. Karena pelayanan asuhan kebidanan yang bersifat berkelanjutan saat di memang sangat penting untuk ibu. Dan dengan asuhan kebidanan tersebut tenaga kesehatan seperti bidan, dapat memantau dan memastikan kondisi ibu dari
masa kehamilan, bersalin, serta sampai masa nifas.
B. Saran
Demikianlah pokok bahasan contoh makalah
ini dapat kami paparkan , kami berharap makalah ini dapat bermanfaat untuk
kalangan banyak , karena keterbatasan pengetahuan dan referensi , penulis
menyadari makalah ini masih jauh dari kata sempurna .Oleh karna itu saran dan
kritik yang membangun sangat diharapkan agar makalah ini dapat disusun menjadi
lebih baik lagi di masa yang akan mendatang .
DAFTAR PUSTAKA
Wiknjoatro, Hanifa .2008.Ilmu Kebidanan . Edisi 11. Jakarta :
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo
Yolan . 2010. Buku Pintar Kehamilan . Yogyakarta :
Pustaka Barupress
Purwoastuti , E ., Dan Walyani
E.S .2015 .Ilmu Obsterti Dan Ginekologi
Sosial Untuk Kebidanan . Yogyakarta: Pustaka Baru Press
Nurdiana . 2017 . Laporan Asuhan Kebidanan Pada By. R Masa
Hamil Sampai Keluarga Berencana Di BPM Siti Tiarmin Kec. Medan Johor
Pulunga Warita Pebri,Sirotus
Samsider, Amalia Riza , Inggrit Lydia Belet , Hutabarat Julietta , Sulfianti ,
Anggraini Dewi Dina , Pakpahan , Aini Nur Fajria , Wahyuni , Apriza , Sari
Nurmalita Happy Marlynda . 2020. Ilmu
Obsterti Dan Ginekologi Untuk Kebidanan . Yayasan Kita Menulis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar