Selasa, 13 Desember 2022

MAKALAH OBSTERTI KEHAMILAN DISERTAI PENYAKIT DAN GANGGUAN KESEJAHTERAAN JANIN

 

MAKALAH OBSTERTI

KEHAMILAN DISERTAI PENYAKIT DAN GANGGUAN KESEJAHTERAAN JANIN

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh :

Kelompok 3 (tiga)


 

 

 

Dosen Pembimbing :

Dr, Zulfadli, SpoG

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI : SARJANA TERAPAN KEBIDANAN POLTEKKES

TANJUNG KARANGTAHUN 2021/2022

 

 

 


DAFTAR ISI

 

 

COVER.................................................................................................................... i

DAFTAR ISI........................................................................................................... ii

BAB I. PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG .............................................................................. 1

B.     RUMUSAN MASALAH........................................................................... 2

C.     TUJUAN..................................................................................................... 2

 

BAB II. PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN KEHAMILAN ................................................................. 3

B.     PENYAKIT PADA MASA KEHAMILAN ............................................. 3

a.       DIABETESS MELITUS ................................................................ 3

b.      PENYAKIT JANTUNG ................................................................ 5

c.       PENYAKIT RUBELLA ................................................................ 8

d.      PENYAKIT HEPATITIS............................................................... 9

e.       PENYAKIT GONORE ................................................................ 11

f.       PENYAKIT SIFILIS ................................................................... 13

g.      PENYAKIT HIV / AIDS.............................................................. 17

C.     GANGGUAN KESEJAHTERAAN JANIN

a.       INTRAUTERINE GROWTH RESTRICTION (IUGR)............. 20

b.      GERAKAN JANIN BERKURANG .......................................... 23

c.       INTRAUTERINE FETAL DEATH(IUFD)................................. 24

 

BAB III. PENUTUP

A.    KESIMMPULAN..................................................................................... 26

B.     SARAN..................................................................................................... 26

DAFTAR PUSTAKA

 

 


BAB I.

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Kehamilan adalah pertumbuhan dan perkembangan janin intra uteri mulai sejak konsepsi dan berakhir sampai permulaan persalinan. Kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan pemilihan alat kontrasepsi merupakan proses fisiologis dan berkesinambungan. Dan tidak bisa di pungkiri bahwa masa kehamilan, persalinan, masa nifas, bayi baru lahir hingga penggunaan kontrasepsi, wanita akan mengalami berbagai masalah kesehatan. Agar kehamilan, persalinan serta masa nifas seorang ibu berjalan normal, ibu membutuhkan pelayanan kesehatan yang baik. Untuk peraturan pemerintahan Nomor 61 Tahun 2014 tentang kesehatan reproduksi menyatakan bahwa setiap perempuan berhak mendapatkan pelayanan kesehatan untuk mencapai hidup sehat dan mampu melahirkan generasi yang sehat dan berkualitas serta mengurangi Angka Kematian Ibu (Bandiyah, 2009). Pelayanan kesehatan tersebut sangat dibutuhkan selama periode ini. Karena pelayanan asuhan kebidanan yang bersifat berkelanjutan (continuity of care) saat di memang sangat penting untuk ibu. Dan dengan asuhan kebidanan tersebut tenaga kesehatan seperti bidan, dapat memantau dan memastikan kondisi ibu dari masa kehamilan, bersalin, serta sampai masa nifas.

masih banyak masalah yang terjadi pada proses kehamilan sampai dengan keluarga berencana, penyebab tingginya AKI dan AKB di Indonesia sendiri dikarenakan beberapa factor, salah satunya adalah tidak dilakukannya asuhan secara berkesinambungan yang dapat meningkatkan resiko terjadinya komplikasi pada ibu dan bayi, komplikasi yang tidak ditangani ini menyebabkan kematian yang berkontribusi terhadap peningkatannya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Untuk penyebab tingginya AKI dan AKB di Indonesia pada ibu hamil sendiri adalah komplikasi, dan yang terjadi adalah 5 anemia dalam kehamilan, tekanan darah tinggi/hiprtensi dalam kehamilan (preeklamsia/eklamsia), aborsi dan janin mati dalam rahim, ketuban pecah dini serta adanya penyakit yang tidak diketahui sehingga dapat mengangu proses kehamilan (Manuaba, 2012:227-281). Pada saat ibu bersalin sendiri komplikasi yang bisa terjadi diantaranya adalah kelainan posisi pada janin atau presentasi bukan kepala, distosia, inersia uteri, perdarahan intrapartum, prolap tali pusat serta adanya penyakit yang tidak diketahui sehingga dapat mengganggu jalannya proses persalinan (Manuaba, 2010:371). Sedangkan untuk masa nifas tercatat ada beberapa ibu yang mengalami komplikasi yang kemungkinan timbul dalam masa nifas diantaranya perdarahan, demam, gangguan pada payudara dan infeksi peradangan pada alat genetalia (Gent, 2011:87). Luka karena pasca setelah persalinan sendiri dapat menyebabkan kuman masuk ke dalam tubuh sehingga menimbulkan infeksi dan berubah menjadi peradangan pada semua alat genetalia saat masa nifas (Manuaba, 2010:415). Bayi baru lahir sendiri, komplikasi yang ditimbulkan diantaranya adalah asfiksia neonatorum, berat badan lahir rendah (BBLR), kelainan konginetal, tetanus neonatorum, dan trauma lahir atau bahkan kematian perinatal (Manuaba, 2010:421). Dampaknya yang terjadi, bila tidak dilakukan asuhan kebidanan secara berkala adalah dapat meningkatkan resiko terjadinya kompliksi pada ibu dan bayi yang tidak tertangani, sehingga menyebabkan kematian yang berkontribusi terhadap meningkatnya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).

 

B.     Rumusan masalah

1.      Apa yang di maksud dengan kehamilan ?

2.      Apa yang di maksud dengan penyakit diabetes mellitus , jantung , rubella , hepatitis , GO, sifilis , HIV/AIDS  pada kehamilan ?

3.      Apa yang di maksud dengan gangguan kesejahteraan janin ?

 

C. Tujuan

Makalah ini bertujuan agar mahasiswa dapat lebih memahami tentang kehamilan yang  disertai penyakit dan gangguan kesejahteraan janin . mengetahui  penyakit apa saja yang dialami pada masa kehamilan serta mengetahui gangguan apa saja yang memengaruhi kesejahteraan janin.

      

BAB  II

PEMBAHASAN

 

A.    Pengertian Kehamilan

Kehamilan adalah pertumbuhan dan perkembangan janin intra uteri mulai sejak konsepsi dan berakhir sampai permulaan persalinan. Kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan pemilihan alat kontrasepsi merupakan proses fisiologis dan berkesinambungan.

Menurut WHO, pregnancy atau kehamilan adalah proses sembilan bulan atau lebih di mana seorang perempuan membawa embrio dan janin yang sedang berkembang di dalam rahimnya.

Kehamilan adalah proses yang terjadi dari pembuahan sampai kelahiran. Proses ini dimulai dari sel telur yang dibuahi oleh sperma, lalu tertanam di dalam lapisan rahim, dan kemudian menjadi janin.

Wiknjosastro (2009), mendefinisikan kehamilan sebagai suatu proses yang terjadi antara perpaduan sel sperma dan ovum sehingga terjadi konsepsi sampai lahirnya janin, lamanya hamil normal adalah 280 hari atau 40 minggu dihitung dari haid pertama haid terakhir (HPHT).

 

B.     Penyakit Pada Masa Kehamilan

1.      DIABETESS MELITUS

Diabetes melitus adalah suatu gangguan metabolisme karbohidrat, protein dan lemak akibat dari keridakseimbangan jumlah insulin di dalam tubuh.

Menurut American Diabetes Association (ADA), Diabetes melitus adalah penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, dan gangguan kerja insulin atau keduanya.

a.       Mengenal Diabetes Dalam Kehamilan

Tren penyakit diabetes tidak hanya diderita oleh kelompok usia tua, namun telah bergeser ke kelompok usia muda dan produktif, termasuk ibu hamil. Pada  kondisi normal, kadar gula darah dalam tubuh diatur oleh hormon insulin. Saat  hamil, tubuh perempuan mengalami perubahan hormon yang dapat menyebabkan tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin. Pada beberapa wanita, kondisi  seperti ini membuat gula darah meningkat drastis dan menyebabkan diabetes

·         Diabetes mellitus gestasional.

Diabetes gestasional adalah diabetes yang berlangsung selama masa kehamilan sampai proses persalinan. Kondisi ini umumnya terjadi pada trimester kedua atau trimester ketiga

yang terjadi ketika tubuh tidak memproduksi cukup insulin untuk mengontrol kadar glukosa (gula) darah selama masa kehamilan. Kondisi ini merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang berbahaya bagi kesehatan ibu dan bayi.

Ada 2 istilah dalam diabetes dalam kehamilan:

1.   Gestational Diabetes Mellitus (GDM) adalah diabetes yang terjadi saat kehamilan sedangkan sebelum hamil ibu tidak memiliki penyakit diabetes.

2.   PreGestational Diabetes Mellitus (PGDM) adalah diabetes yang terjadi pada ibu hamil dengan memiliki riwayat diabetes sebelumnya, baik diabetes melitus tipe 1 maupun tipe 2.

·         Penyebab Diabetes Gestasional

Belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini diduga terjadi karena tubuh memproduksi lebih banyak hormon estrogen, HPL (human placental lactogen), growth hormone, dan kortisol, selama kehamilan.

Peningkatan jumlah hormon tersebut membuat tubuh lebih sulit memproses gula darah yang dinamakan dengan resistensi insulin. Berakibatnya yaitu kadar gula darah meningkat dan menimbulkan keluhan diabetes gestasional.

·         Faktor risiko diabetes gestasional

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko ibu hamil terkena diabetes gestasional, yaitu:

a.       Memiliki berat badan berlebih atau obesitas

b.      Mengalami diabetes gestasional pada kehamilan sebelumnya

c.       Memiliki keluarga yang menderita diabetes

d.      Menderita polycystic ovary syndrome (PCOS)

e.       Memiliki riwayat tekanan darah tinggi atau hipertensi

f.       Melahirkan bayi dengan berat badan lebih dari 4,5 kg pada kehamilan sebelumnya

·         Gejala Dan Tanda Diabetes Gestasional

1.      Sering merasa haus

2.      Frekuensi buang air kecil meningkat

3.      Mulut kering

4.      Mudah lelah

Walaupun berberapa tanda gejala tersebut umum terjadi pada ibu hamil. Oleh sebab itu, ibu hamil dianjurkan berkonsultasi ke dokter dan memeriksakan diri secara berkala.

2.      PENYAKIT JANTUNG

Penyakit jantung adalah kondisi ketika jantung mengalami gangguan. Bentuk gangguan itu sendiri bermacam-macam, bisa berupa gangguan pada pembuluh darah jantung, katup jantung, atau otot jantung. Penyakit jantung juga dapat disebabkan oleh infeksi atau kelainan lahir

Pada kasus kehamilan  dengan penyakit jantung harus di bawah pengawasan seorang dokter kandungan dan  dokter spesialis penyakit jantung. Ibu yang mempunyai riwayat penyakit jantung dan mengalami kehamilan, berakibat memperberat beban kerja jantung. Oleh karena itu diperlukan pemeriksaanantenatal ( pemeriksaan dan pemantauan  kesehatan ibu  hamil  secara teratur. Selain pemeriksaan kehamilan juga dilakukan beberapa pemeriksaan penunjang antara lain ECG ( Elektro Cardio Grafi ), Echocardiografi pada ibu dan USG kandungan ( Ultra Sono Grafi) juga NST ( Non Stress Test ). Tujuan pemeriksaan tersebut bertujuan untuk memantau kondisi kesehatan jantung ibu dan keadaan bayi . Selama hamil pemeriksaan darah juga dilakukan secara berkala.

Bagi ibu hamil  dengan penyakit jantung, beberapa penyakit seperti anemia, infeksi saluran pernafasan, infeksi saluran kencing yang berakibat kegagalan fungsi ginjal dan kenaikan tekanan darah sedapat mungkin dihindari. Hal ini bertujuan agar tidak memperberat kondisi kehamilan dengan penyakit jantung dan menghindari komplikasi yang kemungkinan terjadi.

·         Penyebab Penyakit Jantung saat Hamil

Tubuh wanita yang sedang hamil akan mengalami perubahan untuk memberikan keamanan, kenyamanan, dan nutrisi bagi bayi yang ia kandung. Sistem kardiovaskular adalah salah satu bagian tubuh yang dapat mengalami perubahan, sehingga memengaruhi kesehatan kardiovaskular dan tubuh wanita secara keseluruhan. Sistem sirkulasi dan kardiovaskular akan mulai berubah sejak trimester pertama, biasanya memuncak saat trimester kedua, dan memasuki fase plateau pada trimester ketiga. Tubuh akan kembali berfungsi seperti biasa setelah persalinan.

Saat hamil, volume darah dalam tubuh akan bertambah sampai 50 persen untuk memberikan oksigen dan nutrisi bagi janin. Oleh karena itu, jantung wanita hamil juga harus meningkatkan kecepatan dan tekanannya. Detak jantung wanita hamil biasanya bertambah cepat 10-15 kali per menit. Jantung yang dipaksa untuk bekerja lebih keras lama kelamaan dapat mengalami gangguan yang serius.

Posisi janin di dalam rahim juga dapat memengaruhi sistem sirkulasi dan kardiovaskular sang ibu. Janin dapat mengganggu pembuluh darah dalam mengedarkan darah ke seluruh tubuh. Tekanan darah sang ibu juga akan terus berubah selama berbagai tahap kehamilan. Tekanan darah dapat sangat meningkat atau menurun, sehingga menyebabkan gangguan kardiovaskular.

Proses pembukaan rahim juga dapat menyebabkan gangguan jantung bagi ibu. Perubahan detak jantung, jumlah darah yang dipompa jantung (cardiac output), volume darah, dan tekanan darah biasanya akan terjadi dengan sangat cepat, sehingga menyebabkan tekanan pada jantung dan pembuluh darah.

·         Cara Mencegah Penyakit Jantung Saat Hamil Seperti Kardiomiopati Peripartum :

a.       Lakukan pemeriksaan secara rutin

b.      Makan ikan

c.       Mengonsumsi lebih banyak serat

d.      Mengurangi konsumsi lemak jenuh

e.       Tidur yang cukup setiap harinya

f.       Menjaga tekanan darah

g.      Rutin berolahraga

h.      Mencegah penyakit diabetes

Klasifikasi Penyakit Jantung dalam Kehamilan

New York Heart Association (NYHA) mengklasifikasikan penyakit jantung menurut gejala :

Kelas I :Pasien yang aktivitas fisiknya tidak terganggu oleh penyakit jantung. Aktivitas biasa tidak menimbulkan gejala seperti keletihan, palpitasi, dyspnea, dan angina.

Kelas II :Pasien yang mengalami sedikit kerterbatasan dalam aktivitas fisik akibat penyakit jantung. Pasien merasanyaman saat istirahat, tetapiaktivitas fisik biasa akan memicu timbulnya gejala

.Kelas III :Pasien yang mengalami keterbatasan fisik secara bermakna akibat penyakit jantung. Pasien merasa nyaman saat istirahat, tetapi aktivitas fisik yang lebih sedikit dari biasa akan memicu timbulnya gejala.

Kelas IV :Pasien yang tidak dapat melakukan aktivitas fisik tanpa disertai rasa nyeri secara fisik akibat penyakit jantung. Gejala dapat dirasakan bahkan pada saat istirahat dan ketidaknyamanan tersebut meningkat jika melakukan aktivitas fisik apapun.NYHA menyatakan rentang mortalitas maternal dari 0,4% pada klasifikasi hingga 6,8% pada kelas III dan IV, dan mortalitas janin dari 0% pada kelas I hingga 30% pada kelas IV. Terbukti bahwa kelas III-IV menyebabkan mortalitas dan morbiditas maternal.

 

3.      Penyakit Rubella

Rubella atau campak Jerman merupakan penyakit akibat infeksi virus. Rubella termasuk jenis penyakit dari kelompok TORCH, yaitu Toksoplasma, Rubella, Sitomegalovirus atau CMV dan Herpes simpleks. Infeksi virus Rubella sebenarnya sudah lama ada, yaitu sejak Perang Dunia I, sekitar tahun 10941. Ditemukan oleh Sir Norman McAlister Gregg, MC, seorang dokter mata asal Australia.

·         Gangguan virus rubella pada  pertumbuhan janin.

Virus rubella fatal bagi pertumbuhan dan kehidupan janin. Janin akan terancam terkena kelainan jantung, kehilangan pendengaran atau tuli ketika dilahirkan, retardasi mental, kelainan pada bentuk dan fungsi mata, katarak, hidrosefalus atau pembesaran kepala akibat berisi cairan, mikrosefalus atau tengkorak janin tidak berkembang sehingga ukurannya lebih kecil dari normal, hipoplasia atau gangguan perkembangan pada sejumlah organ tubuh janin (seperti jantung, paru-paru dan limpa), bayi lahir dengan berat badan rendah, hepatitis, radang selaput otak, radang iris mata, gangguan perkembangan sistem saraf seperti  meningosefalitis. Bahkan janin terancam lahir dalam keadaan sudah meninggal di dalam kandungan atau still birth. Gejala infeksi virus Rubella tidak spesifik. Kebanyakan ibu hamil tidak merasakan gejala apa pun, hanya demam ringan (37,5°C), pusing, pilek ringan, mata merah dan nyeri pada persendian. Sepintas mirip gejala flu sehingga seringkali diabaikan. Selama rentang masa inkubasi 14-21 hari setelah terinfeksi, gejala klinis infeksi virus Rubella belum muncul. Walaupun sebenarnya serangan virus sudah menyerang beberapa organ tubuh ibu hamil, seperti tenggorokan, jaringan lendir lubang hidung, saluran kemih dan usus besar.Infeksi virus Rubella dapat menular.

Penularannya lewat udara, air liur, kontak atau fese. Bahkan kini kaum pria bisa terkena infeksi virus ini. Bila kondisi tubuh Anda tidak fit, segera jauhi orang yang terkena infeksi virus Rubella.Hanya sedikit ibu hamil yang bisa diindentifikasi. Biasanya yang muncul di kulit adalah ruam-ruam kemerahan, terutama di bagian wajah, lengan dan kulit kepala. Itu sebabnya infeksi Rubella disebut juga sebagai campak Jerman, karena ruam kulitnya mirip seperti campak. Ruam-ruam ini tidak akan berlangsung lama, 2-3 hari saja sudah hilang dengan sendirinya. Kemudian diikuti dengan pembengkakan kelenjar limpa di leher bagian belakang, yang disertai rasa kaku dan nyeri pada persendian.

·         Cara mengobatinya.

Sampai saat ini belum ada cara mengobatinya. Anda hanya bisa mengantisipasi risiko terserang virus ini dengan melakukan vaksin MMR dan memastikan calon ibu hamil benar-benar bebas TORCH sebelum hamil.

4.      PENYAKIT HEPATITIS

Hepatitis adalah peradangan pada hati atau liver. Hepatitis bisa disebabkan oleh infeksi virus, bisa juga disebabkan oleh kondisi atau penyakit lain, seperti kebiasaan mengonsumsi alkohol, penggunaan obat-obatan tertentu, atau penyakit autoimun. Jika disebabkan oleh infeksi virus, hepatitis bisa menular.

Hepatitis ditandai dengan munculnya gejala berupa demam, nyeri sendi, nyeri perut kanan, dan penyakit kuning. Hepatitis dapat bersifat akut (cepat dan tiba-tiba) maupun kronis (perlahan dan bertahap). Jika tidak ditangani dengan baik, hepatitis dapat menimbulkan komplikasi, seperti gagal hati, sirosis, atau kanker hati (hepatocellular carcinoma).

Ada beberapa jenis virus hepatitis, termasuk hepatitis A, hepatitis B, dan hepatitis C.

·         Gejala hepatitis saat hamil

Gejala hepatitis termasuk mual dan muntah, selalu kecapekan, kehilangan nafsu makan, demam, sakit perut (terutama di sisi kanan atas, lokasi hati berada), sakit pada otot dan persendian, serta jaundice alias penyakit kuning — kulit dan bagian putih mata yang menguning. Masalahnya adalah, gejala bisa mungkin tidak muncul selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah infeksi, atau Anda mungkin tidak menunjukkan gejala sama sekali.

·         Cara Penularan penyakit hepatitis pada ibu hamil

Hepatitis B dan C menyebar melalui darah dan cairan tubuh yang terinfeksi — misal cairan vagina atau air mani. Itu berarti Anda bisa mendapatkannya dari hubungan seks tanpa kondom dengan orang yang terinfeksi, atau ditusuk dengan jarum bekas pakai yang digunakan oleh seseorang yang terinfeksi — baik jarum suntik narkoba, jarum tato, maupun jarum suntik medis yang tidak steril. Akan tetapi risiko terkena hepatitis C melalui hubungan seks tergolong rendah jika Anda hanya memiliki satu pasangan untuk waktu yang lama.

Hepatitis C paling sering terjadi pada orang yang lahir antara tahun 1945 dan 1965. Untuk alasan ini, semua orang di kelompok usia ini harus diuji untuk infeksi hepatitis C.

·         Cara Mengatasi Hepatitis Saat Hamil

Pemeriksaan kandungan secara rutin penting bagi ibu hamil agar dapat mendeteksi adanya berbagai penyakit, termasuk hepatitis. Dari awal kunjungan prenatal pertama, dokter biasanya menganjurkan ibu hamil untuk melakukan serangkaian tes darah, salah satunya adalah tes untuk memeriksa virus hepatitis B (HBV). Bila hasil tes tersebut menunjukkan HBV negatif dan ibu hamil belum pernah mendapatkan vaksin hepatitis B sebelumnya, dokter akan menyarankan ibu untuk mendapatkan imunisasi, apalagi bila ibu berisiko tinggi tertular penyakit ini. 

Namun, bila tes menunjukkan ibu hamil mengidap hepatitis tahap awal, dokter akan memberikan vaksin immunoglobulin hepatitis B (HBIG) untuk mencegah hepatitis B berkembang menjadi lebih parah. Vaksin ini aman diberikan untuk wanita hamil dan janin yang sedang berkembang. Pada kasus ibu hamil yang mengalami hepatitis positif yang lebih lanjut atau viral load tinggi, pemberian obat antivirus yang bernama tenofovir bisa menjadi cara untuk menurunkan risiko penularan hepatitis B ke janin dalam kandungan. 

Sedangkan sampai saat ini belum ada vaksin untuk melindungi dari virus hepatitis C. Jadi, satu-satunya cara agar ibu hamil dapat terhindar dari infeksi hati ini adalah dengan menghindari kegiatan yang berisiko terkena hepatitis C seperti menggunakan jarum suntik yang tidak steril serta berbagi barang pribadi dengan orang lain. Sayangnya, bagi ibu hamil yang terlanjur terkena hepatitis C, ibu tidak dianjurkan untuk mengonsumsi obat-obatan yang biasanya digunakan untuk mengatasi hepatitis C. Kombinasi antara pegylated interferon dan ribavirin yang sering digunakan sebagai pengobatan utama hepatitis C bukan termasuk obat yang aman untuk ibu hamil. Ribavirin dapat menyebabkan bayi lahir dengan cacat yang serius atau bahkan kematian sebelum lahir.

Jadi, ibu hamil yang mengidap hepatitis disarankan untuk memeriksakan diri dan kandungannya secara rutin ke dokter kandungan, mengonsumsi obat-obatan yang dianjurkan dokter, serta menerapkan pola hidup yang bersih dan sehat.

5.      PENYAKIT GONORE (GO)

Penyakit gonore merupakan jenis Penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Bakteri nesseria gonorhoese atau gonoccus Baik pada pria maupun wanita bisa Terjangkit dengan penyakit ini. Bakteri tersebut biasanya ditemukan pada Cairan penis dan vagina orang yang terinfeksi.

Gonore adalah penyakit kelamin keluar nanah yang termasuk dalam jenis infeksi menular seksual, Penyakit gonore sering menular melalui hubungan seks, seperti seks Oral atau anal, Seks Yang terkontaminasi Atau tidak Dilapisi kondom baru Tiap digunakan. Dan melakukan hubungan seks tanpa memakai kondom, homoseksual, dan berganti ganti pasangan. Penyakit gonore pada pria lebih mudah Terditeksi dibandingkan wanita, Namun bayi juga bisa mengalami Gonore Apabila ibu pada masa kehamilan mengalami gonore Yang tidak segera disembuhkan. Biasanya ditandai dengan pembengkakan pada mata dan mengeluarkan nanah. Bila tidak segera di obati maka akan menyebabkan kebutaan pada bayi.

Terjadi secara luas di seluruh dunia dengan Prevalensi yang cukup tinggi di berbagai negara. Angkaserangan paling tinggi pada orang  berusia 15 sampai 24 tahun yang tinggal di kota, termasuk dalam kelompok sosial ekonomi rendah, tidak menikah, homoseksual Dan hetero seksual atau memiliki riwayat PMS terdahulu.

Di Indonesia infeksi gonore menempati urutan yang tertinggi dari semua jenis PMS. Beberapa penelitian di Surabaya, Jakarta, dan Bandung terhadap BPS menunjukkan bahwa Prevalensi gonore berkisaran 7,4% sampai 50%.

Terjadi secara luas di seluruh dunia dengan Prevalensi yang cukup tinggi di berbagai negara. Angkaserangan paling tinggi pada orang  berusia 15 sampai 24 tahun yang tinggal di kota, termasuk dalam kelompok sosial ekonomi rendah, tidak menikah, homoseksual Dan hetero seksual atau memiliki riwayat PMS terdahulu.

Di Indonesia infeksi gonore menempati urutan yang tertinggi dari semua jenis PMS. Beberapa penelitian di Surabaya, Jakarta, dan Bandung terhadap BPS menunjukkan bahwa Prevalensi gonore berkisaran 7,4% sampai 50%.

·         Ciri-ciri penyakit kelamin gonore:

1.      Sering merasakan gatal gatal di daerah kelamin

2.      Mengalami pembengkakan dan merah merah

3.      Rasa sakit saat buang air kecil

4.      Dan bertambahnya cairan putih kental atau nanah dan berbau busuk.

·         Pencegahan Gonore

Penyakit ini menular melalui hubungan intim, termasuk seks oral atau anal. Oleh karena itu, cara pencegahan penyakit ini adalah melakukan hubungan intim yang aman, yaitu dengan menggunakan kondom, baik kondom pria maupun wanita, atau tidak bergonta-ganti pasangan.

·         Pengobatan Gonore

a.       Ceftriaxone.

b.      Cefixime.

c.       Azithromycin.

d.      Doxycycline.

e.       Erythromycin.

f.       Amoxicillin.

Anda harus terus minum obat Anda sampai batas waktu yang ditentukan oleh dokter.

6.      PENYAKIT SIFILIS

Sifilis merupakan salah satu penyakit menular seksual yang disebabkan oleh sejenis bakteri. Jika tidak diobati, sifilis bisa mengakibatkan dampak jangka panjang yang serius. Tapi jika diatasi tepat waktu, penyakit ini bisa disembuhkan dengan penggunaan antibiotik. Sifilis ditularkan melalui kontak langsung dengan luka dari orang yang terinfeksi. Cara paling umum penularannya adalah melalui anal, oral, maupun vaginal seks, tapi juga bisa melalui ciuman ke orang yang memiliki luka sifilis pada sekitar bibir atau mulut.

Sifilis bisa ditularkan ke bayi melalui plasenta selama hamil atau melalui kontak dengan luka selama proses kelahiran. Infeksi sifilis sudah relatif jarang terjadi pada wanita di Amerika, hanya 1 kasus per 100.000 wanita di tahun 2011. Tingkat penyebaran sifilis meningkat pada komunitas dengan tingkat kemiskinan tinggi, pendidikan rendah, dan akses layanan kesehatan yang tidak memadai.

·         Gejala Sifilis

Sifilis berkembang melalui beberapa tingkatan, dengan gejala yang berbeda dari satu tingkat penyakit dengan lainnya dan dari satu orang ke orang lain. Pada beberapa kasus, gejala tidak terlihat dan Anda tidak menyadarinya hingga Anda menjalani tes.

1. Sifilis Primer                                       

Pada tahap pertama, yang dikenal dengan sifilis primer, gejala utamanya tidak menimbulkan rasa sakit dan luka bisa menular melalui bagian pinggirnya yang timbul (chancre). Chancre muncul di area yang terinfeksi, bisanya 3 minggu setelah terpapar bakteri, meski bisa juga muncul lebih awal atau hingga 3 bulan kemudian.

Karena chancre bisa berada di dalam vagina atau mulut, Anda mungkin tidak bisa melihatnya. Chancre juga bisa muncul di bagian labia, perineum, anus, atau bibir. Jika pada tahap ini Anda mendapat pengobatan yang tepat, infeksi bisa disembuhkan. Jika tidak diobati, luka akan menetap selama 3 hingga 6 minggu dan sembuh dengan sendirinya, tapi bakteri bisa terus menggandakan diri dan menyebar ke aliran darah. Bila ini terjadi, penyakit meningkat ke tahap selanjutnya yang disebut sifilis sekunder.

2. Sifilis Sekunder

Di tahap yang kedua (sifilis sekunder), penyakit ini bisa bervariasi gejalanya dan muncul beberapa minggu atau bulan setelah luka pertama muncul, tapi Anda kemungkinan tidak merasakannya. Kebanyakan orang dengan sifilis sekunder mengalami ruam disertai rasa gatal, umumnya pada telapak tangan dan tumit, meski bisa juga muncul di bagian tubuh lain. Anda juga bisa mendapati luka pada mulut dan vagina, juga luka yang tidak terasa sakit di area genital, gejala seperti flu, penurunan berat badan, dan rambut rontok. Pada tahap ini infeksi masih bisa disembuhkan melalui pengobatan.

Tanpa pengobatan, gejala umumnya hilang dengan sendirinya dalam beberapa bulan, tapi infeksi tetap berada di dalam tubuh. Bakteri terus berlipat ganda selama fase ini dan bisa menyebabkan masalah yang sangat serius bertahun-tahun kemudian. Sekitar 1 dari 3 orang yang tidak mendapat pengobatan yang semestinya akan berlanjut ke tahap yang disebut sifilis tertier.

3. Sifilis Tertier

Tahap terakhir ini berkembang hingga 30 tahun setelah Anda pertama kali terinfeksi dan bisa menyebabkan kondisi jantung yang tidak normal. Luka yang bisa mematikan muncul di tulang, kulit, dan organ tubuh lain.

·         Efek Samping Yang Ditimbulkan Sifilis

Sifilis juga bisa menyerang sistem saraf pusat, otak, dan saraf tulang belakang. Kondisi ini disebut neurosifilis, dan bisa terjadi pada tahapan penyakit manapun. Pada awalnya neurosifilis bisa menyebabkan masalah seperti meningitis. Neurosifilis yang berlanjut bisa menyebabkan seizure, kebutaan, hilang pendengaran, masalah saraf tulang belakang, dan bahkan kematian.

·         Sifilis Saat Hamil

Sifilis bisa berpindah dari aliran darah ke plasenta dan menginfeksi bayi kapan saja selama masa kehamilan. Sifilis juga bisa menginfeksi bayi selama proses melahirkan. Jika sifilis terdeteksi dan diobati lebih dini, Anda dan bayi kemungkinan akan baik-baik saja. Tapi bila Anda tidak diobati, kemungkinan besar bayi Anda akan terinfeksi, khususnya bila Anda berada di tahap awal penyakit, ini adalah saat di mana Anda paling berpotensi menularkannya.

Sekitar 50 persen wanita hamil dengan sifilis tahap awal memiliki bayi yang terinfeksi. Ada juga kemungkinaan keguguran, lahir mati, atau kematian segera setelah lahir, serta bayi lahir dengan masalah neurologikal yang berat. Sifilis juga meningkatkan resiko bayi lahir sebelum waktunya dan keterbatasan pertumbuhan di dalam kandungan.

Beberapa bayi yang terinfeksi sifilis yang ibunya tidak diobati selama hamil mengalami masalah sebelum lahir yang terdeteksi melalui USG. Masalah ini bisa berupa plasenta yang terlalu besar, cairan di perut atau bengkak yang parah, dan pembesaran pada hati atau limpa. Bayi yang terinfeksi juga bisa memiliki kondisi abnormal lain saat lahir, seperti ruam kulit dan luka di mulut, area genital, dan anus, sekresi hidung yang tidak biasa, bengkak pada kelenjar getah bening, pneumonia, dan anemia.

Kebanyakan bayi awalnya tidak menunjukkan gejala-gejala ini, tapi tanpa pengobatan mereka akan mengalami gejala dalam bulan pertama atau kedua setelah lahir. Meski ada atau tidak ada gejala, jika penyakit tidak diobati, bayi yang lahir dengan sifilis bisa memiliki masalah yang lebih serius bertahun-tahun kemudian, seperti kelainan pada tulang dan gigi, kehilangan penglihatan dan pendengaran, atau masalah lainnya. Ini menjadi sebab pentingnya wanita untuk dites dan diobati selama hamil, serta janin yang kemungkinan mengidap sifilis untuk dievaluasi dengan baik.

·         Cara Mendeteksi Sifilis Saat Hamil

Meski infeksi sifilis terhitung jarang, tetap dianggap penting untuk mendeteksi dan mengobatinya selama kehamilan. Disarankan semua wanita hamil menjalani tes infeksi sifilis pada kunjungan pranatal pertama, dan kembali dites saat melahirkan. Jika Anda tinggal di komunitas dengan tingkat penularan sifilis yang lazim atau

Anda beresiko tinggi terjangkit penyakit ini, Anda perlu menjalani tes kembali pada minggu 28 dan saat melahirkan. Anda juga perlu dites lagi jika terkontak dengan penyakit menular seksual lain selama hamil atau jika Anda atau pasangan mengalami gejala sifilis.

Karena diperlukan sekitar 4 hingga 6 minggu setelah terpapar bakteri untuk mendapat hasil positif dari tes darah, hasil tes yang didapat bisa negatif jika Anda dites terlalu dini. Jadi beritahu dokter jika Anda melakukan seks beresiko tinggi beberapa minggu sebelum dites atau pasangan Anda baru saja mengalami gejala sifilis, agar Anda bisa dites lagi pada bagian mulut.     

Jika tes menunjukkan hasil positif, lab akan melakukan tes yang lebih spesifik pada sampel darah untuk mengetahui apakah Anda mengidap sifilis. Mengidap sifilis membuat Anda lebih rentan terhadap HIV, jadi jika tes sifilis Anda positif, Anda perlu dites kembali untuk HIV dan penyakti menular seksual lainnya. Dan jika Anda mengidap sifilis primer, Anda perlu melakukan tes HIV kembali dalam 3 bulan.

·         Menghindari Penularan Sifilis

Untuk menghindari sifilis, lakukan seks hanya dengan pasangan yang melakukan seks hanya dengan Anda dan hasil tes sifilis pasangan Bunda adalah negatif. Kondom memang bisa mencegah penularan HIV dan penyakit menular seksual lain, tapi ini hanya memberi perlindungan dari sifilis jika luka berada pada penis pasangan Anda. Kondom tidak melindungi Anda dari luka yang tidak tertutup olehnya.

Juga perlu diingat, Anda bisa terkena sifilis jika luka pasangan terkena membran mulut atau vagina Anda atau kulit yang terbuka. Pernah mengidap sifilis tidak berarti Anda tidak akan terkena lagi karena Anda bisa kembali terinfeksi.  Jika ada kemungkinan Anda terpapar sifilis atau penyakti menular seksual lain selama hamil, atau Anda atau pasangan menunjukkan gejalanya, segera beritahu dokter agar Anda bisa menjalani tes dan diobati sebagaimana mestinya.

7.      PENYAKIT HIV/AIDS

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang selanjutnya melemahkan kemampuan tubuh melawan infeksi dan penyakit. Obat atau metode penanganan HIV belum ditemukan. Dengan menjalani pengobatan tertentu, pengidap HIV bisa memperlambat perkembangan penyakit ini, sehingga pengidap HIV bisa menjalani hidup dengan normal. AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah kondisi di mana HIV sudah pada tahap infeksi akhir. Ketika seseorang sudah mengalami AIDS, maka tubuh tidak lagi memiliki kemampuan untuk melawan infeksi yang ditimbulkan.

HIV menyebabkan AIDS dan mengganggu kemampuan tubuh melawan infeksi.

Virus ini dapat ditularkan melalui kontak dengan darah yang terinfeksi, air mani, atau cairan vagina.

Dalam beberapa minggu infeksi HIV, gejala seperti flu seperti demam, sakit tenggorokan, dan kelelahan dapat terjadi. Kemudian penyakit ini biasanya tanpa gejala sampai berkembang menjadi AIDS. Gejala AIDS termasuk penurunan berat badan, demam atau berkeringat saat malam, kelelahan, dan infeksi berulang.

Tidak ada obat untuk AIDS, tetapi kepatuhan yang ketat untuk mengonsumsi rejimen anti-retroviral (ARV) dapat secara dramatis memperlambat bertambah parahnya Apenyakit serta mencegah infeksi sekunder dan komplikasi.

 

 

·         Penyebab HIV/AIDS pada Ibu Hamil,

HIV adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh human immunodeficiency virus. Virus ini menyerang sel T (sel CD4) dalam sistem imun yang tugas utamanya adalah melawan infeksi.

Virus penyebab HIV menyebar dari satu orang ke lainnya lewat pertukaran cairan tubuh seperti darah, air mani, cairan pra-ejakulasi, dan cairan vagina yang notabene sangat lumrah terjadi saat hubungan seksual.

Nah berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan tahun 2017, ada tren kenaikan jumlah kasus HIV baru pada ibu rumah tangga. Seperti dikutip dari The Jakarta Post, Emi Yuliana dari Komisi Pencegahan AIDS di Surabaya mengatakan jumlah ibu rumah tangga yang mengidap HIV/AIDS lebih banyak ketimbang kelompok wanita pekerja seks komersil.

Besarnya angka ini kemungkinan dipengaruhi oleh kerutinan berhubungan seksual dengan suami yang positif HIV (baik terdiagnosis dan diketahui, maupun tidak). Penetrasi penis ke vagina tanpa kondom merupakan jalur penularan HIV yang paling umum di antara pasangan heteroseksual (lelaki yang berhubungan seks dengan perempuan).

Setelah masuk dalam tubuh, virus dapat tetap aktif menginfeksi tapi tidak menunjukkan gejala HIV/AIDS yang berarti selama setidaknya 10-15 tahun. Selama masa jendela ini, seorang ibu rumah tangga bisa saja tidak pernah mengetahui bahwa dirinya terjangkit HIV hingga pada akhirnya positif hamil.

Selain dari hubungan seks, seorang perempuan juga bisa terinfeksi HIV dari penggunaan jarum suntik tidak steril sewaktu sebelum hamil.

·         Bahaya infeksi HIV pada ibu hamil dan bayi

Sistem imun yang lemah atau rusak akibat infeksi HIV kronis dapat membuat ibu hamil sangat rentan terhadap infeksi oportunistik, seperti pneumonia, toksoplasmosis, tuberkulosis (TBC), penyakit kelamin, hingga kanker.

Kumpulan penyakit ini menandakan bahwa HIV telah berkembang menjadi penyakit AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Pengidap HIV yang telah memiliki AIDS biasanya dapat bertahan hidup sekitar 3 tahun jika tidak mendapatkan pengobatan.

Tanpa penanganan medis yang tepat, masing-masing dari infeksi tersebut juga berisiko menyebabkan komplikasinya tersendiri pada kesehatan tubuh serta kehamilan. Ambil contoh toksoplasmosis. Parasit penyebab penyakit ini dapat menginfeksi bayi lewat plasenta sehingga menyebabkan keguguran, bayi lahir mati (stillbirth), dan dampak buruk lainnya bagi ibu dan bayi.

Bahaya HIV pada ibu hamil dan bayinya tidak cuma itu. Ibu hamil yang terdiagnosis positif HIV juga dapat menularkan infeksinya pada bayi di dalam kandungan lewat plasenta. Tanpa pengobatan, seorang ibu hamil yang positif HIV berisiko sekitar 25-30% untuk menularkan virus pada anaknya selama kehamilan.

Penularan HIV dari ibu hamil pada anaknya juga dapat terjadi selama proses persalinan normal, apabila bayi terpapar darah, cairan ketuban yang pecah, cairan vagina, atau cairan tubuh ibu lainnya. Selain itu, penularan HIV dari ibu kepada bayinya juga dapat berlangsung selama masa menyusui eksklusif karena HIV dapat ditularkan melalui ASI.

HIV dari ibu juga dapat ditularkan pada bayinya melalui makanan yang terlebih dulu dikunyahkan oleh ibu meski risikonya sangatlah rendah.

·         Tes HIV pada ibu hamil

Jika Anda terkena HIV saat hamil atau sudah mengidapnya sejak sebelum kehamilan, konsultasi ke dokter. Dokter akan menganjurkan Anda untuk secepatnya menjalani tes HIV; langsung pada jadwal cek kandungan pertama jika memungkinkan. Tes HIV lanjutan juga akan direkomendasikan dokter di trimester ketiga kehamilan dan setelah kelahiran bayi Anda.

Tes HIV pada ibu hamil yang paling umum adalah test antibodi HIV. Tes antibodi HIV bertujuan mencari antibodi HIV pada sampel darah. Antibodi HIV merupakan sejenis protein yang diproduksi tubuh untuk menanggapi infeksi virus.

HIV pada ibu hamil baru bisa benar-benar dipastikan ketika mendapat hasil positif dari tes antibodi HIV. Tes kedua berupa tes konfirmasi HIV dilakukan untuk memastikan bahwa orang tersebut memang benar terinfeksi oleh HIV. Jika tes kedua juga positif, berarti Anda positif terinfeksi HIV selama kehamilan.

Pemeriksaan HIV pada ibu hamil juga bisa mengidentifikasi keberadaan penyakit menular seksual lainnya, seperti hepatitis C dan sifilis. Selain itu, pasangan Anda juga harus menjalani tes HIV.

·         Pengobatan HIV pada ibu hamil

Seorang ibu yang mengetahui ia terinfeksi HIV pada awal kehamilannya memiliki waktu lebih untuk mulai merencanakan pengobatan demi melindungi kesehatan dirinya, pasangannya, dan bayinya.

Pengobatan HIV secara umum dilakukan lewat terapi obat antiretroviral (ART). Kombinasi obat ini dapat mengendalikan atau bahkan menurunkan jumlah viral load HIV pada darah ibu hamil. Seiring waktu, kerutinan menjalani pengobatan HIV dapat meningkatkan daya tahan tubuh untuk melawan infeksi.

Patuh terhadap terapi ART juga memungkinkan ibu hamil mencegah penularan infeksi HIV pada bayi dan pasangannya. Beberapa obat anti-HIV telah dilaporkan dapat tersalurkan dari ibu hamil ke bayi dalam kandungan melalui plasenta (juga disebut ari-ari). Obat anti-HIV dalam tubuh bayi membantu melindunginya dari infeksi HIV.

 

C. Gangguan Kesejahteraan Pada Janin

1. INTRAUTERINE GROWTH RESTRICTION (IUGR)

IUGR atau intrauterine growth restriction adalah suatu kondisi yang menyebabkan pertumbuhan janin terhambat. IUGR ditandai dengan ukuran dan berat janin yang tidak sesuai dengan usia kehamilan.UGR disebabkan oleh beragam hal. Salah satu penyebab yang paling sering adalah kelainan plasenta, yaitu organ yang menyalurkan darah yang berisi makanan dan oksigen kepada bayi selama dalam kandungan yang akan menyebabkaan terganggunya pertumbuhan janin.Untuk mengetahui apakah janin mengalami keterlambatan pertumbuhan, perlu dilakukan penghitungan usia gestasi (usia janin dalam kandungan) secara tepat dan pemeriksaan USG berkala.

Secara umum ada 2 jenis IUGR, yaitu:

·         IUGR simetris

Pertumbuhan janin pada kondisi ini terhambat dengan ukuran setiap bagian tubuh yang proporsional. Hal ini berarti semua bagian tubuh janin yang mengalami IUGR berukuran kecil, termasuk ukuran organ dalam tubuhnya.

·         IUGR asimetris

Pertumbuhan janin pada kondisi ini terhambat dengan ukuran tubuh yang tidak proporsional. Saat mengalami IUGR asimetris, salah satu bagian tubuh janin, seperti ukuran kepala bisa berukuran normal dan sesuai dengan usia gestasinya, namun bagian tubuh yang lain berukuran lebih kecil.

·         Penyebab IUGR

IUGR paling sering disebabkan oleh gangguan atau kelainan pada plasenta.

Gangguan dan kelainan pada plasenta akan menyebabkan terganggunya suplai oksigen dan nutrisi ke janin. Hal ini akan menghambat pertumbuhan janin.

·         Risiko terjadinya IUGR akan meningkat jika ibu hamil mengalami kondisi-kondisi berikut:

1.      Diabetes melitus yang tidak terkontrol

2.      Tekanan darah tinggi (hipertensi)

3.      Preeklamsia

4.      Penyakit jantung

5.      Penyakit ginjal

6.      Penyakit paru-paru

7.      Anemia

8.      Infeksi, seperti rubella, cytomegalovirus, toxoplasmosis, dan sifilis

9.      Malnutrisi selama kehamilan

10.  Merokok, kecanduan alkohol, atau mengunakan narkoba

·         Gejala dan Tanda IUGR

IUGR menyebabkan pertumbuhan janin terhambat. Ibu hamil yang mengandung janin dengan IUGR belum tentu merasakan keluhan dan gejala spesifik. Namun, ukuran perutnya mungkin akan lebih kecil jika dibandingkan kehamilan dengan janin yang tumbuh dengan normal.

Tanda utama IUGR adalah ukuran janin yang lebih kecil jika dibandingkan dengan usia gestasinya. Ukuran ini meliputi perkiraaan berat badan, panjang badan, dan ukuran lingkar kepala. Janin yang mengalami IUGR umumnya memiliki perkiraan berat badan di bawah 10 persentil jika dibandingkan dengan usia gestasinya.

·         Pengobatan IUGR

a.       Pengaturan pola makan dan asupan nutrisi

b.      Istirahat yang cukup

c.       Induksi persalinan

d.      Operasi caesar

·         Pencegahan IUGR

1.      Mengonsumsi makanan yang bergizi, seperti ikan, susu dan produk susu yang dipasteurisasi, sayuran serta buah-buahan.

2.      Mengonsumsi vitamin prenatal, seperti asam folat, baik dikonsumsi sejak merencanakan kehamilan dan selama hamil.

3.      Olahraga secara teratur untuk memperbaiki sirkulasi dan meningkatkan aliran oksigen ke janin. Olahraga yang aman dilakukan antara lain renang, yoga, atau jalan santai.

4.      Tidak mengonsumsi obat sembarangan. Selalu konsultasi ke dokter jika mengalami gangguan kesehatan selama hamil agar mendapatkan obat yang aman untuk ibu hamil dan janin.

2. GERAKAN JANIN BERKURANG

Pada sebagian besar ibu hamil, pergerakan yang dilakukan oleh janin biasanya mulai bisa dirasakan sejak usia kehamilan memasuki trimester kedua. Tepatnya setelah melewati 16 minggu.

Gerakan janin di waktu ini belum terlalu terasa, lebih kepada seperti gerakan berdebar yang Mama rasakan. Namun seiring berkembang dan bertumbuhnya ukuran tubuh janin, gerakan yang ia lakukan pun akan semakin bervariasi. Nantinya Mama mulai akan merasakan ada berbagai jenis gerakan janin, mulai dari menyikut, menendang, hingga bergerak memutar.

Setelah gerakan yang dilakukan janin mulai aktif pada usia kehamilan di atas 16 minggu, nantinya frekuensi gerakan ini akan berkurang dengan sendirinya. Tepatnya saat usia kehamilan Mama sudah mencapai 37 minggu atau di trimester ketiga. Salah satu penyebabnya adalah makin sedikit ruang yang dimiliki oleh janin di dalam rahim.

Tubuhnya bertambah semakin besar, sehingga ruang yang ada pun terasa semakin sempit dan membatasi pergerakannya. Hal ini bisa dimanfaatkan untuk menjaga posisi kepala janin tetap berada di bawah dekat jalan lahir jelang persalinan. Disebutkan bahwa penurunan frekuensi gerakan janin menjelang akhir kehamilan adalah salah satu tanda bahwa ia sedang bersiap untuk dilahirkan.

·         Penyebab berkurangnya gerakan janin

Seperti disebutkan sebelumnya, salah satu penyebab berkurangnya jumlah gerakan janin saat ibu memasuki trimester ketiga adalah ruang geraknya yang semakin sempit. Namun selain itu, ada juga faktor-faktor lainnya yang bisa turut memengaruhi jumlah gerakan yang janin lakukan.

Beberapa di antaranya yakni jumlah cairan ketuban, proporsi tubuh ibu hamil, serta persentase lemak tubuh ibu. Hal lainnya yang juga bisa menyebabkan gerakan janin berkurang adalah saat janin mulai mengenal siklus bangun dan tidur. Pola ini dapat berlangsung selama mulai dari 45 menit hingga satu jam.

Ini berarti saat janin tampaknya seperti sedang tidak aktif bergerak, ada kemungkinan itu adalah karena ia sedang tertidur. Pada waktu tersebut, ibu mungkin tidak akan merasakan adanya gerakan apa pun. Saat si Kecil mulai kembali bergerak, yang artinya ia terbangun kembali, ibu bisa menyambutnya dengan memberikan usapan lembut di perut.

·         Pemeriksaan saat gerakan janin mulai bekurang

Saat mengamati pergerakan yang janin lakukan mulai berkurang jumlahnya, ada beberapa pemeriksaan yang bisa dilakukan. Semua bergantung pada usia kehamilan saat itu. Jika hal ini terjadi saat usia kehamilan di bawah 24 minggu, ada baiknya segera cek ke dokter. Nanti akan dicek kembali USG dan cek denyut jantung janin.

Apabila usia kehamilan antara 24-28 minggu, ada kemungkinan tekanan darah juga akan dicek oleh dokter. Tes urine juga mungkin akan dilakukan guna memeriksa apakah ada infeksi atau tidak.

Setelah itu, jika pengurangan gerakan janin terjadi di usia kehamilan lebih dari 28 minggu, pemeriksaan antenatal menyeluruh mungkin akan dilakukan. Mulai dari memantau detak jantung janin serta mengukur ukuran janin. Di waktu ini, dokter dapat menggunakan alat cardiotocography (CTG) untuk secara detail memeriksa detak jantung janin. Selain itu, dilakukan juga pemindaian USG.

3. INTRAUTERINE FETAL DEATH(IUFD)

Intrauterine fetal death atau IUFD adalah kondisi janin yang meninggal di dalam kandungan setelah kehamilan berusia 20 minggu. Beberapa kasus IUFD tidak bisa dicegah, namun bisa dikurangi risikonya dengan memerhatikan faktor penyebab dan melakukan langkah pencegahan yang tepat.IUFD berbeda dengan abortus (keguguran). IUFD merupakan istilah yang umumnya digunakan untuk menggambarkan kematian janin dalam rahim setelah usia kehamilan 20 minggu atau lebih. Secara medis, IUFD kadang disebut juga dengan istilah stillbirth. Sementara itu, istilah abortus digunakan untuk kematian janin pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu.

·         Penyebab Terjadinya IUFD

Sebagian besar penyebab IUFD atau yang disebut juga dengan stillbirth tidak diketahui.

Berbagai kemungkinan penyebab IUFD antara lain:

a.       Plasenta yang tidak berfungsi dengan baik

Gangguan pada plasenta dapat membuat pasokan nutrisi yang dibutuhkan janin dalam kandungan, seperti aliran darah dan oksigen, menjadi berkurang. Kondisi ini dapat menghambat perkembangan janin (intrauterine growth restriction/ IUGR) dan memicu terjadinya IUFD.

a.       Kelainan genetik

Dugaan penyebab IUFD selanjutnya adalah cacat genetik atau kelainan kromosom. Kondisi ini menyebabkan organ vital janin, seperti otak dan jantung, tidak berkembang dengan baik sehingga memicu terjadinya IUFD.

b.      Perdarahan

Perdarahan berat yang terjadi di trimester akhir bisa juga menjadi penyebab janin mati dalam kandungan. Ini bisa terjadi ketika plasenta sudah mulai terpisah (meluruh) dari rahim sebelum memasuki masa persalinan. Kondisi ini disebut abrupsi plasenta (placental abruption).

c.       Kondisi medis tertentu yang diderita ibu

Penyakit diabetes, hipertensi, gangguan imunitas tubuh, kurang gizi, dan infeksi bakteri Streptokokus grup B, listeriosis, toksoplasmosis, atau rubella berisiko

d.      menyebabkan janin mati dalam kandungan.

Begitu juga dengan infeksi lainnya, seperti malaria, sifilis, dan HIV. Preeklamsia juga dapat mengurangi aliran darah ke janin melalui plasenta sehingga memicu terjadinya IUFD.

e.       Usia dan pola hidup yang buruk

Faktor lain yang meningkatkan risiko IUFD adalah terkait usia. Ibu hamil yang berusia lebih dari 35 tahun atau kurang dari 15 tahun lebih rentan mengalami IUFD.


 

BAB II

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

Kehamilan adalah pertumbuhan dan perkembangan janin intra uteri mulai sejak konsepsi dan berakhir sampai permulaan persalinan

Pehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan pemilihan alat kontrasepsi merupakan proses fisiologis dan berkesinambungan. Dan tidak bisa di pungkiri bahwa masa kehamilan, persalinan, masa nifas, bayi baru lahir hingga penggunaan kontrasepsi, wanita akan mengalami berbagai masalah kesehatan. Pelayanan kesehatan tersebut sangat dibutuhkan selama periode ini. Karena pelayanan asuhan kebidanan yang bersifat berkelanjutan saat di memang sangat penting untuk ibu. Dan dengan asuhan kebidanan tersebut tenaga kesehatan seperti bidan, dapat memantau dan memastikan kondisi ibu dari masa kehamilan, bersalin, serta sampai masa nifas.

 

B.     Saran

Demikianlah pokok bahasan contoh makalah ini dapat kami paparkan , kami berharap makalah ini dapat bermanfaat untuk kalangan banyak , karena keterbatasan pengetahuan dan referensi , penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kata sempurna .Oleh karna itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan agar makalah ini dapat disusun menjadi lebih baik lagi di masa yang akan mendatang .

DAFTAR PUSTAKA

 

Wiknjoatro, Hanifa .2008.Ilmu Kebidanan . Edisi 11. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo

 

Yolan . 2010. Buku Pintar Kehamilan . Yogyakarta : Pustaka Barupress

 

Purwoastuti , E ., Dan Walyani E.S .2015 .Ilmu Obsterti Dan Ginekologi Sosial Untuk Kebidanan . Yogyakarta: Pustaka Baru Press

 

Nurdiana . 2017 . Laporan Asuhan Kebidanan Pada By. R Masa Hamil Sampai Keluarga Berencana Di BPM Siti Tiarmin Kec. Medan Johor

 

Pulunga Warita Pebri,Sirotus Samsider, Amalia Riza , Inggrit Lydia Belet , Hutabarat Julietta , Sulfianti , Anggraini Dewi Dina , Pakpahan , Aini Nur Fajria , Wahyuni , Apriza , Sari Nurmalita Happy Marlynda . 2020. Ilmu Obsterti Dan Ginekologi Untuk Kebidanan . Yayasan Kita Menulis

 

 

 

Tidak ada komentar: